Pendidikan Orientasi Hasil – Masa Depan

past-present-future-directions

“Inilah panggilan kita sebagai pendidik, yaitu untuk menjadi pemimpin yang mengembangkan dan membimbing generasi masa depan bangsa.”

Pada artikel sebelumnya, “Pendidikan Orientasi Hasil – Nilai”, saya mengawali artikel tersebut dengan membahas perbedaan pendidikan pada masa lalu (10-20 tahun yang lalu) dan masa kini.  Perubahan dalam hal kreatifitas pengajar, teknologi, media pembelajaran, dan berbagai hal lainnya dapat terlihat dan terasakan.  Perubahan-perubahan tersebut tentu baik adanya dan harus diapresiasi, kecuali saya menekankan satu hal yang saya rasakan berubah semakin tidak menyenangkan, yaitu masalah pendidikan yang berorientasi pada hasil berupa nilai angka (Pembaca tidak harus setuju dengan saya mengenai ini).

Melanjutkan dari artikel sebelumnya, di sini saya mau membahas bentuk atau model pendidikan yang menurut saya seharusnya berjalan di negeri ini.  Saya memberi judul artikel ini, “Pendidikan Orientasi Hasil – Masa Depan”, dengan maksud membandingkan dengan artikel sebelumnya.

Apakah sebenarnya bermasalah ketika pendidikan kita berorientasi pada hasil (results-oriented)?  Jawabannya, tergantung.  Ya, tergantung bagaimana kita mempunyai perspektif terhadap hasil.  Jika hasil yang ingin kita capai hanya berupa nilai angka, lebih baik kita lupakan saja pendidikan.  Kita akan menuntut peserta didik dan juga diri kita sebagai pendidik untuk membuat nilai angka peserta didik meningkat, dan hal ini bisa jatuh kepada kondisi di mana bentuk dan soal ulangan yang dipermudah, atau hanya drilling semata tanpa ada pemaknaan terhadap pembelajaran yang sebenarnya.

Bagaimana jika kita berorientasi pada hasil yang bermakna untuk masa depan anak?  Misalnya, pembentukan karakter, cara berpikir, cara belajar, pemaknaan hidup, pemaknaan terhadap materi ajar, dan berbagai hal yang memang sungguh mempunyai makna dan manfaat untuk kehidupan anak, khususnya di masa depan.  Saya rasa, ini akan memberikan dampak yang berbeda pada pendidikan kita, baik bagi para pendidik dan anak didik.

Misalnya begini.  Sebagian sekolah mengajarkan pelajaran sejarah Indonesia dengan bentuk hafalan, dan hingga saat ini masih berjalan demikian.  Saya tahu, tentu ada guru dan sekolah yang membuat pelajaran sejarah menjadi bermanfaat.  Saya pun ingat, semasa sekolah dahulu, saya jauuuh lebih banyak belajar (misalnya) sejarah dengan menghafalkan kronologi kemerdekaan Indonesia, tanggal-tanggal penting, alasan terjadi perang, alasan perang berhenti, dan seterusnya.  Mengapa begitu?  Karena tuntutan ujian dan dari guru pun demikian.  Saya tidak mempersalahkan guru, tidak.  Namun, apa yang bisa kita lakukan?

cde09d7c117054a156210269e98d997b

Mungkin, kita bisa sedikit berubah dengan mencoba mendorong atau memotivasi peserta didik untuk lebih memaknai mengapa sesuatu hal ada atau terjadi dan apa yang bisa kita ambil faedah atau pemaknaannya.  Contohnya, apa yang seharusnya dilakukan agar tidak terjadi perang, atau nilai apa yang bisa kita pelajari dari perjuangan Pangeran Diponegoro atau Cut Nyak Dien, dan lainnya.  Dalam bidang matematika juga bisa dilakukan hal serupa, misalnya, mempertanyakan mengapa 1 + 1 = 2, atau mengapa 3 x 4 = 4 x 3, atau apa saja penjumlahan yang dapat menghasilkan angka 9 selain 1 + 8, dan apa maknanya.

Bagaimana jika kita tidak merasa bahwa kurikulum pendidikan Indonesia memfasilitasi hal ini?  Atau hingga saat ini tidak kunjung berubah?  Berarti, kita yang harus mengusahakan untuk berubah, walau mungkin itu sulit.  “Be the leader we wish we had”, kata Simon Sinek.  Berusahalah untuk menjadi pemimpin dan pribadi yang kita harapkan.  Intinya, kita sebagai pendidik pun harus mau untuk terus belajar lebih baik lagi, agar kita bisa mendidik para peserta didik dengan lebih baik lagi.

Jika kita mengikuti perkembangan pendidikan, saat ini sudah dikenal istilah 21st century skills, atau kemampuan-kemampuan abad ke-21, yaitu 4C: Critical Thinking, Creativity, Communication, dan Collaboration.  Jika kita menggali hal ini lebih jauh, kita akan bisa memahami bahwa kemampuan-kemampuan ini adalah kemampuan yang diperlukan oleh seseorang ketika masuk ke dunia kerja di saat mereka benar-benar sudah harus menjadi pribadi yang mandiri, berkarya, dan bermakna.

Jika fokus pendidikan kita hanya soal nilai angka, apakah mungkin 21st century skills ini akan bisa dicapai?  Mari kita jawab itu sendiri dalam hati kita sebagai pendidik.  Mari kita merefleksikan pelayanan kita sebagai orang tua, sebagai pendidik, sebagai pemimpin dalam sekolah atau pendidikan: Apa yang bisa kita terus kembangkan? Apa yang bisa kita lakukan agar negeri ini lebih baik mutu pendidikannya?  Kalau kita terus hanya menunggu apa yang dilakukan yayasan atau pemerintah, mungkin bisa terlalu lama untuk itu.

21st-century-skills-4-cs-graphic

Inilah panggilan kita sebagai pendidik, yaitu untuk menjadi pemimpin yang mengembangkan dan membimbing generasi masa depan bangsa.  Bukan untuk mengembangkan peserta didik yang berorientasi pada nilai angka, tetapi untuk kepentingan masa depan mereka.  Mari menjadi pemimpin yang sejati bagi anak didik kita, agar mereka bisa berkembang dan maju membangun negeri ini.  Mari berubah dan terus membangun!

Referensi:

http://www.p21.org/our-work/p21-framework

http://bangkudepan.com/pendidikan-indonesia-generasi-hafalan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s