Small things matter

Nina       : “Aku minta putus.”

Ardi        : “Lho, kenapa Nin? Kayaknya selama ini kita baik-baik saja?”

Nina       : “Selama ini kamu gak pernah dengerin aku. Semua selalu tentang kamu.
Kamu nggak pernah ngertiin perasaan aku.”

Ardi        : “Nggak ngertiin perasaan kamu bagaimana? Aku kan selalu terbuka sama
kamu, dan kamu juga bisa cerita apa aja sama aku. Aku juga beliin kamu ini
itu biar kamu senang.”

Nina       : “Iya memang. Tapi, kamu nggak pernah tanya perasaan aku, kondisi aku.
Kamu selalu cerita tentang kamu, tapi gak pernah mau tahu tentang hari aku.
Kamu beliin aku banyak barang, tapi bukan itu yang aku mau.”

Ardi        : “Apa yang kamu mau kalau begitu?”

Nina       : “Aku butuh quality time kita buat ngobrol. Pacaran kan butuh komunikasi dua
arah yang positif.”

Image result for small things matter

Seberapa sering kita mendengar kisah terhentinya relasi asmara antara dua individu, baik itu persahabatan, pacaran, maupun pernikahan, yang diawali dari hal-hal yang nampaknya sederhana? Seberapa sering kita mengabaikan hal-hal “kecil” dan menganggap hal-hal “besar” lebih berarti? Perayaan ulang tahun, hadiah ulang tahun, perayaan anniversary, bonus, kenaikan gaji, evaluasi tahunan, pembinaan tahunan, rapat tahunan, dan berbagai hal “besar” lainnya.

Manusiawi. Memang sangat manusiawi bagi kita untuk lebih mengagungkan hal-hal yang nampak besar, baik itu dalam hal relasi maupun pekerjaan. Ketika kita melakukannya, ada perasaan kepuasan tersendiri seolah kita sudah menyelesaikan milestone tertentu. Lagipula, kita kan juga mempersiapkan dengan matang untuk hal yang besar tersebut, dan dana, waktu, dan tenaga yang dikeluarkan tidak sedikit.

Sayangnya, baik itu pekerjaan maupun relasi, keduanya sama saja. Manusia tetaplah manusia. Walau kita lebih memilih hal besar terjadi, kita pada dasarnya lebih menyukai dan membutuhkan hal-hal kecil dan sederhana yang secara rutin dilakukan. Sikat gigi 2 kali setiap hari, pujian dari pasangan atas masakan kita, apresiasi dari pimpinan atas pekerjaan kita, pertolongan dan motivasi dari keluarga kita, perayaan kecil atas pencapaian kita, ucapan “I love you” di setiap harinya beserta pelukan hangat, menanyakan “bagaimana harimu?”, dan berbagai hal lainnya.

Lihatlah kembali relasi kita dengan pasangan atau rekan kerja atau keluarga kita. Hal kecil apa yang hilang darinya? Sudahkah, atau lebih tepatnya, pernahkah kita mengapresiasi rekan kerja, anak, bawahan, murid, atau bahkan pimpinan kita? Pernahkah kita berusaha memberikan motivasi? Pernahkah kita mendengarkan keluh kesah dan mengenal mereka dan kebutuhannya?

Lakukanlah hal-hal sederhana tersebut. Membosankan? Malas? Yes! Betul sekali, karena semua hal tersebut membutuhkan upaya konsistensi. Sulit melakukannya, tetapi pula kita akan sulit melupakan hasilnya kelak. Mereka yang konsisten mengerjakan hal-hal kecil dan bermakna, dan mengerjakannya dengan kesungguhan hati, kelak akan menuai buah yang tak terbayangkan.

Selamat bertekun.. Selamat menjadi lebih peka.. Selamat menjadi saksi..

Pilihan ganda

Beberapa waktu yang lalu, istri saya meminta saya untuk membeli telur di supermarket. Suatu hal yang menakutkan bagi saya, akhirnya menjadi kenyataan juga! Mengapa menakutkan? Ketika saya sampai di rak bagian telur, ada begituuu banyak jenis dan merk telur yang ditawarkan. Masalahnya, saya tidak tahu mana yang harus saya beli!

Ketika kita diperhadapkan pada begitu banyak pilihan dalam hidup, ada kalanya kita merasa bingung memilih dan mengambil keputusan. Ketika kita ada di food court (pujasera), ada begitu banyak pilihan restoran yang ada di sana dan seringkali justru membuat orang semakin bingung. Berbagai pilihan merk pasta gigi, mobil, dan berbagai hal lainnya, seringkali bukannya mempermudah kita, malah membuat kita semakin bingung. Bagi saya, saya lebih menyukai sedikit pilihan (2-4 pilihan), karena lebih mudah bagi saya untuk memilihnya.

Related image

Masalahnya, mengapa kita menjadi bingung? Karena kita tidak mempunyai pilihan pada awalnya. Mengapa demikian? Karena kita sejak awal tidak mempunyai pendirian yang kuat, sehingga ketika pilihan itu diperhadapkan pada kita, kita “goyah” dan kebingungan dalam memilih.

Apa yang saya maksud dengan pendirian itu adalah cara pandang kita dan nilai yang kita anut, seperti juga prinsip dan visi hidup. Ketika kita mempunyai dan menganut nilai tertentu, akan lebih muda bagi kita untuk mengambil keputusan. Ketika kita mempunyai pengetahuan yang cukup terhadap apa yang kita pilih, akan juga lebih mudah bagi kita untuk memilih. Ketika sang pemberi pilhan juga memberikan pilihan berdasarkan visi dan nilai yang mengidentifikasi mereka, akan lebih mudah bagi kita yang memilih untuk membedakannya.

Sayangnya, para pemberi pilihan (pemilik bisnis, penjual makanan, dll) seringkali tidak mempunyai kejelasan visi dan nilai, dan tidak terwujudkan dalam produk dan jasa yang mereka tawarkan. Begitu pun dengan kita yang acapkali tidak mempunyai pendirian tersebut.

Namun, apalah daya kita berharap para pemberi tawaran dan pemilik bisnis tersebut untuk berubah, karena kontrol apa yang kita punya? Kita hanya bisa mengontrol dan mengubah diri kita sendiri, sambil berusaha menginspirasi mereka.

Karena itu, mari kita mengidentifikasi visi hidup dan nilai yang kita anut. Kalau kita menganut prinsip hidup sehat, lebih mudah bagi kita dalam membeli makanan, misalnya, karena pasti kita akan membeli dan mengonsumsi makanan sehat yang ditawarkan. Kalau kita diajak untuk beraktivitas yang tidak sehat, kita akan menolaknya. Kalau kita berprinsip bahwa pendidikan karakter anak menjadi hal yang sangat penting, kita akan memfokuskan pendidikan lebih kepada pendidikan karakter daripada akademik, dan mencari sekolah yang sejalan dengan itu.

Intinya, sebelum kita membuat keputusan dan memilih, kita harus memastikan bahwa kita mempunyai pendirian yang kuat yang terepresentasikan dalam tujuan, prinsip dan nilai hidup kita. Apa yang kita lakukan menjadi corong bagi kita untuk menyatakan nilai dan visi hidup tersebut. Hal ini merupakan apa yang dinyatakan Simon Sinek, dalam bukunya, Start with WHY, memiliki kejelasan tentang WHY (mengapa kita melakukan yang kita lakukan, alasan dan tujuan hidup), didukung dengan disiplin dari HOW (cara kita menjalani hidup, yang membedakan diri kita dari orang lain), dan konsistensi dalam menjalankan WHAT (apa yang kita lakukan), menjadi bagian yang sangat penting dan tak terpisahkan jika kita ingin memiliki hidup yang berdampak dan bermakna.

Start with WHY. Apa yang menjadi prinsip dan nilai hidup kita? Mengapa kita menjalani yang kita jalani? Temukanlah, dan dengan demikian, hidup akan bisa dijalani lebih mudah.

Investasi terpenting

Beberapa waktu yang lalu, saya mengobrol dengan beberapa murid saya tentang bagaimana menjalani kehidupan. Mulai dari membicarakan tentang sekolah kami, upah guru, karier, hingga akhirnya tentang investasi dalam hidup.

Di sana, saya teringat hasil obrolan saya dengan istri saya juga, yang masih menjadi idealisme saya, yaitu bahwa istri/perempuan, lebih baik berada di rumah ketika sudah mempunyai anak, untuk mengurus anak. Bisa jadi bekerja mobile dari rumah, atau bisa juga tidak bekerja (mendapatkan upah), tapi yang terpenting mengurus anak.

Di pandangan banyak orang masa kini, kemungkinan hal tersebut jadi aneh. Tentu ini pasti ada biasnya, karena sejak dulu ada kodrat semacam itu yang digunakan orang zaman dulu (orang tua kita). Laki-laki bekerja, perempuan jaga rumah. Masa kini, perempuan pun biasanya bekerja mencari nafkah, bahkan mengejar karier.

Image result for the best investment in your child

Bagi saya pribadi, tidak ada masalah dengan perempuan yang bekerja dan mengejar karier, kalau memang itu yang menjadi passion dan panggilan hidupnya. Apa yang saya maksudkan dengan perempuan mengurus rumah dan anak, sangat perlu dilihat tergantung konteks keluarganya. Jika memang keluarga tersebut bisa dicukupi dengan pekerjaan sang suami, bagi saya lebih baik demikian. Jika tidak dan sangat tidak mungkin, ya tidak apa-apa juga untuk sang istri bekerja.

Namun, saya pribadi akan berusaha lebih memilih istri di rumah dan mengurus anak. Mengapa? Ketika saya pernah juga mengobrol dengan dosen saya di Malaysia, ia mengatakan demikian, “Jangan dikira bahwa persoalan kalian generasi yang lebih muda saat ini lebih berat daripada persoalan kami di masa lalu. Kami juga sulit membeli rumah pada waktu itu, seperti kalian juga sulit membeli rumah di masa kini.” Kira-kira itu sepotong ucapannya, yang membuat saya juga berpikir kembali.

Generasi muda saat ini, termasuk saya, seringkali berpikir bahwa masalah kita sangat berat, berbeda dari masalah orang tua kita atau generasi yang lebih tua. Kita lebih sulit membeli rumah karena semua lebih mahal. Stabilitas finansial menjadi suatu hal yang sangat berharga, bahkan seringkali lebih daripada keluarga.

Image result for the best investment in your child

Kalau dipikir lagi, ada banyak keluarga masa dulu (mungkin itu keluarga kita jug), yang mana sang Ayah bekerja membanting tulang, sedangkan sang Ibu berada di rumah mengurus rumah dan anak-anaknya. Bukankah hidup mereka bahkan mungkin lebih sulit di masa lalu. Sekarang, banyak dari kita yang memilih stabilitas finansial sehingga baik sang Ayah maupun Ibu bekerja. Ada yang sama-sama bekerja di perusahaan, pagi sampai malam, atau ada yang mempunyai bisnis sendiri.

Mengapa saya memilih sang Ibu untuk di rumah, bukan sang Ayah? Mungkin saya bias, namun, bagi saya sang Ibu sudah memiliki ikatan tersendiri yang kuat dengan sang anak, mulai dari rahim. Sehebat apapun sang Ayah, sulit untuk “mengalahkan” hal ini. Dan, pada kenyataannya, sang Ayah biasanya lebih sulit mengurus anak daripada sang Ibu.

Poin saya adalah ini. Investasi terbesar kita, ketika kita sudah memiliki anak, adalah anak kita. Melalui merekalah dunia akan dibangun nantinya. Melalui merekalah, warisan kehidupan kita dinyatakan. Merekalah yang akan mengubah dunia nantinya. Kalau kita tidak menjadi keluarga yang baik dan benar, untuk apa?

Dalam diskusi saya dengan murid saya, saya menanyakan ini, “Kalau kamu lihat ada anak yang bandel, nilainya jelek, tidak bisa diatur, dll. Apa yang kamu pikirkan pertama kali?” Mereka menjawab, “Ini bagaimana sih orang tuanya?” Aneh bukan? Kan ini anaknya, kenapa jadi orang tuanya yang salah? Itulah panggilan hidup orang tua, itulah tanggung jawab menjadi pemimpin. Kita yang menanggung dan harus mempunyai akuntabilitasnya, walau bukan kita yang sepenuhnya salah.

Tulisan ini semata untuk membuat kita berpikir dan berefleksi terhadap bagaimana kita mau menjadi orang tua atau membentuk keluarga, di tengah dunia saat ini. Tentunya, masih banyak keluarga yang memilih untuk benar-benar mengurus sang anak, entah itu menjadi tanggung jawab utama sang Ayah atau sang Ibu. Namun, keduanya perlu bekerjasama. Anak tidak bisa tumbuh sempurna tanpa kehadiran keduanya.

Selamat berinvestasi, selamat mengubah dunia melalui anak.

Kepuasan pemimpin

Kemarin, 31 Agustus 2019, sekolah tempat saya mengajar mengadakan open house dan charity fun fair. Pada kegiatan charity fun fair tersebut, setiap kelas membuka stall jualan sesuai dengan kesepakatan masing-masing kelas. Ada kelas yang menjual permainan, ada yang makanan berat, ada yang makanan ringan, dan ada juga yang minuman dan makanan pencuci mulut. Acara ini diadakan bertujuan untuk memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar berbisnis, berjualan, sekaligus juga mendorong mereka belajar untuk melihat bahwa hasil kerja keras mereka akan didonasikan bagi mereka yang membutuhkan.

Persiapan kami tergolong tidak maksimal. Saya dan rekan saya merupakan wali kelas untuk kelas 10, jadi kami lebih menjadi fasilitator dan lebih membiarkan anak-anak yang memutuskan dan mempersiapkannya. Dalam kurun waktu sekitar 1 bulan, kami, khususnya anak-anak mempersiapkan tema dan jenis makanan yang akan dijual. Mulai dari membuat keputusan apa yang akan dijual, mencobanya terlebih dahulu, hingga hari-h kemarin. Mereka memilih menjual cotton candy, milk tea, dan milkshake. Dua minggu sebelumnya, mereka melakukan percobaan untuk membuat ketiga jenis makanan/minuman tersebut di rumah salah satu murid.

Dari persiapan selama ini, hasilnya kemarin menurut saya sebenarnya tidaklah cemerlang. Dekorasi cukup menarik dan dipersiapkan dengan baik, tetapi organisasi kerja ketika berjualan tidaklah cukup baik. Kurang adanya kejelasan pembeli harus antre di mana, siapa yang membuat apa, dan lainnya. Terlebih lagi, ternyata mereka tidak cukup menyadari bahwa membuat 1 buah cotton candy memakan waktu cukup lama, dan hanya ada 1 mesin untuk membuatnya.

Alhasil, penjualan cotton candy gagal total. Padahal banyak sekali pembeli yang berminat, khususnya anak-anak kecil. Penjualan milk tea dan milkshake juga tidak terlalu memuaskan. Hingga di tengah-tengah, ketika jumlah pembeli sudah merosot, ada salah satu murid yang merasa gemas dan berusaha memperbaiki ini dan itu. Sekitar setengah jalan, murid satu ini mengatakan bahwa ia akan berjualan berkeliling.

Sebenarnya, ide berjualan berkeliling memang sudah dicetuskan, dan bahkan sudah ada murid yang akan melakukannya. Namun, tidak ada nampan dan minuman yang akan dijual pun tidak ada. Anak-anak ini sudah sangat kerepotan pada awalnya melayani pembeli yang datang. Lambat laun, mereka semakin tidak kompak dan ketika hampir tidak ada yang membeli lagi, banyak yang memilih untuk berjalan-jalan dan melihat ke stall lain dan main, padahal masih ada sekitar 1 jam untuk mereka berjualan. Sedangkan, 1 murid yang tadi bersama beberapa anak lain masih bertahan untuk membuat dan berjualan berkeliling.

Image result for the joy of being a teacher

Memang sulit bagi saya menceritakan dengan detil di tulisan ini. Saya tidak cukup mampu menggambarkan semuanya. Namun, saya ingin mengatakan bahwa saya merasa bangga terhadap mereka, terlepas dari kekacauan yang ada. Khususnya, terhadap sebagian anak yang memperjuangkan jualan sampai akhir.

Kegiatan-kegiatan yang mereka jalani, tekanan yang mereka terima dalam kegiatan tersebut, memberi gambaran mengenai siapa mereka dan potensi mereka. Terlepas dari segala kekurangan mereka, saya bangga menjadi wali kelas mereka. Saya puas melihat bahwa anak-anak menunjukkan kemampuan dan potensi mereka, dalam segala kekurangan yang ada. Ada anak yang sudah jago dalam mendesain poster dan mendekorasi. Ada anak yang sudah jago berjualan. Ada anak yang sudah jago problem-solving. Ada anak yang rela membantu tanpa dilihat.

Setiap anak ini akan menjadi masa depan dunia kita. 5 tahun, 10 tahun lagi, mereka yang akan memimpin kita, dan saya bangga menjadi bagian dalam perjalanan hidup mereka dan membantu menemukan potensi mereka.

Besok, ketika masuk sekolah, saya akan menyatakan hal ini juga kepada mereka, dan akan memfasilitasi evaluasi dan refleksi terhadap kegiatan kemarin, dengan harapan agar mereka terus bertumbuh dan belajar menjadi pribadi-pribadi yang mau terus menemukan potensi mereka.

Image result for teacher inspires

Inilah kepuasan saya sebagian pendidik, dan yang saya amini juga bagi seharusnya setiap pemimpin. Setiap pemimpin sejati seharusnya semakin berbahagia atas keberhasilan pengikutnya bertumbuh dan memenuhi potensinya. Setiap pemimpin sejati seharusnya semakin senang ketika pengikutnya belajar menjadi pemimpin. Setiap pemimpin sejati mendedikasikan hidupnya untuk menolong orang lain untuk menjadi orang-orang yang menginspirasi dunianya.

Bagaimana dengan Anda?

I love my job

Apakah kita mencintai (love) pekerjaan kita? Bukan menyukai (like), tetapi mencintainya. Menurut Simon Sinek, menyukai pekerjaan berarti kita menyukai tantangannya, upahnya, atau semacamnya. Mencintai pekerjaan kita berarti kita tidak mau pergi ke tempat lain walau diberikan gaji dan keuntungan lebih banyak.

Saya mulai menjajal profesi keguruan di tahun 2011, berarti sudah sekitar 7 tahun (karena sempat vakum 1 tahun karena melanjutkan studi) saya menjalani profesi sebagai guru matematika. Sejak awal, saya terus bergumul saat bekerja sebagai guru matematika. Mengapa? Karena tidak mudah.

Image result for working hard for something we don't care about is called stress meaning

Saya, seperti banyak di antara kita, belajar di sekolah di mana guru-guru matematika saya tidak mengajarkan saya arti penting belajar matematika, kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari, dan keterampilan yang bisa didapatkan dengan memelajari matematika. Saya tumbuh di masa di mana saya menurut saja apapun yang dikatakan guru. Ditambah lagi, saya tidak mengikuti perkuliahan untuk menjadi pendidik (keguruan). Saya berkuliah di jurusan matematika non-keguruan.

Sudah bisa ditebak rasanya bagaimana saya mengajar matematika. Membosankan? Monoton? Tanpa arti? Mungkin. Entahlah. Saya berusaha melengkapi aktivitas belajar mengajar di kelas dengan karakter diri saya yang saya bawakan dengan menjadi guru yang belajar memahami dan memfasilitasi kebutuhan murid.

Selama sekitar 5 tahun menjalani profesi ini dengan cara demikian, sambil berusaha untuk mencari jawaban atas setiap kegelisahan saya, saya merasakan ada arti positif dari cara mengajar saya. Minimal, walaupun saya tidak bisa benar-benar membuat anak menyukai matematika dan mengambil manfaat positifnya (selain demi nilai bagus dan naik ke jenjang berikutnya), murid-murid saya mengatakan bahwa mereka cukup menikmati kelas bersama saya.

Namun, betapapun saya berusaha meyakinkan diri saya terhadap hal demikian, saya tidak puas. Selalu ada kegelisahan, dan ini membuat saya terus bertanya, “Apakah saya guru matematika yang baik? Apakah jalan hidup saya benar menjadi guru? Haruskah saya mencoba profesi lain?”

Murid, pada kelas berapapun, pasti mempertanyakan manfaat dari belajar matematika. Akibatnya setiap tahun ajaran, saya pasti mendapatkan minimal satu kali pertanyaan tersebut. “Pak, buat apa sih kita belajar ini? Memang akan dipakai di kehidupan kami?” Jawaban yang bisa saya berikan hanyalah bahwa matematika bisa melatih cara berpikir kita. Namun, semakin lama, itu terasa menjadi jawaban klise tanpa benar-benar bisa saya maknai.

Image result for finding your passion is hard work

Tahun ajaran ini, saya sedikit banyak menemukan jawaban-jawaban atas kegundahan hati saya selama ini. Saya bisa lebih memaknai arti belajar dan mengajar matematika. Dampaknya, saya dengan lebih senang hati berbagi dan berusaha membagikannya kepada murid-murid saya. Saya bangun setiap pagi menikmati pekerjaan saya. Saya ingin bertemu murid-murid saya untuk mengajarkan dan melatih mereka melihat manfaat dari belajar matematika, yang nampak terlalu abstrak dan tidak bermanfaat ini.

Setelah sekian lama menjalaninya, ini refleksi saya. Menemukan passion atau menikmati/mencintai pekerjaan kita bukanlah perkara bulanan atau 1-2 tahun. Sama layaknya mencari pasangan hidup, bukan memperjuangkan relasi dengan pasangan dalam waktu singkat. Mencintai pekerjaan kita membutuhkan usaha keras dan ada kalanya kita bisa merasa gagal dan ingin berhenti, seperti yang saya rasakan. Kita harus terus berjuang mengasah diri kita sambil terus membuat pekerjaan kita menjadi semakin bermakna. Ini adalah perjalanan hidup yang tidak mudah, hingga akhirnya kita bisa mengatakan, “saya mecintai dan menikmati pekerjaan saya.”

Jika kita saat ini sedang bergumul dalam pekerjaan kita, teruslah berjuang dan bergumul dalam kesabaran. Mungkin besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan, atau sekian tahun lagi, kita menemukan alasan atau jawaban yang kita cari.

Selamat mencari jawaban, selamat bergumul, selamat berjuang.

Asian children

A             : “Salah satu hal yang saya paling tidak suka dari kamu dan banyak temanmu  yang lain adalah bagaimana kalian hanya menerima begitu saja tanpa bertanya balik atau merespon ketika saya memberikan pertanyaan.”

B             : “Yah kan kita ini anak-anak Asia, sir.”

Percakapan di atas adalah salah satu percakapan saya dengan salah satu murid saya, saya terjemahkan dengan bebas. Namun, itu merupakan isi hati saya. Satu hal yang saya tidak terlalu sukai dari banyak murid saya adalah ketika saya bertanya di kelas dan “menantang” mereka untuk mengkritisi saya dan apa yang saya ajarkan, banyak dari mereka cenderung diam membisu. Ada sebagian kecil dari mereka yang merespon untuk mengkritisi. Hanya 1-2 dari sekitar 15-20 anak per kelas.

Namun, hal ini membuat saya juga berpikir ulang. Dalam percakapan lanjutannya, murid saya tersebut semakin memperjelas apa maksudnya sebagai anak-anak Asia (Asian children). Mereka tumbuh dalam budaya keluarga yang harus taat dan menurut kepada orang tuanya, apapun itu. Dampaknya, mereka cenderung untuk tidak banyak bertanya dan mengkritisi hal-hal yang ada di depan mata mereka.

Apakah ini hal yang baik? Tentu! Taat dan menerima apa adanya sangat diperlukan, pada hal-hal tertentu. Misalnya, taat sepenuhnya pada Tuhan dalam ajaran agama masing-masing. Menjalankan perintah orang tua yang memiliki arti positif. Namun, bagaimana jika perintah atau ajaran orang tidak sejalan dengan hati nurani? Bagaimana jika teori tertentu berlawanan dengan teori lainnya? Bagaimana kalau didikan guru tidak sepenuhnya tepat? Bagaimana jika orang tua juga salah?

Jika kita adalah seorang yang cukup spiritual dan religius, saya meyakini bahwa mencintai Tuhan bukan semata berarti taat tanpa tahu ini itu. Justru, saya yakin bahwa Tuhan mau kita belajar mencintai-Nya dengan segala keberadaan kita, termasuk akal pikiran kita. Belajar itu juga berarti mempertanyakan dan menjadi kritis terhadap keberadaan dan karya-Nya di dunia dan hidup kita.

Jika kita bermimpin menjadi pribadi yang sukses nantinya dalam karya dan pekerjaan kita, menjadi pribadi yang kritis menjadi salah satu karakteristik penting. Mengkritisi apa yang ada dan terjadi di dalam hidup kita menjadi hal penting untuk memajukan kehidupan kita juga dan memahami perjalanan hidup kita lebih baik. Ketika kita cenderung selalu menerima apa adanya, kita akan lebih mudah ditipu dan tidak ada lagi kemajuan di hidup kita.

Image result for critical thinking benefit

Walaupun sebagai orang Asia, bukan berari kita tidak bisa mengkritisi dunia. Namun, saya pun semakin menyadari hal ini, yaitu bahwa ada latar belakang budaya keluarga yang mau tidak mau memengaruhi cara pandang dan pendidikan anak, khususnya dalam hal berpikir dan bersikap kritis ini. Walau begitu, bukan berarti kita tidak bisa berubah dan mengubah cara pikir demikian.

Jika kita adalah orang tua yang terlalu otoriter dan mau mengontrol segala hal, kita perlu memberikan ruang lebih banyak bagi anak kita untuk mengkritisi ini itu. Sebaliknya, jika kita terlalu bebas, berikan ruang juga untuk anak belajar taat. Keseimbangan di antara keduanya menjadi hal penting di dalam hidup ini.

Mari terus belajar sebagai orang Asia yang maju.

Coba lagi

Livia:    “Pak, bagaimana kalau salah nanti?”

Guru:    “Sudah tidak apa-apa. Paling penting itu kamu coba dulu.”

Livia:     “Terus, kalau salah nanti bagaimana?”

Guru:    “Ya dicoba lagi.”

 

Percakapan tersebut nampak sederhana, namun apa yang bisa kita pelajari? Seberapa sering kita membiarkan anak kita, atau anak murid kita berbuat salah dari hasil percobaannya?

Saya rasa, pendidikan di masa kini sangat tidak membiarkan hal tersebut. Nilai ujian harus bagus, karena nantinya berdampak pada ranking atau persepsi masyarakat tentang sekolah. Nilai ujian harus bagus, karena kalau tidak akan sulit masuk ke jenjang berikutnya. Semua harus benar, kalau tidak bukan anak yang pintar. Sumber daya semakin kaya, dan anak semakin dituntut untuk benar dalam segala hal. Pendidikan masa kini semakin sulit saja rasanya.

Benar dalam segala hal, memang tidak masalah. Namun, kita seringkali lupa bahwa ini adalah masa pendidikan. Tidak selalu yang dilakukannya tepat. Tidak selalu yang dilakukannya sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tidak selalu yang dilakukannya atas dasar pemikiran dan alasan yang tepat. Justru, pada masa ini lah kita sebagai pendidik dan orang yang lebih bijaksana dan dewasa perlu mengarahkan mereka dalam keterbatasan, kelemahan, dan kesalahan yang mereka perbuat.

Dalam sebuat penelitian neurosains, ditemukan bahwa berbuat kesalahan dalam belajar adalah hal yang baik! Menarik bukan? Menurut penelitian ini, ketika kita berbuat salah, otak kita justru berkembang. Sebaliknya, mereka yang terus berusaha benar justru kalah berkembang. (http://youngmathematicians.edc.org/mindset/the-power-of-making-mistakes/)

Mungkin ini nampak aneh bagi sebagian dari kita, dan celakanya, masyarakat seringkali menghakimi kita ketika kita berbuat salah. Memang, ada batasnya, seperti moral dan etika. Namun, kita juga perlu memberi ruang untuk itu, baik dalam pendidikan formal, informal, di rumah, bahkan dalam bisnis dan pekerjaan sekalipun.

Walau begitu, ini bukan berarti kita jadi punya alasan untuk selalu berbuat salah. Tidak! Justru, kita dituntut untuk belajar dan bekerja sebaik-baiknya, dalam kesempatan berbuat salah dan gagal. Justru dari sanalah kita berefleksi dan mengevaluasi, dan semakin memahami apa yang harus kita lakukan ke depannya.

Berani kotor itu baik, berani salah itu baik.