Ini semua tentang kamu

Sebagai pribadi, apa tanggung jawab utama kita? Saya pikir, apapun bidang pekerjaan dan peran kita, kita selalu bertanggungjawab atas orang lain.

  • Presiden bertanggungjawab atas menteri-menterinya, dan secara tidak langsung rakyat yang dipimpinnya
  • CEO bertanggungjawab atas manager di bawahnya
  • Kepala keamanan bertanggungjawab atas staf keamanannya
  • Petugas kebersihan bertanggungjawab atas kenyamanan pekerja yang ada dalam hal kebersihan
  • Orang tua bertanggungjawab atas anaknya
  • Guru bertanggungjawab atas muridnya
  • Kepala sekolah bertanggungjawab atas guru-gurunya

Masih banyak contoh lainnya, tetapi siapapun kita dan pekerjaan kita, kita mempunyai satu kesamaan itu. Kita bertanggungjawab atas seseorang. Ini bukan semata soal otoritas atau kedudukan, tetapi tanggung jawab moral.

Guru adalah profesi yang unik di mana guru dibayar untuk fokus mementingkan orang lain dan berusaha memastikan kesuksesan mereka di masa depan. Tugas utama guru adalah untuk mendidik anak muridnya untuk berkembang maksimal.

Saya pribadi selalu berusaha mengamini dan memahami hal tersebut, dalam pekerjaan saya. Saya berusaha selalu menempatkan kepentingan murid saya di atas kepentingan saya sendiri. Pekerjaan saya adalah tentang mereka. Ketika mereka bertumbuh dan bahagia, begitu pula saya. Sebaliknya, ketika mereka jatuh, saya ikut sedih tetapi juga menyemangati untuk terus berjuang ke depannya. Saya meluangkan waktu lebih untuk melayani para murid. Saya bekerja di luar waktu kantor untuk menolong mereka menjadi lebih baik.

Saya tidak tahu seberapa jauh saya sudah menolong mereka dan menginspirasi mereka. Namun, saya mengusahakannya dan mau terus mengusahakan lebih baik lagi.

Sudahkah kita menjadi lebih selfless dan memberikan diri kita untuk melayani mereka lebih baik?

Terima kasih guruku

Bekerja sebagai guru, semakin berkembangnya zaman, semakin tidak mudah. Guru dituntut untuk terus belajar dan berkarya, dan melakukan tugasnya dengan baik. Guru dituntut untuk harus selalu mengikuti perkembangan zaman, khususnya teknologi. Betapa sulitnya bagi guru-guru yang senior untuk belajar teknologi masa kini, tetapi tetap saja mereka diharapkan belajar.

Tanggung jawab seorang guru sangatlah banyak dan berat, khususnya ketika berkaitan dengan pendidikan karakter anak. Bukankah lekat di ingatan kita betapa banyaknya kasus murid yang “memberontak” terhadap gurunya sendiri? Itu mungkin nampak besar, tetapi dalam hal-hal kecil pun juga ada, bagaimana murid tidak hormat terhadap kata-kata guru, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, saya pun memahami bahwa tidak semua orang yang menjadi guru adalah guru yang baik. Saya mengalaminya sendiri, dan saya juga bekerja dengan beberapa dari mereka. Mereka tidak benar-benar menjadi teladan yang baik. Mereka tidak mendidik dengan standar yang cukup baik. Walau tentunya kita tahu ada juga guru-guru yang baik, teladan yang baik, dan inspiratif.

Walaupun ini bukanlah hari guru, namun saya mau mengajak kita untuk mengucap syukur, berterima kasih atas kerja mereka. Mereka tidak selalu guru yang baik, tetapi kita tetap bisa belajar dari mereka. Seberapa sering kita memuji dan menghargai guru kita sendiri? Mereka tidak dibayar dengan gaji yang cukup tinggi, dan kita juga masih mengolok dan kurang menghargai mereka. Seberapa sering kita menunjukkan respek dan penghormatan kita pada mereka?

Image result for thank you teacher

Bagi para murid, itu mungkin hal kecil dan remeh. Namun, tidak bagi para guru. Sama saja seperti ketika kita diberikan pujian oleh teman, guru, dosen, orang tua, atau atasan kita. Bukankah rasanya menyenangkan dan kita punya semangat ekstra untuk melakukan pekerjaan kita lebih baik lagi?

Ingatlah guru kita, minimal 5 orang. Cari mereka, temukan mereka, datangi mereka. Berikanlah kartu atau sekadar ucapan terima kasih dan tanyakan kabar mereka. Siapapun mereka, seburuk apapun mereka, mereka dihadirkan Tuhan untuk mendidik kita.

Terima kasih guru

Apa visimu?

Untuk apa kita kerja saat ini? Mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan saat ini? Apa cita-citamu nanti? Mau jadi apa nanti 5-10 tahun lagi?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu, pada masa kini, rasanya bukanlah pertanyaan-pertanyaan baru. Pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali diminta untuk ditanyakan kepada diri sendiri maupun orang lain, terlebih anak didik kita.

Mengapa pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting untuk ditanyakan?

Baik secara langsung maupun tidak, mereka berkaitan dengan visi dan misi hidup kita. Bukan hanya organisasi atau perusahaan yang bisa punya visi dan misi, tetapi kita sebagai pribadi pun juga. Kalau tidak, buat apa kita hidup? Untuk apa kita mengerjakan hal yang kita kerjakan hari ini?

Visi dan misi hidup kita tentunya berbeda-beda, tetapi bisa berkaitan. Semakin bertambah umur, hendaknya kita semakin mengetahu dan mengenal diri kita sendiri dan menemukan apa visi hidup kita. Jauh lebih baik lagi, jika kita dapat menuliskannya. Mengapa? Semakin jelas visi dan misi kita, semakin mudah kita mengambil keputusan dalam hidup. Khususnya, tentang karir atau pekerjaan kita, tetapi juga dalam setiap aspek kehidupan kita.

Misalnya, saya sendiri. Saya percaya bahwa saya hidup saat ini untuk menginspirasi sebanyak mungkin orang untuk menikmati belajar dan mencapai potensi terbaik mereka untuk kemudian juga dapat menginspirasi orang lain juga, sehingga bersama kita dapat mengubah dunia. Saya mendambakan bahwa ada dunia di suatu masa di mana anak-anak bangun pagi merasa semangat dan senang pergi ke sekolah, menikmati pembelajaran, merasa aman dan terinspirasi, dan pulang ke rumah pada akhirnya merasa puas.

Dulu, saya tidak bisa memformulasikan visi dan misi saya seperti yang saya tuliskan di atas. Sekarang pun, saya tidak merasa itu sempurna. Namun, saya mengusahakannya. Dengan melakukan hal itu, saya jadi lebih mempunyai kesadaran akan apa yang saya lakukan, sehingga setiap hal yang saya lakukan harus sejalan dengannya. Kalau ada hal yang tidak sesuai, terpaksa saya tinggalkan walau itu menyenangkan sekalipun.

Dampaknya apa? Ketika saya bekerja, itu menjadi landasan dan visi saya di sekolah. Saya mengajar dan mendidik anak murid bukan semata karena pekerjaan wajib, tetapi karena saya rindu melihat mereka senang belajar dan bertumbuh jadi pribadi-pribadi inspiratif. Saya rela melakukan pekerjaan extra mile demi melihat visi saya terwujud.

Jadi, apa visimu? Temukanlah dalam diri kita. Kalau kita tidak bisa menuliskannya, carilah visi orang lain yang kita merasa terinspirasi olehnya. Jadikanlah visi mereka visi kita.

Selamat berjuang.

Apa yang bisa saya lakukan?

Pada generasi saat ini, tren untuk memedulikan diri sendiri (self-love) cukup kencang terasa. Tren ini tidak hanya dikenal ramai oleh generasi milenial saat ini, tetapi juga generasi yang lebih dewasa.

Apa tandanya?

Kita cenderung lebih fokus pada kesehatan diri kita daripada kesehatan orang lain. Kita cenderung lebih fokus pada kesuksesan diri kita daripada kesuksesan orang lain (atau kesuksesan bersama). Ketika ada orang lain yang menyebalkan, kita cenderung lebih memilih untuk fokus pada pekerjaan dan hidup kita sendiri, kita mencari rasionalisasi untuk tidak lagi menghiraukan mereka sama sekali (beda dengan yang masih berusaha ya). Kita cenderung lebih fokus pada karir dan finansial kita daripada kebutuhan orang lain.

Orang lain di sini tidak termasuk keluarga atau orang yang memang kita kasihi ya. Kalau untuk pihak-pihak itu, sudah sangat wajar kalau kita kasihi, karena mereka secara sadar maupun tidak sudah kita anggap sebagai bagian dari diri kita.

Misalnya, di tempat kerja, pasti akan ada atasan atau rekan kerja yang menjengkelkan, baik itu dalam hal sifat, sikap atau etos kerjanya. Ketika kita harus bersinggungan dengan orang-orang ini, apa yang akan kita lakukan? Ketika pekerjaan yang ia lakukan untuk kepentingan kita juga, apa yang kita lakukan? Orang-orang yang memilih bersikap profesional, mungkin akan berkata ya kerjakan dan berinteraksi saja secara profesional. Sebagian yang lain memilih untuk tidak mau bersinggungan sama sekali, terlebih jika relasinya sudah cukup rusak.

Pertanyannya bagi kita, pernahkah kita mencoba berempati? Pernahkah kita mencoba melihat dari sisi mereka? Apakah kita pasti lebih baik? Apakah kita sudah cukup baik dalam bekerja?

Entahlah.. Mungkin iya.. Mungkin tidak..

Ketika tempat kita bekerja sangat menjengkelkan, atasan tidak beres, manajemen kacau, apakah kita lebih memilih diam dan memedulikan diri kita sendiri saja?

Self-love memang baik, tapi janganlah berlebihan. Tetap belajarlah memedulikan kepentingan bersama dan kepentingan yang lebih besar. Lagipula, sikap kita dalam menghadapi suatu peristiwa akan menunjukkan siapa diri kita sesungguhnya, apakah kita orang yang baik atau tidak.

Menjadi selfless juga baik, tapi juga jangan berlebihan. Namun, saya ingin mengajak kita untuk lebih memedulikan lingkungan sekitar. Manusia adalah masuk sosial, itu berarti kita adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan sesama, sama seperti mereka membutuhkan kita. Peradaban manusia bisa maju karena kita memiliki rekan dan bekerja bersama.

Atasan kita mungkin menyebalkan, tempat kita bekerja menjengkelkan. Kita mungkin tidak dihargai dan didukung, orang mungkin membenci.

So, what?

Jadilah pribadi yang seharusnya. Berikanlah bantuan di mana diperlukan. Apa yang kita lakukan akan mencerminkan karakter dan diri kita. Tanyalah pada diri kita sendiri, apa yang bisa kita lakukan pada keadaan ini? Apa yang bisa saya bantu?

Jika semua orang bisa berpikir demikian, pasti dunia ini akan menjadi lebih baik.

Ngapain kerja?

Mengapa kita bekerja? Sebagian orang mungkin menjawab untuk mencari uang dan membiayai hidup. Sebagian lain mungkin menjawab untuk aktualisasi diri. Sebagian lagi mungkin menjawab untuk mengubah dunia.

Related image

Setiap kita bisa mempunyai alasan yang berbeda-beda yang melandasi mengapa kita bekerja. Manapun itu, tidak ada yang salah dan sah saja. Namun, saya ingin menyoroti secara khusus mengapa kita bekerja di tempat kita bekerja saat ini.

Menyambung dari artikel kemarin, bahwa ada banyak guru yang meninggalkan profesi keguruan, dan ada anggapan bahwa guru berhenti karena alasan uang, saya ingin menyambung ke artikel ini.

Kalau kita tidak terinspirasi oleh uang, lalu bagaimana? Untuk apa kita bekerja?

Manusia mempunyai 2 kebutuhan utama dalam bekerja:

  1. Kebutuhan untuk berkontribusi dan bekerja untuk sesuatu hal yang lebih besar
  2. Kebutuhan untuk bekerja dalam lingkungan yang kolaboratif dan suportif

Image result for work with purposeSetiap kita hendaknya memiliki tujuan dalam bekerja (working with purpose). Mengapa? Karena tanpanya, kita hanya akan menjalani rutinitas pekerjaan.

Secara umum, sebenarnya pemimpin lah yang bertanggungjawab untuk menunjukkan arah tujuannya. Memberikan visi dan tujuan dari pekerjaan yang dilakukan organisasinya. Kalau tidak, mau ke mana organisasi tersebut. Seperti sibuk jalan di tempat, bahkan treadmill tetapi sebetulnya tidak melangkah ke mana pun.

Image result for leaders provide purpose

Jadi, jika kita adalah seorang pemimpin di sekolah atau perusahaan, ingatkan diri kita bahwa kita perlu menjadi sosok yang menunjukkan arah, tujuan, dan visi serta memberi arti bagi pekerjaan setiap dari kita di dalam komunitas.

Namun, bagaimana jika kita tidak memiliki jabatan? Kita bisa mencari dan menemukan tujuan dan visi kita sendiri. Misalnya, saya tidak pernah benar-benar merasa bahwa sekolah tempat saya bekerja memiliki visi yang jelas. Kalaupun visinya jelas, tetapi pekerjaan hari-harinya tidak selalu berkontribusi terhadap terwujudnya visi itu. Karena itu, saya memiliki visi hidup saya sendiri, untuk menginspirasi orang agar mereka bertumbuh mencapai potensi terbaik mereka dan juga menginspirasi orang lain demikian. Akibatnya, apapun yang sekolah saya lakukan, saya akan tetap berpegang pada visi tersebut.

Cara kedua, kalau kita tidak mempunyai visi besar, tidak masalah. Kita bisa menjadi pemimpin yang diharapkan orang-orang di sekitar kita. Misalnya, ada staf admin di tempat sekolah saya bekerja saat ini yang tidak benar-benar mendapatkan Related imagependampingan yang cukup. Ia ingin belajar bagaimana menggunakan Ms. Excel dengan lebih baik. Sayangnya, tidak ada yang membantunya. Bukan bagian saya juga karena saya bukanlah pimpinan atasannya. Namun, ini merupakan kesempatan bagi saya untuk menjadi seseorang yang ia harapkan itu. Saya berusaha membantunya dan mendukung teciptanya lingkungan yang suportif.

Jadi, yuk mari refleksikan ini. Mengapa kita bekerja?

Kita kerja sama-sama

Di tempat Anda bekerja, apakah Anda cenderung lebih banyak bekerja secara individu dan mandiri atau dengan kolaborasi?

Di era masa kini, rasanya cukup sulit menemukan perusahaan yang masih menganut sistem dan mekanisme kerja yang cenderung individualistis. Namun, belum tentu demikian di sekolah atau di beberapa perusahaan tertentu.

Saya sedang membaca buku The Principal, karya Michael Fullan, seorang ahli Image result for collaborative learning culture michael fullankepemimpinan sekolah dari Kanada. Di buku tersebut, ia membahas betapa pentingnya untuk tidak membiarkan guru memiliki otonomi terlalu besar dalam mengajar di kelasnya. Guru tidak boleh dibiarkan sendiri mengajar “sesuka hatinya”. Apa yang guru ajarkan di kelas harus sejalan dengan visi dan tujuan sekolah, dan ini adalah tanggung jawab pemimpin sekolah untuk memastikannya.

Image result for the principal michael fullan

Sekolah yang baik dan efektif akan memfasilitasi para gurunya untuk berkolaborasi dalam rangka belajar dan bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan dan visi bersama. Karena tidak mudahnya visi dan tujuan yang ada, sangat sulit untuk mencapainya sendiri. Terlalu sombong apabila kita mengatakan bahwa kita sudah cukup mampu untuk mewujudkannya sendiri.

Tidak, tidak mungkin.

Kita selalu membutuhkan teman dan orang yang mendorong kita lebih baik. Karena itu, kolaborasi menjadi budaya yang penting di berbagai organisasi, termasuk di sekolah.

Jika tempat kerja kita terlalu individualis tidan bagaimana kita bekerja cenderung terpisah satu sama lain, yuk mari mengusahakan sesuatu untuk mengubah budaya tersebut menjadi lebih kolaboratif. Jika lingkungan kerja kita sudah cukup kolaboratif, mari dipertahankan dan manfaatkan kondisi tersebut untuk saling mendukung dan menumbuhkan satu sama lain.

Image result for go fast go alone

Ketika kita bekerja bersama-sama, kita akan melihat bahwa kita rekan kita mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang tidak kita miliki dan begitu juga sebaliknya. Dampaknya, bersama kita semakin kuat dan dapat mencapai lebih banyak hal.

Layaknya pepatah Afrika, “Jika kita ingin melangkah cepat, berjalanlah sendiri. Jika kita ingin melangkah jauh, berjalanlah bersama-sama.”

Mereka pikir kita cinta uang

Apakah kita termasuk seseorang yang termotivasi untuk bekerja dan hidup sebaik-baiknya karena uang? Berapa banyak di antara kita yang terinspirasi karena uang?

Saya sendiri tidak termasuk orang yang termovitasi karena uang. Sebaliknya, motivasi tertinggi saya adalah untuk hal sosial, untuk menolong orang menjadi lebih baik. Namun, jangan bandingkan dengan tipe apapun Anda. Pula, saya tidak menulis artikel ini untuk menghakimi siapapun.

Mengapa saya ingin membahas mengenai hal ini? Karena menurut saya ini merupakan hal penting, terutama dalam praktik pendidikan formal di Indonesia, di sekolah.

Selama saya bekerja di sekolah, saya merasakan seperti ada missing link antara pihak manajemen sekolah dengan pihak karyawan (guru, staf, dll). Ketika seorang guru berhenti bekerja di sekolah tersebut, banyak orang berpikir, termasuk pihak manajemen bahwa ini karena uang, atau dalam arti lain gaji yang mereka terima. Kenyatannya?

Seperti yang kita tahu secara umum, gaji guru tidaklah setinggi gaji manajer perusahaan. Namun, menurut saya, yang menarik adalah bahwa salah satu alasan, sadar maupun tidak, bahwa seseorang menjadi guru bukanlah karena gajinya. Saya pikir, semua guru memahami bahwa ketika ia memutuskan untuk menjalani profesi keguruan seolah hampir sama seperti mendeklarasikan bahwa kita tidak ingin menjadi seseorang yang kaya secara materi.

Dalam beberapa kasus, memang ada yang ingin berpindah sekolah karena ditawarkan gaji dan fasilitas yang lebih baik. Namun, seberapa banyak orang yang demikian? Seberapa banyak pula perbedaan gaji dan fasilitasnya? Dan apakah benar itu motivasi utamanya?

 

Kalau seorang guru hanya bekerja demi uang, tentunya ia sudah memilih untuk bekerja di bidang lain yang lebih menjanjikan secara finansial. Namun, nyatanya ada banyak guru yang memilih bertahan di industri pendidikan karena menemukan kebahagiaan dari mendidik anak. Ini artinya, para guru ini bekerja demi sesuatu hal yang lebih besar daripada sekadar materi.

Sayangnya, saya rasa pihak manajemen dan pimpinan sekolah seringkali kurang menyadari hal ini. Apa yang dipermasalahkan para guru, terutama para guru muda (millennials) adalah kesempatan untuk bertumbuh dan berkarya, dan bagaimana sekolah tersebut dikelola dengan baik, bagaimana mereka dihargai sebagai pribadi, memiliki komunitas guru yang suportif dan menyenangkan, dan terus mendapatkan kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Namun, juga jangan salah kaprah. Para guru tetap membutuhkan kecukupan finansial untuk membiaya hidup dan keluarganya!

Hal yang saya ingin tekankan di sini adalah bahwa hendaknya kita lebih menyadari bahwa atmosfer kerja, kondisi pekerjaan, potensi untuk bertumbuh, dan kepemimpinan sekolah merupakan faktor penting bagi seseorang untuk terus bekerja di organisasi/sekolah tersebut. Bahkan, dalam banyak kasus, lebih penting dari uang itu sendiri. Uang tidaklah selalu menjadi faktor utama seseorang pergi dari sekolah.

Di beberapa negara, banyak guru memilih untuk meninggalkan profesi keguruan. Kenapa? Bukan karena uang, tetapi karena mereka tidak berkembang dan tidak didukung menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam arti lain, kita mempunyai masalah besar pada KEPEMIMPINAN dan MANAJEMEN sekolah!

Image result for teachers leaving profession

Hal ini didukung juga oleh hasil penelitian, yang menyatakan bahwa insentif finansial bukanlah cara yang dapat secara signifikan memengaruhi seorang guru untuk bekerja dengan lebih baik. Bukan uangnya, tetapi lingkungannya. Bukan materi, tetapi moril. Ketika seseorang merasa sungguh-sungguh dipedulikan, difasilitasi, didukung, dipimpin, dan dikembangkan, mereka akan setia pada Anda dan memberi yang terbaik untuk Anda dan sekolah Anda.

Seberapa besar pun uang yang kita terima dalam pekerjaan, ketika pekerjaan itu sendiri tidak memberikan kepuasaan, suatu hari kita akan berhenti.