(Belajar) lambat lebih baik

Apa yang Anda pikirkan atau rasakan ketika membaca judul tulisan ini? Merasa aneh? Janggal? Rasanya ada yang salah dengan si penulis? Mungkin salah tulis?

Mungkin saja.. Entahlah..

Apa yang Anda pikirkan atau bayangkan ketika membaca hal-hal berikut?

  • Guru memberikan pertanyaan, lalu Adi mengangkat tangan paling pertama untuk memberikan jawabannya.
  • Setiap kali guru memberikan tugas, Adi selalu menjadi yang paling cepat mengumpulkan tugasnya.
  • Di saat ulangan/tes, Adi selalu menyelesaikan paling cepat.
  • Dalam diskusi, Adi selalu yang paling cepat menjawab dan mengutarakan pendapatnya, dan seringkali pendapatnya diterima dan digunakan oleh kelompoknya.

Apakah pasti Adi itu anak yang cerdas? Kalau memang ia selalu mendapat nilai sempurna atau nyaris sempurna, apakah itu menjamin atau menandakan bahwa memang ia anak yang benar-benar cerdas? Apakah kita bisa berpikir secara mendalam, mempertanyakan hal-hal dan menemukan jawabannya? Apakah ia mampu berpikir kritis? Atau.. jangan-jangan, ia hanya mengikuti prosedur, menghafal rumus dan semacamnya? Atau lebih parah, jangan-jangan pertanyaan-pertanyaan dan tugas dari guru memang terlalu mudah?

What Is Important Is to Deeply Understand Things and Their ...

Salah satu hal yang saya pelajari dalam perjalanan saya memahami bagaimana belajar matematika dengan efektif adalah kecepatan tidak sama dengan kepintaran atau kecerdasan. Being fast is not equal to being intelligent. Namun, nampaknya dunia pendidikan (dan bahkan juga mungkin masyarakat) kita sangat terbiasa dengan ide bahwa mereka yang cepat menyelesaikan atau menjawab, mereka yang lebih baik. Mereka yang lebih cepat lulus, mereka lebih baik. Mereka yang lebih cepat menjawab, mereka lebih pintar. Mereka yang …, mereka lebih pintar.

Seorang matematikawan Perancis yang memenangkan Fields Medal di tahun 1950, penghargaan bergengsi bagi matematikawan, pernah menceritakan betapa ia merasa bodoh dalam bidang matematika karena ia lambat dan sekolahnya menghargai mereka yang cepat dalam berpikir dan bekerja. Bahkan, ia terus menerus menjadi seorang yang lambat dalam berpikir sampai dalam masa kariernya. Namun, perhatikan perkataannya yang diambil dari bukunya, A Mathematician Grappling With His Century (https://en.wikiquote.org/wiki/Laurent_Schwartz), yang saya terjemahkan secara bebas:

“Saya selalu merasa sangat tidak yakin dengan kapasitas intelektual yang saya miliki; saya berpikir bahwa saya tidak cerdas. Dan itu memang benar demikian pada masa lalu, dan saat ini pun saya masih tergolong lambat. Saya membutuhkan waktu untuk menangkap berbagai hal karena saya selalu butuh untuk memahaminya secara utuh. Bahkan ketika saya merupakan yang pertama dalam menjawab pertanyaa-pertanyaan dari guru, saya tahu bahwa itu terjadi karena pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah saya ketahui jawabannya dari sebelumnya. Namun, kalau pertanyaan baru muncul, biasanya para murid yang tidak sebaik saya menjawab sebelum saya. Menuju akhir dari kelas 11, saya diam-diam berpikir bahwa diri saya ini bodoh. Saya mengkhawatirkan ini untuk waktu yang lama. Tidak hanya saya percaya bahwa saya ini bodoh, tetapi saya tidak mengerti kontradiksi di antara kebodohan ini dan baiknya nilai saya.

David A. Cooper quote: When you are deeply contemplative, you ...

Saya tidak pernah membicarakan ini pada siapapun, tetapi saya selalu merasa diyakinkan bahwa kepura-puraan saya ini akan suatu hari diketahui: seluruh dunia dan diri saya akan pada akhirnya melihat apa yang nampak cerdas sebenarnya hanyalah sebuah ilusi. Jika ini pernah benar terjadi, nampaknya tidak ada orang yang menyadarinya, dan saya masih tetaplah lambat … Pada akhir kelas 11, saya berusaha memahami situasi saya, dan tiba pada kesimpulan bahwa kecepatan tidak mempunyai relasi yang tepat dengan kecerdasan. Apa yang penting adalah untuk memahami berbagai hal secara mendalam dan relasinya satu dengan yang lain. Di sinilah letak kecerdasan. Fakta bahwa kita cepat atau lambat tidaklah terlalu relevan. Secara alamiah, memang menolong untuk menjadi cepat, layaknya mempunyai memori yang baik. Namun, itu bukan menjadi syarat cukup maupun maupun perlu untuk kesuksesan intelektual.

Mohon maaf karena kutipannya sangat panjang. Namun, jujur saya tidak tahu baiknya harus saya potong di mana, karena saya selalu merasa menikmati membaca kutipan ini. Bagian utamanya adalah bagian yang saya tebalkan. Apa yang seringkali kita lupakan sebagai pendidik, orang tua, dan bahkan pemimpin adalah bahwa kita menghargai kecepatan, lebih daripada kita menghargai kelambanan dan pemahaman yang lebih utuh.

Alasan bagi mereka yang “lambat” adalah karena mereka berusaha memahami dengan lebih utuh dan masuk akal bagi mereka. Ini pun saya alami. Saya tidak selalu bisa mengatakan bahwa saya cepat dalam memahami sesuatu, bahkan ketika itu adalah materi yang harus saya ajarkan kepada anak didik saya. Seringkali saya memikirkannya agar saya bisa memahami dengan lebih utuh, agar kemudian saya pun bisa menolong anak didik saya belajar dengan lebih utuh.

Ask and you shall receive: how to stretch pupils with questioning ...

Dalam pemahaman inilah, kita perlu menilik cara kita mendidik dan memimpin orang lain. Misalnya, sebagai guru, saya jadi belajar bahwa kita tidak sebaiknya melakukan “timed test”, atau tes berbasis waktu, atau tes cepat-cepatan (semacam mendikte dan kompetisi kecepatans) karena tes-tes semacam ini memberikan tekanan pada anak didik untuk “yang penting cepat selesai”. Kalaupun memang jawaban mereka benar, itu tidak menjamin anak benar-benar memahami ide atau topiknya secara mendalam.

Apa yang kemudian saya pelajari untuk lakukanlah adalah mengajarkan keterampilan bertanya dan berpikir mendalam, bukan berpikir cepat. Misalnya, kalaupun jawabannya benar, saya mau lebih tertarik pada “Apa yang membuatmu bisa berpikir demikian?”, atau “Apakah bisa menemukan cara atau perspektif berbeda?”, atau “Bagaimana cara kamu meyakinkan temanmu tentang idemu itu?” dan semacamnya. Fokusnya bukan pada kecepatan dan kebenaran jawaban semata, tetapi pada proses berpikirnya.

Bukankah hal-hal ini pula yang kita butuhkan di masa bekerja sebetulnya? Mencari berbagai kemungkinan yang efektif untuk dapat menjadi solusi suatu permasalahan. Melihat situasi dari bebagai sudut pandang. Menolong orang untuk memahami duduk permasalahan dan solusinya.

Jadi, apakah lebih lambat lebih baik? Saya kembalikan pada kita semua untuk merenungkannya.

Semangat belajar! 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s