Lebih dari …

Kisah ini berawal dari sebuah telepon genggam (handphone). Ketika di kelas, anak murid saya itu diam-diam memainkan telepon genggamnya. Di sekolah saya, telepon genggam tidak diperkenankan untuk digunakan selama waktu belajar mengajar di kelas. Sebagai akibatnya, saya menyita telepon genggam anak ini.

Pas sekali karena pelajaran saya berada di jam terakhir di hari itu. Setelah waktunya pulang, anak tersebut saya panggil dan saya ajak bicara. Saya menanyakan mengapa ia memainkan telepon genggamnya di saat pelajaran. Selang beberapa detik, ia menangis ketika berusaha menjawab pertanyaan saya tersebut.

Jelas saya kaget, dan saya mengajaknya berbicara lebih lanjut untuk mengetahui apa yang terjadi padanya. Singkat cerita, ternyata ia mempunyai konflik dengan orang tuanya. Secara khusus, ia menyatakan bahwa orang tuanya tidak mendukung apa yang ia inginkan untuk memelajari dan fokus di bidang kesenian, bidang yang ia sukai. Ada banyak masalah lain di antara anak ini dan orang tuanya, tetapi ia belum menceritakannya pada saya.

Jika Anda berada di posisi saya, apa yang Anda lakukan?

Di masa kini, guru tidak lagi berperan hanya untuk mengajarkan materi dan memfasilitasi pembelajaran akademis di kelas. Nyatanya, kita tidak bisa menutup mata bahwa ada banyak anak-anak muda masa kini yang lebih rapuh (vulnerable) dan membutuhkan dukungan dan didikan kita, termasuk guru. Guru mata pelajaran apapun dituntut untuk juga memiliki kemampuan konseling dan bisa memberikan pendidikan karakter dan hidup kepada murid-muridnya.

Dan menariknya, kejadian seperti yang saya alami bisa terjadi pada waktu yang terduga, ketika kita tidak mempersiapkan apapun. Siapa yang menyangka kalau anak ini akan menangis dan menceritakan masalahnya setelah telepon genggamnya saya sita? Siapa yang sangka akan berbuntut lebih panjang dari seharusnya? Siapa sangka yang ia butuhkan bukan nasihat tentang kedisiplinan di dalam kelas, tetapi dukungan dan penguatan dalam hidupnya?

Hai orang tua, guru, pendidik, atau apapun posisi kita.. setiap waktu adalah momen untuk bisa belajar dan mengajarkan sesuatu kepada siapapun. Kesempatan itu bisa jadi tidak datang dua kali. Ada kalanya momen tersebut datang di hadapan kita dan kita harus bertindak dengan bijaksana. Oleh karena itu, ingatlah bahwa kita perlu terus belajar dalam porsi dan bidang kita masing-masing. Jalanilah peran “lebih dari” apa yang kita jalani saat ini.

Image result for more than a teacher

Secara khusus, bagi para guru dan pendidik yang membaca ini, ingatlah bahwa kita ini lebih dari sekadar pengajar materi di kelas. Kita mempunyai peran untuk membimbing, mendukung, dan mendorong anak-anak murid kita untuk merasa dicintai dan bertumbuh semaksimal mungkin.

“Dengan ajaran yang tepat, mereka bisa menjadi cerdas. Dengan didikan yang tepat, mereka bisa menjadi apapun dan siapapun yang mungkin tidak kita bayangkan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s