Peka

Peka. Satu kata yang menurut saya sangat penting untuk menjadi sikap dan perilaku dalam menjalani hidup sehari-hari. Peka, atau dalam Bahasa Inggrisnya, aware, berarti “having knowledge or perception of a situation or fact”, atau “concerned and well-informed about a particular situation or development.”

Menjadi seseorang yang peka membutuhkan latihan. Tidak semua orang memiliki tingkat kepekaan yang sama. Kepekaan lahir dari latihan dan pengetahuan kita terhadap suatu hal. Misalnya, teman kita menunjukkan muka muram, tetapi di tengah momen kebersamaan dengan kelompok ia tidak menunjukkan kesedihannya. Namun, ada beberapa momen ketika ia menunjukkan wajah muramnya. Orang yang cukup peka akan bisa merasakan ada yang tidak biasa dari teman kita ini, sebaliknya orang yang tidak cukup peka akan merasa biasa saja seolah semua normal saja.

Mengapa saya menulis tentang peka?

Peka menjadi salah satu keterampilan (skill) yang penting dimiliki para pemimpin (namun bukan hanya pemimpin di perusahaan, peran seperti orang tua dan guru pun juga membutuhkannya). Dengan kepekaan yang terasah, kita bisa lebih peka mengamati dan merespon berbagai situasi. Terlebih lagi, sebagai pemimpin kita memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah. Ketika kepekaan kita terasah dengan baik, kita bisa menanggapi masalah dengan lebih cepat dan menganalisa situasi dengan lebih baik.

Pernahkah kita mengalami dampak atau manfaat dari memiliki kepekaan yang baik? Atau sebaliknya, apakah kita tidak cukup peka terhadap situasi dan mengalami kerugian karenanya?

Saya pribadi cukup sering mengalaminya keuntungan dan kerugian dari memiliki kepekaan yang terasah. Saya cukup peka dan sensitif terhadap perubahan nada bicara seseorang, khususnya mereka yang cukup dekat dengan saya. Ketika ada perubahan nada bicara menjadi lebih tinggi dari biasanya, saya bisa merasakannya dengan cepat dan menganalisa kondisinya. Apakah ini hal positif? Iya, dan juga negatif. Di satu sisi, baik karena saya jadi bisa membuat kesimpulan dengan cepat dan cukup tepat dan kemudian mengajaknya berbicara dan menanyakan lebih lanjut keadaannya. Di sisi lain, saya bisa jadi terlalu judgemental.

Ini masalah keseimbangan dan bagaimana kita bisa memanfaatkannya dengan baik. Namun, yang pasti, belajar untuk menjadi lebih peka adalah hal baik yang bisa kita lakukan. Peka terhadap peraturan lalu lintas, peka terhadap kebutuhan orang lain, peka terhadap tanggung jawab, peka terhadap keadaan mental dan kesehatan diri, dan lainnya.

Selamat menjadi peka.