Belajar untuk belajar (ways of learning)

Beberapa waktu belakangan ini, saya merasa jengkel dibuat oleh para murid saya di kelas 11 khususnya. Bukan karena mereka mengganggu di kelas atau perilaku buruk lainnya, tetapi karena sikap mereka dalam belajar. Sebagai guru, saya berusaha untuk membagikan apa yang ada di kepala dan hati saya kepada setiap anak murid saya. Secara khusus, dalam hal belajar matematika, saya pasti akan menekankan dan mengingatkan ketika saya merasa konsep tertentu begitu penting atau saya takut anak murid saya akan melupakannya begitu saja.

Namun, bukan murid mungkin ya kalau kurang peka. Di hari berikutnya, mereka melakukan kesalahan dalam trik kecil yang saya sampaikan. Ketika mereka menjalani tes, demikian mereka mengulang kesalahan yang sama. Saya bingung dibuat mereka. Pikir saya, “Bagaimana sih anak-anak ini? Kan saya sudah mengingatkan secara khusus tentang bagian ini.”

Di kesempatan lain, saya berdiskusi dengan rekan kerja saya, seorang guru matematika SD. Beliau bercerita bahwa suatu kali, mantan muridnya yang sudah berada di kelas 7 datang kepadanya dan curhat soal betapa guru matematikanya di kelas 7 tersebut tidak seperti beliau ini. Di kelas 7 ini, murid ini mendapatkan nilai di sekitar 70-80, sedangkan dulu di masa SD ia mendapat nilai di kisaran 90-100. Namun, bukannya “berbaik hati” dan mengasihani murid ini, sebaliknya, rekan saya ini malah menegurnya. Katanya, “Saya sudah mengajarkan kamu keterampilan yang perlu kamu miliki, dan kamu sudah mempunyai fondasi yang kuat untuk dapat belajar matematika dengan baik. Kalau gurumu tidak menunjukkan pola berpikirnya, kamu yang cari polanya seperti yang saya sudah ajarkan.” Menurutnya, setelah itu, anak tersebut tak pernah lagi datang kepadanya karena ia sudah mendapatkan kembali nilai yang ia impikan tersebut.

Melalui 2 pengalaman ini, saya menemukan hal yang sama. Murid-murid ini tidak tahu (atau lupa) caranya belajar. Mungkin kita sudah sebaik mungkin mengajarkan mereka keterampilan yang mereka perlukan, tetapi mereka merasa perlu terus difasilitasi guru mereka. Mata mereka seperti tertutup selaput yang menghalangi mereka untuk melihat dengan jelas apa yang bisa mereka lakukan.

Image result for students way of learningDalam kesempatan lain ketika saya mengikuti seminar, sang narasumber mengatakan bahwa tugas kita sebagai guru terutama adalah mengajarkan bagaimana caranya belajar kepada para murid kita. Ketika kita berhasil melakukannya, performa murid meningkat drastis. Hal ini dikarenakan murid seringkali tidak mengetahui apa yang harusnya mereka lakukan ketika belajar. Sebagian hanya menghafal mati dan tidak memahami. Sebagian lain menyerah. Sebagian lagi, mungkin karena merasa mempunyai bakat, bisa mendapat nilai baik walau cara belajarnya salah. Sebagian kecil mungkin benar-benar tahu bagaimana caranya belajar.

Related imageKeadaan ini diperburuk karena banyak guru tidak mengajarkan para murid dengan cara yang seharusnya. Tidak sepenuhnya salah mereka, karena mereka pun dididik demikian pada masanya, namun ini kenyataannya. Begitu juga kita sebagai orang tua masih dengan cara pikir dan cara didik kolot. Banyak dari kita masih merasakannya, seperti misalnya diminta menghafal semata (karena bentuk soal di berbagai tes berbasis hafalan), belajar prosedur daripada perlu memahami konsepnya, dan berbagai hal lainnya.

Berkaca dari kondisi ini, Khususnya jika kita seorang pendidik, mari kita mengubah cara pikir kita dan tentunya cara mendidik kita. Murid dan anak kita tidak lagi membutuhkan untuk diajarkan kontennya (mereka dapat mencarinya sendiri melalui bantuan internet), tetapi cara belajarnya, cara berpikirnya. Keterampilan belajar bagaimana belajar efektif menjadi hal esensial di masa kini, yang tentunya perlu kita ajarkan kepada mereka.

Beberapa di antaranya yang kita bisa ajarkan kepada anak dan murid kita:

  • keterampilan membuat catatan dan ringkasan,
  • strategi membaca efektif,
  • cara mendengarkan dengan efektif,
  • cara membuat mind-map,
  • memberi pertanyaan pada diri sendiri dan orang lain untuk menstimulasi pikiran,
  • cara berpikir,
  • cara mengajarkan materi.
  • cara melatih keterampilan berpikir,
  • cara mengenal emosi diri dan ekspresi emosi.

Image result for how to make a mind mapSusah? Tentu. Karena kita pertama-tama, harus mengubah cara berpikir. Kedua, kita pun harus belajar cara belajar tersebut dan kemudian mengajarkannya kepada anak didik kita (kecuali kita memilih menyerahkan tanggung jawab tersebut pada institusi atau orang lain). Ketika, anak murid kita belum tentu memahaminya dalam waktu singkat, karena mereka juga perlu berubah cara pandang.

Berharga untuk dicoba? Tentu! Dunia tidak berubah kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Dengan belajar berbagai keterampilan ini, anak didik kita akan semakin siap menghadapi dunia.

Maukah kita berubah?

Teach Less, Learn More

Beberapa tahun lalu, dunia (khususnya di bidang pendidikan) dikejutkan oleh sebuah negara di Eropa yang berhasil memiliki pencapaian tinggi di tes internasional (PISA) yang mengukur dan menganalisa kemampuan anak-anak berusia 15 tahun pada bidang literasi, numerasi, dan sains. Ketika negara top penghuni peringkat atas tes tersebut lebih banyak berasal dari negara-negara dengan sistem pendidikan yang “berat”, seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Singapura, negara ini “berhasil” masuk di peringkat 5 besar dengan sistem pendidikannya yang tidak menekankan “kerja keras” seperti negara-negara tersebut.

Related image

Mata para pejabat pemerintahan di berbagai negara tertuju pada negeri ini, karena “keberhasilan” negeri ini mencapai hasil yang sangat baik dengan cara yang “lunak” itu. Di tengah ketenarannya, ada satu frase yang menjadi prinsip pendidikan di Finlandia. “Teach less, learn more.” Ini menjadi salah satu prinsip pendidikan yang dihidupi dan dijalankan di Finlandia, yang saya baru tahu belakangan juga ternyata diterapkan di Singapura.

Dari banyak keunikan dan kekuatan pendidikan di Finlandia, bagi saya, satu prinsip ini yang paling menarik. Mengapa? Karena saya tidak memahaminya. Bagaimana maksudnya “teach less, learn more”? Bagaimana mungkin itu diterapkan? Bagaimana ceritanya guru sedikit mengajar, murid banyak belajar. Bukankah itu aneh? Bukankah anak murid belajar dari gurunya?

Desember lalu, seperti yang sebelumnya saya pernah bagikan juga, saya mengikuti workshop pembelajaran matematika yang dibawakan Dr. Yeap Ban Har, pakar dan konsultan pendidikan matematika dari Singapura. Dalam workshop tersebut, beliau mengatakan bahwa prinsip “teach less, learn more” adalah prinsip yang diterapkan di Singapura. Beliau tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai hal ini, namun beliau mempraktikkannya dan menunjukkan apa maksudnya.

Sekarang, saya baru lebih memahami apa maksudnya, secara khusus, dalam pembelajaran matematika. Ini yang saya pahami dan saya ingin bagikan di tulisan ini.

  • Sebagai guru, tugas kita bukan untuk mengajar, dalam arti untuk menjadi satu-satunya sumber pengetahuan bagi sang peserta didik.
  • Dalam belajar matematika, tugas guru adalah memfasilitasi pembelajaran dan lingkungan belajar agar anak dapat memahami konsepnya, bukan “mengajarkan” konsepnya.
  • Tugas guru adalah untuk menciptakan suasana dan kondisi belajar agar anak murid yang mengeksplorasi sendiri dan berdiskusi dengan temannya.
  • Guru berperan memberikan pertanyaan (questioning and coaching) agar murid berpikir sendiri dan mencoba menyelesaikan masalah atau soal yang diberikan.
  • Guru tidak menjelaskan dalam rangka untuk mengajarkan konsep, tetapi menciptakan ruang bagi anak untuk dapat memahami konsep matematika secara mandiri.

Beberapa waktu belakangan ini, saya terus mencoba mempraktikkan hal ini di kelas. Hasilnya? Saya senang! Mengapa? Karena saya (mungkin) berhasil untuk mempraktikkan prinsip tersebut. Saya memberikan soal kepada murid saya untuk mereka coba gali dan diskusikan dengan teman mereka, dan saya “hanya” mengarahkan dan memberikan pertanyaan lebih lanjut. Saya tidak memberikan jawabannya atau memberikan klu agar mereka mengetahui jawabannya, tetapi saya memberikan ruang bagi anak-anak murid saya untuk berpikir, menggali, dan membuat semuanya masuk akal bagi mereka.

Image result for teacher facilitates

Pada titik tertentu, saya baru memahami bahwa ini maksudnya “teach less, learn more” itu. Saya lebih sedikit menjelaskan atau memberi tahu informasi, tapi justru anak lebih banyak berpikir dan belajar memahami konsep secara mandiri.

Dalam hidup (bukan hanya belajar atau kehidupan di sekolah), ada kalanya pun kita perlu melakukan hal ini. Sedikit lebih memberi nasihat, agar anak kita punya ruang mencoba sendiri dan melakukan kesalahan (yang ternyata lebih bermanfaat daripada selalu benar). Ada baiknya kita mengarahkan dan memberikan pertanyaan daripada memberikan jawaban atas pertanyaan mereka. Kita berusaha mengajarkan keterampilan yang lebih penting dan esensial untuk mereka miliki dalam mencari jawaban atas masalah mereka, daripada sekadar langsung mengetahui jawabannya.

Mari kita merefleksikan praktik mendidik kita, baik sebagai guru, pemimpin, orang tua, atau apapun kita. Tidak selalu mengajarkan langsung itu baik. Tidak selalu menyuapi itu baik. Tidak selalu memberitahu jawaban itu baik. Saat ini, jauh lebih baik ketika kita memperlengkapi mereka dengan keterampilan untuk mencari jawabannya, menolong mereka menjadi mandiri dan memahami apa yang perlu dilakukan.

Selamat mencoba!

Fun Learning

Di masa kini, kita dapat melihat menjamurnya program-program sekolah, khususnya PAUD, TK, dan SD, yang menawarkan pembelajaran yang menyenangkan, atau “fun learning”. Istilah ini menjadi istilah yang sering kita dengar di dunia pendidikan, khususnya apabila kita adalah orang tua atau bekerja di institusi pendidikan.

Apa sih sebenarnya maksud dari fun learning itu? Pada proses pendidikan, institusi yang menawarkan fun learning berarti menawarkan metode belajar yang menyenangkan. Cara yang paling umum adalah menggabungkan permainan dengan belajar. Belajar materi atau keterampilan tertentu melalui kegiatan bermain yang tentunya menyenangkan, dan melaluinya pesan atau materi atau keterampilan diharapkan dapat sampai pada peserta didik dengan lebih baik.

Beberapa kali saya merenungkan istilah ini, dan ada kalanya saya tergelitik dengan istilah ini. Fun learning. Setuju, bahwa pembelajaran harus “dibuat” menyenangkan, karena selama ini proses pembelajaran di sekolah tidak dikondisikan sedemikian rupa untuk menjadi menyenangkan bagi para peserta didik. Di sisi lain, saya berpikir, “bukankah belajar itu sendiri merupakan sesuatu yang menyenangkan?”

Istilah dan program-program “fun learning”, menurut saya, dapat memberi kesan yang salah (misleading) bahwa belajar adalah sesuatu yang pada dasarnya tidak menyenangkan, tetapi dapat dibuat menyenangkan. Ada benarnya, tetapi juga berbahaya menurut saya. Seolah, belajar itu harus melalui metode yang menyenangkan, baru kita dapat belajar dengan baik.

Saya pikir tidaklah demikian. Bagi saya pribadi, belajar itu sendiri seharusnya adalah kegiatan yang menyenangkan. Mengapa? Karena kita dapat memelajari hal baru dan menjadi lebih pintar dan terampil dari sebelumnya. Metode yang menyenangkan ditujukan untuk memacu otak kita untuk mampu menerima dan mengingat informasi yang masuk dengan lebih baik. Seperti apa yang dikatakan Jim Kwik, “information combined with emotion becomes a long-term memory.”

Selama ini, belajar menjadi masalah karena praktik pendidikan di sekolah memodelkan belajar sebagai sesuatu hal yang menyulitkan, menyebalkan, tidak menyenangkan. Belajar harus dites. Belajar harus menghafal. Belajar tidak dengan pemahaman. Akibatnya, pandangan kita tentang belajar menjadi buruk. Padahal, seharusnya tidak demikian.

Image result for learning is fun quotes

Saat ini, dunia sedang berubah di mana pendidikan secara khusus didesain agar lebih fokus mengubah cara pandang kita mengenai belajar. Bahwa belajar memang menyenangkan, bahkan tanpa bermain atau melalui metode menyenangkan khusus sekalipun, asal didesain, dibawakan, dan dijalani dengan pendekatan yang tepat dan dengan tujuan yang tepat.

Belajar merupakan kegiatan menyenangkan ketika otak kita dipacu dan ditantang untuk berpikir dan mendapatkan pengetahuan baru. Belajar menjadi sesuatu yang membosankan dan menyebalkan ketika kita dipaksa untuk menghafal informasi semata. Apakah itu berarti metodenya harus bermain? Tidak juga. Harus metode menyenangkan? Tidak juga, atau lebih tepatnya relatif. Paling tidak, kita perlu menyadari bahwa metode yang satu mungkin menyenangkan bagi seseorang tapi tidak bagi yang lain. Ketika kita menyadari bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan, itu sendiri dapat mengubah banyak hal.

Percaya pangkal sukses

Kalau kita mencari kunci-kunci kesuksesan, pasti salah satunya berkaitan dengan kepercayaan diri (self-confidence atau self-belief). Tiliklah beberapa pernyataan berikut:

  • “Percaya pada kemampuan diri sendiri adalah salah satu kunci menggapai kesuksesan.”
  • “Believe in yourself and the world will be at your feet.” – Swami Vivekananda
  • “It is lack of faith that makes people afraid of meeting challenges, and I believed in myself.” – Muhammad Ali
  • “To live a great life, you must believe in yourself Let these quotes help you to create a mindset for believing in yourself… Those who believe they can do something and those who believe they can’t are both right.” – Henry Ford
  • “In order to succeed, we must first believe that we can.” – Nikos Kazantzakis

Percaya pada diri dan kemampuan diri sendiri menjadi kunci penting bagi setiap orang untuk dapat sukses. Dengan percaya pada diri sendiri, kita lebih mudah dan leluasa untuk melakukan dan mencoba ini itu tanpa banyak mempertanyakan (baca: meragukan) diri kita. Kita akan lebih memfokuskan diri pada apa yang bisa kita kembangkan dan kita lakukan daripada membuang waktu memastikan bahwa kita ini bisa.

Image result for self confident quotes

Terlebih lagi, kalau kita tidak memercayai diri kita sendiri, siapa yang akan memercayai diri kita? Orang lain belum tentu memercayai kita dan mengenal kita sepenuhnya. Syukurlah dan beruntunglah kita jika ada seseorang seperti mentor, orang tua, saudara, atau guru, yang memercayai kita dan mendukung kita sepenuhnya. Namun, walaupun begitu, kunci terakhir selalu ada di diri kita, apakah kita berani melangkahkan kaki kita.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti workshop matematika bagi guru dan orang tua. Lah, apa hubungannya? Sang pembicara, Dr. Yeap Ban Har, merupakan seorang guru dan konsultan pendidikan dari Singapura. Beliau menyampaikan bahwa riset menunjukkan bahwa setiap orang bisa belajar matematika. Beliau tidak mengelaborasi lebih jauh mengenai hal ini. Namun, saya tergelitik untuk mencari tahu lebih jauh.

Iseng mencoba mencari informasi via Google, saya menemukan situs https://www.youcubed.org/. Kita dapat menemukan berbagai informasi dan artikel menarik terkait pembelajaran dan matematika di sini. Hasil penelitian yang dicatat di sini menjadi menarik karena merupakan hasil penelitian di bidang neurosains terkait dengan bagaimana kerja otak manusia dalam belajar (khususnya matematika). Jadi, ini bukan sembarang coba-coba atau asal percaya. Ada pesan ilmiah dibaliknya.

Image result for make mistakes boaler

  1. Setiap orang dapat belajar matematika hingga tingkat kesulitan yang tinggi (Everyone can learn mathematics to high levels)
  2. Percayalah pada dirimu sendiri (Believe in yourself)
  3. Kesulitan dan kesalahan sangatlah penting dalam proses belajar (Struggles and mistakes are really important).
  4. Kecepatan tidaklah yang terpenting (Speed is not important).

Image result for it is lack of faith muhammad aliLihatlah poin ke-2, percayalah pada diri kita sendiri. Tentunya memang tidak mudah, karena kalau kita berulang kali melakukan kesalahan dan gagal, lambat laun kita menjadi tidak percaya diri. Oleh karena itu, poin ini tidak bisa berdiri sendiri. Poin ke-3 dan ke-4 juga tidak boleh ditinggalkan, selain tentunya proses refleksi dan belajar yang membuat kita juga semakin baik hari demi hari dan membentuk keterampilan dan keberadaan diri kita.

Kepercayaan diri memang tidak mudah dibentuk, seperti yang diomongkan. Dibutuhkan waktu dan proses yang tidak mudah untuk kita dapat sepenuhnya dan seutuhnya menerima dan memercayai diri kita sendiri. Terlebih lagi, jika kita mempunyai pengalaman buruk di masa lalu (atau yang sedang kita alami) yang membuat kita minder. Namun, kita juga perlu mengingat bahwa ketika kita sungguh dapat melakukannya (memercayai diri sendiri), pintu kesempatan dan kesuksesan di depan mata terbuka dengan lebih lebar.

Mari kita terus belajar mengasah diri. Memperbaiki yang perlu diperbaiki, terutama sikap dan karakter kita. Mengasah keterampilan yang menjadi kekuatan utama kita. Berbagilah juga pada teman atau orang di sekitar kita ketika ada kesempatannya. Jangan pernah menyerah dan terus tanamkan dalam diri bahwa kita bisa selalu menjadi lebih baik (growth mindset). Ingat juga untuk bergaul dengan orang yang positif dan dapat menolong kita lebih baik. Relasi positif penting!

Niscaya, kita akan sampai di garis tersebut, untuk kemudian memasuki pintu berikutnya.