Asian children

A             : “Salah satu hal yang saya paling tidak suka dari kamu dan banyak temanmu  yang lain adalah bagaimana kalian hanya menerima begitu saja tanpa bertanya balik atau merespon ketika saya memberikan pertanyaan.”

B             : “Yah kan kita ini anak-anak Asia, sir.”

Percakapan di atas adalah salah satu percakapan saya dengan salah satu murid saya, saya terjemahkan dengan bebas. Namun, itu merupakan isi hati saya. Satu hal yang saya tidak terlalu sukai dari banyak murid saya adalah ketika saya bertanya di kelas dan “menantang” mereka untuk mengkritisi saya dan apa yang saya ajarkan, banyak dari mereka cenderung diam membisu. Ada sebagian kecil dari mereka yang merespon untuk mengkritisi. Hanya 1-2 dari sekitar 15-20 anak per kelas.

Namun, hal ini membuat saya juga berpikir ulang. Dalam percakapan lanjutannya, murid saya tersebut semakin memperjelas apa maksudnya sebagai anak-anak Asia (Asian children). Mereka tumbuh dalam budaya keluarga yang harus taat dan menurut kepada orang tuanya, apapun itu. Dampaknya, mereka cenderung untuk tidak banyak bertanya dan mengkritisi hal-hal yang ada di depan mata mereka.

Apakah ini hal yang baik? Tentu! Taat dan menerima apa adanya sangat diperlukan, pada hal-hal tertentu. Misalnya, taat sepenuhnya pada Tuhan dalam ajaran agama masing-masing. Menjalankan perintah orang tua yang memiliki arti positif. Namun, bagaimana jika perintah atau ajaran orang tidak sejalan dengan hati nurani? Bagaimana jika teori tertentu berlawanan dengan teori lainnya? Bagaimana kalau didikan guru tidak sepenuhnya tepat? Bagaimana jika orang tua juga salah?

Jika kita adalah seorang yang cukup spiritual dan religius, saya meyakini bahwa mencintai Tuhan bukan semata berarti taat tanpa tahu ini itu. Justru, saya yakin bahwa Tuhan mau kita belajar mencintai-Nya dengan segala keberadaan kita, termasuk akal pikiran kita. Belajar itu juga berarti mempertanyakan dan menjadi kritis terhadap keberadaan dan karya-Nya di dunia dan hidup kita.

Jika kita bermimpin menjadi pribadi yang sukses nantinya dalam karya dan pekerjaan kita, menjadi pribadi yang kritis menjadi salah satu karakteristik penting. Mengkritisi apa yang ada dan terjadi di dalam hidup kita menjadi hal penting untuk memajukan kehidupan kita juga dan memahami perjalanan hidup kita lebih baik. Ketika kita cenderung selalu menerima apa adanya, kita akan lebih mudah ditipu dan tidak ada lagi kemajuan di hidup kita.

Image result for critical thinking benefit

Walaupun sebagai orang Asia, bukan berari kita tidak bisa mengkritisi dunia. Namun, saya pun semakin menyadari hal ini, yaitu bahwa ada latar belakang budaya keluarga yang mau tidak mau memengaruhi cara pandang dan pendidikan anak, khususnya dalam hal berpikir dan bersikap kritis ini. Walau begitu, bukan berarti kita tidak bisa berubah dan mengubah cara pikir demikian.

Jika kita adalah orang tua yang terlalu otoriter dan mau mengontrol segala hal, kita perlu memberikan ruang lebih banyak bagi anak kita untuk mengkritisi ini itu. Sebaliknya, jika kita terlalu bebas, berikan ruang juga untuk anak belajar taat. Keseimbangan di antara keduanya menjadi hal penting di dalam hidup ini.

Mari terus belajar sebagai orang Asia yang maju.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s