Kepemimpinan vs Covid-19

Istri saya adalah seorang guru TK di salah satu preschool (PAUD) di daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Bersama dengan kembarannya, dengan sokongan dana dan dukungan dari kedua orang tuanya, mereka membangun PAUD ini 2 tahun yang lalu. Jadi, bisa dibilang, selain sebagai guru, istri saya juga sekaligus adalah kepala sekolah, manajemen, dan pemilik.

Continue reading “Kepemimpinan vs Covid-19”

Saya rindu sekolah

Minggu ini menandai minggu ke-4 dari perjalanan Home-Based Learning, atau belajar dari rumah di sekolah saya. Sejak sekitar 2 minggu yang lalu, beberapa murid saya mulai mengekspresikan kebosanan mereka karena berada di rumah sepanjang hari tanpa mereka dapat berbuat apa-apa, selain belajar. Mereka harus mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ, atau distance learning), mungkin melalui konferensi video, atau sebatas mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru masing-masing, atau tugas lainnya. Mereka diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas tepat waktu seperti biasanya, dan mungkin mengerjakan lembar kerja atau penilaian lainnya. Perbedaannya, saat ini mereka tidak dapat pergi ke mana pun untuk bersantai atau bertemu dengan teman mereka.

Continue reading “Saya rindu sekolah”

I miss school

This week marks the 4th week of the e-learning journey (Home-Based Learning) in my school. Since about two weeks ago, some of my students had started to express their feeling of boredom to be at home all day long and they could do “nothing”, aside from studying. They are required to join the e-learning, probably through video conference, or just working on assignments given by their respective teachers, or else. They need to finish all the assignments on time, as usual, and probably worksheets or other assessments. The only difference is that they could go nowhere to relax or meet their friends.

Continue reading “I miss school”

Kenapa tidak maksimal?

Manajer 1            : “Bro, tahu ‘gak itu staf A, bawahan gue?”

Manajer 2            : “Tahu, bro. Kenapa dia?”

Manajer 1            : “Gw gak tahu lagi gimana caranya bikin dia naik kinerjanya. Gw udah
marahin dia, negur ini itu, evaluasi bareng, minta tolong temen-temennya. Tapi, tetep aja ‘gak ngefek.”

Manajer 2            : “Wah, staf kayak gitu sih pantesnya dilepas aja. Sama aja buang-buang uang dan waktu lah kalo kayak gitu.”

Pernah mendengar percakapan serupa? Atau pernah berada di posisi itu?

Jika Anda berada di posisi manajer 1, apa yang Anda pikirkan dan lakukan? Jika Anda berada di posisi manajer 2, yang mendapat cerita tersebut, apa yang akan Anda katakana dan lakukan?

Apakah memecat atau memberi teguran/ancaman keras menjadi solusi paling efektif?

Atau, izinkan saya mengubah pertanyaannya, dan menawarkan beberapa pertanyaan berikut untuk ditinjau lebih lanjut:

  • Mengapa staf kita tidak bekerja optimal?
  • Apa yang sudah dan bisa kita lakukan untuk mendorong mereka untuk bekerja maksimal?
  • Apakah kebutuhan dasar mereka terpenuhi?
  • Apakah kita sudah memberikan pelatihan yang cukup?
  • Apakah kita sudah cukup membantu mereka?
  • Apakah budaya dan iklim kerja mendukung mereka?
  • Sudahkah kita menjadi pemimpin yang efektif bagi mereka?

Mari kita melihat lagi perjalanan kita sebagai pemimpin. Pernahkah kita menanyakan hal-hal tersebut?

Atau.. mungkin kita mempunyai rekan kerja yang tidak bekerja maksimal. Sudahkah kita menjadi pemimpin yang kita harapkan bagi mereka?

Kepala sekolah juga penting!

Apa ya maksudnya? Berdasarkan penelitian internasional, khususnya yang pertama kali dilakukan oleh Kenneth Leithwood dan beberapa peneliti lainnya di tahun 2008, mereka menyimpulkan bahwa kepala sekolah merupakan faktor kedua terpenting yang memengaruhi prestasi belajar murid di sekolah. Faktor terpenting pertama? Tentu guru, itu sudah jelas. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya juga peran kepala sekolah dalam setiap sekolah.

Image result for principal matters

Pertanyaannya, seberapa kita memahami bahwa kepala sekolah mempunyai peran yang sedemikian penting? Jika kita guru, seberapa besar kita menghargai kepala sekolah kita? Jika kita kepala sekolah, sadarkah kita akan hal ini dan seberap jauh kita telah mengembangkan diri kita agar kita dapat memberi dampak positif lebih baik? Jika kita bagian dari manajemen sekolah, seberapa jauh kita telah menolong kepala sekolah untuk bekerja dengan lebih efektif?

Kita tidak sempurna, tetapi belajar semakin sempurna.

Seperti yang saya tulis di artikel perkenalan awal saya tanggal 15 April 2019 yang lalu, saya tidak lah sempurna. Saya yakin, Anda pun tidak demikian. Tidak ada dari kita yang sempurna, tetapi setiap dari kita bisa berjuang untuk menyempurnakan diri kita. Artinya, kita terus berjuang menjadi pribadi-pribadi yang lebih bertumbuh dan lebih baik lagi, dalam aspek apapun itu.

Kita berbagi dan belajar memimpin, bukan berarti karena kita sempurna, tetapi justru karena kita mau terus belajar dan sambil itu dilakukan kita hanya ingin berbagi agar orang lain pun bisa belajar dari perjalanan kita.

Image result for we are not perfect

Namun, perlu diingat juga bahwa hal ini bukan menjadi alasan agar kita tidak berkembang ya. Semakin terus berkembang, semakin kita bisa menginspirasi lebih baik lagi. Semakin kita bisa menginspirasi orang lain, semakin kita menjadi pemimpin yang lebih baik.

Jadi pemimpin itu tidak sulit

Jadi pemimpin efektif itu tidak sulit. Tapi SANGAT SULIT! Mengapa? Karena dibutuhkan pengorbanan dan keberanian yang besar untuk melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi kita, atau bahkan juga tidak disukai oleh rekan tim kita, tetapi kita harus lakukan.

Misalnya, ketika ada guru yang melanggar aturan sekolah secara fatal, kepala sekolah sebagai pemimpin dari guru-guru bertanggungjawab untuk menegur. Bahkan, ketika hal tersebut sudah dilakukan berulang kali dan tidak bisa diberikan toleransi lagi, sang pemimpin sekolah bisa saja meminta sang guru untuk mengundurkan diri atau memutus hubungan kerja sang guru dengan sekolah. Tentunya, sang guru tidak senang dengan keputusan tersebut. Namun, juga hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan sang pemimpin.

Menjadi pemimpin yang baik tentunya sulit. Kalau mudah, sudah ada banyak pemimpin yang baik dan hidup kita tidak akan sesulit saat ini. Kita akan mempunyai presiden atau pemimpin-pemimpin bangsa yang baik dan benar, pemimpin di pekerjaan yang baik, pemimpin di keluarga juga yang baik. Dengan pemimpin yang baik, sudah jelas komunitas akan lebih baik. Namun, kenyataannya tidak demikian bukan?

Ke mana arah sekolah kita?

Saya pikir, pertanyaan ini tidak hanya berlaku di sekolah. Pernahkah kita mempertanyakan hal serupa? Ke mana arah hubungan kita? Ke mana arah perusahaan kita? Ke mana arah negeri ini? Ketika kita merasakan kebingungan tentang arah dan tujuan, kita pasti akan bertanya-tanya. Bagus kalau kemudian kita menemukannya dan kita setuju dengannya. Bagaimana jika kita dibuat menunggu terkatung-katung mencari tahu arah dan tujuannya?

 

Ini sama seperti kalau pacaran tapi “digantungin”. Sudah pacaran 4-5 tahun, tapi belum juga diajak menikah. Sudah bekerja kontrak 3 tahun tapi belum juga dijadikan guru tetap. Sudah melewati masa percobaan (probation) 6 bulan tapi juga belum ditawarkan kontrak.

Di berbagai organisasi, komunitas, atau gerakan, termasuk sekolah, visi dan tujuan sangatlah penting karena menyangkut arah dan langkah ke depan. Ketika tujuannya jelas, lebih mudah untuk membuat strategi untuk mencapai tujuan-tujuan kecil yang bisa mewujudkan visi kita. Ini adalah tanggung jawab para pemimpin, seperti kepala sekolah (principal) dan head of school

Pemimpin bertanggungjawab membentuk dan menentukan arah dan tujuan organisasi dan memastikan bahwa setiap anggota timnya mengetahui, memahami, dan bekerja sejalan dengan visi tersebut. Ketika anggota tim sungguh-sungguh memahami visi dan nilai yang berlaku, selebihnya akan menjadi pekerjaan yang lebih mudah.

Sudahkah kita menjadi pemimpin yang memiliki visi yang jelas?