Belajar dari siapa

Kemarin, saya bertemu dengan adik angkatan saya ketika berkuliah di jurusan matematika UI. Ia lebih mudah 2 tahun dari saya, sudah lulus S2 di jurusan applied mathematics di UCL, Inggris. Kami berdiskusi dan berbagi tentang pengalaman kami dalam pekerjaan kami masing-masing. Saat ini, ia menjabat sebagai kepala sekolah di Erudio School of Science, sebuah sekolah non-formal yang mengusung mimpi menjadi ekosistem dan komunitas bagi siapapun bisa belajar secara personal (personalized learning).

Ia lebih muda dari saya 2 tahun, tetapi darinya saya bisa belajar tentang pengalaman dan kesulitannya menjadi kepala sekolah. Saya sudah bekerja 7 tahun di dunia pendidikan tetapi “hanya” menjabat sebagai guru. Dalam obrolan kami, kami pun menyinggung betapa dinamisnya dan terbukanya pendidikan yang ia jalankan di sekolahnya. Seorang muridnya ingin membuat game, namun tidak ada yang benar-benar ahli dalam membuat game. Ia sendiri “hanya” mempunyai pengetahuan dan pemahaman terbatas mengenai bahasa pemograman.

Dalam ceritanya, ia mengatakan bahwa pada akhirnya ia memperkenalkan muridnya tersebut kepada orang yang memang ahli di bidangnya untuk membuat program dan game. Bukankah menarik pendidikan masa kini? Guru bukan lagi sumber utama pengetahuan, karena ada orang yang lebih ahli dan hebat, ada Google yang menjadi kamus untuk menggali informasi berbagai hal. Ada adik kelas yang bahkan bisa lebih tahu banyak hal daripada kita.

Ketika saya melakukan penelitian ke sebuah sekolah, saya mengingat quote ini:

If you really pay attention, everything is your teacher” – Ezra Bayda

Image result for when you really pay attention everything is your teacher

Kalau kita benar-benar memerhatikan, segala hal di sekitar kita bisa menjadi guru kita, atau dalam arti lain, kita bisa belajar dari apapun di sekitar kita dan siapapun. Murid bisa belajar dari guru ataupun Office Boy. Guru bisa belajar dari murid ataupun penjual makanan. CEO bisa belajar dari stafnya. Lingkungan belajar menjadi terbuka dan dinamis di mana siapapun bisa belajar dari apapun dan siapapun.

Kalau kita menutup diri dari kenyataan ini, kita perlu bertanya pada diri kita sendiri: Apakah kita relevan berkarya di masa kini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s