Kamu mau ke mana?

Suatu kali, Ali, seorang anak berusia 9 tahun sedang berjalan-jalan di mal bersama kedua orang tuanya. Mereka perlu membeli buku sekolah di toko buku. Namun, dalam perjalanan mereka melangkah ke toko buku, Ali tiba-tiba melengos dan melihat toko mainan. Sesaat ketika Ali berjalan melenceng, kedua orang tuanya reflek mengatakan, “Ali! Kamu mau ke mana!?”

Rasanya, cerita atau pemandangan seperti itu sangat umum terlihat bukan? Sangat mungkin bahwa kita sendiri pernah merasakannya, baik sebagai anak kecil itu atau sebagai orang tua. Anak kecil seringkali belum punya kekuatan keinginan (willpower) yang kuat untuk fokus pada apa yang menjadi tujuan seharusnya. Akibatnya, hal-hal lain yang dianggap menarik perhatian bisa mendistraksi atau mengecoh pandangannya dari tujuan yang seharusnya dipegang.

Distraction: The Purpose Killer | Devotional Reading Plan ...

Kisah semacam ini sangat mudah dipakai untuk membahas hal-hal berkaitan dengan kepemimpinan dan semacamnya. Namun, saya saat ini ingin lebih mengaitkannya dengan bagaimana seharusnya kita belajar (dan mengajar atau mendidik).

Sebagai seorang guru matematika, sangat mudah bagi saya untuk merefleksikan hal ini. Mengapa? Coba ingat kembali bagaimana kita belajar matematika sejak SD hingga SMA. Berapa banyak di antara kita yang menyukai matematika? Berapa banyak di antara kita yang belajar matematika dengan “benar”? Berapa banyak atau seberapa sering kita yang belajar matematika dengan menghafal rumus?

Saya paham bahwa mungkin kita tidak bisa berbuat atau berbicara banyak ketika membahas mengenai kegiatan belajar dan mengajar di sekolah, karena mungkin guru dan orang tua kita yang lebih memegang kendali. Namun, mari kita mengambil posisi untuk merefleksikan pengalaman kita.

Saya belajar bahwa belajar matematika seharusnya tidaklah:

  • Menghafal rumus
  • Mengikuti prosedur
  • Menggunakan hanya 1 metode/cara dalam menyelesaikan soal
  • Mengerjakan sendiri
  • Tanpa komunikasi/presentasi menjelaskan ide

Sebaliknya, belajar matematika haruslah:

  • Berpikir mendalam
  • Memahami asal muasal konsep dan rumus
  • Mengidentifikasi dan menganalisa pola
  • Berdiskusi dan bertukar ide
  • Menggunakan visualisasi untuk memahami konsep dan soal

TOP 25 DISTRACTION QUOTES (of 681) | A-Z QuotesTujuan belajar kita harusnya adalah bagian yang kedua, agar kita benar-benar memaknai belajar matematika (dan juga belajar hal lainnya) dan pada akhirnya mendapatkan keuntungan dari memelajarinya. Namun, kenyataan berkata lain. Kita, apakah itu karena efek guru atau orang tua, atau bahkan diri kita sendiri juga, seringkali lebih memilih jalan yang pertama. Mengapa? Ada beberapa hal yang saya refleksikan:

  • Menghafal rumus dan konsep terasa lebih mudah daripada harus memahaminya.
  • Mengikuti prosedur lebih terasa efisien daripada harus berpikir.
  • Mencari lebih dari 1 cara mengerjakan soal merepotkan dan membuang waktu.
  • Berdiskusi dan bertukar ide merepotkan, harus berinteraksi dan menanggapi ide orang lain.
  • Menggunakan visualisasi itu merepotkan. Saya aja belum tentu ngerti, apalagi mengajarkan orang lain.

Singkatnya, cara belajar mengajar yang pertama terasa lebih mudah dilakukan daripada yang kedua, di mana ada usaha, energi, dan waktu yang lebih besar untuk kita berikan. Masalahnya, kita lupa bahwa efek jangka panjangnya lebih signifikan jika kita memilih jalan kedua. Jalan pertama (atau jalan lainnya di mana yang nampak mudah dan menyenangkan) memang menarik perhatian, namun bukan selalu yang terbaik dan berdampak baik dalam jangka panjang. Kenyataannya, orang-orang yang belajar dengan cara kedua lebih memiliki keterampilan berpikir yang mumpuni, dan akibatnya lebih siap dalam menghadapi kehidupan dibanding dengan orang-orang yang memilih cara kedua (kita bisa membaca penelitian tentang hal ini).

Demikian halnya pada belajar, demikian halnya pada hidup. Kita mau kemana? Mana jalan yang mau kita pilih? Jalan yang penuh batu dan liku di saat ini seringkali membawa kita pada masa depan dan jalan yang lebih baik pada saatnya nanti. Sebaliknya, jalan yang mulus di saat ini bisa jadi mengecoh kita dari tujuan yang sebenarnya.

Jadi, kamu mau ke mana? Selamat merenungkannya.

Saya memberikan contoh bagaimana seharusnya kita bisa belajar matematika melalui salah satu video di YouTube channel saya. Semoga bisa menjadi contoh yang bermakna bagi kita.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s