Kembalikan waktu saya

Terima kasih atas setiap usaha dan karya yang sudah Anda lakukan, Dini! Terus semangat bertumbuh dan berkarya sebaik-baiknya 😊

Apa yang Anda rasakan ketika Anda datang di pagi hari ke tempat bekerja dan menemukan kertas atau post-it bertuliskan pernyataan di atas yang ditujukan pada Anda? Senang bukan? Atau paling tidak hati kita tergelitik untuk lebih semangat bekerja (kecuali kita merupakan tipe orang yang terlalu mengkritisi diri sendiri)? Bukan tidak mungkin juga kita menjalani hari tersebut dengan semangat dan mau menginspirasi orang lain di hari itu juga.

Image result for thanks for your hard work

Apa yang Anda rasakan ketika atasan langsung Anda (orang tua, guru, dosen, pimpinan, atau siapapun yang mempunyai otoritas terhadap Anda) datang ke ruangan atau meja Anda dan mengatakan hal tersebut di atas?

Mana yang lebih membuat Anda lebih merasa semangat dan terinspirasi? Post-it tersebut atau kehadiran orang yang menulis pesan tersebut? Mengapa?

Saya pribadi akan lebih merasa semangat dan terinspirasi dengan kondisi kedua. Terlebih lagi, jika orang tersebut adalah orang yang memang saya idolakan dan inspiratif bagi saya. Mengapa? Karena orang tersebut meluangkan waktunya untuk mendatangi saya dan mengapresiasi apa yang saya lakukan. Apresiasi itu sendiri sudah merupakan hal berharga, apalagi ketika disampaikan secara langsung.

Image result for some people free their time

Di masa kini, meluangkan waktu menjadi hal berat yang dilakukan banyak orang, karena saat ini semua serba digital dan online dan orang semakin sibuk dengan keperluannya masing-masing. Lebih mudah dan cepat jika mengirim e-mail atau pesan singkat saja. Tidak perlu telpon, apalagi bertemu. Lebih mudah lagi jika tidak melakukannya, dan tidak perlu kuatir karena banyak orang juga tidak melakukannya.

Karena itu, di sisi lain, meluangkan waktu juga menjadi berharga ketika kita melakukan sesuatu untuk orang lain. Mengapa? Karena waktu tidak akan kembali. Ketika saya meluangkan waktu saya untuk berbicara dengan Anda, itu akan berbeda dari mereka yang berbicara dengan Anda di waktu luang mereka. Usaha untuk meluangkan waktu yang tidak akan kembali menjadi berharga bagi mereka yang menerimanya.

Kalau hal tersebut bisa menginspirasi kita, maukah kita juga melakukannya untuk orang lain?

Be so good they can’t ignore you (Eng version)

One day in the past, I was struggling with my work, my career path. Back then, I felt that I did not have a clear career path in my workplace. I was a teacher at an international school in Indonesia. The best position I could pursue back then was to become the Subject Area Coordinator (SAC) who took charge of the curriculum control at the micro-level (work with the teachers). I would not be able to become a vice-principal because there was no such position there, and it was nearly impossible to become the principal as well as the appointed principal was an expatriate (it’s an affiliation with a school in Singapore).

During that time, I shared this story to my lecturer, my mentor when I attended master’s degree program (for you who know, she is Dr. Ashley Ng). I had a discussion with her and she told me this statement I remember up till now and I will remember always, “Be so good they can’t ignore you.” She tried to encourage me to work so hard to be an excellent person and teacher that nobody can ignore me because I am so good.

Back then, I just thought that it was merely a piece of advice from someone and I kinda ignored it. Though the advice sounded so good, I was drowned in my struggle and thoughts.

When I was writing this article, which was about a year after the time I discussed with Dr. Ashley, I came to realize what it really means. And, I also realized that all this time I kept the words in my heart and tried to internalize them. And this is what it means to me, wherever we are, we are a diamond (in our own size and quality). Probably, we are not sharpened or honed good enough but still we bear a huge potential to be successful and inspirational. Our environment will inevitably influence our behavior and way of thinking but it should never define us and determine our fate. Challenges will still be there, and these might hinder our career path and work. However, never give up. We can keep growing as best as possible and achieve the best. If now we are not recognized because we are considered to not be able to show our potential and quality, never stop. Keep growing and improving ourselves.

On the other hand, this fight demands humility, self-confidence, and courage. If we are not humble enough, in the end, we might lose our self-confidence. Challenges would scare us to a certain extent. However, we have to fight and work on it. Walk the journey slowly, but sure. Develop our strengths and potential as best as possible. Sooner or later, we would reach the point where people will notice our work, our quality, though it is not our main priority and goal.

Image result for be so good

For us who have this same struggle, for us who are fighting for advancement in our career and position we see too hard to be achieved, for us who are fighting to build a startup but couldn’t find an investor yet, for us who are in the condition that needs attention from people in relation to our capabilities and quality.. be patient and keep working to improve. One day.. believe.. that one day will come.

Diam menghanyutkan

Image result for person who thinks and observes

“Orang yang paling berbahaya adalah mereka yang mendengarkan, berpikir, dan mengobservasi.” – Bruce Lee

Kemarin, saya sedikit menyinggung mengenai orang-orang introvert dan keahlian alaminya. Salah satunya adalah dalam hal mengamati. Orang-orang introvert memiliki keahlian lebih alami, dibandingkan orang ekstrovert, untuk mengamati/mengobservasi dan menganalisa dalam kesunyian. Orang mungkin tidak menyadarinya, tetapi orang-orang introvert bisa “tiba-tiba” hadir dengan segudang hasil pengamatan dan analisa.

Orang-orang introvert secara alamiah dibekali keterampilan observasi dan analisa yang lebih kuat, dan ketika diasah lebih lanjut akan menjadi kemampuan yang menguntungkan. Di dunia pekerjaan, kedua keterampilan ini menjadi bagian penting dan sangat diperlukan untuk memajukan organisasi.

Ketika dunia saat ini mengagungkan kemampuan kolaborasi dan keterampilan sosial lainnya, kita perlu mengingat juga bahwa ada keterampilan observasi, mendengarkan, berpikir, menganalisa, yang cenderung dilakukan dalam diam dan kesendirian yang dapat mengubah dunia di sekitar kita. Dunia tidak selalu berubah karena “keberisikan” kita ketika bekerja. Hasil karya kita bisa jadi membuat “berisik” dunia, namun “keberisikan” itu bisa lahir dalam diam dan “kesunyian”.

Inilah keunikan dan kekuatan orang introvert yang tidak dimiliki kebanyakan ekstrovert. Dalam diamnya, orang introvert bisa sudah mengamati dan menganalisa lebih jauh dan bisa memberikan hasil yang tak terbayangkan sebelumnya. Sama seperti orang ekstrovert yang lebih alamiah mempunyai keterampilan membentuk network (jaringan), kolaborasi, dan menjadi people-person.

Melalui artikel hari ini, bukan berarti saya ingin mengatakan bahwa orang ekstrovert tidak bisa melatih keterampilan observasi dan analisa. Baik orang introvert maupun ekstrovert mempunyai kesempatan yang sama untuk bertumbuh dan sukses menurut gayanya masing-masing dan pada bidang keahlian masing-masing. Saya lebih menekankan perspektif introvert karena itu lebih mudah bagi saya untuk merefleksikannya sebagai orang introvert, dan karena saya juga merasa orang introvert lebih mudah terabaikan dan terpinggirkan (khususnya dalam konteks dunia Barat, menurut Susan Cain). Siapapun kita, apapun kepribadian kita, tugas kita adalah untuk terus mengembangkannya seoptimal mungkin untuk dapat menginspirasi dunia dan bersama kita mengubah dunia.

 

 

 

Jangan abaikan kami

Apakah kita mempunyai rekan kerja, teman belajar, atau teman bermain yang merupakan seorang introvert. Menurut Anda, seperti apa mereka? Apakah Anda merasa nyaman berteman dengan mereka atau Anda merasa kesulitan? Atau mungkin Andalah seorang yang introvert?

Orang-orang berkepribadian introvert diidentifikasikan dengan beberapa sifat atau karakteristik berikut (Susan Cain, Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking):

  • Cenderung diam
  • Mendapatkan energi dalam momen menyendiri dan refleksi
  • Lebih sering atau cenderung menikmati aktivitas yang membutuhkan ketenangan dan kesendirian, seperti membaca, menulis, bermain komputer, dan memancing.
  • Lebih cenderung berpikir dan menganalisa sebelum berbicara dan bertindak
  • Punya keahlian lebih alami dalam mendengarkan dan mengamati/mengobservasi
  • Mudah atau cepat kehilangan energi dalam kondisi terlalu banyak stimulasi dari kegiatan sosial (stimulasi eksternal)

Apakah itu Anda atau teman Anda atau anggota keluarga Anda?

Poin-poin tersebut menunjukkan bahwa orang-orang introvert cenderung menarik diri dari kegiatan sosial. Bukan berarti mereka tidak suka bersosialisasi, melainkan pada umumnya sangat pemilih. Mereka lebih memilih untuk berada dalam kesendirian atau bersosialisasi dengan kelompok kecil 2-4 orang. Dengan deskripsi ini, cukup mengkontraskan bukan dengan orang-orang ekstrovert?

Saya adalah seorang introvert. Berdasarkan tes terakhir yang saya ikuti sekitar tahun lalu, saya 80% introvert, berarti introvert yang cukup kuat. Dan, saya rasa seperti banyak yang juga dialami orang-orang introvert lainnya, saya merasakan dilema.

Di masa pertumbuhan saya, saya sangat pemalu (ini bukan karakteristik orang introvert. Malu berkaitan dengan perasaan takut berinteraksi dengan orang lain) dan cenderung diam dalam banyak situasi. Saya cenderung berpikir sebelum berbicara, bahkan pada akhirnya tidak berbicara karena terlalu banyak berpikir. Lebih memilih diam, tetapi ingin diajak berbicara. Bingung ketika mengobrol walau ingin bisa banyak mengobrol. Ingin bisa diakui tetapi punya ketakutan.

Image result for introversion quotes

Walau perasaan malu tidak seharusnya berkaitan dengan kepribadian introvert (karena ada juga orang ekstrovert yang pemalu), namun itu cukup memengaruhi saya secara pribadi. Perasaan malu dan takut tersebut membuat saya enggan maju untuk bisa dilihat dan diakui orang, walau tidak ingin diabaikan. Ada kalanya saya punya perasaan iri terhadap mereka yang ekstrovert karena lebih mudah bergaul dan diterima orang

Bagi kita saat ini, semakin dewasa kita akan semakin mengenal diri kita sendiri dan belajar memahami kepribadian orang di sekitar kita. Baik mereka introvert maupun ekstrovert, jangan abaikan mereka. Khususnya bagi mereka yang introvert, karena lebih mudah bagi mereka untuk diabaikan.

Belajar kenali diri kita juga. Jika kita seorang introvert, jangan takut! Kita mempunyai banyak kekuatan dan keahlian alami yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Ekstrovert tidak lebih baik dari introvert. Kita seimbang dan bisa saling melengkapi dan menguatkan melalui kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Menjadi introvert bukan berarti sesuatu yang buruk, terlepas dari berbagai “kelemahan keterampilan sosial” yang kita miliki. Bukan berarti kita tidak bisa percaya diri dan diterima dan diakui banyak orang. Bukan berarti kita tidak bisa bertumbuh dan menginspirasi banyak orang.

Jadi.. tolong, jangan abaikan kami..

Be so good they can’t ignore you

Pada suatu waktu, saya bergumul dengan pekerjaan saya. Saya merasa bahwa di tempat saya bekerja, tidak ada jenjang kariernya. Paling mentok, saya menjadi koordinator. Tidak bisa jadi wakil kepala sekolah (karena tidak ada posisi tersebut), dan rasanya hampir tidak mungkin menjadi kepala sekolah karena selama ini kepala sekolahnya adalah orang asing (expatriate).

Dalam pergumulan itu, saya menceritakan hal ini kepada dosen S2 saya waktu itu, dan satu pernyataan ini yang saya ingat darinya, “Be so good they can’t ignore you.” Jadilah begitu hebat, begitu cerdas, begitu berkualitas sehingga mau tidak mau orang akan memerhatikan kita dan mengandalkan kita, dan tidak bisa mengabaikan kita. Dulu, saya pikir ini hanya nasihat orang tua semata yang agaknya saya abaikan. Walau nasihatnya terasa baik, namun saya agaknya tenggelam dalam pergumulan saya waktu itu.

Di saat saya menulis artikel ini, sekitar 1 tahun setelahnya, saya baru lebih memaknainya. Di manapun kita berada, pada dasarnya kita adalah permata. Mungkin kita belum terasah dengan benar, tetapi kita punya potensi besar. Lingkungan tidak seharusnya menentukan nasib kita sepenuhnya. Tantangan pasti ada, dan bisa saja “menghambat” perjalanan karier dan karya kita. Namun, jangan menyerah. Kita bisa terus berkembang sebaik mungkin dan mencapai setinggi mungkin puncak yang ada. Kalau saat ini kita tidak dianggap karena kita kurang bisa menunjukkan potensi dan kualitas kita yang terbaik, jangan berhenti. Terus belajar dan memperbaiki diri.

Di sisi lain, perjuangan ini menuntut kerendahatian, kepercayaan diri, dan keberanian. Jika kita tidak rendah hati, kita akan merasa minder dan akhirnya bisa kehilangan kepercayaan diri. Tantangan pasti membuat kita takut, sampai pada tingkat tertentu. Namun, kita harus memperjuangkannya. Jalani perlahan, namun pasti. Kembangkan kekuatan dan potensi kita semaksimal mungkin, sesuai dengan jalannya. Cepat atau lambat, kita akan mencapai titik di mana orang akan memerhatikan kualitas kita (walau itu tentunya bukan tujuan utama kita).

Bagi kita yang mempunyai pergumulan yang sama dengan saya pada waktu itu. Bagi kita yang memperjuangkan karier dan posisi yang nampaknya mustahil diraih. Bagi kita yang sedang memperjuangkan startup bisnis tetapi tidak menemukan investor. Bagi kita yang berada pada kondisi yang membutuhkan “perhatian” orang terhadap kemampuan dan kualitas kita, bersabarlah, dan terus berjuang untuk bertumbuh. Suatu hari.. percayalah.. hari itu akan datang.

Kamu yakin?

“Apa yang membuat yakin menerima lamaran pacarmu?”, Lisa bertanya pada Kiara. “Aku pun tak tahu jawabannya, hanya saja aku merasa yakin untuk menikah dengannya. Ini terasa tepat.”

Berapa banyak dari kita yang pernah mengalami kondisi serupa? Mungkin bukan urusan menikah, tetapi berkaitan dengan pengambilan keputusan besar dalam pekerjaan atau karier, studi, penggunaan uang, atau hal lainnya. Berapa banyak dari kita yang mengambil keputusan berdasarkan perasaan (gut feeling) kita?

Sulit bagi kita menjelaskan mengapa kita membuat keputusan tersebut, tetapi kita merasa tepat untuk melakukannya. Seringkali, ini terjadi ketika kita membuat keputusan yang cukup besar, seperti pernikahan, menerima lamaran seseorang, membeli rumah, dan membangun usaha. Terkadang, dalam kasus demikian pilihan atau keputusan yang kita ambil bahkan bisa berlawanan dari data yang kita miliki. Mayoritas data mengarah pada keputusan A, tetapi kita malah memilih B.

Dalam beberapa hal yang bukan masalah komitmen seumur hidup, walaupun kita salah membuat keputusan, kita masih bisa memulihkannya. Namun, bagaimana dengan urusan pasangan, pernikahan.. di mana di semua kepercayaan didorong untuk menikah satu kali untuk selamanya? Bukankah itu keputusan yang tidak mudah? Pada umumnya, kita membuat keputusan itu di sekitar umur 25-30 tahun, yang berarti kita mempunyai waktu rata-rata sekitar 45-50 tahun untuk hidup bersama. Nampak manis bukan? Yang benar saja! Hidup bersama dengan pasangan kita yang menyenangkan sekaligus menyebalkan selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, seumur hidup?

Sebagian orang bilang, menikah itu urusan komitmen, bukan hanya cinta. Ketika cinta semakin pudar, komitmen yang diutamakan. Mungkin saja.. Saya belum menikah selama 50 tahun, jadi tentunya saya tidak tahu. Namun, itu berarti pengambilan keputusan saat masa pacaran menjadi sangat penting.

Apa yang membuat kita yakin untuk menikahi orang ini? Kecantikannya? Kebaikannya? Keahliannya? Kepintarannya? Kekayaannya? Akhlak? Spiritualitas? Keagamaannya? Atau apa?

Ketika saya memutuskan untuk melamar pasangan saya, saya pun perlu mengetahui jawaban atas pertanyaan tersebut. Apakah karena sudah terlalu lama pacaran jadi ya menikah saja lah? Atau karena saya tidak bisa hidup tanpanya? Itu bisa saja jadi jawaban, tapi tidak cukup kuat untuk menjadi alasan bahwa dia yang saya yakin menjadi pendamping dan teman hidup saya sampai akhir nanti.

Image result for will you marry me quotes

Saya percaya bahwa tujuan utama hidup saya adalah untuk hidup menjadi murid Kristus (karena saya seorang Kristen), memuliakan Tuhan melalui keseluruhan hidup, dan mempersaksikan Tuhan kepada dunia. Bersama pasangan saya ini, saya sudah merasakannya dan karena itu juga percaya bahwa kami bisa bertumbuh bersama, masing-masing menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam segala hal. Artinya, bersamanya saya bisa melangkah semakin dekat mencapai tujuan itu. Hal ini juga ternyata berlaku sama bagi pasangan saya. Selain itu, dia juga adalah sunshine bagi saya, pribadi yang bisa membuat saya senang dalam segala situasi.

Pertanyaannya bagi kita yang membaca artikel ini, yakinkah kita dalam membuat keputusan besar yang menanti kita? Mengapa?

Peka

Peka. Satu kata yang menurut saya sangat penting untuk menjadi sikap dan perilaku dalam menjalani hidup sehari-hari. Peka, atau dalam Bahasa Inggrisnya, aware, berarti “having knowledge or perception of a situation or fact”, atau “concerned and well-informed about a particular situation or development.”

Menjadi seseorang yang peka membutuhkan latihan. Tidak semua orang memiliki tingkat kepekaan yang sama. Kepekaan lahir dari latihan dan pengetahuan kita terhadap suatu hal. Misalnya, teman kita menunjukkan muka muram, tetapi di tengah momen kebersamaan dengan kelompok ia tidak menunjukkan kesedihannya. Namun, ada beberapa momen ketika ia menunjukkan wajah muramnya. Orang yang cukup peka akan bisa merasakan ada yang tidak biasa dari teman kita ini, sebaliknya orang yang tidak cukup peka akan merasa biasa saja seolah semua normal saja.

Mengapa saya menulis tentang peka?

Peka menjadi salah satu keterampilan (skill) yang penting dimiliki para pemimpin (namun bukan hanya pemimpin di perusahaan, peran seperti orang tua dan guru pun juga membutuhkannya). Dengan kepekaan yang terasah, kita bisa lebih peka mengamati dan merespon berbagai situasi. Terlebih lagi, sebagai pemimpin kita memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah. Ketika kepekaan kita terasah dengan baik, kita bisa menanggapi masalah dengan lebih cepat dan menganalisa situasi dengan lebih baik.

Pernahkah kita mengalami dampak atau manfaat dari memiliki kepekaan yang baik? Atau sebaliknya, apakah kita tidak cukup peka terhadap situasi dan mengalami kerugian karenanya?

Saya pribadi cukup sering mengalaminya keuntungan dan kerugian dari memiliki kepekaan yang terasah. Saya cukup peka dan sensitif terhadap perubahan nada bicara seseorang, khususnya mereka yang cukup dekat dengan saya. Ketika ada perubahan nada bicara menjadi lebih tinggi dari biasanya, saya bisa merasakannya dengan cepat dan menganalisa kondisinya. Apakah ini hal positif? Iya, dan juga negatif. Di satu sisi, baik karena saya jadi bisa membuat kesimpulan dengan cepat dan cukup tepat dan kemudian mengajaknya berbicara dan menanyakan lebih lanjut keadaannya. Di sisi lain, saya bisa jadi terlalu judgemental.

Ini masalah keseimbangan dan bagaimana kita bisa memanfaatkannya dengan baik. Namun, yang pasti, belajar untuk menjadi lebih peka adalah hal baik yang bisa kita lakukan. Peka terhadap peraturan lalu lintas, peka terhadap kebutuhan orang lain, peka terhadap tanggung jawab, peka terhadap keadaan mental dan kesehatan diri, dan lainnya.

Selamat menjadi peka.