Intention matters

Seorang teman, pada suatu waktu meminta bantuan pada saya untuk mengerjakan tugas kuliah S2-nya. Ia meminta tolong saya untuk melakukan proofread dan memberikan komentar terhadap tulisannya. Tugas di masa kuliah S2 saya memang adalah untuk membuat tulisan seperti untuk jurnal akademik dalam rentang waktu 3 bulan. Teman saya ini merasa kesulitan memahami dosen saya, sehingga ia meminta bantuan saya.

Saya mencoba untuk memberikan bantuan sebaik mungkin yang bisa saya berikan. Belajar dari dosen saya dalam bagaimana beliau memberikan feedback, demikian saya juga berusaha memberikan feedback padanya. Detil, coretan merah, usulan kalimat, struktur, bahasa/pemilihan kata, dan lainnya. Setelah saya selesai dengan feedback tersebut, kami bertemu untuk membahasnya dan saya berusaha menjelaskan padanya. Pada pertemuan itu, ia mengungkapkan terima kasihnya dan akan memperbaiki tulisannya.

Singkat cerita, nyatanya ia tidak begitu ingin memperbaikinya (atau ia tidak memahaminya, entahlah.) Ia hanya memperbaiki bagian yang ia rasa perlu diperbaiki. Belakangan, setelah juga berbicara dengan dosen saya, saya belajar mengetahui bahwa teman saya ini “merasa” dirinya cukup pintar karena sebelumnya juga sudah pernah mengambil kuliah S2, dan seperti “tidak rela” dikritisi. Meminta pendapat, menurut kesimpulan saya, baginya lebih kepada seperti mencari pembenaran atas pendapatnya, bukan untuk membuka diri terhadap kemungkinan hal baru yang dapat memperbaiki diri maupun pekerjaannya.

Apakah kita pernah mengalami hal semacam ini? Atau.. jangan-jangan karakter teman saya itu adalah kita sendiri?

“Our choices reveal our intentions” – Simon Sinek

Pilihan yang kita ambil dalam hidup merefleksikan motivasi dan tujuan kita di dalam hati, yang seorang pun tidak tahu. Tindakan kita menjadi bukti dari pilihan yang kita ambil. Dalam cerita saya di atas, teman saya telah membuat pilihannya, begitu juga pula dengan saya. Walau orang lain mungkin tidak tahu, tetapi kita mengetahui mengapa kita melakukan yang kita lakukan, bahkan dengan cara yang kita gunakan. Terlebih lagi, semakin dewasa kita, hendaknya kita semakin peka terhadap hal ini.

Image result for our choices reveal reveal our intentions simon sinek

Lalu apa pentingnya sih? Orang lain dapat menilai. Suka tidak suka, manusia mempunyai kemampuan untuk saling menilai, dan nampaknya itu begitu natural terjadi. Sangat manusiawi. Kita cenderung untuk menilai karakter, perilaku orang lain. Tidak selalu berarti buruk, walau sayangnya lebih sering menjadi hal negatif. Penilaian dari orang lain ini menjadi penting dalam bagaimana mereka merespon terhadap tindakan kita. Bisa jadi mereka memilih mundur karena mereka “merasakan” dari penilaian mereka bahwa kita tidak tulus, atau menyebalkan karena mencari keuntungan sendiri.

Kita pasti juga pernah merasakannya. Saya sering merasakannya bahwa saya menilai tindakan orang lain tidak sepenuhnya tulus. Wah, tahu dari mana?

  • Konsistensi – di saat ini dia A, saat lain dia B.
  • Pemilihan kata – semakin dewasa, kita harus semakin peka terhadap pemilihan kata kita, karena itu mencerminkan pengetahuan dan kebijaksanaan kita.
  • Bahasa tubuh – ada kalanya orang tidak meyakinkan karena bahasa tubuhnya. Misalnya, orang yang percaya pada apa yang ia katakan, menurut penelitian, sering menggunakan tangan ketika mendeskripsikan atau menjelaskan perkataannya.
  • Nada bicara – orang yang meyakinkan “memilih” nada bicara yang meyakinkan pula
  • Perilaku/sikap – sikap saat berbicara, atau berperilaku secara umum, apakah konsisten dengan pendapatnya.

Ada banyak cara untuk dapat “menilai” dan pada akhirnya kita bisa “merasakan”. Atau, bisa jadi ya hanya “merasakan” saja bahwa orang ini tidak tulus atau mempunyai maksud tersembunyi, atau tidak jujur.

Image result for trust matters quote

Hal ini harusnya menjadi refleksi juga bagi kita, bahwa kita perlu menjaga diri, perkataan, tindakan, pikiran, hati kita, agar seluruhnya integrated. Di sini lah kata “integritas” itu muncul. Ketika kita tidak konsisten, apa bahayanya? Orang tidak memercayai kita. Padahal, landasan kepercayaan menjadi sangat penting dalam setiap relasi. Tanpa kepercayaan, tak ada relasi positif, tak ada kepemimpinan, tak ada masa depan. Dengan kepercayaan, hidup lebih baik, kita bisa berinovasi, dunia pun semakin maju.

Intention matters. Mari meniliki hati dan pikiran kita.

Be right or be kind?

“When you have the choice between being right and being kind, choose kind.” – Wayne Dyer

Sebagian dari kita mungkin cukup mengenal atau paling tidak pernah mendengar perkataan bijak di atas. Ketika kita mempunyai pilihan untuk menjadi/berbuat benar dan menjadi/berbuat baik, pilihlah untuk menjadi baik.

Image result for when you have the choice to be right or kind

Saya sudah pernah mendengar perkataan bijak tersebut sejak kecil. Namun, pertama kali saya memikirkan kembali perkataan tersebut adalah ketika saya menonton film Wonder. Pada film tersebut, diceritakan kisah seorang anak yang memiliki wajah yang buruk (setelah hasil operasi berulang kali) dan menjadi korban perundungan (bully) teman-teman di sekolahnya. Pada salah satu adegan, guru kelas anak tersebut membagikan tentang perkataan bijak ini.

Di sini lah saya memikirkan kembali perkataan ini. Apakah benar demikian? Apakah itu merupakan pilihan yang selalu tepat? Apakah menjadi orang baik sebenarnya berbeda dari menjadi orang benar?

Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi refleksi dan pikiran pribadi saya terkait perkataan bijak ini. Namun, bukan berarti saya sebetulnya memahami perkataan tersebut. Tulisan ini lebih berisi tentang “pergulatan” pikiran saya tentang perkataan bijak ini.

Saya tidak mengetahui konteks perkataan bijak ini dilontarkan oleh Dr. Wayne W. Dyer, seorang penulis buku asal Amerika. Mungkin perkataan bijak tersebut dilontarkan untuk mengkritik mereka yang memilih terus “menjadi orang benar” daripada berbuat baik, sehingga dalam beberapa kondisi malah menjadi “egois” karena mau dirinya merasa benar. Menjadi orang yang benar tidak selalu berarti memperjuangkan apa yang benar. Bisa jadi, kita memperjuangkan kebanggaan diri kita yang kita anggap selalu benar. Dalam arti lain, kita tidak rela salah, atau menjadi/terlihat lemah di mata orang lain.

Secara pribadi, saya tidak terlalu setuju untuk memisahkan “benar” dan “baik”, walau mungkin ada betulnya juga bahwa orang benar belum tentu baik dan orang baik belum tentu benar. Bisa jadi, itu adalah kompleksitas dan realita di kehidupan ini. Bagi saya secara pribadi, menjadi dan melakukan yang benar “seharusnya” juga berarti menjadi orang baik. Namun, karena standar “kebenaran” dan “kebaikan” bisa jadi begitu subyektif, bisa jadi memang ada yang salah menurut pandangan pihak tertentu.

Bagaimana kalau dalam kasus seperti ini:

Murid saya bertanya kepada saya mengenai jawaban dari soal matematika yang ia sedang kerjakan di kelas sebagai tugas kelas. Ia diizinkan untuk berdiskusi dan membuka buku atau sumber lainnya. Lalu, saya tidak mau menjawabnya, betapapun ia memohon.

Apakah yang saya lakukan itu benar atau baik? Atau malah tidak keduanya?

Sebagian orang bisa merasa bahwa itu adalah hal yang benar untuk saya lakukan, karena mungkin bagi mereka itu adalah waktu bagi sang murid untuk belajar secara mandiri. Ada waktunya nanti ketika saya bertanggungjawab menjelaskannya.

Sebagian yang lain bisa merasa bahwa saya adalah guru yang jahat (lawan dari baik), karena saya seharusnya menunjukkan kasihan kebaikan dengan memberitahukan jawabannya. Kalau saya tidak rela memberitahukan jawabannya, bagaimana mungkin sang murid bisa belajar dengan baik.

Image result for do the right thing is kind

Atau, ada sebagian pihak lain yang mempunyai pandangan berbeda.

Sayangnya, konteksnya kasus di atas tidak lengkap. Bisa jadi memang saya memberikan ruang bagi sang murid untuk mengerjakan secara mandiri sehingga saya tidak akan menjawabnya. Namun, di waktu tertentu kemudian saya akan membahasnya.

Kebenaran dan kebaikan tidaklah mudah untuk dinilai/dihakimi. Namun, saya pribadi percaya bahwa kebenaran tidak seharusnya sepenuhnya terpisahkan dari kebaikan. Berbuat benar bisa juga berarti berbuat baik, dan begitu juga sebaliknya. Misalnya, ketika anak berbuat salah, apakah seharusnya ditegur? Saya rasa banyak orang akan mengatakan iya. Namun, sebagian akan berkata itu bukan hal “baik” untuk dilakukan, khususnya ketika ia sudah merasa bersalah. Saya pribadi lebih memilih menegurnya, namun dengan tidak berlebihan. Kemudian, saya bisa mengajak bicara anak saya dan mengevaluasi apa yang ia rasakan dan pikirkan.

Baik atau benar? Entahlah.. bisa jadi refleksi saya ini pun ngawur. Namun, ini yang saya pikirkan. Bagaimana dengan Anda?

I love you, but I don’t like you

Tepat kemarin, banyak orang di dunia ini merayakan hari kasih sayang, atau yang disebut juga sebagai hari Valentine. Mungkin banyak pasangan yang merayakannya, keluarga, sahabat, atau bahkan rekan kerja yang berusaha menunjukkan perasaan kasih pada orang di sekitarnya. Bukan berarti hari ini hanya menjadi hari spesial bagi pasangan, tetapi bisa jadi menjadi hari pengingat bagi sebagian orang untuk menunjukkan rasa kasih sayang pada orang lain.

Demikian juga dengan saya dan partner kerja saya di sekolah. Kami berdua adalah wali kelas dari anak-anak murid kelas 10 di sekolah kami. Di minggu lalu, kami sepakat untuk membeli kartu yang dicetak oleh OSIS di sekolah kami dalam rangka hari Valentine, dan menuliskan pesan singkat untuk menyemangati setiap anak-anak murid kami.

Mengapa kami melakukannya? Mungkin, kalau dipikirkan atau direfleksikan kembali, kami terlanjur sayang pada mereka. Sekitar 7 bulan sudah sejak awal tahun ajaran dimulai, setiap hari kami bertemu dengan mereka, walau tidak lama. Namun, rasanya relasi guru dan murid yang terbentuk di antara kami membuat kami sebagai wali kelasnya belajar mengasihi mereka.

Pertanyaannya. Jika kami mengasihi (love) mereka, apakah berarti juga kami menyukai (like) mereka?

Image result for love vs like

Ada perbedaan antara suka (like) dan sayang (love). Masa ah? Coba kita tilik cerita singkat berikut:

Vivi sedang menceritakan tentang pengalamannya dengan orang tuanya. Ia mengatakan bahwa setiap anggota keluarga mereka saling menyayangi. Secara khusus, ia juga mengatakan bahwa ayahnya sangat menyayangi dia. Di sisi lain, Vivi juga mengatakan bahwa ayahnya tidak selalu menyukai apa yang dilakukan Vivi. Ada kalanya ayahnya menyatakan kekecewaannya terhadap perilaku Vivi yang cenderung egois. Ada kalanya juga ayahnya marah terhadap kecerobohan Vivi.

Apakah ayah Vivi menyatakan hal yang kontradiktif? Katanya sayang, tapi kok kecewa dan marah?

Di sinilah letak perbedaannya. Sayang atau kasih (love) adalah sesuatu yang bersifat emosional (bukan berarti marah lho ya), sedangkan suka (like) adalah perasaan yang lebih bersifat rasional. Simon Sinek, dalam salah satu seminarnya, mengatakan demikian, “You love your kids every day. But you may not like your kids every day.” Mungkin benar memang kita mengasihi anak kita setiap hari, tetapi ada kalanya memang kita tidak menyukai mereka, karena alasan tertentu.

Image result for love vs like

Ada kalanya kita tidak menyukai pasangan kita, mungkin karena perilakunya yang menyebalkan. Ada sifat-sifat tertentu yang tidak kita sukai. Tapi toh kita tetap menyayanginya. Kita tetap bersamanya. Bahkan, kita Bahagia bersamanya.

Kalau saat ini kita sedang menyukai sesuatu atau seseorang, jangan terburu-buru “menggantinya” dengan perasaan sayang. Bisa jadi kita hanya menyukainya. Kita menyukai tantangan pekerjaan, tipe pekerjaan, jam kerjan, bayaran dari pekerjaan, pertemanan, sifat pasangan kita, perilaku orang tua kita. Namun, ketika kita menikmati dan menyayanginya, kita cenderung tidak rela untuk hal tersebut (atau orang tersebut) tergantikan. Bahkan, kalau kita menikmati (enjoy/love) pekerjaan kita atau menyayangi seseorang, kita rela untuk melakukan lebih dari yang diminta/diharuskan (go the extra mile) dan bahkan mungkin tidak dibayar untuk hal-hal tertentu.

Image result for love vs like

Sebagai penutup, mari pikirkan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Apakah kita menyukai atau mengasihi pasangan kita?
  • Apakah kita menyukai atau menikmati pekerjaan kita?
  • Apakah kita menyukai atau mengasihi orang tua kita?
  • Apakah kita menyukai atau mengasihi teman/sahabat kita?
  • Apakah kita rela melakukan lebih dari yang diminta/diharapkan (go the extra mile)?

Mari terus berefleksi dan belajar. Selamat menikmati hidup, mencintai kehidupan, mengasihi sesama.

When life gives you lemon (ketika hidup terasa asam)

When life gives you lemons…

Perkataan tersebut dapat kita selesaikan dengan berbagai jawaban, seperti yang dapat kita temukan di berbagai sumber:

  • “make lemonade”
  • “ask for salt and tequila”
  • “make lemon cakes”

Perkataan-perkataan ini, jika kita lihat, merujuk pada ke-asam-an dalam hidup, bahkan dalam kasus tertentu juga termasuk ke-pahit-an hidup. Bahwa hidup tidak selalu manis. Bahkan kalau menggunakan analogi jeruk yang dipercayai kaum Tionghoa, kita pun tahu bahwa tidak semua jeruk terasa manis. Bahkan sebagian terasa sangat asam. Namun, tidak selesai sampai di situ saja. Perkataan ini menyiratkan juga bahwa walau hidup terasa asam (bahkan pahit) di mana banyak kesulitan dan tantangan dalam hidup, gunakan kesulitan dan tantangan tersebut untuk menjadi hal positif dalam hidup kita. Ini merupakan perkataan semangat dan bernada positif bagi kita.

Hidup memang tidak seindah yang kita impikan dan bayangkan. Coba pikirkan beberapa hal ini:

  • Apakah pernikahan kita seindah bayangan kita dahulu?
  • Apakah pasangan kita sebaik yang kita harapkan?
  • Apakah pekerjaan kita semenyenangkan itu?
  • Apakah karier kita semulus dan seindah yang kita harapkan?
  • Apakah orang tua kita mengasihi kita sesuai dengan cara yang kita inginkan?
  • Apakah sahabat kita mengasihi kita seperti kita mengasihi mereka?
  • Apakah dosen/guru kita menyenangkan dan menolong kita bertumbuh dengan baik?

Hidup tidak selalu seindah harapan dan impian kita. Bahkan, mungkin lebih sering hidup ini menyediakan ke-asam-an dan ke-pahit-an bagi kita. Hidup tidak sesuai rencana. Ingin S2 tapi gagal. Mencoba pekerjaan impian tapi tidak diterima. Ditinggal kekasih. Ditinggal orang tua. Diselingkuhi. Dikecewakan sahabat. Kita terjatuh, bersedih, begitu kecewa hingga mungkin kita ingin bunuh diri.

Namun.. itulah hidup. Hidup memang tidak selamanya diisi panas matahari. Ada kalanya juga hujan. Namun, itulah hidup. Itulah yang membuat hidup.. ya hidup. Di setiap kenikmatan dan kesulitan, kita sebetulnya bisa belajar melihat bagaimana kita bisa dibentuk dan bertumbuh. Kalau berkaca dari sisi agama/kepercayaan, di situlah cara yang Mahakuasa membentuk kita.

Justru, keberhasilan terbaik lahir dari kebangkitan menghadapi kesulitan hidup yang begitu rupa.

Image result for live through adversities

Bagi saya pun demikian. Hidup sebagai pendidik tidak selamanya menyenangkan. Selama 7 tahun ini, saya merasakan banyak kesulitan. Saya ingin berhenti mengajar. Kecewa terhadap orang yang hanya meminta performa baik tetapi tidak menolong. Sedih berulang kali menyaksikan anak murid yang malas (terlebih pelajaran matematika yang saya ajar seringkali menjadi musuh sejuta umat). Namun, jika saya menilik ke belakang, saya bersyukur. Saya menikmati perjalanan hidup saya sebagai seorang pendidik.

Ada masa di mana saya agak membenci pelajaran matematika dan profesi sebagai guru. Begitu sulit mengajar matematika, hingga juga saat ini. Sebagian murid bahkan menyatakan, “Ini bukan masalah gurunya. Kami senang dengan gurunya, tapi tidak dengan pelajarannya.” Anak-anak sudah mempunyai cara pandangnya yang negatif terhadap matematika. Bahwa matematika itu sulit, dan mereka enggan atau merasa malas berusaha lebih jauh mengatasi kesulitan itu. Padahal, sesungguhnya matematika begitu menarik untuk menolong mereka belajar berpikir secara mendalam.

Dibalik kesulitan menghadapi matematika, selalu ada buahnya. Bukankah kita juga menikmatinya ketika kita bersusah payah mengerjakannya, namun kemudian menemukan jawaban yang tepat? Seharusnya belajar matematika bisa dimaknai dengan lebih baik sehingga kita semua, termasuk saya, dapat mengambil makna dan nilai positif darinya.

Salah satu hal yang paling saya syukuri, dibalik setiap kesulitan yang saya alami selama ini sebagai pendidik, yaitu bahwa saya mendapat kesempatan berjumpa dengan anak-anak yang berpotensi luar biasa. Namun, seperti layaknya orang dewasa, mereka pun mengalami berbagai kesulitan hidup. Di sana saya merasa terpanggil untuk menginspirasi dan menolong mereka. Di sana lah saya merasakan hidup saya berarti. Bukan masalah berprofesi sebagai guru, tetapi berjumpa dan berusaha menginspirasi generasi masa depan dunia untuk mencapai potensi terbaik mereka adalah kepuasan saya.

Image result for enjoy the adversity

Saat ini, saya sedikit demi sedikit memetik buah positif dari kesulitan hidup yang saya alami. Saya bersyukur bahwa dulu saya mengalami setiap kesulitan itu, dan saya akan menikmati setiap kesulitan di depan nanti. Dari kesal terhadap mengajar matematika dulu, saat ini saya menikmatinya. Dari kepusingan menghadapi anak-anak yang “sulit”, sekarang saya menikmati momen-momen tersebut untuk menolong mereka menemukan panggilan hidup mereka.

So.. When life gives you lemon… what will you do?

Kekuatan bertanya (the power of question)

Masih ingat tulisan saya di minggu lalu tentang bagaimana seorang murid (secara khusus, atau kita juga sebagai orang dewasa pada umumnya) dapat belajar lebih baik lagi? Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan mengasah cara berpikir. Namun, bagaimana cara mengasahnya? Dengan memberikan pertanyaan.

Dalam berbagai kesempatan, beberapa waktu terakhir ini, saya belajar untuk lebih banyak bertanya daripada memberikan informasi atau jawaban kepada anak murid saya di kelas. Ketika ada soal matematika yang perlu dibahas bersama atau ketika anak murid mengalami kesulitan, saya berusaha “mundur” dari arena pemberian jawaban dan berusaha “maju” untuk memberikan pertanyaan dalam rangka mengarahkan cara berpikir mereka. Saya berusaha memberi ruang bagi mereka untuk menjelaskan cara dan alur berpikir mereka sehingga mereka mendapatkan jawaban yang mereka dapat, bahkan ketika jawaban itu sebenarnya tidak tepat.

Image result for the power of questions

Tujuan dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah bahwa saya ingin mengetahui alur berpikir mereka dan sekaligus menolong mereka untuk mengevaluasi dan merefleksikan cara pikir mereka, apakah itu benar-benar masuk di akal (make sense) dan tepat, atau hanya sekadar ngasal demi mendapatkan jawaban saja. Dalam beberapa kesempatan, ada anak yang hanya menjawab saja tanpa berpikir. Ada juga anak yang menjawab dengan feeling tanpa benar-benar memahami alasannya. Sebagian lain mengetahui alasannya walau hasil akhirnya salah. Sebagian lain, tanpa banyak ditolong, sudah dapat mengetahui alur berpikir yang baik dan benar dan mendapatkan jawaban yang diharapkan.

Semakin saya mendapatkan pengalaman ini di kelas, semakin saya belajar memahami bahwa bertanya itu penting dan memiliki kekuatannya sendiri. Tanpa pertanyaan, kita bisa kehilangan arah. Karena ternyata, pertanyaan lah yang mengarahkan kita pada jawaban atau apa yang ingin kita capai/tuju.

Bertanya menjadi hal penting, bukan hanya oleh guru pada muridnya, tetapi juga oleh murid bagi dirinya sendiri untuk belajar cara belajar, dan bagi setiap orang. Namun, jika kita salah bertanya (atau pertanyaan kita kurang efektif), jawabannya pun tidak akan sesuai arah yang ingin dituju. Izinkan saya memberikan contoh soal matematika dan bagaimana saya berusaha mengarahkan murid saya dengan pertanyaan (yang semoga efektif) untuk mengarahkan mereka.

Image result for questions quote

Bayangkan kita adalah seorang pustakawan dan baru saja membeli 3 (tiga) buku novel, 2 (lima) buku fiksi, dan 4 (dua) buku pengembangan diri. Kita ingin mengatur kesembilan buku tersebut di rak buku perpustakaan pada satu rak yang sama. Perlu diingat juga bahwa setiap buku berbeda. Berapa banyak cara yang bisa dipakai untuk menempatkan/mengatur buku-buku tersebut jika buku-buku yang sejenis harus ditempatkan berdampingan?

Apa jawabannya menurut Anda? Coba ambil waktu dan pikirkan.

Saya paham tidak semua dari kita jago matematika dan dapat menyelesaikan soal ini dengan konsep matematika. Karena itu saya berikan tugas lain: Bayangkan bahwa kita adalah guru matematika yang memberikan contoh ini kepada anak murid kita. Pertanyaan-pertanyaan apa saja yang bisa kita berikan kepada mereka untuk mengarahkan sekaligus mengenali alur berpikir mereka?

 

Selama ini, ketika saya memberikan pertanyaan kepada murid-murid saya, saya pun juga harus mempertanyakan hal itu. Dalam arti lain, saya ingin bahwa saya benar-benar memahami cara berpikir saya sendiri dalam menyelesaikan soal itu dengan tepat. Kalau tidak, saya merasa kesulitan untuk mengarahkan murid-murid saya.

Beberapa pertanyaan yang saya bisa/akan sampaikan terkait soal di atas:

  • Apa maksudnya soalnya? Coba ceritakan ulang dengan bahasamu sendiri.
  • Apa pertanyaannya?
  • Apa saja informasi yang diberikan?
  • Apa informasi kuncinya?
  • Menurutmu, bagaimana cara menyelesaikannya? Mengapa demikian?
  • Apa signifikansinya bahwa kesembilan buku tersebut berbeda? Konsep matematika apa yang berkaitan dengan informasi ini?
  • Apa batasan yang diberikan di soal ini? Apa signifikansinya?
  • Apakah boleh novel terlebih dahulu baru kemudian fiksi lalu pengembangan diri? Bolehkah ditukar urutannya?

Tentunya pertanyaan lain bisa diberikan, tergantung arah diskusinya dan jawaban sang murid. Namun, saya merasa pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kunci penting untuk dapat mengarahkan mereka menemukan jawabannya sendiri. Sambil itu dilakukan, kita juga mengingatkan kepada murid untuk dapat melakukan hal yang sama ketika belajar secara mandiri.

Image result for judge a man by his questions rather than by his answers

Ketika kita salah bertanya, jawaban yang didapat pun salah. Sebaliknya, ketika pertanyaan kita tepat, jawaban yang akan kita peroleh pun akan tepat. Pertanyaan memberikan arah bagi kita mencapai tujuan yang ingin kita capai.

Kalau selama ini kita meremehkan hal sederhana ini, mari kita belajar memfokuskan dan mencoba melakukannya. Bertanya juga berguna bagi pemimpin maupun orang tua dalam mendidik anaknya. Jawaban permasalahan seringkali sudah ditemukan, tetapi kita ragu. Sebagai pemimpin dan orang tua, kita bertanggungjawab untuk mendidik mereka yang kita pimpin agar menjadi semakin cerdas, mandiri, dan percaya diri dalam membuat keputusan walaupun mungkin salah.

Maukah kita belajar bertanya? Maukah kita belajar berhenti memberi jawaban?