Belajar Terus, Terus Belajar

2ac99163f275454bce6fcc17289e90d0

Temu Pendidik Nusantara 2016 yang digagas oleh Kampus Guru Cikal mengangkat tema “Merdeka Belajar”.  Cukup unik untuk mendengar istilah “Merdeka Belajar”, karena selama saya berkecimpung di dunia pendidikan selama 5 tahun ini, baru pertama kali ini saya mendengar istilah tersebut.  Setelah saya mengikuti keseluruhan rangkaian acara tersebut, saya menyimpulkan bahwa makan dari “Merdeka Belajar” adalah merasa senang untuk belajar dan menjadi lifelong learner – pembelajar seumur hidup.

Dalam pembukaan acara tersebut, Najeela Shihab, penggagas atau pendiri Kampus Guru Cikal, menyampaikan bahwa ada 3 hal yang menjadi kunci untuk menjadi pribadi yang merdeka belajar, yaitu:

  1. Komitmen
  2. Mandiri
  3. Refleksi

Saya secara pribadi, sejak menjadi guru, berusaha terus memperbaiki diri dalam ketiga aspek tersebut.  Berkomitmen dalam menjalankan tugas pelayanan sebagai guru, mandiri dalam berbagai hal yang dikerjakan, dan terus berefleksi untuk mengevaluasi dan belajar dari apa yang telah dijalani.

Secara spesifik di artikel ini, saya ingin membahas aspek ketiga yang menurut saya penting, karena saya merasa tidak semua orang dibekali untuk hal ini.  Kalau komitmen dan mandiri, saya rasa semua orang (atau banyak orang) didorong untuk selalu memiliki dan menjalaninya.

Refleksi menjadi bagian penting bagi kita yang mau menjadi seorang lifelong learner.  Mengapa? Karena refleksi menjadi alat untuk kita mengevaluasi diri secara otomatis dan mandiri tanpa harus meminta orang lain melakukannya bagi kita.  Refleksi menjadi otokritik dan kritik pertama.  Tentu boleh dan baik sekali untuk meminta teman atau orang lain mengevaluasi dan mengkritisi diri kita atau terkait suatu hal yang kita kerjakan, tetapi itu tidak bisa banyak bekerja ketika kita tidak menjadi pribadi yang terbuka dan mau berefleksi.

Melalui refleksi, berapapun umur kita, selama kita mampu melakukannya, itu akan menjadi alat yang sangat berguna untuk menolong kita belajar.  Contohnya begini:

Saya seorang guru matematika SMP, dan saya berusaha untuk mengajar materi Lingkaran.  Ternyata, secara tidak sadar, saya sedikit melakukan kesalahan dalam menjelaskan suatu cara penyelesaian soal.  Kemudian, salah seorang murid saya menyampaikan kepada saya terkait kesalahan tersebut di depan kelas dan teman-temannya.

Jika saya mau menjadi pribadi yang lebih baik dan melakukannya melalui berefleksi, saya akan diam sebentar, melihat dan mengecek kembali apa yang saya jelaskan.  Jika memang salah, saya akan berterimakasih kepada murid tersebut dan memujinya atas kejelian dan pemahamannya.  Namun juga, di sisi lain, saya berefleksi mengapa saya bisa salah dalam menjelaskan.  Apakah saya kurang persiapan?  Apakah hanya kesalahan kecil?  Ketika saya terbuka untuk memberi diri saya masukan dan merefleksikannya, saya sedang belajar, dengan harapan di kemudian hari, saya tidak melakukan kesalahan yang sama, bahkan menjadi guru yang lebih baik lagi.

Jika saya tidak terbuka untuk itu dan tidak mau berefleksi, saya bisa dengan mudahnya marah kepada murid tersebut, atau paling tidak saya menyangkalnya dengan mengatakan cara yang saya jelaskan memang yang benar, karena saya tidak mau disalahkan, apalagi pasti malu karena kesalahan tersebut diketahui oleh seluruh isi kelas.

Itu saya sebagai guru.  Bagaimana jika kita adalah sebagai orang tua? Anak? Bos? CEO? Satpam? Cleaning Service? Atau apapun itu?  Sebagai apapun kita, saya mengajak kita semua untuk menjadi lifelong learner.  Karena saya percaya bahwa belajar memang utnuk seumur hidup, dan kita tidak pernah bisa berhenti belajar.  Kita tidak akan pernah cukup pintar sebagai manusia.

Contoh lain lagi, misalnya ketika kita menjadi orang tua bagi anak kita.  Bagaimana rasanya ketika anak bertanya tentang hal-hal yang tidak kita pahami atau sulit untuk dijawab dengan baik untuk anak seumur mereka?  Misalnya, “Mengapa aku harus sekolah?”, “Mengapa bulan itu jauh?”, “Mengapa aku tidak punya apa yang temanku punya?”, “Kenapa papa pergi setiap pagi?”, dan banyak lainnya.  Sebagai orang tua yang tidak ada sekolahnya, tentu kita harus mau untuk belajar untuk mencari tahu bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan anak bukan?  Justru, orang tua sangat belajar banyak dari anak.

Michel Legrand, seorang komposer musik berkebangsaan Perancis mengatakan:

The more I live, the more I learn. The more I learn, the more I realize, the less I know.” ― Michel Legrand

Saya mengambil quote itu karena saya sedang merasakan hal yang sama.  Saat ini saya sedang menjalani studi S2 saya di bidang Educational Leadership.  Saya menyadari ada begituuuu banyak hal yang saya tidak ketahui, dan tidak mungkin saya mempelajari dan jago dalam setiap hal yang ada di dunia ini.  Tidak mungkin, tetapi, bukan berarti saya berhenti belajar.  Justru karena itu saya ingin terus belajar, karena saya tahu dibalik ketidaktahuan saya itu, saya tetap akan bisa menjadi berguna dan berdampak bagi dunia di sekitar saya.

Belajar itu hanya akan berhenti ketika kita meninggal nantinya.  Jika kita mau jadi lifelong learner, kita harus siap berefleksi dan belajar melalui apapun, siapapun, di manapun.  Umur yang sudah tidak muda lagi harusnya tidak menghentikan kita untuk belajar.  Kita bisa belajar dari pengalaman, dari orang yang lebih muda, dari anak, dari teman, media, atau lainnya.  Sebagai orang yang masih berumur muda, kita bisa belajar dari pengalaman orang-orang yang sudah lebih dewasa, dari pengalaman hidup, dari orang tua, teman, sejarah, dan lainnya.

Those people who develop the ability to continuously acquire new and better forms of knowledge that they can apply to their work and to their lives will be the movers and shakers in our society for the indefinite future.”
― Brian Tracy

Mari kita terus belajar!  Bukan dalam arti belajar formal saja, tetapi dalam arti secara informal.  Belajar terus, terus belajar.  Di manapun, kapan pun, melalui apa dan siapapun.  Dengan itu, kita bisa berkarya dengan lebih baik lagi untuk kemajuan negeri kita tercinta!

Referensi:

https://www.goodreads.com/quotes/tag/lifelong-learning

Setyawan, R. D. (2016). Sebuah Pemaknaaan: Pengalaman Seorang Guru Muda. Nulisbuku.com Self-Publishing

http://tabloid-nakita.com/Balita/Ini-5-Pertanyaan-Sulit-Dari-Anak-Dan-Cara-Menjawabnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s