Kepemimpinan vs Covid-19

Istri saya adalah seorang guru TK di salah satu preschool (PAUD) di daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Bersama dengan kembarannya, dengan sokongan dana dan dukungan dari kedua orang tuanya, mereka membangun PAUD ini 2 tahun yang lalu. Jadi, bisa dibilang, selain sebagai guru, istri saya juga sekaligus adalah kepala sekolah, manajemen, dan pemilik.

Beberapa minggu belakangan ini, ia disibukkan dengan tambahan beban pikiran terkait sekolahnya. Bagaimana cara memberikan materi pembelajaran kepada anak murid? Apakah menggunakan konferensi video (video conference) seperti melalui Zoom, Google Meet, atau semacamnya, atau dengan syuting video setiap minggunya untuk diunggah ke YouTube? Selama ini pemasukan cukup tertolong (baca: bergantung) karena adanya fungsi tempat penitipan anak (daycare). Bagaimana dengan pemasukan? Bagaimana dengan gaji para guru dan staf?

How to Home School During Coronavirus - The New York Times

Kita semua mengetahui bahwa semenjak virus Corona semakin merajalela, perusahaan dan bahkan pemerintah harus “memaksa” diri bermanuver di tengah kondisi yang ada. Persoalan yang dialami istri saya bukanlah persoalan unik. Banyak perusahaan, kalau tidak semua, ditutup sementara dan karyawan bekerja dari rumah, atau yang lebih kita kenal dengan istilah Work from Home (WFH). Pemerintah daerah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang belakangan lebih sering terdengar dan sudah dilaksanakan di sebagian kota besar, seperti Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi. Penutupan pusat perbelanjaan, kecuali toko-toko terkait kesehatan dan kebutuhan sehari-hari. Pembatasan fasilitas ojek online.

Ini hanya beberapa di antaranya. Dalam kondisi demikian, tetapkah kita yang bekerja mendapat penghasilan 100% seperti biasanya, atau ada pemotongan gaji? Menjelang hari raya Idul Fitri, apakah nantinya THR juga dipotong atau bahkan dihapus? Bagaimana dengan kepastian karier mendatang? Saya yang terkena PHK harus bagaimana? Saya sebagai pekerja harian atau pekerja lepas, nasib saya bagaimana?Novel Coronavirus

Tentunya, kondisi belakangan ini membuat hidup kita tidaklah mudah. Ada tantangan dan halangan yang mungkin lebih besar dari biasanya. Seperti yang juga saya alami, karena total bekerja dari rumah, pengeluaran terasa lebih besar karena harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dan berjaga-jaga untuk beberapa minggu mendatang. Belum lagi soal pekerjaan yang lebih menantang dari biasanya. Misalnya, sebagai guru matematika, tidaklah mudah untuk membuat anak murid berdiskusi dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ atau distance learning). Saya tidak bisa memantau perkembangan mereka seutuhnya.

Namun, seperti juga saya pernah sampaikan di tulisan-tulisan yang terdahulu, hal-hal yang juga disuarakan banyak orang, bahwa masa ini (mungkin kita bisa sebut masa krisis atau masa sulit) justru menjadi momen di saat kepemimpinan menjadi lebih nyata. Saat di mana peran dan tanggung jawab seorang pemimpin menjadi semakin jelas. Sekaligus, kita lebih bisa mengidentifikasi, mana pemimpin yang sungguh-sungguh mau melayani orang lain (atau melayani kita) dan mana pemimpin yang egois. Mana perusahaan yang egois, dan mana yang memikirkan nasib seluruh karyawannya. Mana pejabat pemerintah yang aktif bekerja memastikan kesejahteraan dan kesehatan warganya, mana yang hanya bisa berbicara dalam keegoisan dan keangkuhannya.

Masa sulit menunjukkan lebih jelas siapa kita dan kemampuan kita. Tentunya, kita pernah berada di situasi sulit sebelumnya. Skripsi ditolak, tidak kunjung mendapat pekerjaan tetap, dipecat, dikucilkan rekan sekerja, tidak punya penghasilan, dan seterusnya. Dalam kondisi sulit itu, karakter kita malah menjadi nyata, sekaligus kalau kita cukup bijak, kita dapat semakin bertumbuh melaluinya.David Trumble quote: We only truly discover who we really are in ...

Hendaknya kita selalu mengingat bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan atau posisi. Menjadi CEO tidak menjamin Anda adalah seorang pemimpin. Menjadi pemilik bisnis tidak sama dengan menjadi pemimpin. Sebaliknya, menjadi satpam bisa jadi Anda seorang pemimpin. Anda dapat menjadi pemimpin ketika “hanya” bekerja sebagai staf karyawan atau bahkan karyawan magang. Setiap kita mempunyai kapasitas sebagai seorang pemimpin. Pertanyaannya, sejauh mana kita mau memimpin dan melayani sesama melalui seluruh keberadaan diri kita?

Sekali lagi, dalam situasi yang sulit ini, kepemimpinan dan karakter seorang pemipmin terlihat lebih jelas kualitasnya. Jika kita fokus bekerja untuk keegoisan diri kita, dan kita mau menyelamatkan diri kita terlebih dahulu. Jelas sekali, kita bukanlah pemimpin yang dibutuhkan. Tidak di saat ini, tidak di saat semua baik-baik saja. Sebaliknya, jika kita fokus bekerja untuk kepentingan mereka yang kita pimpin, misalnya memastikan kesehatan mental mereka yang kita pimpin, selamat! Kita telah berhasil belajar menjadi pemimpin yang dibutuhkan, baik di saat sulit ini maupun di saat semua baik-baik saja.

Leading in a Crisis | Leadership quote, Inspirational words, Words

Bertahanlah, walau sulit. Berjuanglah, walau enggan. Rasa egois, pencarian keamanan dan kenyamanan diri, dan berbagai perasaan sejenis sangat mungkin untuk muncul dalam diri kita. Namun, kita disebut pemimpin jika kita berani mengalahkannya, dan menjadi pemimpin yang kita harapkan kita miliki.

Selamat menjadi pemimpin sejati, melayani manusia demi dunia yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s