I need you!

Dua minggu yang lalu, saya dan teman-teman di gereja saya baru menyelesaikan rangkaian pertandingan pada turnamen yang diadakan gereja tempat saya beribadah dan berkomunitas. Pada babak semifinal, kami bertanding dengan tim kandidat juara. Saya tidak terlalu berharap kami menang. Bahkan, saya pikir kami akan dibantai. Nampak pesimis sekali bukan? Tentu saja, para pemain dari tim lawan banyak terdiri dari pemain klub basket profesional, dan kami hanyalah tim yang baru dibentuk 2 minggu sebelum turnamen untuk ikut meramaikan turnamen.

Pada saat itu, ada satu pemain kunci di tim lawan yang tidak hadir. Tidak disangka, kami kalah dengan skor 46-50. Pada 2 kuarter pertama, kami mengungguli tim lawan. Kuncinya di kuarter 3 ketika skor tim kami mulai disalip dan kami kesulitan untuk membalik keadaan. Beberapa kali timeout kami ambil, tapi tidak banyak mengubah keadaan.

Image result for we need each other

Selesai pertandingan, teman saya menanyakan hasil pertandingan (kebetulan ia tidak menonton pertandingan tersebut, dan ia adalah salah satu pemain dari gereja lain yang mungkin akan bertemu dengan tim yang kami lawan di semifinal tersebut). Singkatnya, dari perbincangan kami, ada satu hal yang kami setujui. Kami tidak mempunyai pelatih.

Ya, kami tidak mempunyai pelatih yang berdiri di pinggir lapangan untuk mengatur strategi dan mendorong kami saat bermain. Saya merangkap sebagai pemain, kapten, dan pelatih, dengan keterbatasan kemampuan saya. Salah satu pemain di tim kami yang kami anggap pemain terbaik kami tidak terlalu banyak berbicara. Mungkin karena ia adalah anggota baru di gereja kami. Ketika kami berada dalam kesulitan, ia yang lebih banyak bertindak dan berusaha memasukkan bola dengan segala usahanya.

Di sini, saya lebih menyadari hal ini. Betapapun hebatnya kita, kita selalu membutuhkan seseorang di samping kita. Mengapa? Bukan berarti kita tidak mampu. Namun, menarik bahwa ketika kita sedang “bermain di lapangan”, kita tidak sepenuhnya bisa melihat dan membuat keputusan terbaik akan apa yang seharusnya kita lakukan. Bahkan, seringkali kita bisa membuat kesalahan-kesalahan kecil yang kita pikir tidak akan pernah kita lakukan sebelumnya. Sadar atau tidak, kita membutuhkan seseorang di samping kita untuk menolong kita melihat lebih baik, untuk mendorong dan memotivasi kita memberikan terbaik, untuk mengarahkan kita untuk melakukan apa yang harus kita lakukan pada saat tertentu, untuk membuat keputusan terbaik.

Image result for we need each other

Pemain profesional pun membutuhkan pelatih. Atlet fenomenal seperti Michael Jordan, Tom Brady, Usain Bolt, Muhammad Ali, Michael Phelps, ketika mereka berada pada masa keemasannya, tetap pula membutuhkan pelatih. Demikian juga orang-orang seperti Bill Gates, Steve Jobs, Warren Buffet, Jeff Bezos, Barack Obama, Joko Widodo, dan Nadiem Makarim. Demikian juga kita sebagai orang dewasa, remaja-remaja kita, pemuda pemudi bahgsa, anak-anak kita.

Setiap orang membutuhkan orang lain untuk terus berkembang. Tidak ada satu orang yang hebat dan mampu melakukan apapun dan mencapai apapun, kecuali Tuhan. Mari kita menyadari hal ini dengan sebaik-baiknya.

Jika kita mempunyai kemampuan dan pengalaman lebih, bagikanlah kepada mereka yang lebih muda, jadilah mentor dan coach bagi mereka. Namun, di saat bersamaan, belajarlah juga dari orang lain. Dengan demikian, kita menciptakan dunia yang lebih baik bagi sesama, bukan hanya bagi diri kita sendiri.

“Sendiri kita dapat membuat perbedaan, bersama kita membuat perubahan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s