Kolot

“Papa ini kolot deh, nggak ngikutin perkembangan zaman. Sekarang ini kan sudah zamannya digital. Tinggal search aja kalau mau cari apa-apa. Kalau nggak tahu tempat, tinggal pake Waze atau Google Maps juga beres.”

Pernahkah kita punya pengalaman serupa? Entah kita yang berbicara hal seperti itu kepada orang tua kita (atau orang yang lebih tua dari kita, seperti guru, dosen, atau siapapun), atau kita yang menjadi “korban”-nya. Apa yang kita pikirkan? Apa yang kita rasakan?

Memang mungkin tidak banyak anak muda yang demikian. Namun, mungkin dalam satu titik dalam hidup kita, kita pernah merasakan bahwa ada orang tua (atau orang yang lebih tua dari kita) yang tidak sejalan dengan kita, atau tidak secepat kita. Mereka kita anggap tidak bisa memahami keadaan kita. Bahkan, dalam beberapa kasus, kita merasa bahwa kita lebih baik atau pintar dari mereka.

Kenyataannya, saya pikir ada betulnya. Sangat wajar jika orang muda lebih pintar dari orang yang lebih tua dari mereka, terlebih lagi berbeda lebih dari 10 tahun. Contohnya, orang muda saat ini lebih banyak mendapatkan kesempatan belajar berbagai hal, seperti komputer dan teknologi. Hidup saja sudah melihat gawai. Sejak SD atau bahkan TK sudah mempunyai telepon genggam. Apa-apa serba cepat dan bisa dilakukan via online. Ilmu pun juga semakin berkembang. Saat ini mungkin banyak di antara kita sudah belajar Bahasa pemograman dan coding, sedangkan orang tua kita tidak.

Ini hanya sebagian kecil saja. Namun, ada banyak hal lain yang saya yakin bisa kita jadikan contoh. Mudahnya, orang muda saat ini nampak lebih mempunyai potensi untuk menang jika dibandingkan dengan kemampuan generasi yang lebih tua. Namun, sayangnya, ada yang sering orang muda lupakan. Satu hal yang mereka sangat sulit (kalau tidak mungkin) untuk kalahkan adalah pengalaman. Pengalaman mereka yang lebih tua tidak bisa dibeli, terlebih lagi jika generasi yang lebih tua ini benar-benar memaknai dan menikmati perjalanan hidupnya.

Image result for learn from the old

Oleh karena itu, kita, orang muda, perlu belajar banyak dari generasi yang lebih tua. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari mereka, termasuk sejarah hidup. Dengan demikian, kita bisa memelajari sesuatu hal lebih cepat dari seharusnya, dan memanfaatkannya untuk perjalanan karier dan kehidupan kita sendiri. Terlebih lagi jika kita bisa menjadikan mereka yang bijak dan berpengalaman sebagai mentor kita. Kita akan mendapatkan keuntungan tersendiri.

Hal ini saya rasakan dalam perjalanan saya. Saya mempunyai beberapa “teman” yang lebih tua dari saya. 3 tahun lebih tua, 10 tahun lebih tua, 20 tahun lebih tua, bahkan 30 tahun lebih tua. Apa dampaknya? Saya belajar banyak dari mereka, dan saya merasakan bahwa saya juga semakin bijak dalam melihat kehidupan. Ada hal-hal yang tidak bisa saya lihat sebagai orang muda masa kini, yang sudah mereka lihat dan rasakan. Contohnya, kesabaran dan keteguhan.

Maukah kita cukup rendah hati untuk belajar dari mereka yang mungkin kita anggap lebih lemah dan tidak lebih pintar? Mereka yang bijaksana adalah mereka yang mau membuka hati untuk belajar dari siapapun dan apapun.

Selamat belajar menjadi bijak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s