Keluarga Berharga

610-e1426209483183

Zaman sekarang ini, siapa yang tidak sibuk? Kita rela bekerja dari pagi hingga malam, ditambah lembur, sehingga waktu untuk keluarga begitu sedikit. Besok pagi kembali bekerja pada jam yang sama, dan berputar seperti itu lagi. Lebih gawat, ketika sudah menikah dan mempunyai anak, kedua orang tua punya kesibukannya masing-masing hingga lupa mengurus anak dengan baik.

Anak-anak dimasukkan ke sekolah dan cenderung diserahkan pendidikan sepenuhnya ke pihak sekolah. Mungkin hal ini tidak begitu terjadi ketika anak-anak masih berada di jenjang TK dan SD di mana mereka masih sangat membutuhkan perhatian. Namun, ketika mulai di jenjang SMP, ada banyak kondisi kejadian di mana anak-anak lebih cenderung dibiarkan begitu saja untuk berusaha sendiri dan berjuang bersama pihak sekolah. Mereka dianggap sudah mulai mandiri dan bisa “diurus” oleh pihak sekolah.

Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?

Di banyak sekolah, ada banyak kasus anak broken home (orang tua bercerai), atau ada yang lebih sederhana di mana kedua orang tua begitu sibuk bekerja (atau punya kesibukan masing-masing entah apa itu). Namun, jangan salah. Ada banyak juga orang tua yang sangat memperhatikan kebutuhan dan perkembangan anak mereka.

Artikel ini ingin menyoroti orang tua yang agaknya “menelantarkan” anak mereka untuk berjuang sendiri bersama sekolah. Kalau nilai jelek, maka anak tersebut diikutkan les pelajaran tertentu. Bahkan, dalam kasus yang lebih parah, ketika anak ditegur guru, malah orang tua yang marah kepada guru tersebut (kita pasti sering mendengar kejadian seperti ini).

Dari perspektif guru atau sekolah, mereka ingin agar orang tua turut berperan aktif dalam pendidikan anak mereka. Sekolah tidak mungkin sepenuhnya dapat mendidik anak-anak agar menjadi lebih baik tanpa bantuan orang tua. Toh, lagipula, kehidupan selebihnya anak ada bersama dengan orang tua (keluarga), bukan di sekolah.

Dari perspektif sebagian orang tua, mereka merasa bahwa sekolah bertanggungjawab sepenuhnya sebagai institusi pendidikan untuk mendidik anak mereka untuk menjadi pribadi yang baik dan sukses.

Perspektif manakah yang kita adan orang-orang di sekitar kita pegang? Jika salah satu di antara dua tersebut, kita harus melihat ke perspektif satunya lagi.

Ada perspektif lain lagi, yaitu bahwa kedua pihak: orang tua dan sekolah, harus bekerjasama dalam mendidik anak. Mendidik karakter dan sikap anak, tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab salah satu pihak, karena waktunya terlalu terbatas. Sekolah tidak mendidik anak keseluruhan hidup mereka, begitu juga orang tua tidak mempunyai waktu keseluruhan untuk mendidik anak. Maka dari itu, perlu kerja sama yang baik. Orang tua dan sekolah perlu sejalan dalam menjalankannya.

Namun, yang sebetulnya paling terasa penting adalah didikan dalam keluarga. Hal ini sering terabaikan oleh sebagian orang tua. Keluarga adalah pendidikan dan masyarakat pertama yang dirasakan oleh seorang anak. Jika didikan dalam keluarga kuat, sekolah semakin menopang dan menguatkan didikan tersebut.

Jika kita menemukan kasus-kasus anak yang mempunyai masalah tertentu ketika di sekolah, hampir sebagian besar kondisinya sebetulnya adalah masalah keluarga. Ada anak yang begitu “aktif” di sekolah mengganggu teman, pelajaran, dan lainnya. Ternyata, ia anak dari keluarga broken home. Ada anak yang susah sekali diatur, gampang sekali menggunakan kekerasan untuk penyelesaian masalah, ternyata ia pun didik dengan kekerasan fisik dan verbal oleh keluarganya. Ada banyak kasus lainnya yang bisa ditemukan, itu hanya dua contoh di antaranya.

Apapun yang terjadi, peran keluarga itu begitu berharga dalam pendidikan setiap anak, khususnya dalam hal sikap dan karakter. Kita tidak bisa mengabaikan itu. Sorry to say, kalau Anda adalah orang tua tetapi tidak mau ikut serta mendidik anak, kenapa Anda mempunyai anak? Anak adalah anugerah yang dipercayakan Tuhan yang Mahakuasa kepada kita sebagai orang tua, dan karena itu kita harus mendidik dan memeliharanya dengan baik.

Pendidikan BUKAN semata nilai akademis. Nilai akademis itu salah atu buah dari pendidikan yang baik. Pendidikan soal MASA DEPAN anak tersebut dan masa depan bangsa, bagaimana anak tersebut bisa menjadi MANUSIA SEUTUHNYA yang bermakna dan bermanfaat.

Jadi, keluarga itu berharga bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s