Kekuatan bertanya (the power of question)

Masih ingat tulisan saya di minggu lalu tentang bagaimana seorang murid (secara khusus, atau kita juga sebagai orang dewasa pada umumnya) dapat belajar lebih baik lagi? Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan mengasah cara berpikir. Namun, bagaimana cara mengasahnya? Dengan memberikan pertanyaan.

Dalam berbagai kesempatan, beberapa waktu terakhir ini, saya belajar untuk lebih banyak bertanya daripada memberikan informasi atau jawaban kepada anak murid saya di kelas. Ketika ada soal matematika yang perlu dibahas bersama atau ketika anak murid mengalami kesulitan, saya berusaha “mundur” dari arena pemberian jawaban dan berusaha “maju” untuk memberikan pertanyaan dalam rangka mengarahkan cara berpikir mereka. Saya berusaha memberi ruang bagi mereka untuk menjelaskan cara dan alur berpikir mereka sehingga mereka mendapatkan jawaban yang mereka dapat, bahkan ketika jawaban itu sebenarnya tidak tepat.

Image result for the power of questions

Tujuan dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah bahwa saya ingin mengetahui alur berpikir mereka dan sekaligus menolong mereka untuk mengevaluasi dan merefleksikan cara pikir mereka, apakah itu benar-benar masuk di akal (make sense) dan tepat, atau hanya sekadar ngasal demi mendapatkan jawaban saja. Dalam beberapa kesempatan, ada anak yang hanya menjawab saja tanpa berpikir. Ada juga anak yang menjawab dengan feeling tanpa benar-benar memahami alasannya. Sebagian lain mengetahui alasannya walau hasil akhirnya salah. Sebagian lain, tanpa banyak ditolong, sudah dapat mengetahui alur berpikir yang baik dan benar dan mendapatkan jawaban yang diharapkan.

Semakin saya mendapatkan pengalaman ini di kelas, semakin saya belajar memahami bahwa bertanya itu penting dan memiliki kekuatannya sendiri. Tanpa pertanyaan, kita bisa kehilangan arah. Karena ternyata, pertanyaan lah yang mengarahkan kita pada jawaban atau apa yang ingin kita capai/tuju.

Bertanya menjadi hal penting, bukan hanya oleh guru pada muridnya, tetapi juga oleh murid bagi dirinya sendiri untuk belajar cara belajar, dan bagi setiap orang. Namun, jika kita salah bertanya (atau pertanyaan kita kurang efektif), jawabannya pun tidak akan sesuai arah yang ingin dituju. Izinkan saya memberikan contoh soal matematika dan bagaimana saya berusaha mengarahkan murid saya dengan pertanyaan (yang semoga efektif) untuk mengarahkan mereka.

Image result for questions quote

Bayangkan kita adalah seorang pustakawan dan baru saja membeli 3 (tiga) buku novel, 2 (lima) buku fiksi, dan 4 (dua) buku pengembangan diri. Kita ingin mengatur kesembilan buku tersebut di rak buku perpustakaan pada satu rak yang sama. Perlu diingat juga bahwa setiap buku berbeda. Berapa banyak cara yang bisa dipakai untuk menempatkan/mengatur buku-buku tersebut jika buku-buku yang sejenis harus ditempatkan berdampingan?

Apa jawabannya menurut Anda? Coba ambil waktu dan pikirkan.

Saya paham tidak semua dari kita jago matematika dan dapat menyelesaikan soal ini dengan konsep matematika. Karena itu saya berikan tugas lain: Bayangkan bahwa kita adalah guru matematika yang memberikan contoh ini kepada anak murid kita. Pertanyaan-pertanyaan apa saja yang bisa kita berikan kepada mereka untuk mengarahkan sekaligus mengenali alur berpikir mereka?

 

Selama ini, ketika saya memberikan pertanyaan kepada murid-murid saya, saya pun juga harus mempertanyakan hal itu. Dalam arti lain, saya ingin bahwa saya benar-benar memahami cara berpikir saya sendiri dalam menyelesaikan soal itu dengan tepat. Kalau tidak, saya merasa kesulitan untuk mengarahkan murid-murid saya.

Beberapa pertanyaan yang saya bisa/akan sampaikan terkait soal di atas:

  • Apa maksudnya soalnya? Coba ceritakan ulang dengan bahasamu sendiri.
  • Apa pertanyaannya?
  • Apa saja informasi yang diberikan?
  • Apa informasi kuncinya?
  • Menurutmu, bagaimana cara menyelesaikannya? Mengapa demikian?
  • Apa signifikansinya bahwa kesembilan buku tersebut berbeda? Konsep matematika apa yang berkaitan dengan informasi ini?
  • Apa batasan yang diberikan di soal ini? Apa signifikansinya?
  • Apakah boleh novel terlebih dahulu baru kemudian fiksi lalu pengembangan diri? Bolehkah ditukar urutannya?

Tentunya pertanyaan lain bisa diberikan, tergantung arah diskusinya dan jawaban sang murid. Namun, saya merasa pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kunci penting untuk dapat mengarahkan mereka menemukan jawabannya sendiri. Sambil itu dilakukan, kita juga mengingatkan kepada murid untuk dapat melakukan hal yang sama ketika belajar secara mandiri.

Image result for judge a man by his questions rather than by his answers

Ketika kita salah bertanya, jawaban yang didapat pun salah. Sebaliknya, ketika pertanyaan kita tepat, jawaban yang akan kita peroleh pun akan tepat. Pertanyaan memberikan arah bagi kita mencapai tujuan yang ingin kita capai.

Kalau selama ini kita meremehkan hal sederhana ini, mari kita belajar memfokuskan dan mencoba melakukannya. Bertanya juga berguna bagi pemimpin maupun orang tua dalam mendidik anaknya. Jawaban permasalahan seringkali sudah ditemukan, tetapi kita ragu. Sebagai pemimpin dan orang tua, kita bertanggungjawab untuk mendidik mereka yang kita pimpin agar menjadi semakin cerdas, mandiri, dan percaya diri dalam membuat keputusan walaupun mungkin salah.

Maukah kita belajar bertanya? Maukah kita belajar berhenti memberi jawaban?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s