You are my favorite!

Beberapa minggu yang lalu, saya berbincang dengan salah satu mantan murid saya. Saat ini dia masih di kelas 9. Saya mengajarnya ketika ia berada di kelas 7. Dalam perbincangan kami, ia menanyakan apakah ia adalah murid favorit saya (anak-anak sekarang memang beda dari di masa dulu. Perbincangan santai dan jujur semacam ini bisa jadi makanan sehari-hari guru di masa kini). Saya menjawabnya, “Tidak. Saya tidak mempunyai murid favorit.” Dan dia agak mengeluh, mengatakan bahwa murid biasanya mempunyai guru favorit, tetapi saya tidak mempunyai murid favorit. Seolah mengatakan harusnya ada “relasi yang sepadan.”

Pada momen yang lain, hal serupa pun ditanyakan oleh murid saya yang lain ketika kami sedang melakukan kelas tambahan. Jawaban saya pun sama, “Tidak.”

Sebagian orang mungkin bertanya mengapa saya tidak mempunyai murid favorit. Izinkan saya juga mengajukan pertanyaan yang sama bagi kita semua. Siapa murid favorit kita? Siapa anak favorit kita? Rekan favorit kita? Bos favorit kita?

Jika kita mempunyainya, mengapa orang tersebut menjadi orang favorit kita? Sebaliknya, jika tidak, mengapa tidak mempunyai?

Mempunyai seseorang yang kita lebih sukai, atau menjadi orang favorit kita, menurut saya, sangatlah manusiawi. Sangat manusiawi bagi seorang guru memfavoritkan anak muridnya. Misalnya, mereka yang sangat cerdas, atau berparas dan berpenampilan menawan, atau hebat dalam hal tertentu sesuai harapan kita, atau selalu menyenangkan hati kita. Sebaliknya, sangat mudah bagi guru untuk tidak menyukai anak murid yang tidak sesuai harapan kita, misalnya murid yang malas, kurang atau tidak berprestasi, sering melanggar aturan, menyebalkan di kelas, atau yang lainnya.

Namun, etis atau pantas kah bagi seorang guru mempunyai murid favorit? Orang tua mempunyai anak favorit? Pemimpin mempunyai bawahan favorit? Di dalam lubuk hati kita mungkin itu tidak terhindarkan, tetapi bagaimana kita bersikap dan berperilaku, menurut saya, seharusnya diusahakan sedapat mungkin untuk tidak mempunyai bias karena ada favoritisme tersebut. Jika iya, khususnya bagi orang tua dan guru, hal tersebut akan membawa hal yang tidak baik pada relasi secara umum dengan anak atau murid yang lain.

Saya kerap mendengar bahwa guru tertentu memfavoritkan anak murid tertentu, dengan alasannya masing-masing. Sialnya, hal ini saya dengar dari mulut murid yang lain. “Ah sir, kalau guru A sih paling suka sama si itu tuh.” Betapa tidak nyaman didengar bukan?

Image result for children are all equal

Hal inilah yang membuat saya sedapat mungkin tidak mempunyai murid favorit. Kalaupun ada, saya tidak akan pernah memberitahu pada siapapun, dan sedapat mungkin tidak memunculkan perilaku favoritisme itu saat di sekolah. Berusaha untuk selalu netral dan adil dalam memperlakukan setiap murid. Sebaliknya, jika ada anak murid yang menyebalkan, saya pun juga selalu berusaha untuk bersikap netral dan memperlakukannya sama seperti anak murid yang lain.

Betapa tidak mudahnya menjadi guru, menjadi orang tua, menjadi pendidik, menjadi pemimpin. Di satu sisi, kita manusia biasa yang dapat mempunyai bias favoritisme tersebut. Namun, kita perlu terus belajar dan berusaha mengontrol diri kita agar hal tersebut tidak mengubah bagaimana kita mendidik anak yang satu dan yang lain. Dampaknya, setiap anak bisa merasakan dihargai apa adanya dan diperlakukan dengan hormat, sehingga dapat tercipta relasi positif dan saling menghormati antara pendidik dan yang dididik, antara guru dan murid, orang tua dan anak, pemimpin dan pengikut.

Sulit? Tentu. Mungkinkah kita mengatasinya? Jelas!

Maukah kita mengusahakannya? Selamat berjuang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s