Kita harus berubah

Sebentar lagi kita akan menutup tahun 2019, tepatnya 19 hari dari hari ini, kita akan memasuki tahun yang baru. Menyenangkan? Tentu! Mendebarkan? Ya!

Dunia tempat kita tinggal dan hidup berkembang begitu pesat. Kemajuan teknologi semakin mengagumkan, banyak jenis pekerjaan dan karier baru dan banyak juga yang hilang, manusia semakin membutuhkan koneksi internet dan pengetahuan tentang teknologi, cara orang berkomunikasi lebih digital saat ini, perubahan relasi antarmanusia, dan seterusnya. Dunia berubah, manusia berubah, dan dampaknya generasi masa depan ‘harus’ menyesuaikan dengan tuntutan ini. Artinya, pendidikan juga (perlu) berubah.

Semakin ke sini, saya semakin merasa bahwa ada banyak suara menuntut pendidikan untuk berubah. Belum lama ini, santer terdengar rencana Mendikbud baru kita, Nadiem Makarim, untuk mengganti format Ujian Nasional (UN) menjadi lebih seperti tes internasional Programme for International Student Assessment (PISA), untuk anak murid di kelas 4, 8, dan 11. Rencana kebijakan itu mendukung pernyataan Nadiem Makarim, yang ramai di media sosial, “Kita memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi. Kita memasuki era di mana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya. Kita memasuki era di mana akreditasi tidak menjamin mutu. Ini hal-hal yang harus segera disadari.” Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia pun juga ingin berubah, atau paling tidak ada kesadaran untuk mengubah sistem pendidikan di negeri ini, untuk lebih menyesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan dunia modern.Image result for education now and then

“Kita harus berubah!” Demikian banyak orang menyuarakan kondisi di pendidikan, baik nasional maupun internasional. Pendidikan yang status quo dipandang tidak lagi sesuai untuk menjawab kebutuhan zaman. Murid harus belajar lebih untuk berpikir dan memiliki keterampilan yang lebih mendukung dunia kerja, seperti kepemimpinan, berbicara di depan umum (public speaking), literasi, dan komunikasi. Di dunia pendidikan, dikenal istilah keterampilan abad 21 (21st century skills), yang terdiri dari keterampilan kehidupan dan karier (life and career skills), keterampilan belajar dan inovasi (learning and innovation skills), dan keterampilan informasi, media, dan teknologi (information, media, and technology skills).

Hal ini, walaupun, menjadi terkenal di dunia pendidikan, saya pikir belum tentu menjadi kesadaran bersama bagi semura orang awam (non-pendidikan). Mengerjakan perubahan ini menjadi pekerjaan rumah bagi setiap orang. Pendidikan tidak pernah hanya merupakan tanggung jawab institusi pendidikan, tetapi tanggung jawab bersama.

It takes a village to raise a child. It takes a society to raise a generation.”

Jika kita tidak familiar dengan dunia pendidikan secara khusus, tetap baik jika kita belajar tentangnya dan memerlengkapi diri untuk itu. Mungkin kita adalah orang tua (atau akan menjadi orang tua), atau kita bagian dari masyarakat, kita perlu mempromosikan dan mengajarkan keterampilan-keterampilan penting yang dunia butuhkan, bukan hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi kita maupun keluarga dan rekan kerja kita.

Kita harus berubah, dan mari mempersiapkan diri untuk itu dan mengerjakannya. Dunia tidak akan menunggu kita, malahan kita yang harus mengejar dan bahkan ikut serta membangun dunia ini.  Mari kita terus belajar tanpa henti, karena dunia pun tak berhenti belajar dan hidup tak berhenti mengajar.

 

(note: di artikel lain, saya akan membahas sisi “negatif” dari perkembangan pendidikan dan dunia ini).

Pendidikan tanpa bisnis

Apa yang terbersit di pikiran kita ketika kita mendengar bisnis pendidikan? Saya tidak tahu dengan Anda, tetapi jujur hal pertama yang terpikirkan adalah saya tidak menyukainya. Saya seringkali sinis dengan orang-orang yang mau berbisnis dalam industri pendidikan. Mengapa? Karena keduanya, bagi saya, memiliki sifat alami yang berbeda, paling tidak menurut yang selama ini saya pahami.

Di dunia bisnis, orang lebih berpatokan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya, bahkan ketika pelayanan tidak diberikan secara maksimal. Sedangkan, dunia pendidikan lebih menuntut pelayanan maksimal terhadap setiap anak murid, yang bahkan justru dapat mengorbankan diri demi kepentingan klien (murid dan orang tua).

Melihat kedua dunia ini bagi saya seperti layaknya air dan minyak yang tidak dapat disatukan. Keduanya bertentangan bahkan. Bagaimana mungkin sekolah, universitas, dan berbagai Lembaga pendidikan lainnya dapat berjalan baik dengan mengedepankan bisnis? Bukankah rasanya jadi money-oriented dan merugikan?

Selama karier saya, saya selalu bekerja di sekolah swasta. Berbeda dari sekolah negeri yang disubsidi pemerintah, sekolah swasta harus berjuang secara mandiri untuk mendapatkan sumber daya berupa uang kepentingan sekolah itu sendiri juga. Untuk menggaji para guru dan karyawan, membiayai fasilitas, dan berbagai kegaitan lainnya. Dalam arti lain, sekolah swasta harus menggunakan prinsip bisnis dalam mengoperasikan sekolahnya.

Lalu, bagaimana donk? Saya pun hingga saat ini belum menemukan jawabannya. Namun, saya masih menyimpan keyakinan bahwa keduanya dapat dikawinkan. Bahwa bisnis yang ideal tidak seharusnya mengedepankan keuangan, tetapi nilai (value). Ilmu pemasaran (marketing), penjualan (sales), dan lainnya yang sangat terkait dengan bisnis dapat digunakan untuk memajukan dunia pendidikan (atau lembaga pendidikan), tanpa menggerus atau menghancurkan nilai dan sifat alami pendidikan.

Salah satu hal yang mengganggu saya pribadi misalnya adalah soal nilai murid. Kita semua tahu bahwa nilai prestasi adalah hal penting di dunia pendidikan. Bahkan terlalu penting sehingga begitu banyak orang yang menomorsatukan nilai prestasi ini. Banyak orang masih percaya bahwa mereka yang mempunyai nilai bagus akan sukses di kemudian hari. Sayangnya, kita tahu tidak semua orang yang bernilai bagus memiliki kesuksesan secerah nilai yang diperolehnya.

Di dunia bisnis saat ini, sangat lumrah jika prioritas nomor satu sekolah adalah menghasilkan lulusan dengan nilai prestasi terbaik. Namun, jika melihat konteks pendidikan yang ideal, benarkah demikian? Bukankah kualitas belajar seharusnya yang lebih penting? Proses belajar dan apa yang dipelajari para murid menjadi lebih berharga? Bukankah keterampilan berpikir seperti berpikir kritis dan logis hampir tidak mungkin diukur dengan nilai angka?

Hal-hal semacam ini yang membuat seringkali terjadi “pertarungan” antara idealisme pendidikan dan bisnis. Kita dituntut untuk membuat segala sesuatu terukur dengan angka, padahal banyak hal di hidup ini yang lebih penting yang tidak dapat diukur dengan angka (misalnya, cinta kasih).

Satu hal penting yang saya pelajari dari Simon Sinek, seseorang yang menyuarakan idealisme pelayanan dalam dunia bisnis, adalah seharusnya kita tidak terobsesi pada tujuan angka yang sebenarnya adalah tujuan acak yang kita buat sendiri. Seharusnya kita terobsesi pada hal yang jauh lebih jangka panjang (infinite game) yang lebih berharga. Bukan nilai angka tapi kualitas proses belajar. Bukan prestasi angka, tetapi keterampilan yang dipelajari. Bukan berapa banyak yang lulus dengan nilai 100 atau A*, tetapi berapa banyak yang terinspirasi untuk belajar seumur hidup.

Untuk dapat mengubah cara berpikir ini, kita harus memulai dengan value yang kita ingin tawarkan dalam lembaga pendidikan. Jelas uang tetap dibutuhkan. Tak ada uang, sekolah pun hancur. Namun, ketika kita harus mempertaruhkan uang atau pengembangan manusia dan tujuan jangka panjang, mana yang kita pilih? Semangat yang mana yang mau kita prioritaskan? Ketika kita salah menetapkan prioritas, seluruh warga sekolah bahkan murid akan merasakannya. Apakah mereka yang dikorbankan atau mereka yang menjadi prioritasnya?

Mari bersama berpikir, berbagi, dan berkontribusi. Cara bisnis semacam apa yang bisa diterapkan di dunia pendidikan dan tetap memajukan pendidikan dengan tidak menghilangkan idealisme pendidikan?

You are my favorite!

Beberapa minggu yang lalu, saya berbincang dengan salah satu mantan murid saya. Saat ini dia masih di kelas 9. Saya mengajarnya ketika ia berada di kelas 7. Dalam perbincangan kami, ia menanyakan apakah ia adalah murid favorit saya (anak-anak sekarang memang beda dari di masa dulu. Perbincangan santai dan jujur semacam ini bisa jadi makanan sehari-hari guru di masa kini). Saya menjawabnya, “Tidak. Saya tidak mempunyai murid favorit.” Dan dia agak mengeluh, mengatakan bahwa murid biasanya mempunyai guru favorit, tetapi saya tidak mempunyai murid favorit. Seolah mengatakan harusnya ada “relasi yang sepadan.”

Pada momen yang lain, hal serupa pun ditanyakan oleh murid saya yang lain ketika kami sedang melakukan kelas tambahan. Jawaban saya pun sama, “Tidak.”

Sebagian orang mungkin bertanya mengapa saya tidak mempunyai murid favorit. Izinkan saya juga mengajukan pertanyaan yang sama bagi kita semua. Siapa murid favorit kita? Siapa anak favorit kita? Rekan favorit kita? Bos favorit kita?

Jika kita mempunyainya, mengapa orang tersebut menjadi orang favorit kita? Sebaliknya, jika tidak, mengapa tidak mempunyai?

Mempunyai seseorang yang kita lebih sukai, atau menjadi orang favorit kita, menurut saya, sangatlah manusiawi. Sangat manusiawi bagi seorang guru memfavoritkan anak muridnya. Misalnya, mereka yang sangat cerdas, atau berparas dan berpenampilan menawan, atau hebat dalam hal tertentu sesuai harapan kita, atau selalu menyenangkan hati kita. Sebaliknya, sangat mudah bagi guru untuk tidak menyukai anak murid yang tidak sesuai harapan kita, misalnya murid yang malas, kurang atau tidak berprestasi, sering melanggar aturan, menyebalkan di kelas, atau yang lainnya.

Namun, etis atau pantas kah bagi seorang guru mempunyai murid favorit? Orang tua mempunyai anak favorit? Pemimpin mempunyai bawahan favorit? Di dalam lubuk hati kita mungkin itu tidak terhindarkan, tetapi bagaimana kita bersikap dan berperilaku, menurut saya, seharusnya diusahakan sedapat mungkin untuk tidak mempunyai bias karena ada favoritisme tersebut. Jika iya, khususnya bagi orang tua dan guru, hal tersebut akan membawa hal yang tidak baik pada relasi secara umum dengan anak atau murid yang lain.

Saya kerap mendengar bahwa guru tertentu memfavoritkan anak murid tertentu, dengan alasannya masing-masing. Sialnya, hal ini saya dengar dari mulut murid yang lain. “Ah sir, kalau guru A sih paling suka sama si itu tuh.” Betapa tidak nyaman didengar bukan?

Image result for children are all equal

Hal inilah yang membuat saya sedapat mungkin tidak mempunyai murid favorit. Kalaupun ada, saya tidak akan pernah memberitahu pada siapapun, dan sedapat mungkin tidak memunculkan perilaku favoritisme itu saat di sekolah. Berusaha untuk selalu netral dan adil dalam memperlakukan setiap murid. Sebaliknya, jika ada anak murid yang menyebalkan, saya pun juga selalu berusaha untuk bersikap netral dan memperlakukannya sama seperti anak murid yang lain.

Betapa tidak mudahnya menjadi guru, menjadi orang tua, menjadi pendidik, menjadi pemimpin. Di satu sisi, kita manusia biasa yang dapat mempunyai bias favoritisme tersebut. Namun, kita perlu terus belajar dan berusaha mengontrol diri kita agar hal tersebut tidak mengubah bagaimana kita mendidik anak yang satu dan yang lain. Dampaknya, setiap anak bisa merasakan dihargai apa adanya dan diperlakukan dengan hormat, sehingga dapat tercipta relasi positif dan saling menghormati antara pendidik dan yang dididik, antara guru dan murid, orang tua dan anak, pemimpin dan pengikut.

Sulit? Tentu. Mungkinkah kita mengatasinya? Jelas!

Maukah kita mengusahakannya? Selamat berjuang.

Terima kasih!

Masa sekolah saya tidak pernah benar-benar menginspirasi. Segala hal yang saya jalani dan alami di sekolah terasa biasa saja. Tidak ada guru yang begitu “hebat” dan menginspirasi, tidak ada pengalaman spesifik yang berarti dalam hal pengalaman bersama atau karena guru tertentu. Namun, setelah saya berprofesi sebagai seorang guru, justru saya melihat ada satu guru saya yang mana saya bekerja bersamanya, yang menginspirasi.

Siapakah guru tersebut? Beliau adalah guru matematika di SMPK Tirtamarta – BPK Penabur, guru saya pada tahun 2002-2003, yang kemudian menjadi rekan kerja dan menjadi kepala sekolah saya. Mengapa beliau menjadi pribadi guru yang menginspirasi bagi saya? Karena setiap usahanya menunjukkan betapa semangat dan setianya beliau menjadi seorang guru. Beliau selalu memberikan usaha terbaiknya untuk mendidik para muridnya. Bukan hanya persoalan akademik, melainkan hal-hal “remeh” bagi kebanyakan guru lain seperti kesehatan dan makanan muridnya pun ia perhatikan. Bahkan hingga saat ini, saya belum pernah lagi bertemu seorang guru yang memerhatikan murid sampai ke apa yang mereka makan.

Ketika beliau menjadi kepala sekolah, walau sebenarnya beliau tidak menyukainya, beliau tetap berusaha yang terbaik dan bekerja lebih dari apa yang diminta. Beliau menetapkan standar yang tinggi untuk melayani dan mendidik murid-muridnya. Beliau selalu berusaha bukan hanya mengajar materi, tetapi mendidik para murid agar berkarakter Kristiani (sesuai dengan apa yang ia harapkan, berhubung sekolahnya juga merupakan sekolah Kristen).

Mengapa hal tersebut menginspirasi bagi saya? Saya sendiri seorang guru, dan melalui sosok beliau ini saya belajar betapa seorang guru seharusnya rela bekerja extra mile dan menginspirasi para muridnya dengan memperlakukan mereka sebagai manusia seutuhnya. Apa yang beliau lakukan menjadi salah satu pegangan saya dalam mendidik anak-anak murid saya sampai saat ini.

Jika kita, sebagai orang Indonesia, diajukan pertanyaan, “Siapakah guru yang paling Anda ingat dan mengapa?”, apakah jawab kita?Image result for what teachers make

Sebagian dari kita mungkin akan dapat dengan cepat mengingat dan menjawabnya. “Pak Ari,” “Ibu Susi,” atau sejumlah nama lainnya dapat dengan mudah disebutkan, dengan berbagai alasan personalnya, misalnya:

  • “Dulu saya sangat bandel, dan Bu Susi adalah guru yang paling sabar dalam menghadapi saya dan tidak pernah menghakimi saya.”
  • “Pak Ari adalah guru yang hebat. Beliau bukan guru paling pintar di sekolah dulu, tetapi beliau sangat terbuka untuk mau belajar, bahkan dari setiap muridnya. Ia selalu merangkul kami dan mau belajar bersama dengan kami. Jadi kami tidak merasa digurui.”

Di hari ini, kita memeringati Hari Guru Indonesia. Di hari ini, mari paling tidak kita coba merenungkan pertanyaan saya tadi. Siapa guru yang paling kita ingat dan mengapa? Apakah guru tersebut diingat karena hal baik atau buruk yang dilakukannya? Seberapa jauh mereka menginspirasi kita untuk bertumbuh menjadi siapa diri kita saat ini?

Lebih penting lagi, bukan hanya kita mengingat apa yang mereka lakukan bagi kita. Pernahkah kita datang kembali kepada mereka dan berterimakasih atas jasa mereka? Pernahkah kita mengucapsyukur dan memasukkan mereka dalam doa pribadi kita? Pernahkah kita melakukan sesuatu bagi mereka atas rasa terima kasih kita?

Biarlah pertanyaan ini kiranya mengganggu hati dan pikiran kita di hari ini.

Selamat hari guru Indonesia, majulah terus pendidikan Indonesia!

Related image

I need you!

Dua minggu yang lalu, saya dan teman-teman di gereja saya baru menyelesaikan rangkaian pertandingan pada turnamen yang diadakan gereja tempat saya beribadah dan berkomunitas. Pada babak semifinal, kami bertanding dengan tim kandidat juara. Saya tidak terlalu berharap kami menang. Bahkan, saya pikir kami akan dibantai. Nampak pesimis sekali bukan? Tentu saja, para pemain dari tim lawan banyak terdiri dari pemain klub basket profesional, dan kami hanyalah tim yang baru dibentuk 2 minggu sebelum turnamen untuk ikut meramaikan turnamen.

Pada saat itu, ada satu pemain kunci di tim lawan yang tidak hadir. Tidak disangka, kami kalah dengan skor 46-50. Pada 2 kuarter pertama, kami mengungguli tim lawan. Kuncinya di kuarter 3 ketika skor tim kami mulai disalip dan kami kesulitan untuk membalik keadaan. Beberapa kali timeout kami ambil, tapi tidak banyak mengubah keadaan.

Image result for we need each other

Selesai pertandingan, teman saya menanyakan hasil pertandingan (kebetulan ia tidak menonton pertandingan tersebut, dan ia adalah salah satu pemain dari gereja lain yang mungkin akan bertemu dengan tim yang kami lawan di semifinal tersebut). Singkatnya, dari perbincangan kami, ada satu hal yang kami setujui. Kami tidak mempunyai pelatih.

Ya, kami tidak mempunyai pelatih yang berdiri di pinggir lapangan untuk mengatur strategi dan mendorong kami saat bermain. Saya merangkap sebagai pemain, kapten, dan pelatih, dengan keterbatasan kemampuan saya. Salah satu pemain di tim kami yang kami anggap pemain terbaik kami tidak terlalu banyak berbicara. Mungkin karena ia adalah anggota baru di gereja kami. Ketika kami berada dalam kesulitan, ia yang lebih banyak bertindak dan berusaha memasukkan bola dengan segala usahanya.

Di sini, saya lebih menyadari hal ini. Betapapun hebatnya kita, kita selalu membutuhkan seseorang di samping kita. Mengapa? Bukan berarti kita tidak mampu. Namun, menarik bahwa ketika kita sedang “bermain di lapangan”, kita tidak sepenuhnya bisa melihat dan membuat keputusan terbaik akan apa yang seharusnya kita lakukan. Bahkan, seringkali kita bisa membuat kesalahan-kesalahan kecil yang kita pikir tidak akan pernah kita lakukan sebelumnya. Sadar atau tidak, kita membutuhkan seseorang di samping kita untuk menolong kita melihat lebih baik, untuk mendorong dan memotivasi kita memberikan terbaik, untuk mengarahkan kita untuk melakukan apa yang harus kita lakukan pada saat tertentu, untuk membuat keputusan terbaik.

Image result for we need each other

Pemain profesional pun membutuhkan pelatih. Atlet fenomenal seperti Michael Jordan, Tom Brady, Usain Bolt, Muhammad Ali, Michael Phelps, ketika mereka berada pada masa keemasannya, tetap pula membutuhkan pelatih. Demikian juga orang-orang seperti Bill Gates, Steve Jobs, Warren Buffet, Jeff Bezos, Barack Obama, Joko Widodo, dan Nadiem Makarim. Demikian juga kita sebagai orang dewasa, remaja-remaja kita, pemuda pemudi bahgsa, anak-anak kita.

Setiap orang membutuhkan orang lain untuk terus berkembang. Tidak ada satu orang yang hebat dan mampu melakukan apapun dan mencapai apapun, kecuali Tuhan. Mari kita menyadari hal ini dengan sebaik-baiknya.

Jika kita mempunyai kemampuan dan pengalaman lebih, bagikanlah kepada mereka yang lebih muda, jadilah mentor dan coach bagi mereka. Namun, di saat bersamaan, belajarlah juga dari orang lain. Dengan demikian, kita menciptakan dunia yang lebih baik bagi sesama, bukan hanya bagi diri kita sendiri.

“Sendiri kita dapat membuat perbedaan, bersama kita membuat perubahan.”

Start with WHY (perjalanan saya)

18 Maret 2018, saya menulis artikel Start with WHY sebagai refleksi dan ringkasan dari apa yang saya baca dari buku yang ditulis Simon Sinek tersebut. Sejak itu, saya selalu mengikuti presentasi/seminar (talks) yang dibawakan oleh Simon Sinek, termasuk juga membaca buku-buku yang ditulisnya kemudian, seperti Leaders Eat Last dan Together is Better. Saya merasa sangat terinspirasi dan belajar banyak dari setiap diskusi dan tulisannya. Sangat manusiawi dan sangat sejalan dengan apa yang saya impikan dan prinsip yang saya pegang dalam hidup maupun bekerja.

Image result for simon sinek quotes

Alasan saya menulis artikel ini adalah karena setelah sekitar 1.5 tahun setelah refleksi tersebut saya tulis, artikel tersebut merupakan tulisan saya yang paling banyak dilihat atau dibaca oleh pengunjung blog saya ini. Rata-rata setiap harinya ada sekitar 10 pembaca. Kadang kalau banyak, bisa sampai 20 atau 30 pembaca.

Menarik bagi saya, karena pada dasarnya saya hanya ingin berbagi pada waktu itu karena menurut saya buku tersebut sangat menginspirasi. Ternyata, saya rasa itu tidak hanya berlaku bagi saya. Namun, bagi banyak orang juga. Apa yang Simon Sinek kerjakan dan tulis menjadi pergerakan yang berarti bagi dunia.

Image result for simon sinek quotes

Ia memimpikan bahwa tercipta dunia di mana sebagian besar orang di dunia ini bangun pagi setiap harinya merasa terinspirasi untuk bekerja, merasa aman (safe) di tempat kerjanya, dan pulang dengan perasaan puas (fulfilled) pada akhirnya. Saya rasa, itu juga mimpi begitu banyak orang di dunia ini. Begitu juga mimpi saya, dalam khususnya konteks pendidikan. Saya pun memimpikan hal yang sama bagi setiap murid saya. Saya ingin sekali setiap murid di sekolah bisa menikmati dan merasa aman berada di sekolah, dan karena itu bisa belajar dan memberi yang terbaik di sekolah untuk menjadi bekal bagi masa depan mereka.

Semenjak saya membaca buku-buku dan mendengarkan (atau menonton) video talks dari Simon Sinek, saya berusaha sekali untuk menerapkannya dan mengingatnya (karena saya seringkali mengulang videonya, lama-lama jadi ingat sendiri). Beberapa hal berikut coba saya lakukan:

  1. Kelas di mana saya menjadi walinya – saya menguahakan mefasilitasi untuk membuat para murid merasa aman dan diperhatikan di kelas saya. Caranya, salah satunya dengan merayakan ulang tahun anak-anak secara bersama-sama melalui hal kecil. Kartu, hadiah coklat, dan doa bersama.
  2. Kelas yang saya ajar – saya berusaha memfasilitasi anak-anak belajar dan merasakan makna dan tujuan belajar matematika, seperti belajar berpikir kritis, menganalisa, dan mengaplikasikannya dalam konteks dunia nyata.
  3. Ketika ada anak yang nilainya buruk/turun – bukan mempertanyakan apa yang sudah ia lakukan dalam belajar saja, tetapi menanyakan apa kesulitannya atua hal lain (bisa bsia jadi ia punya masalah keluarga), dan bagaimana saya bisa membantunya.

Dampaknya, entahlah. Namun, sejauh yang saya tahu, saya dan murid saya mempunyai respek satu sama lain dan kami bisa saling mendengarkan keluh kesah. Bukan hanya relasi guru-murid secara akademis yang tercipta, tetapi juga relasi mentor-mentee. Terlebih lagi, hidup anak-anak remaja masa kini di kota besar tergolong sulit karena banyaknya tekanan dari berbagai sisi. Dengan apa yang saya coba lakukan, mereka lebih merasa aman dan bisa membuka diri terhadap saya. Secara tidak langsung, mereka lebih menyukai pelajaran saya, atau paling tidak gurunya walau pelajarannya menyebalkan (maaf, matematika soalnya).

Related image

Seperti yang dikatakan Simon Sinek, setiap kita bisa menjadi pemimpin yang kita idamkan, the leader we wish we had. Saya sangat setuju dan suka terhadap ide tersebut. Kita tidak bisa mengontrol semua hal, karena mungkin kapasitas dan otoritas kita terbatas. Kita bisa melakukan apa yang bisa kita lakukan dalam lingkaran pengaruh kita. Ini pula yang saya lakukan di sekolah saya saat ini. Saya tidak bisa sepenuhnya memengaruhi kepala sekolah saya, tetapi saya bisa menjadi pemimpin bagi rekan kerja dan murid-murid saya.

Ini perjalanan saya terhadap apa yang saya pelajari, dan itu juga baru sedikit yang saya sampaikan. Bagaimana dengan kita semua? Apa yang kita pelajari di masa lalu, dan hingga saat ini masih terus teringat dan sudah kita usahakan untuk lakukan?

Selamat terus berjalan dalam ziarah kehidupan dan memberi pengaruh positif bagi orang di sekitar kita.

I am the role model!

Sebagai orang tua dan pemimpin, pada level apapun itu, kita mempunyai kecenderungan untuk “meminta” anak-anak kita dan pengikut/bawahan kita untuk menjadi seperti kita (atau menjadi seperti apa yang kita harapkan). Sebagian anak-anak “diminta” melalui didikan untuk menjadi anak yang taat, hormat pada orang tua, rajin membaca, rajin belajar, les ini dan itu, dan sebagainya. Sebagian anak-anak lain “diminta” untuk menjadi anak yang seperti teman dengan orang tuanya, boleh lebih bebas mengatur jadwalnya sendiri dan berbicara dengan lebih luwes, dan sebagainya. Pengikut kita juga kita “minta” untuk melakukan hal-hal yang kita inginkan di tempat kita bekerja, baik itu soal pekerjaan maupun sikap dalam bekerja dan berinteraksi dengan sesama.

Semua itu adalah hal yang alami kita lakukan sebagai orang yang mempunyai otoritas atas orang lain. Entah itu sebagai orang tua, guru, maupun pemimpin. Bahkan, memang dalam masyarakat kita dituntut untuk demikian.

Namun, sayangnya. Kita ketahui juga bahwa tidak semua orang tua mendidik dengan baik. Tidak semua guru mendidik dan mengajar dengan sempurna. Tidak semua pimpinan memimpin dengan efektif. Bahkan, kenyataannya ada banyak di antara kita yang cacat dalam menjalankan peran tersebut. Kita menjadi “racun” dalam komunitas atau tim kita, membuat sulit hidup orang yang kita pimpin, atau anak kita sendiri.

Kita, sadar atau tidak, berharap menjadi role model atau teladan yang baik, tetapi pada saat bersamaan kita belum tentu mampu melakukannya. Hal ini bisa menjadi bahasan tersendiri (bukan bagian dari tujuan saya menulis artikel ini). Sayangnya, dalam ketidakmampuan kita tersebut, kita ingin (dan mendidik) orang lain menjadi agar menjadi seperti yang kita inginkan (atau menjadi seperti kita). Kalau kita adalah orang yang terbuka dan mau terus belajar, walaupun kemampuan kita tidak seberapa, masih tidak apa. Sulit jika ternyata kita adalah orang yang tidak mau belajar. Apa akibatnya? Hidup orang lain merana.

Lalu, bagaimana sikap kita jika berperan sebagai anak? Sebagai bawahan? Sebagai orang yang “dididik” untuk menjadi seperti mereka? Tiga hal yang bisa saya bagikan:

  1. Kritis
    Kita perlu belajar bersikap dan berpikir kritis. Mengapa? Dengan demikian, kita dapat lebih memilah mana yang baik kita ikuti, mana yang tidak. Mana yang sesuai dengan nilai moral yang kita anut, mana yang tidak. Mana yang sesuai dengan prinsip hidup kita, dan mana yang berlawanan.
  2. Self-education (pendidikan diri)
    Perlu adanya pendidikan yang terus menerus kita lakukan, walau kita tidak mendapatkan didikan yang baik dan benar dari lingkungan kita. Kita tidak bisa bermain menjadi korban (playing victim) dan menyalahkan keadaan atau orang lain. Kita bertanggungjawab dan berkewajiban mendidik diri sendiri, kapanpun dan di mana pun itu.

  3. Courage (keberanian)
    Milikilah keberanian untuk “membangkang”. Lho, kok membangkang? Bukannya itu salah? Membangkang di sini berarti kita berani menolak hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip, nilai yang kita anut. Bisa jadi orang tua kita pun salah. Bisa jadi guru kita salah. Bisa jadi pemimpin kita salah. Bisa jadi lingkungan sekitar kita mengajarkan hal yang tidak sesuai etika dan moral. Hal ini menjadi tekanan bagi kita, dan dibutuhkan keberanian untuk “membangkang” dan memilih berjalan di jalan yang benar.

Image result for toxic parents quotesJika kita adalah seorang guru, orang tua, atau pemimpin, teruslah belajar dan terbuka terhadap masukan agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, khususnya mereka yang kita pimpin. Menyadari bahwa kita tidak sempurna dan terus mau belajar menjadi kunci penting dalam relasi kita dengan mereka.

Sebaliknya, jika kita adalah seorang yang dipimpin, tetap hormatilah mereka yang memimpin dan mendidik kita, walaupun mereka salah (atau bahkan berulang kali salah). Mereka pun manusia. Di saat bersamaan, kita juga bertanggungjawab mendidik diri kita sendiri dan berani mengambil jalan yang berbeda yang kita percayai benar.

Selamat menjadi role model.