Siapa kamu?

Dalam beberapa minggu terakhir ini, banyak anak-anak sekolah mengikuti ujian atau ulangan akhir semester di sekolah mereka masing-masing. Demikian juga di sekolah tempat saya mengajar. Menurut pimpinan di sekolah saya, dalam salah satu diskusi kami, ditemukan banyak murid sekolah yang melakukan kecurangan ujian akhir semester ini.

Apa yang pertama kali muncul dalam benak atau perasaan begitu kita mengetahui ini? Kesal? Heran? Sedih? Kecewa?

Apapun itu, itulah reaksi pertama kita ketika mengetahui informasi tersebut. Lalu apa respons kita? Tunggu sebentar. Memang apa bedanya reaksi dan respons? Walau nampak mirip, reaksi terkait dengan tanggapan impulsif atau tindakan yang muncul dengan tiba-tiba berdasarkan impuls. Di sisi lain, respons adalah tindakan yang telah melalui pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu.

Reaksi kita menunjukkan siapa diri kita sesungguhnya. Apa yang kita yakin, apa nilai yang kita pegang, apa yang kita hidupi, dan seterusnya.

Tim Ferriss Quote: “Money doesn't change you; it reveals who you are when  you no longer have to be nice.” (20 wallpapers) - Quotefancy

Berkaca dari kasus di atas, tentunya kita bisa saja kecewa atau marah pada murid-murid tersebut. Saya pun sedih dan kecewa ketika mengetahui murid saya berbuat curang di saat ujian. Namun, satu hal yang saya sampaikan kepada mereka, yaitu adalah apa yang mereka lakukan itu menunjukkan betapa rendahnya atau tingginya mereka. Siapa diri mereka, khususnya ketika mereka berada dalam tekanan.

Uang, tekanan, kekuasaan, tahta, dan lainnya sangat dapat digunakan untuk menunjukkan karakter dan identitas diri seseorang. Artinya, respons dan reaksi kita terhadap sesuatu yang kita miliki atau kita hadapi akan menunjukkan siapa diri kita sesungguhnya.

Quotes by Michelle Obama that pay a fitting tribute to her powerful persona  - Random - OneHallyu

Murid-murid yang berbuat curang itu bisa saja berkilah dengan berbagai alasan, misalnya:

  • “Karena ada kesempatannya”
  • “Tidak ada yang melihat”
  • “Karena saya tidak bisa mengerjakan soalnya”
  • “Teman-teman juga melakukannya”

Apapun alasan yang mereka buat untuk membenarkan/menjustifikasi perbuatan mereka, itu hanya semakin menunjukkan kualitas karakter dan diri seseorang sesungguhnya. Demikian juga kita ketika kita melakukan sesuatu, entah benar atau salah, dalam kondisi tertentu. “Saya terpaksa korupsi karena semua orang melakukannya”, “Saya tidak punya pilihan lain”, “Soalnya semua orang menekan saya”, dan berbagai alasan lainnya.

Sebagai makhluk sosial, kita tentunya kita tidak terlepas dari kehidupan dengan orang lain. Demikian juga dalam hal ini, Ketika ada seseorang melakukan tindakan ini, paling tidak ada 2 hal yang kita bisa ketahui:

  • Kualitas diri atau karakter orang yang melakukannya
  • Kualitas diri atau karakter orang lain yang merespons terhadap orang tersebut
How You Perceive Others Reveals Who You Are

Pertanyaannya bagi kita saat ini, tindakan apa yang kita berikan ketika kita berada dalam tekanan atau dalam kejayaan? Apa yang kita lakukan ketika kita melihat orang lain melakukan tindakan yang benar atau yang salah? Kita bertanggungjawab dan hanya bertanggungjawab atas apa yang kita bisa kontrol, yaitu diri kita sendiri. Sejauh mana sebagai individu, pendidik, dan bagian masyarakat menyadari dan mengajarkan hal ini?

Selamat merenung. Selamat belajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s