Dunia matematika, dunia kita?

Silvia membeli kue coklat sebanyak 100 buah. Ia ingin membagi-bagikannya kepada kelima orang temannya. Berapakah jumlah kue coklat yang diperoleh masing-masing teman Silvia?

Bu Lia membeli 72 apel, 108 jeruk, dan 84 pisang. Ia berencana membagikannya kepada sebanyak mungkin orang di mana setiap orang mendapatkan apel, jeruk, dan pisang yang sama. Berapa banyak orang yang mendapatkannya? Berapa banyak masing-masing apel, jeruk, dan pisang yang diperoleh?

Pertanyaan semacam ini pasti pernah kita dengar atau kerjakan bukan? Pertanyaan yang tidak asing bagi kita. Bahkan, mungkin ketika kita membacanya, kita sudah langsung terpikirkan cara menjawabnya, karena itu begitu otomatis terjadi di pikiran kita.

Tenang, saya tidak meminta Anda menjawabnya. Jawabannya tidaklah penting. Hal terpenting saat ini adalah mencoba menilik bentuk soal-soal tersebut.

Pernahkah terpikir di benak kita, “Wow, beli coklat 100 buah? Kayaknya gak bakalan deh saya melakukannya” atau “Ngapain juga beli buah sebanyak itu ya?”

Ya, pikiran-pikiran semacam itu adalah pikiran-pikiran yang sangat wajar. Bentuk soal-soal cerita yang ada dalam pelajaran matematika seringkali nampak tidak masuk akal, karena rasanya tidak akan benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata, atau paling tidak di kehidupan kita pribadi. Siapa juga. Coba lihat soal berikut:

Alex dan kelima temannya sedang berkumpul di rumah Alex dan mereka memesan 1 loyang pizza yang berukuran besar (1 loyang berisikan 8 potong). Setiap orang memakan 1 potong pizza. Tak lama setelah pizza tersebut datang dan dimakan mereka, keempat teman mereka yang lain datang terlambat. Berapa porsi pizza yang dimakan masing-masing teman yang datang terlambat?

Apakah masuk akal? Dalam konteks soal matematika, tentu bisa dikerjakan. Namun, apa itu benar-benar masuk akal dalam dunia nyata? Apakah hal semacam itu benar-benar akan terjadi di dunia nyata? Rasanya kita tidak akan membiarkan teman kita yang datang terlambat itu memakan sisa pizza yang ada bukan? Bukankah kita akan membeli lagi? Atau paling tidak, bukankah kita akan menanyakan terlebih dahulu jam berapa mereka akan datang terlambat dan apakah kita perlu memesan pizza lebih banyak?

Salah satu kelemahan pendidikan matematika saat ini (mungkin juga dalam berbagai bidang studi lainnya) adalah betapa tidak relevannya soal-soal matematika yang ada menurut pandangan para peserta didik. Mereka tidak bisa mengaitkan konteks-konteks soal matematika tersebut ke dalam kehidupan mereka. Karena memang tidak berkaitan! Hal ini disebut sebagai konteks semu/buatan (pseudo-contexts).

Walaupun sudah berulang kali dinyatakan bahwa pembelajaran kontekstual amatlah penting, tetapi kita tetap menemui kondisi serupa. Apakah sepenuhnya salah? Tidak juga. Karena kalau kita mencoba memikirkan secara mendalam dan memikirkan berbagai kemungkinan, konteks soal-soal semacam itu ya memang bisa saja terjadi. Hanya saja, tidak mudah bagi peserta didik untuk merasa nyambung dengannya.

Karena itu, saran bagi khususnya para pendidik di bidang matematika (yang mungkin juga relevan dan bisa diterapkan di bidang studi lain) adalah untuk berusaha memberikan konteks soal yang relevan dan aplikatif. Matematika seharusnya memanglah pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan peserta didik harus dapat melihat itu.

Hal ini tidak juga berarti bahwa soal-soal yang kita berikan dan buat bagi anak-anak didik kita harus selalu berdasarkan konteks dunia nyata. Kita bisa memberikan soal-soal yang sama sekali abstrak dan tidak menggunakan konteks dunia nyata, tetapi tetap menarik dan mengasah cara pikir mereka, ide-ide kreatif, pemahaman bilangan, keterampilan visualisasi dan reasoning (contoh-contoh ini ada di beberapa tulisan terdahulu saya).

Five Different Representations of Mathematical Ideas | Flickr

Namun, sejauh itu mungkin dilakukan, kita bisa memberikan soal-soal matematika yang relevan dengan dunia nyata. Bahkan, lebih baik jika memang soal tersebut diambil dari konteks asli di dunia nyata (pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran berbasis proyek) seperti yang juga dilakukan di tes international PISA.

Pertanyaannya sekarang: seberapa jauh kita menolong anak didik kita belajar matematika agar benar-benar masuk pada esensinya? Menikmatinya dan mengambil manfaat terbaik darinya?

Selamat merenungkan, semangat belajar seumur hidup. 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s