I am an introvert and I am fine

“Kamu terlalu diam di kelas. Kamu harus lebih banyak berbicara dan aktif, terlibat dalam diskusi dan mencoba berbagai aktivitas. Lihat teman-temanmu.”

Sadar atau tidak, banyak guru, pendidik, orang tua, dan bahkan anggota masyarakat lebih mengagungkan kualitas atau keterampilan yang secara alami lebih dimiliki oleh orang-orang ekstrover. Saya katakan alami karena sebetulnya hal-hal tersebut juga bisa dimiliki dan dilakukan dengan terampil oleh orang-orang introver, tetapi lebih membutuhkan banyak latihan.

Itu pun berlaku bagi saya sendiri, baik saya ketika berada di bangku sekolah maupun ketika tahun-tahun pertama saya menjadi guru. Sadar atau tidak, saya lebih berharap mempunyai anak murid yang aktif dalam diskusi dan memberikan pendapat di kelas. Mereka yang “lebih hebat” dalam public speaking dan presentasi akan lebih menyenangkan. Bahkan, mereka yang mampu berdebat menjadi murid yang lebih menarik bagi saya.

Setelah membaca buku Quiet: The power of introverts in a world that can’t stop talking dan banyak artikel lainnya, dan merenungkan perjalanan hidup saya sendiri, saya baru lebih menyadari bahwa sedikit banyak saya tidak adil dalam memperlakukan anak murid saya. Kalau saya ada di sisi mereka yang introver, saya pun belum tentu mau berbicara di depan, aktif dalam diskusi, dan hal lainnya. Saya akan lebih menikmati waktu saya berdiam, mengobservasi, menganalisa, dan memberikan pendapat secara tertulis.

Image result for introverts strength quotes

Mungkin, banyak di antara kita yang secara tidak sadar kuatir akan perkembangan anak-anak introver. Khususnya bagi orang tua dan guru. Karena mereka nampak lebih enggan bersosialisasi, lebih banyak diam dan tidak “aktif”. Ditambah lagi, rasanya hidup mereka nampak tidak menyenangkan. Nyatanya, orang introver baik-baik saja. I am also an introvert and I am doing fine.

Kualitas keterampilan seperti memimpin, mengemukakan pendapat secara verbal, memulai pembicaraan dengan orang asing, public speaking, kolaborasi aktif dalam berdiskusi, presentasi, berakting, lebih fleksibel dan tidak terlalu analitis, melakukan tanpa terlalu banyak perhitungan, dan melangkah keluar dari zona nyaman, memang lebih alami dan mudah diasah oleh orang-orang ekstrover. Namun, bukan berarti orang-orang introver tidak dapat melakukannya. Demikian juga keterampilan seperti observasi, perbincangan mendalam (deep conversation), analisa, mendengarkan, berpikir sebelum bertindak, menulis, reflektif, yang memang lebih alami dan mudah diasah oleh orang-orang introver, juga bisa diasah dan dilakukan oleh orang-orang ekstrover.

Nyatanya, orang-orang sukses membutuhkan keterampilan dan kualitas dari kedua sisi tersebut. Namun, karena tulisan ini dimaksudkan untuk lebih fokus pada “kelemahan” orang-orang introver, maka saya ingin lebih mengajak kita semua untuk merangkul “kelemahan” dan “kelebihan” orang-orang introver. Mereka yang nampak diam, bisa saja berbicara dengan nyaman dan lihai di depan auditorium, namun membutuhkan banyak latihan dan persiapan. Mereka yang nampak tidak aktif dalam berdiskusi sebenarnya sedang menganalisa dan mendengarkan argumen yang lain. Mereka yang tidak terlalu suka berbicara sebenarnya sedang berpikir dan mempersiapkan diri untuk menulis. Mereka yang kurang suka mempunyai banyak teman sebenarnya mempunyai 1-2 orang sahabat yang teramat dekat dan berkualitas.

Introver tidak lebih baik dari ekstrover. Ini hanya menunjukkan betapa uniknya manusia. Orang-orang introver juga baik-baik saja dan dapat melakukan banyak hal besar, seperti layaknya orang-orang ekstrover. Jika kita tergolong seorang introver, tenanglah, dan terus mengasah diri dan belajar keluar dari zona nyaman kita dan banyak belajar dari seorang ekstrover. Terus kembangkan diri kita sebaik mungkin. Jika kita seorang ekstrover, terus juga mengasah diri kita, dan rangkulah sang introver dan saling belajar darinya.

Pengalaman saya pribadi, saya tidak menyukai dan kurang mampu berakting, memulai pembicaraan dengan orang asing (terlebih jika ia tidak merespon dengan positif), dulu saya sangat pemalu dan malas berbicara di depan orang banyak, malas berargumen verbal dengan orang lain, berdiskusi, presentasi, mencoba tanpa terlalu banyak berpikir. Sekarang saya adalah seorang pendidik, guru yang harus berusaha melakukan itu semua, memimpin para murid, dan public speaking menjadi salah satu keterampilan yang saya paling andalkan.

Sebuah artikel yang ditulis Lisa Evans (https://www.fastcompany.com/90295027/six-things-introverts-and-extroverts-can-learn-from-each-other) bisa menjadi satu contoh referensi bagaimana kita bisa saling belajar dan belajar untuk terus menjadi pribadi yang lebih dewasa.

I am an introvert and I am fine.

4 thoughts on “I am an introvert and I am fine

  1. Saya melihat ada banyak sekali kaum ekstrovert yang ingin menang sendiri dan merasa dirinya paling benar dan selalu merasa bahwa dirinya lebih baik dari yang pendiam. Saya heran. Seolah merasa yang paling benar. Kemampuan mendengarkan dari kaum ekstrovert sangat kurang. Kurang mendengarkan kelompok lain/ yang diajak bicara. Mungkin itulah kenapa Tuhan menciptakan saling melengkapi antara berbagai sifat manusia.

    Like

    1. Halo @scan salam kenal. Terima kasih untuk komentarnya. Walau tidak bisa digeneralisasi, tapi sampai pada titik tertentu saya setuju bahwa banyak orang ekstrover yg kurang ahli dalam mendengarkan (namun tetap bisa dilatih). Namun, nyatanya ada banyak juga orang-orang ekstrover yg merupakan pendengar yang baik (istri saya salah satu contoh orang yang saya kenal demikian). Setiap orang diciptakan unik dan punya latar belakang dan pengalaman pendidikan (bukan berarti pendidikan formal saja) yang berbeda dan pasti memengaruhi bagaimana ia bersikap di kemudian hari. Tuhan ciptakan kita untuk saling melengkapi sekaligus saling mengasah satu sama lain. Saya payah dalam bersosialisasi dan butuh waktu lebih lama untuk menyampaikan sesuatu di depan umum, sesuatu hal yang amat mudah dilakukan oleh kebanyakan kaum ekstrover.

      Poin tulisan ini bukan untuk mengekspos dan kemudian saling menjelekkan, tetapi lebih berusaha mensejajarkan keduanya, dan kemudian menolong kita melihat manusia dengan lebih bijak. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s