I am the role model!

Sebagai orang tua dan pemimpin, pada level apapun itu, kita mempunyai kecenderungan untuk “meminta” anak-anak kita dan pengikut/bawahan kita untuk menjadi seperti kita (atau menjadi seperti apa yang kita harapkan). Sebagian anak-anak “diminta” melalui didikan untuk menjadi anak yang taat, hormat pada orang tua, rajin membaca, rajin belajar, les ini dan itu, dan sebagainya. Sebagian anak-anak lain “diminta” untuk menjadi anak yang seperti teman dengan orang tuanya, boleh lebih bebas mengatur jadwalnya sendiri dan berbicara dengan lebih luwes, dan sebagainya. Pengikut kita juga kita “minta” untuk melakukan hal-hal yang kita inginkan di tempat kita bekerja, baik itu soal pekerjaan maupun sikap dalam bekerja dan berinteraksi dengan sesama.

Semua itu adalah hal yang alami kita lakukan sebagai orang yang mempunyai otoritas atas orang lain. Entah itu sebagai orang tua, guru, maupun pemimpin. Bahkan, memang dalam masyarakat kita dituntut untuk demikian.

Namun, sayangnya. Kita ketahui juga bahwa tidak semua orang tua mendidik dengan baik. Tidak semua guru mendidik dan mengajar dengan sempurna. Tidak semua pimpinan memimpin dengan efektif. Bahkan, kenyataannya ada banyak di antara kita yang cacat dalam menjalankan peran tersebut. Kita menjadi “racun” dalam komunitas atau tim kita, membuat sulit hidup orang yang kita pimpin, atau anak kita sendiri.

Kita, sadar atau tidak, berharap menjadi role model atau teladan yang baik, tetapi pada saat bersamaan kita belum tentu mampu melakukannya. Hal ini bisa menjadi bahasan tersendiri (bukan bagian dari tujuan saya menulis artikel ini). Sayangnya, dalam ketidakmampuan kita tersebut, kita ingin (dan mendidik) orang lain menjadi agar menjadi seperti yang kita inginkan (atau menjadi seperti kita). Kalau kita adalah orang yang terbuka dan mau terus belajar, walaupun kemampuan kita tidak seberapa, masih tidak apa. Sulit jika ternyata kita adalah orang yang tidak mau belajar. Apa akibatnya? Hidup orang lain merana.

Lalu, bagaimana sikap kita jika berperan sebagai anak? Sebagai bawahan? Sebagai orang yang “dididik” untuk menjadi seperti mereka? Tiga hal yang bisa saya bagikan:

  1. Kritis
    Kita perlu belajar bersikap dan berpikir kritis. Mengapa? Dengan demikian, kita dapat lebih memilah mana yang baik kita ikuti, mana yang tidak. Mana yang sesuai dengan nilai moral yang kita anut, mana yang tidak. Mana yang sesuai dengan prinsip hidup kita, dan mana yang berlawanan.
  2. Self-education (pendidikan diri)
    Perlu adanya pendidikan yang terus menerus kita lakukan, walau kita tidak mendapatkan didikan yang baik dan benar dari lingkungan kita. Kita tidak bisa bermain menjadi korban (playing victim) dan menyalahkan keadaan atau orang lain. Kita bertanggungjawab dan berkewajiban mendidik diri sendiri, kapanpun dan di mana pun itu.

  3. Courage (keberanian)
    Milikilah keberanian untuk “membangkang”. Lho, kok membangkang? Bukannya itu salah? Membangkang di sini berarti kita berani menolak hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip, nilai yang kita anut. Bisa jadi orang tua kita pun salah. Bisa jadi guru kita salah. Bisa jadi pemimpin kita salah. Bisa jadi lingkungan sekitar kita mengajarkan hal yang tidak sesuai etika dan moral. Hal ini menjadi tekanan bagi kita, dan dibutuhkan keberanian untuk “membangkang” dan memilih berjalan di jalan yang benar.

Image result for toxic parents quotesJika kita adalah seorang guru, orang tua, atau pemimpin, teruslah belajar dan terbuka terhadap masukan agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, khususnya mereka yang kita pimpin. Menyadari bahwa kita tidak sempurna dan terus mau belajar menjadi kunci penting dalam relasi kita dengan mereka.

Sebaliknya, jika kita adalah seorang yang dipimpin, tetap hormatilah mereka yang memimpin dan mendidik kita, walaupun mereka salah (atau bahkan berulang kali salah). Mereka pun manusia. Di saat bersamaan, kita juga bertanggungjawab mendidik diri kita sendiri dan berani mengambil jalan yang berbeda yang kita percayai benar.

Selamat menjadi role model.

Tensions

Tension, atau berarti ketegangan dalam Bahasa Indonesia berarti pertentangan, di mana tentunya dibutuhkan minimal dua pihak untuk hal ini dapat terjadi. Ketegangan dapat terjadi di mana saja dan dalam aspek apapun. Ketegangan antara dua negara atau pemimpin negara, ketegangan antara kehendak rakyat dan kebijakan pemerintah, ketegangan antara kemauan orang tua dan sekolah, hingga ketegangan antara pasangan.

Beberapa ketegangan “layak” untuk dipertahankan karena suka atau tidak, itu menciptakan dunia yang lebih baik dan seimbang. Seolah, itu suatu sistem kontrol yang natural. Misalnya, pernahkah bayangkan jika negara selalu menuruti kemauan rakyatnya? Atau sebaliknya, jika rakyat selalu ‘percaya’ dan berserah kepada pemerintah. Atau, di dalam keluarga, pernahkah bayangkan jika orang tua selalu menuruti keinginan anaknya atau sebaliknya sang anak selalu mau keinginannya dipenuhi? Tentunya kekacauan akan terjadi bukan?

Dalam beberapa waktu belakangan ini, saya menemukan bagaimana orang tua memiliki peranan penting dalam hidup anaknya, baik itu dalam hal untuk membentuknya menjadi anak dan pribadi yang baik atau dalam mengacaukan kehidupannya. Orang tua memiliki ‘kekuatan’ dan peran yang sangat penting dalam hidup seorang anak, dan sayangnya ada banyak kasus di mana orang tua tidak menghidupinya dengan sungguh.

Image result for children are given to make parents learn quotes

Sayang memang tidak ada sekolah khusus untuk orang tua, tetapi tetap ini bukanlah alasan. Orang tua, terutama di masa kini dapat belajar melalui berbagai hal. Orang lain, buku, internet, dan juga pengalamannya sendiri. Pada akhirnya, anak adalah manusia, sama seperti orang tua. Anak juga ingin diperlakukan dan ditumbuhkan menjadi manusia dewasa seutuhnya. Kalau kita belajar secara khusus mengenai pendidikan dan psikologi anak (yang mana tidak setiap orang tua memelajarinya), menurut saya itu bonus tersendiri.

Salah satu hal penting menurut saya adalah menjaga ketegangan dalam relasinya dengan anaknya. Ada keinginan dan kebutuhan anak yang perlu kita penuhi sebagai orang tua, bahkan walaupun ketika kita tidak setuju atau menyukainya. Namun, ada kalanya itu menjadi hal baik dan benar untuk dilakukan. Ada kalanya anak juga perlu mengikuti keinginan atau kehendak kita sebagai orang tua. Sekali lagi, karena memang itu adalah hal yang baik dan benar untuk dilakukan.

Sangat sedih apabila orang tua hanya mengikuti egonya sendiri dan tidak mau ‘mendengarkan’ kebutuhan sang anak. Tidak mau belajar menjadi orang tua yang lebih baik. Akan jadi seperti apa anak itu nanti? Selamat membayangkannya sendiri.

Will you be our coach?

Beberapa waktu yang lalu, sekolah saya mengadakan kompetisi/turnamen olahraga antarsekolah (cup). Beberapa cabang olahraga seperti anggar, renang, bola basket, voli, dan sepak bola dipertandingkan di sana. Saya ikut membantu sebagai guru pendamping untuk cabang bola basket, berhubung memang saya pernah bermain basket dan menaruh minat di basket.

Pada hari ketiga pertandingan, saya melihat tim basket putra SMP sekolah kami akan bertanding, namun tidak ada pelatihnya. Katanya, pelatihnya tidak akan hadir. Awalnya, saya berjaga di table official untuk mengawasi pencatatan skor dan lainnya. Namun, karena merasa kasian (plus ada anak yang minta ke saya untuk membantu melatih), saya akhirnya tergerak untuk membantu.

Singkat cerita, saya menjadi pelatih mereka di pertandingan itu dan mereka memenangkan pertandingan tersebut dalam permainan yang agak ketat. Di hari berikutnya, mereka bertanding dua kali dalam sehari, dan sekali lagi sang pelatih mereka tidak bisa hadir, dan saya menggantikannya. Total, dari tiga kali bertanding dengan saya membantu, mereka menang dua kali dan kalah satu kali.

Berakhir dengan kekalahan, setelah seluruh pertandingan selesai, kami berkumpul dan mengevaluasi dan briefing sedikit. Di sana, mereka menanyakan kepada saya, “Will you be our coach, sir?” Awalnya, tidak ada niat bagi saya untuk menjadi pelatih mereka. Saya hanya ingin membantu karena melihat mereka akan bertanding tanpa pelatih (yang rasanya sangat aneh). Terlebih lagi, ternyata selama ini, menurut mereka, mereka tidak pernah benar-benar berlatih di bawah arahan. Jelas, mereka berharap dapat bermain lebih baik lagi dan menang di lain waktu.

Poin saya di sini bukan keterlibatan saya atau menunjukkan kehebatan saya. Namun, baik itu secara individu maupun kelompok, kita seringkali mempunyai kesadaran bahwa kita membutuhkan seseorang yang menolong kita menjadi lebih baik, seperti apa yang dirasakan anak-anak murid saya. Kita ingin menang, kita ingin bahagia, kita ingin mencapai sesuatu yang lebih baik, dan ada kalanya (atau sering) kita tidak bisa mencapainya sendiri dan membutuhkan pertolongan dan arahan orang lain. Orang lain itu bisa jadi orang tua kita, teman, senior, mentor, guru, atau lainnya.

Image result for everyone needs help

Apakah itu hal yang buruk? Tidak! Sama sekali tidak! Pada dasarnya toh memang manusia itu makhluk sosial yang saling membutuhkan. Dan menolong orang lain untuk menjadi lebih baik juga merupakan kebahagiaan tersendiri. Ditolong untuk menjadi lebih baik pun rasanya menyenangkan, dan pada titik tertentu, kita mempunyai rasa untuk membanggakan mereka yang menolong kita.

Pada saat ini, mungkin kita berada dalam kondisi di mana kita membutuhkan pertolongan orang lain untuk bisa berkembang jauh lebih baik lagi. Mungkin ada rekan atau mentor yang bisa melihat kelemahan dan kekuatan kita dengan lebih seksama, dan menolong kita memperbaikinya. Carilah, dan beranilah untuk mengutarakannya. Kalau kita bisa mengusahakannya sendiri, bolehlah. Kalau tidak? Kita akan terperangkap di dalamnya. Ingat, atlet kelas dunia yang sangat sukses pun selalu mempunyai mentor atau pelatih.

Jika kita berada dalam kondisi yang dimintai arahan dan bantuan, atau melihat seseorang yang membutuhkannya, beranikan diri untuk menjawab panggilan itu. Mungkin kita merasa bahwa kita tidak sehebat itu. Hei, ingatlah! Menjadi pelatih atau mentor bukan berarti harus hebat dulu. Kalau harus hebat dulu, kita tidak akan pernah mencapai titik itu mungkin, atau itu harus menunggu tua dahulu. Sir Alex Ferguson pun mungkin ragu-ragu ketika ia memulai kariernya sebagai pelatih sepak bola.

Mari menjawab panggilan menjadi mentor dan menolong sesama. Mari meminta arahan dan pertolongan khususnya ketika kita sangat membutuhkannya. Mari kita terus bertumbuh lebih baik dari kemarin.

Ditolong dan menolong

Saya teringat pada pengalaman saya berbagi di kampus saya semasa kuliah S2. Pada waktu itu, saya sudah hampir menyelesaikan program studi saya (menunggu kelulusan), dan salah satu dosen meminta saya untuk berbagi kepada mahasiswa S2 lainnya yang lebih junior mengenai tantangan, pengalaman, dan apa yang bisa kita lakukan agar melalui masa perkuliahan dengan baik.

Pada saat itu, entah bagaimana, saya mengatakan dua hal penting yang saya ingat sampai saat ini, yaitu mengenai ditolong dan menolong. Keduanya membutuhkan keterbukaan hati dan tangan. Ketika kita terlalu sombong dan merasa kita pintar dan hebat, kita tidak akan mau menolong orang lain karena kita dirugikan. Atau, jika kita menolongnya, itu karena kita mau menunjukkan kehebatan kita, dan pada akhirnya kita tidak menolong sepenuhnya.

Di sisi lain, kita juga perlu membuka diri kita untuk ditolong orang. Kepercayaan dalam relasi dengan orang lain akan dapat tumbuh dan terbentuk ketika kita pun rela membuka diri kita untuk ditolong orang lain. Ini berarti kita dengan rela hati menunjukkan kelemahan kita. Ini juga berarti kita cukup rendah hati untuk mengakui kelemahan kita dan membutuhkan bantuan orang lain.

Dalam relasi dengan orang lain, menolong dan ditolong, bagi saya adalah hal penting. Tidak bisa selalu kita yang menolong, tidak bisa juga selalu kita yang ditolong. Jika demikian adanya, tidak seimbang. Tidak ada orang yang hebat dalam segala hal, dan tidak ada orang yang lemah dalam segala hal.

Selain itu, ketika kita menolong, sadar atau tidak, kita juga sedang ditolong. Demikian juga ketika kita ditolong, kita sedang menolong orang. Bagaimana mungkin begini? Aneh bukan. Ini maksud saya. Ketika kita menolong orang lain, kita sedang ditolong (atau menolong diri kita sendiri) untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan sekaligus belajar menolong orang lain. Kita belajar untuk memahami orang lain lebih lagi. Ketika kita ditolong orang lain, kita belajar untuk terus rendah hati dan menolong orang lain untuk menolong kita.

Kalau kita tidak membuka diri untuk ditolong, orang akan merasa kita selalu baik-baik saja, dan pada akhirnya mereka tidak mengetahui siapa diri kita sesungguhnya.

Maukah kita ditolong dan menolong orang lain? Selamat menolong.

Speak up!

Dalam tulisan minggu lalu, saya menyinggung soal bagaimana seorang introver juga bisa berkembang dan melakukan banyak hal seperti layaknya orang-orang ekstrover, demikian juga ekstrover juga bisa mengembangkan diri dan memiliki kualitas dan keterampilan yang biasanya lebih alami dimiliki orang-orang introver. Tulisan minggu lalu juga menyinggung bagaimana orang-orang introver baik-baik saja dalam hidupnya, walau mungkin bisa jadi tidak semenyenangkan anggapan orang lain (khususnya mereka yang ekstrover).

Saya tidak menulis dalam rangka mengadu domba keduanya, tetapi ini dalam rangka saya berbagi apa yang saya alami dan rasakan sebagai seorang introver dan mencoba memperdamaikan dan mencari common ground keduanya. Secara khusus, saya berbagi dalam perspektif saya seorang introver, sehingga lebih mudah bagi saya menceritakan pengalaman dalam kaca mata ini. Kalau saya sudah menjadi ekstrover atau ada teman yang akan menceritakannya, barulah saya akan menuliskannya dari sisi seorang ekstrover.

Speak up! Itu mungkin salah satu nasihat yang banyak diberikan kepada banyak orang introver. Mengapa demikian? Karena orang-orang introver cenderung berdiam diri dan tidak berpendapat, dan memilih berpendapat setelah lama berpikir dan menentukan apa yang akan dibicarakan. Seringkali pula orang-orang introver juga merupakan pemalu, sehingga mereka enggan berbicara di depan orang banyak.

Dalam kondisi ekstrim, bisa jadi mereka mensimulasikan di otaknya terlebih dahulu kata-kata dan nada yang akan diucapkan. Agar berbeda dengan kebanyakan orang ekstrover yang bisa dengan lebih mudah berbicara dan menguasai panggung tanpa “banyak persiapan” dibandingkan orang-orang introver.

Saya sendiri bukanlah seorang public speaker yang baik. Saya tergolong pemalu dan “pemalas” di masa sekolah dan kuliah dalam hal berbicara di depan umum. Saya cenderung enggan berbicara di depan umum dan memilih berpendapat dan bekerja dibalik layer. Ketika saya aktif di gereja sebagai ketua komisi pemuda, barulah saya lebih mendapatkan ruang untuk melatih keterampilan tersebut.

Pekerjaan sebagai guru mengharuskan saya belajar berbicara di depan orang banyak dengan sebaik mungkin. Guru yang baik juga merupakan public speaker yang baik. Dalam perjalanan pengalaman saya sebagai seorang guru yang introver, saya akan coba berbagi beberapa hal yang saya lakukan dan ketahui yang membantu saya menjadi public speaker yang baik.

  1. Berbicara untuk berbagi
    Ketika kita berbicara di depan orang, kita harus mempunyai tujuan yang jelas, dan tujuan tersebut haruslah untuk berbagi, bukan untuk menyombongkan diri atau show off.

  2. Jadilah diri sendiri
    Ada banyak public speaker terkenal dan hebat di dunia, tetapi yang terbaik selalu menjadi diri sendiri. Kita bisa mengambil pelajaran dari orang lain, tapi saya percaya yang terbaik adalah menggunakan dan mengembagkan kekuatan dan kelemahan kita sendiri. Contohnya, banyak orang dulu mengatakan bahwa mengatakan “hm..” atau “eengg” di saat berbicara di depan umum adalah sesuatu yang buruk. Saya rasa tidak juga. Kita bisa menggantinya dengan berdiam sejenak, membuat seolah apa yang kita bicarakan sesuatu yang penting, dan memberi ruang bagi audiens untuk berpikir sejenak juga.


  3. Jadilah ahli
    Jadilah ahlinya dalam hal yang akan kita bicarakan. Kalau kita akan mempresentasikan sesuatu tetapi kita pun tidak sepenuhnya yakin atau mengenal betul tentangnya, jelas kita akan mengalami kesulitan, seperti perasaan grogi (yang membuat penyampaian kita kurang lengkap dan jelas), cemas, lupa apa yang mau disampaikan, dan bingung mau menjawab apa ketika ada pertanyaan.

    Perasaan percaya diri, saya yakin, tidak hadir dari sekadar belief atau berusaha meyakinkan diri. Saya percaya bahwa ketika saya menjadi ahli (atau semakin ahli) dalam bidang atau materi yang akan saya sampaikan, saya bisa merasa percaya diri di “panggung”.

  4. Practice makes perfect
    Latihanlah sesering mungkin pada kondisi sesungguhnya, ambil kesempatan berbicara di depan umum sesering mungkin. Namun, hati-hatilah! Practice does make perfect, including practicing mistakes! Kalau kita melakukan kesalahan dan kita tidak mengetahuinya, dan terus “melatihnya”, kita akan terus melakukannya dan pada akhirnya bisa merasa atau menganggap hal itu sebagai hal biasa dan baik.
  5. Refleksi dan evaluasi
    Kita tidak lah sempurna, betapapun seringnya kita berlatih. Karena itu, selalu berefleksi dan mengevaluasi diri. Minta pendapat orang lain jika dimungkinkan.
  6. Mentor
    Sedapat mungkin, bangunlah relasi dengan mentor, sehingga kita dapat belajar dan mendapat bimbingan darinya.

Tentunya ada banyak saran-saran teknis lainnya. Namun, keenam hal ini yang saya rasakan sangat membantu saya selama ini. Bukan hanya dalam hal menjadi public speaker, tetapi juga dalam hal pekerjaan dan hidup kita. Menjadi public speaker bagi introver memang tidak mudah, tetapi di sisi lain seorang introver juga mempunyai kekuatan tersendiri, karena mereka akan mempersiapkan dengan sangat sebelum berbicara, bahkan setiap kata yang dipilih dan diucapkan pun bisa jadi sangat penting.

Selamat belajar!

I am an introvert and I am fine

“Kamu terlalu diam di kelas. Kamu harus lebih banyak berbicara dan aktif, terlibat dalam diskusi dan mencoba berbagai aktivitas. Lihat teman-temanmu.”

Sadar atau tidak, banyak guru, pendidik, orang tua, dan bahkan anggota masyarakat lebih mengagungkan kualitas atau keterampilan yang secara alami lebih dimiliki oleh orang-orang ekstrover. Saya katakan alami karena sebetulnya hal-hal tersebut juga bisa dimiliki dan dilakukan dengan terampil oleh orang-orang introver, tetapi lebih membutuhkan banyak latihan.

Itu pun berlaku bagi saya sendiri, baik saya ketika berada di bangku sekolah maupun ketika tahun-tahun pertama saya menjadi guru. Sadar atau tidak, saya lebih berharap mempunyai anak murid yang aktif dalam diskusi dan memberikan pendapat di kelas. Mereka yang “lebih hebat” dalam public speaking dan presentasi akan lebih menyenangkan. Bahkan, mereka yang mampu berdebat menjadi murid yang lebih menarik bagi saya.

Setelah membaca buku Quiet: The power of introverts in a world that can’t stop talking dan banyak artikel lainnya, dan merenungkan perjalanan hidup saya sendiri, saya baru lebih menyadari bahwa sedikit banyak saya tidak adil dalam memperlakukan anak murid saya. Kalau saya ada di sisi mereka yang introver, saya pun belum tentu mau berbicara di depan, aktif dalam diskusi, dan hal lainnya. Saya akan lebih menikmati waktu saya berdiam, mengobservasi, menganalisa, dan memberikan pendapat secara tertulis.

Image result for introverts strength quotes

Mungkin, banyak di antara kita yang secara tidak sadar kuatir akan perkembangan anak-anak introver. Khususnya bagi orang tua dan guru. Karena mereka nampak lebih enggan bersosialisasi, lebih banyak diam dan tidak “aktif”. Ditambah lagi, rasanya hidup mereka nampak tidak menyenangkan. Nyatanya, orang introver baik-baik saja. I am also an introvert and I am doing fine.

Kualitas keterampilan seperti memimpin, mengemukakan pendapat secara verbal, memulai pembicaraan dengan orang asing, public speaking, kolaborasi aktif dalam berdiskusi, presentasi, berakting, lebih fleksibel dan tidak terlalu analitis, melakukan tanpa terlalu banyak perhitungan, dan melangkah keluar dari zona nyaman, memang lebih alami dan mudah diasah oleh orang-orang ekstrover. Namun, bukan berarti orang-orang introver tidak dapat melakukannya. Demikian juga keterampilan seperti observasi, perbincangan mendalam (deep conversation), analisa, mendengarkan, berpikir sebelum bertindak, menulis, reflektif, yang memang lebih alami dan mudah diasah oleh orang-orang introver, juga bisa diasah dan dilakukan oleh orang-orang ekstrover.

Nyatanya, orang-orang sukses membutuhkan keterampilan dan kualitas dari kedua sisi tersebut. Namun, karena tulisan ini dimaksudkan untuk lebih fokus pada “kelemahan” orang-orang introver, maka saya ingin lebih mengajak kita semua untuk merangkul “kelemahan” dan “kelebihan” orang-orang introver. Mereka yang nampak diam, bisa saja berbicara dengan nyaman dan lihai di depan auditorium, namun membutuhkan banyak latihan dan persiapan. Mereka yang nampak tidak aktif dalam berdiskusi sebenarnya sedang menganalisa dan mendengarkan argumen yang lain. Mereka yang tidak terlalu suka berbicara sebenarnya sedang berpikir dan mempersiapkan diri untuk menulis. Mereka yang kurang suka mempunyai banyak teman sebenarnya mempunyai 1-2 orang sahabat yang teramat dekat dan berkualitas.

Introver tidak lebih baik dari ekstrover. Ini hanya menunjukkan betapa uniknya manusia. Orang-orang introver juga baik-baik saja dan dapat melakukan banyak hal besar, seperti layaknya orang-orang ekstrover. Jika kita tergolong seorang introver, tenanglah, dan terus mengasah diri dan belajar keluar dari zona nyaman kita dan banyak belajar dari seorang ekstrover. Terus kembangkan diri kita sebaik mungkin. Jika kita seorang ekstrover, terus juga mengasah diri kita, dan rangkulah sang introver dan saling belajar darinya.

Pengalaman saya pribadi, saya tidak menyukai dan kurang mampu berakting, memulai pembicaraan dengan orang asing (terlebih jika ia tidak merespon dengan positif), dulu saya sangat pemalu dan malas berbicara di depan orang banyak, malas berargumen verbal dengan orang lain, berdiskusi, presentasi, mencoba tanpa terlalu banyak berpikir. Sekarang saya adalah seorang pendidik, guru yang harus berusaha melakukan itu semua, memimpin para murid, dan public speaking menjadi salah satu keterampilan yang saya paling andalkan.

Sebuah artikel yang ditulis Lisa Evans (https://www.fastcompany.com/90295027/six-things-introverts-and-extroverts-can-learn-from-each-other) bisa menjadi satu contoh referensi bagaimana kita bisa saling belajar dan belajar untuk terus menjadi pribadi yang lebih dewasa.

I am an introvert and I am fine.

Final destination

Hana      : “Liburan besok aku mau ke Solo nih.”

Asti        : “Ih ngapain ke Solo gak ada apa-apa gitu. Mending ikut aku aja, kita jalan-jalan
ke Bandung. Bisa kuliner dan banyak tempat wisatanya juga. Dingin pula.”

Fira         : “Iya bener, daripada ke Solo, mending ke Bandung aja. Atau kalau nggak, kita
ke Australia saja! Pas mau musim dingin. Aku nemu tiket murah juga. Terus, di
sana kita bisa menginap di tempat saudaraku. Jadi, pengeluaran lumayan bisa
ditekan.”

Asti        : “Wah iya boleh juga tuh! Ayuk ayuk! Asyik pasti ke Australia. Aku belum
pernah juga.”

Hana      : “Aku tetap mau ke Solo ah. Aku belum pernah ke sana. Aku mau berkunjung ke
sekolahku dulu sana.”

Kalau kita ada di posisi Hana, mana yang akan kita pilih? Mengikuti pilihan kedua sahabat kita, atau tetap pada tujuan akhir kita?

Bagaimana jika diubah konteksnya? Bagaimana jika ini soal memilih pasangan hidup? Gaya hidup? Pilihan pekerjaan atau karier? Ide bisnis? Pilihan jurusan kuliah? Keputusan dalam pekerjaan, atau keputusan-keputusan lainnya?

Image result for life filter to make decision

Jika ada teman yang mengajak kita memakan makanan sehat, apakah kita akan mengikutinya? Jika ada teman yang mengajak kita berbisnis dengan korup, apakah kita akan mengiyakannya? Jika ada kesempatan berkuliah di jurusan komunikasi, apakah kita akan mengambilnya? Jika kita mendapat kesempatan bekerja di perusahaan besar tetapi berlawanan dengan keinginan hati dan mimpi, apakah kita akan mengambilnya?

Untuk tidak salah fokus, sangat penting bagi kita untuk memfokuskan diri dan konsisten memandang pada final destination kita, tujuan akhirnya, purpose, mimpi, apapun itu namanya. Ketika kita yakin dengan tujuan yang ingin kita capai, rute yang kita akan ambil bisa fleksibel dan disesuaikan, asal arahnya menuju pada tujuan yang sama. Namun, jika kita tidak memiliki tujuan akhir yang jelas, itu akan memengaruhi nilai yang kita pegang, dan pada akhirnya juga memengaruhi keputusan-keputusan kita di sepanjang jalan.

Jika kita tidak tahu mau liburan ke mana, atau yang penting liburan, mungkin kita akan mengikuti usulan Fira, pada contoh percakapan tadi. Namun, seperti Hana yang tahu jelas dia mau pergi ke Solo karena ada tujuan yang ingin dicapai, ia lebih mudah untuk tidak tergoyahkan.

Mengapa saya katakan lebih mudah? Karena, pada realitanya, ada kalanya kita bisa hilang fokus dan lebih mementingkan tujuan jangka pendek, daripada tujuan akhirnya. Sama seperti pebisnis ang lebih mementingkan omzet atau keuntungan bisnisnya, daripada visi atau alasan mengapa ia memulai bisnisnya. Sama seperti pasangan suami istri yang memilih bercerai karena merasa hilang fokus pada tujuan bersama.

Mari, berusaha memperjuangkan perjalanan menemukan final destination kita, tujuan hidup kita. Mungkin dalam 1-2 tahun ke depan belum nampak jelas. Tidak apa-apa. Teruslah berjalan, teruslah berusaha. Suatu hari nanti ketika kita tekun mengusahakannya, kita akan menemukannya. Ketika kita sudah menemukan atau dapat memformulasikan dengan jelas dan yakin akan tujuan hidup kita, akan lebih mudah menjalani hidup karena kita mempunyai filter yang lebih jelas.

Image result for obsessed with the vision simon sinek flexible with the route

 

Kalau filter dalam hidup kita tidak cukup baik, bagaimana dengan hidup kita?