Jangan membantu anak atau murid kita

“Bu! Saya enggak ngerti cara mengerjakan ini. Tolong bantu saya.”

Jika Anda adalah seorang guru matematika, saya yakin Anda pernah mendengar perkataan semacam ini di kelas Anda. Bahkan, secara naluriah kita mengetahui bahwa di kelas matematika manapun, itu merupakan perkataan yang sering terdengar. Murid meminta tolong dari guru matematika, memohon sang guru untuk secara langsung memberikan arahan baginya untuk menyelesaikan soal yang diberikan karena mereka merasa kesulitan.

Sebagai seorang guru atau orang tua, ktia sering mendapatkan pertanyaan dari murid-murid atau anak-anak kita untuk menolong mereka menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Layaknya seorang guru atau orang tua yang baik, kita “merasa” bertanggungjawab untuk menolong mereka menghadapi dan memecahkan masalah yang mereka hadapi. Ini terasa seperti hal baik untuk dilakukan, bukan? Kita merasa berguna dan hidup kita bermakna karena murid atau anak kita “membutuhkan” kita untuk menolong mereka, dan kita bagaimanapun merasa berharga karenanya. Kenyataannya, ini dapat menimbulkan perkara besar di masa depan!

Cocoon Quotes: Life Has Its Own Wisdom Who Tries Help Butterfly ...

Kontrak didaktik (didactic contract) adalah istilah atau name dari kondisi tersebut. Kontrak didaktik adalah kesepakatan tidak tertulis di antara guru dan murid (atau orang tua dan anak) di mana ketika murid meminta tolong, sang guru memiliki perasaan tanggung jawab untuk memedulikan dan menolongnya dengan memberikan arahan langkah demi langkah. Ini adalah sebuah kontrak atau perjanjian yang kita semua tahu dan pahami dan, sayangnya, kita ikuti dengan baik, tetapi kita mungkin tidak mengetahui bahwa ada nama untuk itu. We often, at least for me, fall to the trap of this contract. Apapun itu, kita seringkali jatuh pada perangkap kontrak ini.

Sayangnya, kontrak didaktik ini seringkali diikuti dan ditaati pada pelajaran atau kelas matematika. Seperti telah disebutkan sebelumnya, ini terjadi karena guru merasakan intensi untuk menolong muridnya. Namun, anak tetaplah anak, murid tetaplah murid. Ketika mereka menghadapi masalah, merupakan kecenderungan alami bagi mereka untuk meminta tolong. Seharusnya, merupakan tugas dari guru atau orang tua untuk TIDAK menolong mereka.

Di sini, saya diingatkan dan menyadari bahwa menolong seseorang tidak harus berarti secara aktif menolong atau memberikan arahan baginya atau mengintervensi situasi yang ada. Menolong seseorang bisa dilakukan dengan tidak menolong mereka. Atau, jika itu dirasa terlalu buruk, kita bisa ubah sedikit. Menolong seseorang dapat juga berarti membiarkan seseorang melakukan apa yang ia perlu lakukan dan mencari tahu apa yang harus ia lakukan secara mandiri. Ini, saya pikir, sangatlah benar adanya. Bagi kita yang memahami tentang kehidupan, kita tahu bahwa kita dapat belajar jika kita diberikan waktu dan ruang untuk mencoba, mencoba, dan mencoba lagi.

Layaknya seekor kupu-kupu. Jika kita berusaha menolongnya keluar dari kepompok, justru yang kita lakukan adalah percobaan pembunuhan. Demikian halnya dengan pendidikan dan kepemimpinan. Ada waktunya ketika kita harus menahan diri dari menolong dan secara langsung memimpin jalan, walaupun tindakan-tindakan tersebut terasa sangat baik adanya. Mengapa? Karena jika kita menolong mereka, mungkin itu bisa terlihat baik di saat ini, tetapi tidak di masa depan. Kita mengajarkan mereka untuk sangat bergantung pada diri kita, padahal yang kita perlu lakukan adalah mengajar mereka untuk berpikir dan bekerja mandiri dan berkolaborasi dengan sesama tanpa keberadaan kita.

I never teach my pupils, I only attempt to p... Albert Einstein Quotes

Pendidikan dan kepemimpinan sama saja seperti kehidupan ini. Mengajar matematika sama seperti mengajar tentang kehidupan, dan kontrak didaktik ini menjadi penegur dan pengingat yang keras bagi kita semua. Berhentilah menolong anak atau murid kita terlalu banyak. Biarkan mereka menderita (secara harafiah). Biarkan mereka berpikir. Biarkan mereka bergumul dan merasa frustrasi karena merasa kesulitan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Biarkan mereka berdiskusi dengan teman atau rekan kerja mereka. Walaupun sulit dan mungkin kita dibenci karenanya, mereka akan benar-benar belajar. Cepat atau lambat, mereka akan menyadari arti dan manfaat dari perjalanan tersebut.

Mulai saat ini, mari kita berhenti menolong murid, anak, atau pengikut kita, dengan sadar dan sengaja. Namun, juga ingat bahwa kita perlu mempunyai hikmat dan kebijaksanaan untuk mengetahui kapan kita perlu benar-benar ikut campur membantu mereka.

Selamat belajar tanpa henti!

Catatan: seperti biasa, saya membagikan video saya yang membahas tentang kontrak didaktic (didactic contract) melalui YouTube channel video saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s