Kita harus berubah

Sebentar lagi kita akan menutup tahun 2019, tepatnya 19 hari dari hari ini, kita akan memasuki tahun yang baru. Menyenangkan? Tentu! Mendebarkan? Ya!

Dunia tempat kita tinggal dan hidup berkembang begitu pesat. Kemajuan teknologi semakin mengagumkan, banyak jenis pekerjaan dan karier baru dan banyak juga yang hilang, manusia semakin membutuhkan koneksi internet dan pengetahuan tentang teknologi, cara orang berkomunikasi lebih digital saat ini, perubahan relasi antarmanusia, dan seterusnya. Dunia berubah, manusia berubah, dan dampaknya generasi masa depan ‘harus’ menyesuaikan dengan tuntutan ini. Artinya, pendidikan juga (perlu) berubah.

Semakin ke sini, saya semakin merasa bahwa ada banyak suara menuntut pendidikan untuk berubah. Belum lama ini, santer terdengar rencana Mendikbud baru kita, Nadiem Makarim, untuk mengganti format Ujian Nasional (UN) menjadi lebih seperti tes internasional Programme for International Student Assessment (PISA), untuk anak murid di kelas 4, 8, dan 11. Rencana kebijakan itu mendukung pernyataan Nadiem Makarim, yang ramai di media sosial, “Kita memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi. Kita memasuki era di mana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya. Kita memasuki era di mana akreditasi tidak menjamin mutu. Ini hal-hal yang harus segera disadari.” Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia pun juga ingin berubah, atau paling tidak ada kesadaran untuk mengubah sistem pendidikan di negeri ini, untuk lebih menyesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan dunia modern.Image result for education now and then

“Kita harus berubah!” Demikian banyak orang menyuarakan kondisi di pendidikan, baik nasional maupun internasional. Pendidikan yang status quo dipandang tidak lagi sesuai untuk menjawab kebutuhan zaman. Murid harus belajar lebih untuk berpikir dan memiliki keterampilan yang lebih mendukung dunia kerja, seperti kepemimpinan, berbicara di depan umum (public speaking), literasi, dan komunikasi. Di dunia pendidikan, dikenal istilah keterampilan abad 21 (21st century skills), yang terdiri dari keterampilan kehidupan dan karier (life and career skills), keterampilan belajar dan inovasi (learning and innovation skills), dan keterampilan informasi, media, dan teknologi (information, media, and technology skills).

Hal ini, walaupun, menjadi terkenal di dunia pendidikan, saya pikir belum tentu menjadi kesadaran bersama bagi semura orang awam (non-pendidikan). Mengerjakan perubahan ini menjadi pekerjaan rumah bagi setiap orang. Pendidikan tidak pernah hanya merupakan tanggung jawab institusi pendidikan, tetapi tanggung jawab bersama.

It takes a village to raise a child. It takes a society to raise a generation.”

Jika kita tidak familiar dengan dunia pendidikan secara khusus, tetap baik jika kita belajar tentangnya dan memerlengkapi diri untuk itu. Mungkin kita adalah orang tua (atau akan menjadi orang tua), atau kita bagian dari masyarakat, kita perlu mempromosikan dan mengajarkan keterampilan-keterampilan penting yang dunia butuhkan, bukan hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi kita maupun keluarga dan rekan kerja kita.

Kita harus berubah, dan mari mempersiapkan diri untuk itu dan mengerjakannya. Dunia tidak akan menunggu kita, malahan kita yang harus mengejar dan bahkan ikut serta membangun dunia ini.  Mari kita terus belajar tanpa henti, karena dunia pun tak berhenti belajar dan hidup tak berhenti mengajar.

 

(note: di artikel lain, saya akan membahas sisi “negatif” dari perkembangan pendidikan dan dunia ini).