Pendidikan tanpa bisnis

Apa yang terbersit di pikiran kita ketika kita mendengar bisnis pendidikan? Saya tidak tahu dengan Anda, tetapi jujur hal pertama yang terpikirkan adalah saya tidak menyukainya. Saya seringkali sinis dengan orang-orang yang mau berbisnis dalam industri pendidikan. Mengapa? Karena keduanya, bagi saya, memiliki sifat alami yang berbeda, paling tidak menurut yang selama ini saya pahami.

Di dunia bisnis, orang lebih berpatokan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya, bahkan ketika pelayanan tidak diberikan secara maksimal. Sedangkan, dunia pendidikan lebih menuntut pelayanan maksimal terhadap setiap anak murid, yang bahkan justru dapat mengorbankan diri demi kepentingan klien (murid dan orang tua).

Melihat kedua dunia ini bagi saya seperti layaknya air dan minyak yang tidak dapat disatukan. Keduanya bertentangan bahkan. Bagaimana mungkin sekolah, universitas, dan berbagai Lembaga pendidikan lainnya dapat berjalan baik dengan mengedepankan bisnis? Bukankah rasanya jadi money-oriented dan merugikan?

Selama karier saya, saya selalu bekerja di sekolah swasta. Berbeda dari sekolah negeri yang disubsidi pemerintah, sekolah swasta harus berjuang secara mandiri untuk mendapatkan sumber daya berupa uang kepentingan sekolah itu sendiri juga. Untuk menggaji para guru dan karyawan, membiayai fasilitas, dan berbagai kegaitan lainnya. Dalam arti lain, sekolah swasta harus menggunakan prinsip bisnis dalam mengoperasikan sekolahnya.

Lalu, bagaimana donk? Saya pun hingga saat ini belum menemukan jawabannya. Namun, saya masih menyimpan keyakinan bahwa keduanya dapat dikawinkan. Bahwa bisnis yang ideal tidak seharusnya mengedepankan keuangan, tetapi nilai (value). Ilmu pemasaran (marketing), penjualan (sales), dan lainnya yang sangat terkait dengan bisnis dapat digunakan untuk memajukan dunia pendidikan (atau lembaga pendidikan), tanpa menggerus atau menghancurkan nilai dan sifat alami pendidikan.

Salah satu hal yang mengganggu saya pribadi misalnya adalah soal nilai murid. Kita semua tahu bahwa nilai prestasi adalah hal penting di dunia pendidikan. Bahkan terlalu penting sehingga begitu banyak orang yang menomorsatukan nilai prestasi ini. Banyak orang masih percaya bahwa mereka yang mempunyai nilai bagus akan sukses di kemudian hari. Sayangnya, kita tahu tidak semua orang yang bernilai bagus memiliki kesuksesan secerah nilai yang diperolehnya.

Di dunia bisnis saat ini, sangat lumrah jika prioritas nomor satu sekolah adalah menghasilkan lulusan dengan nilai prestasi terbaik. Namun, jika melihat konteks pendidikan yang ideal, benarkah demikian? Bukankah kualitas belajar seharusnya yang lebih penting? Proses belajar dan apa yang dipelajari para murid menjadi lebih berharga? Bukankah keterampilan berpikir seperti berpikir kritis dan logis hampir tidak mungkin diukur dengan nilai angka?

Hal-hal semacam ini yang membuat seringkali terjadi “pertarungan” antara idealisme pendidikan dan bisnis. Kita dituntut untuk membuat segala sesuatu terukur dengan angka, padahal banyak hal di hidup ini yang lebih penting yang tidak dapat diukur dengan angka (misalnya, cinta kasih).

Satu hal penting yang saya pelajari dari Simon Sinek, seseorang yang menyuarakan idealisme pelayanan dalam dunia bisnis, adalah seharusnya kita tidak terobsesi pada tujuan angka yang sebenarnya adalah tujuan acak yang kita buat sendiri. Seharusnya kita terobsesi pada hal yang jauh lebih jangka panjang (infinite game) yang lebih berharga. Bukan nilai angka tapi kualitas proses belajar. Bukan prestasi angka, tetapi keterampilan yang dipelajari. Bukan berapa banyak yang lulus dengan nilai 100 atau A*, tetapi berapa banyak yang terinspirasi untuk belajar seumur hidup.

Untuk dapat mengubah cara berpikir ini, kita harus memulai dengan value yang kita ingin tawarkan dalam lembaga pendidikan. Jelas uang tetap dibutuhkan. Tak ada uang, sekolah pun hancur. Namun, ketika kita harus mempertaruhkan uang atau pengembangan manusia dan tujuan jangka panjang, mana yang kita pilih? Semangat yang mana yang mau kita prioritaskan? Ketika kita salah menetapkan prioritas, seluruh warga sekolah bahkan murid akan merasakannya. Apakah mereka yang dikorbankan atau mereka yang menjadi prioritasnya?

Mari bersama berpikir, berbagi, dan berkontribusi. Cara bisnis semacam apa yang bisa diterapkan di dunia pendidikan dan tetap memajukan pendidikan dengan tidak menghilangkan idealisme pendidikan?