Belajar matematika, belajar salah

“Bukan begitu caranya, itu kamu salah!”

“Kok gitu sih, harusnya yang benar itu begini.”

Ketika kita belajar atau mengerjakan sesuatu, pernahkah ada orang di samping kita yang mengatakan hal semacam itu? Atau ketika anak atau murid kita melakukan kesalahan, kita memberikan reaksi serupa?

Rasanya, menghindari kesalahan, atau dalam arti lain, menjadi sempurna, menjadi budaya yang mengakar di proses pendidikan di tanah air. Hal ini sangat dimungkinkan terjadi karena berbagai faktor, misalnya:

  • Pendidikan yang menitikberatkan pada nilai akademis
  • Perspektif “kesuksesan berarti kesempurnaan”
  • Kebiasaan pertanyaan tertutup yang diberikan
  • Orang tua dan guru yang nampak harus selalu benar/baik
  • Ekspektasi orang tua dan masyarakat

Apapun alasannya, saya kira banyak di antara kita setuju bahwa kita jarang sekali diizinkan melakukan kesalahan di sekolah. Nilai 100 adalah yang terbaik, nilai 90 kurang baik. Kalau kita salah, (sebagian) guru akan dengan cepat menegur dan mengoreksi kesalahan kita.

Embrace mistakes. Without them, you wouldn't grow ...

Sayangnya, kita pun tahu bahwa orang-orang sukses di dunia adalah mereka yang pernah melalui berbagai kesalahan dan kegagalan. Sebut saja, Abraham Lincoln, Steve Jobs, J. K. Rowling, Bill Gates, Michael Jordan, Merry Riana, Presiden Jokowi, Martha Tilaar. Tentunya, kita masih bisa menemukan begitu banyak tokoh dunia lainnya yang pernah mengecap kegagalan. Bahkan, riset menunjukkan bahwa mereka yang lebih sukses dari yang lainnya pernah menikmati kegagalan lebih parah/banyak dari yang lainnya.

Inspirasi-inspirasi semacam ini yang justru membawa kita pada pertanyaan, “Mengapa murid di sekolah seringkali tidak boleh salah?” Di situ lah sisi yang kurang tepat. Belajar yang efektif haruslah merangkul kegagalan dan kesalahan. Bahkan, kenyataannya adalah bahwa kita bisa belajar dari kesalahan dan kegagalan kita lebih baik daripada kita belajar dari keberhasilan kita.

Failure is the Opportunity to begin again more intelligently ...Hal ini seringkali saya temui sebagai guru matematika. Karena belajar matematika sangat sering dikaitkan dengan masalah mencari jawaban yang benar, ketika kita melakukan kesalahan sedikit, efeknya terlihat sampai di jawaban akhir. Karena itu, seringkali saya dulu juga mengoreksi murid saya. Demikian juga di antara sesama peserta didik dengan cepat mengoreksi satu sama lain.

Saya belajar kini bahwa kita haruslah menerima kesalahan dan berusaha fokus pada apa yang dipikirkan anak, bukan pada kesalahannya. Mengapa? Cara berpikirnya yang lebih penting kita gali dan kita arahkan untuk mengenal cara dan proses berpikir yang tepat. Misalnya, ketika kita melihat jawaban yang salah dari pekerjaan anak, kita bisa bertanya:

  • “Bagaimana caranya kamu mendapatkan jawaban itu? Boleh donk jelaskan caranya?”
  • “Menarik cara pikirnya. Apa yang membuatmu berpikir begitu?”
  • “Apakah cara itu masuk akal atau bisa kamu pahami?”
  • “Bagaimana kalau kamu coba visualisasikan/gambar idenya?”

Setiap orang berhak melakukan kesalahan. Namun, mereka lebih berhak lagi untuk mengetahui cara berpikir yang seharusnya melalui arahan dan bimbingan pertanyaan dari mentor mereka. Bukan koreksi. Tanggung jawab kita sebagai fasilitator atau mentor adalah untuk mengarahkan mereka melalui pertanyaan, dan bukan menunjukkan kesalahan mereka.

Sangat mudah menunjukkan kesalahan anak. Namun, sangat mudah juga bagi mereka untuk kemudian merasa malu atau gagal dan tidak mau berusaha lebih jauh. Apa yang harusnya kita lakukan adalah menerima kegagalan atau kesalahan tersebut, pertama-tama. Kemudian, kita memberikan pertanyaan-pertanyaan arahan agar kemudian mereka merasa bahwa ada yang tidak masuk akal (atau ya salah), dan kemudian mencoba mencari dengan perspektif atau cara lain. Proses penemuan (discovery) kesalahan itu menjadi penting ketika mereka yang menemukannya dan kita menerima mereka. Coba saja sendiri jika tidak percaya.

How to Turn Mistakes into Learning Opportunities | The TpT Blog

Mereka yang terbiasa menerima kesalahan dan kegagalan, adalah mereka yang memiliki pola pikir bertumbuh (growth-mindset). Mereka yang mempunyai ketekunan dan kegigihan untuk mencoba berbagai cara yang mungkin berhasil untuk mencapai tujuan mereka. Bukankah ini yang kita ciri khas orang sukses? Bukankah ini yang kita impikan dimiliki anak-anak kita?

Mari kita mengubah cara kita mendidik, menerima kesalahan, dan menolong mereka menemukan kesalahan itu dan bekerja dengan cara dan perspektif lain.

Selamat belajar. Selamat berubah. 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s