Apa yang bisa saya lakukan?

Pada generasi saat ini, tren untuk memedulikan diri sendiri (self-love) cukup kencang terasa. Tren ini tidak hanya dikenal ramai oleh generasi milenial saat ini, tetapi juga generasi yang lebih dewasa.

Apa tandanya?

Kita cenderung lebih fokus pada kesehatan diri kita daripada kesehatan orang lain. Kita cenderung lebih fokus pada kesuksesan diri kita daripada kesuksesan orang lain (atau kesuksesan bersama). Ketika ada orang lain yang menyebalkan, kita cenderung lebih memilih untuk fokus pada pekerjaan dan hidup kita sendiri, kita mencari rasionalisasi untuk tidak lagi menghiraukan mereka sama sekali (beda dengan yang masih berusaha ya). Kita cenderung lebih fokus pada karir dan finansial kita daripada kebutuhan orang lain.

Orang lain di sini tidak termasuk keluarga atau orang yang memang kita kasihi ya. Kalau untuk pihak-pihak itu, sudah sangat wajar kalau kita kasihi, karena mereka secara sadar maupun tidak sudah kita anggap sebagai bagian dari diri kita.

Misalnya, di tempat kerja, pasti akan ada atasan atau rekan kerja yang menjengkelkan, baik itu dalam hal sifat, sikap atau etos kerjanya. Ketika kita harus bersinggungan dengan orang-orang ini, apa yang akan kita lakukan? Ketika pekerjaan yang ia lakukan untuk kepentingan kita juga, apa yang kita lakukan? Orang-orang yang memilih bersikap profesional, mungkin akan berkata ya kerjakan dan berinteraksi saja secara profesional. Sebagian yang lain memilih untuk tidak mau bersinggungan sama sekali, terlebih jika relasinya sudah cukup rusak.

Pertanyannya bagi kita, pernahkah kita mencoba berempati? Pernahkah kita mencoba melihat dari sisi mereka? Apakah kita pasti lebih baik? Apakah kita sudah cukup baik dalam bekerja?

Entahlah.. Mungkin iya.. Mungkin tidak..

Ketika tempat kita bekerja sangat menjengkelkan, atasan tidak beres, manajemen kacau, apakah kita lebih memilih diam dan memedulikan diri kita sendiri saja?

Self-love memang baik, tapi janganlah berlebihan. Tetap belajarlah memedulikan kepentingan bersama dan kepentingan yang lebih besar. Lagipula, sikap kita dalam menghadapi suatu peristiwa akan menunjukkan siapa diri kita sesungguhnya, apakah kita orang yang baik atau tidak.

Menjadi selfless juga baik, tapi juga jangan berlebihan. Namun, saya ingin mengajak kita untuk lebih memedulikan lingkungan sekitar. Manusia adalah masuk sosial, itu berarti kita adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan sesama, sama seperti mereka membutuhkan kita. Peradaban manusia bisa maju karena kita memiliki rekan dan bekerja bersama.

Atasan kita mungkin menyebalkan, tempat kita bekerja menjengkelkan. Kita mungkin tidak dihargai dan didukung, orang mungkin membenci.

So, what?

Jadilah pribadi yang seharusnya. Berikanlah bantuan di mana diperlukan. Apa yang kita lakukan akan mencerminkan karakter dan diri kita. Tanyalah pada diri kita sendiri, apa yang bisa kita lakukan pada keadaan ini? Apa yang bisa saya bantu?

Jika semua orang bisa berpikir demikian, pasti dunia ini akan menjadi lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s