Salah siapa?

Bayangkan Anda ada di kondisi berikut:

Anda adalah pegawai baru di kantor Anda. Ini adalah tahun pertama Anda bekerja di kantor tersebut, tetapi Anda sudah mempunyai pengalaman bekerja sebelumnya di bidang yang sama. Atasan langsung Anda tidak pernah memberikan arahan dan bimbingan yang jelas bagi Anda, hanya menyambut di awal Anda masuk. Ketika Anda bertanya padanya tentang hal-hal yang tidak Anda pahami, atasan Anda tidak dapat menolong.

Ketika tiba momen evaluasi tahunan, atasan Anda memberikan hasil evaluasinya kepada Anda, dan ternyata kinerja Anda dinilai biasa saja secara keseluruhan. Padahal, sebenarnya Anda telah mengusahakan apa yang bisa dilakukan dan mempunyai potensi besar dan pihak HRD menilai Anda akan menjadi pemimpin yang baik di kemudian hari. Hasil evaluasi ini berdampak pada persentase kenaikan gaji Anda di tahun mendatang.

Jika kita mencoba menganalisa dan mencari akar permasalahannya, siapakah atau apakah yang salah menurut kita pada kisah seperti ini?

Atasan langsung? Atasan divisi kita? CEO atau pemimpin tertinggi organisasi? HRD? Rekan kerja?

Jika kita mempersalahkan setiap dari pihak tersebut, atau pihak-pihak lain yang berkaitan, benar sekali! Mereka semua salah karena mungkin mereka tidak membimbing kita dengan optimal. Atau jika atasan langsung kita kurang berkualitas, kita bisa menyalahkan pihak HRD atau pemimpin lainnya karena mempekerjakan dan tidak membimbing atasan kita dengan baik.

Namun, sayangnya, kita juga salah! Salah karena kita terlalu bergantung pada orang lain. Padahal, kita hanya dapat mengontrol diri kita sendiri dan kita yang memegang kuncinya. Terlebih lagi, sebagai anak baru, kita biasanya tidak mempunyai otoritas dan kuasa yang cukup untuk memengaruhi mereka yang mempunyai posisi lebih tinggi dari kita.

Image result for control what we can

Ada kalanya kita hanya perlu mengandalkan diri sendiri, khususnya di lingkungan dan situasi yang tidak mendukung kita, dan bahkan menjadi pemimpin yang kita impikan kita miliki. Orang di sekitar kita bisa jadi memang salah, dan kita bisa saja menegur mereka. Namun, seberapa jauh mereka akan berubah?

Ubahlah diri sendiri, bantulah juga sesama untuk berubah. Lakukan apa yang bisa dilakukan, dan mengurangi mengeluh. Semakin sering kita melatih ini, semakin kita terbiasa untuk menjadi pemimpin lebih baik lagi.

Belajarlah dari serenity prayer (doa ketentraman):

Image result for serenity prayer

Tuhan, berilah aku ketentraman untuk menerima hal-hal yang aku tidak bisa ubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang aku bisa ubah, dan hikmat untuk mengetahui perbedaan keduanya.

Selamat berubah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s