Belajar dan Karier

Penting bagi kita, pendidik (guru, dosen, orang tua, masyarakat) untuk memfasilitasi pembelajaran agar setiap peserta didik memahami arti penting pembelajaran mereka. Kalau semua hanya serba abstrak, tentunya mereka akan bingung untuk apa belajar materi atau pelajaran tertentu.

Sebagai guru matematika, saya sangat sering mengalaminya. Khususnya di masa saya masih banyak belajar sebagai guru matematika. Karena matematika adalah pelajaran yang paling tidak disukai murid, mereka seringkali bertanya, “Pak, untuk apa belajar materi ini?” Di balik pertanyaan itu, murid, selain mungkin jengkel dengan sulitnya matematika, mereka menyimpan hasrat keingintahuan terhadap kegunaan belajar matematika.

Hal ini yang disebut dengan istilah “visible learning”, menurut John Hattie (2008). Visible learning adalah faktor utama keberhasilan belajar peserta didik. Teknologi, kehebatan mengajar materi oleh guru, sumber belajar, dan lainnya menjadi tidak terlalu berarti ketika anak tidak mengetahui dengan jelas dan tepat untuk apa mereka belajar ini. Bukankah ini juga sama seperti kita ketika bekerja. Jika kita mengetahui dengan jelas visi dan tujuannya, akan jauh lebih mudah dan menyenangkan bagi kita untuk mengerjakan pekerjaan kita.

Bagaimana cara menghubungkan pembelajaran kita dengan karier masa depan mereka dalam kapasitas kita sebagai individu guru?

  1. Hubungkan materi dan mata pelajaran yang dipelajari dengan skill tertentu yang mereka butuhkan di saat bekerja (missal: dibutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk setiap pekerjaan, keterampilan membuktikan pada pelajaran matematika untuk belajar berpikir kritis)
  2. Hubungkan perjalanan studi dan karier tertentu dengan mata pelajaran tertentu (missal: menjadi aktuaris membutuhkan keterampilan matematika: analisis, modelling, dan statistika, menjadi dokter membutuhkan keterampilan apda bidang biologi dan kimia)
  3. Menggunakan network kita, mencari pembicara yang merupakan ahli di bidang pekerjaannya untuk memberikan deskripsi kegunaan materi pelajaran tertentu. Atau, bisa juga meminta para ahli ini untuk memberikan proyek (berdasarkan konteks masalah nyata) untuk dikerjakan peserta didik.

Image result for visible learning quotes

Saya yakin ada banyak hal yang bisa kita lakukan, dengan tujuan untuk membuat pembelajaran menjadi berkualitas, bermakna, dan bermanfaat bagi para peserta didik. Kita bisa mengeksplorasi lebih jauh apa saja yang bisa kita lakukan.

Mari belajar terus.

Membuat perbedaan, membawa perubahan

Untuk membuat perbedaan, siapapun bisa melakukannya. Dan penting untuk memiliki keberanian dalam pemahaman bahwa kita yang harus melakukan sesuatu untuk mewujudkan perubahan yang kita inginkan.

Dua kunci utama adalah:

    1. Bergerak bersama.
      Sendiri kita tidak dapat berbuat banyak, namun, sendiri kita bisa membuat perbedaan. Kita bisa nampak berbeda. Namun, untuk membawa perubahan, kita membutuhkan orang lain.
      Image result for make a difference, being change

 

  1. Membuat sebanyak mungkin orang menerima ide yang kita tawarkan.
    Cara mengomunikasikan ide pada awalnya menjadi poin penting untuk membuka pintu masuk lebih jauh.

Poin pertama cukup jelas, saya rasa. Bagaimana dengan poin kedua?

Salah satu cara efektif untuk membuat orang menerima ide kita adalah dengan menawarkan visi dan dampak dari ide kita. Seperti apa yang disampaikan Simon Sinek, dalam bukunya, Start with WHY. Mulailah dengan mengapa penting melakukan sesuatu, bukan dari apa yang mau kita lakukan. Mulailah dengan dampak akhirnya, atau visinya. Gunakan cerita dengan narasi yang dapat menarik, tetapi bukan membohongi. Dampaknya, peluang bahwa orang akan menerima ide kita akan meningkat. Jika ada orang yang menolak, bisa jadi mereka tidak memiliki visi yang sejalan dengan kita, atau mungkin mereka belum dapat memahami apa yang kita pahami.

Bagaimana jika mereka sudah menerima ide dan visi kita? Kita masuk ke kunci ketiga:

  1. Berikan data dan informasi yang mendukung dan sejalan dengan ide dan visi kita, jika memungkinkan.
    Ketika ide kita sudah didengar dan orang ingin masuk lebih jauh, hal penting berikutnya adalah dengan menggunakan data dan informasi. Data dan informasi yang kita gunakan harus obyektif, dan tidak hanya mendukung apa yang kita mau dan butuhkan.

Contoh kasus:

Anda adalah seorang staf bawahan, dan mempunyai ide yang baik. Misalnya, Anda melihat bahwa sangat penting untuk memiliki acara diskusi dan sharing mingguan bagi para karyawan dengan pimpinan. Tujuannya? Untuk mempererat relasi di antara karyawan, membangun kepercayaan, meminta masukan, dan mengomunikasikan ide-ide baik dari atasan maupun dari bawahan. Kemudian, Anda ingin menyampaikan ide ini kepada manajer atau bos Anda. Jika Anda kurang mampu mengomunikasikan dengan baik, walau ide ini adalah ide yang sangat cemerlang, atasan Anda mungkin hanya akan merasa bahwa ini pemborosan budget kantor.

Berkaca dari tiga poin tadi, bagaimana caranya mengomunikasikan dengan baik walau Anda sangat memahami dengan baik setiap esensi, tujuan, dan dampaknya? Gunakan visi, kemudian data dan informasi pendukung.

Image result for courage and vision to make a change

Secara lebih teknis, pelajari kebutuhan dan prioritas pimpinan serta keadaan kantor. Beberapa kasus yang bisa saya coba bahas berikut:

  1. Kalau kantor kita berada dalam kesulitan keuangan, tetapi pimpinan kita sebenarnya menyetujui ide kita.
    Berjalanlah lebih jauh, dan tawarkan bantuan keuangan, atau sepakati bersama bahwa momen itu tidak membutuhkan budget besar, atau jika membutuhkan budget, untuk beberapa kali kegiatan awal bisa patungan uang untuk mewujudkan ide ini.
  2. Kalau pimpinan tidak setuju sama sekali tanpa mendengar alasan kita.
    Kita bisa memberikan hasil riset mengenai dampak dari relasi kebersamaan yang terbangun dengan baik di antara karyawan dan pimpinan perusahaan lain.
  3. Jika pimpinan kita tidak menyetujui karena tidak percaya bahwa ide ini akan berhasil dan memengaruhi kinerja perusahaan secara positif.
    Tawarkan untuk mencobanya selama beberapa waktu, dan evaluasi. Tawarkan untuk melakukan riset berkelanjutkan selama kegiatan dilaksanakan.

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membawa perubahan, sebagai staf. Dan kasus yang saya berikan hanyalah dalam konteks yang sempit. Anda bisa mengadaptasinya dan bahkan mengeksplorasi lebih jauh untuk menyesuaikan dengan konteks dan kebutuhan tempat kerja kita.

Membuat perubahan memang tidak mudah. Dibutuhkan kemauan, keberanian, dan visi. Maukah kita mengusahakannya?

Passion dan Tujuan

Baru-baru ini, saya mengikuti free online course yang ditawarkan oleh The British Council, berjudul Ideas for A Better World: Leading Change Through Policymaking. Salah satu topik bahasannya adalah mengenai Passion and Purpose. Dikatakan bahwa passion dan tujuan (purpose) adalah dua hal yang terkait. Passion tanpa tujuan akan membuat frustrasi karena tidak mempunyai arah. Karena itu, penting bagi setiap dari kita untuk mengetahui bukan hanya passion kita, apa yang kita sukai untuk lakukan, tetapi juga untuk apa kita melakukannya.

Image result for future learn ideas for a better world policy making

Pada course tersebut, dijelaskan empat langkah sederhana untuk mengidentifikasi passion dan tujuan kita:

  1. Apa yang bisa kita pertahankan (What we can sustain)
    Hal ini berkaitan dengan sumber daya yang mendasari tujuan kita. Hal yang perlu diketahui dan diingat adalah bahwa walau kita memiliki tujuan yang tepat dan baik, tanpa adanya sumber daya tujuan tersebut tidak akan dapat tercapai.
  2. Apa yang dapat kita lakukan (What we can do)
    Aspek atau langkah ini berkaitan dengan kemampuan atau keterampilan apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan kita. Bagian ini menjadi penting karena kalau kita tidak mempunyai keterampilan atau kemampuan tertentu, akan sangat sulit untuk mencapai tujuan tersebut. Ini tidak juga berarti bahwa kita dapat melakukannya saat ini juga, tetapi paling tidak kita tahu bahwa kita perlu memelajarinya, pada batas tertentu, untuk mencapai tujuan kita.
  3. Apa yang dunia perlukan (What the world needs)
    Merupakan hal yang sangat penting bahwa tujuan kita didasarkan pada kebutuhan yang ada di dunia ini, bukan semata-mata kebutuhan kita sendiri, seperti kekayaan, ketenaran, dan lainnya. Tujuan ini pun juga perlu untuk berkaitan, Image result for what the world needsberdasarkan pada kenyataan yang ada dan kebutuhan di sekitar kita. Misalnya, karena lingkungan kita penuh dengan sampah plastik, karena itu kita memiliki tujuan untuk menciptakan lingkungan bebas material plastik.
  1. Apa yang mau kita lakukan (What we want to do)
    Untuk mencapai tujuan kita, penting bagi kita untuk mencintai apa yang kita lakukan, bukan hanya karena kita harus melakukannya.

 

Ketika langkah 2 dan 4 bersinggungan dan kita miliki, kita menemukan passion kita. Passion bukan hanya berarti sesuatu yang kita ingin lakukan, tetapi sesuatu yang kita juga memiliki kemampuan untuk mewujudkannya. Ketika semua langkah tersebut tercapai, kita mempunyai tujuan: kita mau (want) melakukan sesuatu, kita mampu (able) melakukannya, dunia membutuhkan (needs) kita untuk melakukannya, dan kita dapat bertahan (sustain) untuk menyelesaikannya.

Jika ada salah satu aspek atau langkah yang tidak terpenuhi dengan baik, akan tercipta gap:

Tanpa langkah 1: ada perasaan ragu yang berkelanjutan mengenai bagaimana caranya memastikan hasil yang bertahan lama

Tanpa langkah 2: aksi dan motivasi ada, tetapi rencana aksi kita tidak mempunyai kemungkinan yang cukup untuk berhasil

Tanpa langkah 3: aksi kita mungkin saja memiliki sumber daya yang cukup, tetapi pada dasarnya tidak berguna

Tanpa langkah 4: kita akan memiliki kesulitan untuk menentukan arah, walaupun kita mempunyai strategi obyektif yang berhasil

Seperti layaknya pada course tersebut, ini pertanyaan yang juga ingin saya bagikan:

  1. Langkah mana (1, 2, 3, atau 4) yang kita merasa percaya diri bahwa kita sudah menemukan atau mencapainya? Mengapa?
  2. Langkah mana yang sangat perlu untuk kita kembangkan untuk dapat kita penuhi? Mengapa?

Yuk kita renungkan kedua pertanyaan ini, dan jika berkenan bisa dibagikan di kolom komentar.

KPI

Apa itu KPI? Di sini saya tidak sedang membahas Komisi Penyiaran Indonesia ya, tapi Key Performance Indicator, ukuran/indikator keberhasilan atau kinerja seseorang.

Di dunia bisnis dan pekerjaan, kita selalu diperhadapkan dengan ukuran dan indikator keberhasilan. Seringkali, atau bahkan selalu, indikator keberhasilan adalah berupa nilai angka tertentu. Misalnya, Keuntungan dan omzet perusahaan, efisiensi pengeluaran, jumlah terjualnya kopi/teh/produk lainnya, nilai ujian siswa, jumlah siswa atau mahasiswa baru, rendahnya turnover karyawan, dan lainnya.

Saya rasa ini sudah sangat lumrah dan sering kita dengar. Hal yang saya ingin tanyakan adalah ini: seberapa indikator itu, atau KPI yang ditetapkan sejalan atau menjadi penurunan/terjemahan dari visi kita?

Berhubung saya adalah seorang pendidik, maka saya akan menganalogikan dengan contoh kasus di sekolah. Semua sekolah pasti memvisikan pendidikan yang berkualitas, walau detilnya tentu bermacam-macam. Pendidikan berkualitas dengan karakter unggul, atau lainnya. Namun, KPI yang digunakan misalnya seperti beberapa contoh berikut:

  • Berapa banyak peserta didik dengan nilai Ujian Nasional (UN) 100?
  • Berapa banyak peserta didik baru yang mendaftar di tahun ajaran 2019-2020?
  • Persentase realisasi anggaran
  • Berapa banyak kompetisi yang diikuti peserta didik dimenangkan (juara 1, juara 2, atau juara 3)?

Apakah ada kaitannya?

Baru-baru ini, saya menyadari satu hal penting dalam perjalanan karier saya sebagai seorang pendidik. Apa indikator keberhasilan saya sebagai pendidik di masa kini? Masa di mana nilai bagus yang diperoleh peserta didik bukan jaminan, di mana realisasi tinggi anggaran bukan jaminan kualitas pelaksanaan kegiatan, di mana jumlah kompetisi yang dimenangkan menjadi ukuran jaminan keberhasilan dan kualitas pendidikan.

Saya merenungkan perjalanan saya, dan muncul dengan ide berikut ini:

“Kalau memang harus berupa angka atau nilai, mengapa KPI kita tidak demikian: Berapa banyak orang yang telah saya inspirasi dan sentuh hidupnya selama 1 tahun ini?”

Bagi saya, ini sejalan dengan misi hidup saya: untuk menginspirasi orang sebanyak mungkin untuk melakukan apa yang menginspirasi mereka, menikmati belajar, dan merasakan kepenuhan dalam hidupnya.

Bagi saya, tak ada artinya nilai tinggi ketika hidupnya tak bermanfaat, berdampak, dan tidak inspiratif bagi sekitar. Bagi saya, tidak ada artinya nilai UN baik jika curang. Kualitas perjalanan dan langkah yang dijalani murid-murid saya menjadi lebih penting bagi saya daripada hasil akhirnya. Hasil akhir menjadi representasi perjuangan dan perjalanannya.

Bagaimana dengan Anda? Dapatkah Anda membentuk KPI sendiri yang sejalan dengan visi hidup atau perusahaan Anda?

Cangkir Keramik

We only deserve a styrofoam cup” – Simon Sinek, on Leaders Eat Last

 

Apakah kita memegang jabatan struktural tertentu di perusahaan/kantor tempat kita bekerja? Manajer? Koordinator? Kepala Sekolah? Direktur? Pemegang saham?

Jabatan apapun yang kita emban, pasti ada keuntungan yang kita terima. Mulai dari keuntungan sederhana dan kecil hingga keuntungan dan kenyamanan yang cukup besar. Misalnya, jika kita seorang manajer (atau pimpinan langsung di atas staf), mungkin kita mempunyai keuntungan untuk dibelikan makanan atau minuman oleh staf atau Office Boy/Office Girl. Bahkan dalam banyak cerita, staf pun bisa mempunyai keuntungan itu. JIka posisi kita lebih tinggi lagi, mungkin kita mempunyai ruangan tersendiri yang setiap harinya sudah tertata rapi dan bersih setiap kali kita datang ke ruang kerja kita. Mungkin ada sopir dan mobil kantor khusus diberikan kepada kita ketika memegang jabatan itu, kita disediakan kopi atau the di gelas keramik setiap harinya. Ada juga keuntungan tambahan bonus atau asuransi yang cukup besar.

Pertanyaannya, untuk siapakah setiap keuntungan tersebut? Untuk kita pribadi (sebut nama Anda masing-masing)? atau.. karena kita memegang jabatan tersebut?

Saya suka sekali dengan kisah yang diceritakan Simon Sinek terkait hal ini. Anda bisa menonton videonya (https://www.youtube.com/watch?v=dGHWy60VdXw) atau membacanya di https://larrysaliga.wordpress.com/2017/09/24/you-deserve-a-styrofoam-cup-a-lesson-in-humility-by-simon-sinek/. Ia menceritakan kisah seorang mantan pejabat pemerintahan yang menyadari hal tersebut. Ketika ia masih menjabat, dan ia menjadi pembicara di sebuah konferensi, ia mendapatkan tiket penerbangan kelas bisnis, ada orang yang menjemputnya di bandara dan membawanya ke hotel. Hotel sudah diaturkan dan sudah check in. Ketika esoknya ia akan pergi ke konferensi, sudah ada orang yang ditugaskan untuk menjemputnya di lobi dan mengantarnya. Tanpa diminta, ia diantar ke pintu belakang gedung konferensi, ke ruang tunggu, dan diberikan secangkir kopi.

Ketika ia sudah tidak lagi memegang jabatan, ia tidak lagi mendapatkan semuanya itu. Ia berangkat sendiri, naik pesawat kelas ekonomi, pergi ke hotel sendiri, check in sendiri. Tidak ada orang yang menjemput dan mengantarnya. Ketika ia sampai di tempat konferensi, ia pergi sendiri ke ruang tunggu dan ketika ia bertanya di mana ia bisa mendapatkan kopi, orang menunjuk kepada mesin kopi dan gelas styrofoam.

Cangkir keramik itu diperuntukkan jabatannya, bukan dirinya.

Sekarang refleksi bagi kita, keuntungan apa yang kita terima karena jabatan atau status kita? Apakah kita akan terus mendapatkannya walau kita tidak menjabatnya lagi? Atau kita mendapatkan keuntungan itu karena diri kita apa adanya?

Bersyukurlah untuk apa yang kita miliki, sekaligus lakukanlah tanggung jawab yang harus kita lakukan. Tetaplah rendah hati, karena cangkir keramik itu untuk jabatan kita, bukan untuk kita.

Ujian kru kapal

Izinkan saya bertanya hal sederhana ini:

Bagaimana cara mengetahui kehebatan kru kapal?

Saat tidak berlayar atau saat berlayar? Saat laut tenang atau ganas?

Saya percaya bahwa sebagian besar dari kita akan menjawab “saat berlayar” dan “saat laut ganas.” Bagaimana mungkin mengetahui kemampuan kru kapal kita sesungguhnya saat semua aman saja. Sama juga seperti kekuatan militer. Saat keadaan tenang, tentu kita dapat melihat kemampuan dan potensi mereka. Namun, kekuatan dan kemampuan sesungguhnya nampak pada saat mereka berada di medan perang sesungguhnya.

Demikian juga dengan kita dalam pekerjaan kita sehari-hari. Kemampuan dan potensi kita sesungguhnya lebih dapat terlihat dalam keadaan sulit. Apakah kerja sama tim kita baik atau tidak, apakah kita mempunyai komunikasi yang efektif atau tidak, karakter kita, semuanya akan nampak pada hari sulit itu.

Lalu, apa gunanya latihan di masa tenang?

Dalam konteks organisasi, masa tenang dan aman menjadi masa di mana kita melatih diri dan rasa percaya dan loyalitas. Ujian sesungguhnya datang pada keadaan sulit. Kalau kita bukan bekerja di bidang militer atau keamanan, berarti ujian kita datang pada saat keadaan ekonomi sulit, saat orang tua protes dan komplain ke sekolah dan pada kita, saat kita difitnah, dan lainnya.

Tidak mudah untuk berdiri dan tetap berjalan teguh di masa sulit, tetapi bukan mustahil! Karena itu, sejak saat ini, teruslah latih diri kita secara individu maupun tim kita, agar di masa apapun kita akan tetap dapat melaluinya dengan baik pada akhirnya. Buah dari latihan dan segala persiapan di masa tenang akan nampak pada keadaan sulit yang kita lalui.

Apa ujian Anda? Bagaimana Anda memaknainya? Bagaimana Anda melaluinya?

Sulitnya hidup

Suatu kali, murid saya bertanya, “Kenapa hidup ini begitu sulit? Kenapa sekolah susah? Saya stress dan cape.”

Rasanya, di masa kini, omongan semacam ini menjadi semakin sering terdengar. Paling tidak, bagi saya sendiri sebagai guru. Saya pun merasa bahwa hidup anak-anak zaman sekarang lebih sulit dan membuat stress daripada hidup saya dulu.

Tentunya, ini membuat gundah, karena saya merasa kasihan bahwa di masa sekolah, anak-anak saat ini sudah bergumul dengan kesehatan mental mereka. Banyaknya tugas, tekanan dari orang tua, guru, dan lingkungan, tuntutan untuk hasil semaksimal mungkin, dunia yang konstan dan cepat berubah dan menuntut mereka untuk cepat sukses, dan lainnya.

Kesehatan mental memang penting, dan karena itu membentuk sistem yang lebih seimbang dalam pendidikan dan hidup bermasyarakat tentunya menyenangkan. Sialnya, begitu sulit mengubahnya. Akhirnya, kesulitan dalam hidup menjadi tak terhindarkan.

Saya ingin mengajak kita untuk melihat kesulitan hidup melalui kaca mata yang berbeda.

Coba kita pikirkan hal ini: kalau hidup kita mudah, apakah kita akan berkembang? Kalau hidup kita mudah, apakah hidup kita seperti saat ini?

Image result for difficulties in lifeTerhadap pertanyaan murid saya tersebut, saya membalasnya, “Ketika kita membuat suatu paper, mengapa kita memilih topik yang cukup sulit dan kompleks? Dalam kaca mata sekolah, nilainya tidak akan tinggi. Mengapa tidak tinggi? Karena tidak banyak yang bisa dinilai sebetulnya, karena juga murid tidak dapat menunjukkan banyak kemampuannya. Sama seperti dalam hidup. Ketika hidup kita mudah, apa yang bisa kita tunjukkan? Dengan sulitnya hidup, justru kita mendapatkan kesempatan menunjukkan bahwa kita adalah permata yang indah. Hidup yang sulit menjadi kesempatan kita menunjukkan siapa diri kita dan kemampuan kita. Hidup yang mudah tidak bisa banyak memberi kesempatan kepada kita untuk menunjukkan kapabilitas kita.”

Bagaimana dengan Anda? Bagaimana Anda menghadapi kesulitan hidup?