“Dasar” itu gak penting? (part 1)

Der Traum vom Haus

Kita bisa saja membangun gedung yang begitu megah. Namun, tanpa fondasi yang baik, cepat atau lambat gedung tersebut akan runtuh juga.

“Teori itu kan gak penting!”, teriak Kelly kepada temannya dengan muka kesal. Kelly baru saja menyelesaikan bimbingan pembuatan skripsi dengan dosen pembimbingnya. Dia begitu kesal karena sebagian besar isi Bab 3 dan Bab 4 skripsinya dicoret oleh dosen pembimbingnya karena kesalahan landasan teori yang fatal menurut dosennya.

Mungkin kita tidak pernah menemukan kasus semacam itu, atau mungkin pernah tetapi jarang. Yah jelas saja, karena itu ilustrasi buatan saya sendiri. Hehe.. Lalu apa hubungannya dengan apa yang mau saya sharing-kan di sini? Mungkin sadar atau tidak, kita pernah atau sering menganggap bahwa teori itu kurang penting (kalau bukan tidak penting). Kita lebih tertarik untuk langsung terjun kepada aplikasi dari segala sesuatu. Apalagi di zaman sekarang di mana dunia bergerak begitu cepat, dan apa yang kita lihat begitu aplikatif. Tanyakan saja kepada para murid di sekolah. Berapa kali mereka memertanyakan, “Pak, ngapain sih saya belajar tentang lingkaran? Saya ‘kan gak bakal jadi guru atau kerja yang pake mat.” Belum lagi di jenjang SMP dan SMA di mana materi pelajaran matematika begitu teoritis. Sangat mungkin para murid memertanyakan hal-hal semacam itu.

Jika Anda guru atau orang tua, pasti Anda pernah mendapati pertanyaan semacam itu. Ya, memang ngapain kita belajar semua materi matematika itu ya padahal bukan guru, dosen, atau matematikawan, dan gak mau juga jadi itu. Saya tidak dalam rangka mengkritik atau menjelek-jelekkan sistem dan kurikulum pendidikan di negeri kita. Tapi… ya kenapa ya perlu belajar semua materi itu? Bukankah tidak semua kita akan menggunakannya? Kenapa penting untuk ada landasan teori sebelum ada aplikasi? Kenapa penting belajar matematika dasar sebelum belajar programming?

Saya bukan orang yang cocok untuk menjelaskan mengapa belajar teori dasar matematika menjadi penting walaupun tidak akan menjadi ahli di bidang matematika atau menjalani pekerjaan yang berkatian dengan matematika. Paling gampang, saya bisa menjawab dengan, “Itu semua berguna untuk melatih logika dan sistematika berpikir kita.”

Di sini, saya mau berbagai cerita mengenai betapa pentingnya memahami teori sebelum menjalani aplikasinya, atau lebih tepatnya, betapa pentingnya dasar atau basic sebelum kita melakukan berbagai hal di atas basic itu.

Suatu kali, setelah saya selesai rapat, saya berdiskusi dengan Ketua Umum Majelis Jemaat di gereja saya. Pada waktu, sebenarnya kami sedang mendiskusikan mengapa banyak jemaat di gereja kami tidak terlalu menjalani pelayanan dengan maksimal. Di tengah diskusi, beliau menceritakan suatu pengalaman di tempatnya bekerja. Ia bekerja di suatu perusahaan berskala multinasional. Perusahaannya sudah ada di 17 negara dan meraih omzet jutaan poundsterling dalam satu tahun. Dalam ceritanya, beliau menyampaikan bahwa keuangan keseluruhan perusahaan ini “hanya” dikontrol, dievaluasi oleh 4 orang ahli keuangan. Kalau ada kasus di mana ada direktur atau kepala perusahaan yang mencoba mengelabui keempat ahli ini, mereka pasti gagal. Tahukah mengapa? Karena pada direktur itu tidak benar-benar memahami basic dari keuangan.

Di sini sontak saja saya terkejut. Perusahaan hebat, keuangannya hanya dievaluasi oleh 4 orang. Yah sebetulnya saya tidak tahu benar harusnya bagaimana ya. Hehe.. Tapi tetap saja itu membuat saya kaget. Berarti keempat orang itu keren banget! Dan bekal mereka yang penting adalah bahwa mereka benar-benar menguasai basic.

Dari pengalaman diskusi itu saya mencoba merefleksikan pengalaman-pengalaman dalam hidup saya, termasuk dalam bagaimana seharusnya pendidikan berjalan. Jika Anda termasuk seorang pegiat dalam bidang pendidikan atau cukup mengamati bagaimana pendidikan di negeri kita ini dijalankan, Anda akan cukup memahami contoh pengalaman saya.

Saya tidak benar-benar sepenuhnya mengerti apakah hal ini terjadi juga di mata pelajaran lain atau tidak, karena saya hanya pernah mengajar bidang studi matematika. Namun, dari hasil diskusi-diskusi dengan rekan-rekan sekerja saya, nampaknya mata pelajaran lain pun mengalami hal yang serupa. Apakah itu? Apa yang saya maksudkan adalah mengenai beban materi. Saya pernah mengajar di jenjang SD, dan saya tahu bagaimana sulitnya murid-murid SD sekarang ini untuk benar-benar memahami pelajaran matematika untuk jenjang SD. Apakah karena materinya sulit? Rasanya bukan itu menurut saya, tetapi lebih kepada bebannya, cakupan materinya.

Diambil dengan persetujuan: Dwihatma, R. (2016). Sebuah Pemaknaan: Pengalaman Seorang Guru Muda. NulisBuku.com Self-Publishing.

One thought on ““Dasar” itu gak penting? (part 1)

  1. Pingback: “Dasar” itu gak penting? (part 1) – Transducation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s