Kenapa tidak maksimal?

Manajer 1            : “Bro, tahu ‘gak itu staf A, bawahan gue?”

Manajer 2            : “Tahu, bro. Kenapa dia?”

Manajer 1            : “Gw gak tahu lagi gimana caranya bikin dia naik kinerjanya. Gw udah
marahin dia, negur ini itu, evaluasi bareng, minta tolong temen-temennya. Tapi, tetep aja ‘gak ngefek.”

Manajer 2            : “Wah, staf kayak gitu sih pantesnya dilepas aja. Sama aja buang-buang uang dan waktu lah kalo kayak gitu.”

Pernah mendengar percakapan serupa? Atau pernah berada di posisi itu?

Jika Anda berada di posisi manajer 1, apa yang Anda pikirkan dan lakukan? Jika Anda berada di posisi manajer 2, yang mendapat cerita tersebut, apa yang akan Anda katakana dan lakukan?

Apakah memecat atau memberi teguran/ancaman keras menjadi solusi paling efektif?

Atau, izinkan saya mengubah pertanyaannya, dan menawarkan beberapa pertanyaan berikut untuk ditinjau lebih lanjut:

  • Mengapa staf kita tidak bekerja optimal?
  • Apa yang sudah dan bisa kita lakukan untuk mendorong mereka untuk bekerja maksimal?
  • Apakah kebutuhan dasar mereka terpenuhi?
  • Apakah kita sudah memberikan pelatihan yang cukup?
  • Apakah kita sudah cukup membantu mereka?
  • Apakah budaya dan iklim kerja mendukung mereka?
  • Sudahkah kita menjadi pemimpin yang efektif bagi mereka?

Mari kita melihat lagi perjalanan kita sebagai pemimpin. Pernahkah kita menanyakan hal-hal tersebut?

Atau.. mungkin kita mempunyai rekan kerja yang tidak bekerja maksimal. Sudahkah kita menjadi pemimpin yang kita harapkan bagi mereka?

Kepala sekolah juga penting!

Apa ya maksudnya? Berdasarkan penelitian internasional, khususnya yang pertama kali dilakukan oleh Kenneth Leithwood dan beberapa peneliti lainnya di tahun 2008, mereka menyimpulkan bahwa kepala sekolah merupakan faktor kedua terpenting yang memengaruhi prestasi belajar murid di sekolah. Faktor terpenting pertama? Tentu guru, itu sudah jelas. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya juga peran kepala sekolah dalam setiap sekolah.

Image result for principal matters

Pertanyaannya, seberapa kita memahami bahwa kepala sekolah mempunyai peran yang sedemikian penting? Jika kita guru, seberapa besar kita menghargai kepala sekolah kita? Jika kita kepala sekolah, sadarkah kita akan hal ini dan seberap jauh kita telah mengembangkan diri kita agar kita dapat memberi dampak positif lebih baik? Jika kita bagian dari manajemen sekolah, seberapa jauh kita telah menolong kepala sekolah untuk bekerja dengan lebih efektif?

Kita tidak sempurna, tetapi belajar semakin sempurna.

Seperti yang saya tulis di artikel perkenalan awal saya tanggal 15 April 2019 yang lalu, saya tidak lah sempurna. Saya yakin, Anda pun tidak demikian. Tidak ada dari kita yang sempurna, tetapi setiap dari kita bisa berjuang untuk menyempurnakan diri kita. Artinya, kita terus berjuang menjadi pribadi-pribadi yang lebih bertumbuh dan lebih baik lagi, dalam aspek apapun itu.

Kita berbagi dan belajar memimpin, bukan berarti karena kita sempurna, tetapi justru karena kita mau terus belajar dan sambil itu dilakukan kita hanya ingin berbagi agar orang lain pun bisa belajar dari perjalanan kita.

Image result for we are not perfect

Namun, perlu diingat juga bahwa hal ini bukan menjadi alasan agar kita tidak berkembang ya. Semakin terus berkembang, semakin kita bisa menginspirasi lebih baik lagi. Semakin kita bisa menginspirasi orang lain, semakin kita menjadi pemimpin yang lebih baik.

Jadi pemimpin itu tidak sulit

Jadi pemimpin efektif itu tidak sulit. Tapi SANGAT SULIT! Mengapa? Karena dibutuhkan pengorbanan dan keberanian yang besar untuk melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi kita, atau bahkan juga tidak disukai oleh rekan tim kita, tetapi kita harus lakukan.

Misalnya, ketika ada guru yang melanggar aturan sekolah secara fatal, kepala sekolah sebagai pemimpin dari guru-guru bertanggungjawab untuk menegur. Bahkan, ketika hal tersebut sudah dilakukan berulang kali dan tidak bisa diberikan toleransi lagi, sang pemimpin sekolah bisa saja meminta sang guru untuk mengundurkan diri atau memutus hubungan kerja sang guru dengan sekolah. Tentunya, sang guru tidak senang dengan keputusan tersebut. Namun, juga hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan sang pemimpin.

Menjadi pemimpin yang baik tentunya sulit. Kalau mudah, sudah ada banyak pemimpin yang baik dan hidup kita tidak akan sesulit saat ini. Kita akan mempunyai presiden atau pemimpin-pemimpin bangsa yang baik dan benar, pemimpin di pekerjaan yang baik, pemimpin di keluarga juga yang baik. Dengan pemimpin yang baik, sudah jelas komunitas akan lebih baik. Namun, kenyataannya tidak demikian bukan?

Ke mana arah sekolah kita?

Saya pikir, pertanyaan ini tidak hanya berlaku di sekolah. Pernahkah kita mempertanyakan hal serupa? Ke mana arah hubungan kita? Ke mana arah perusahaan kita? Ke mana arah negeri ini? Ketika kita merasakan kebingungan tentang arah dan tujuan, kita pasti akan bertanya-tanya. Bagus kalau kemudian kita menemukannya dan kita setuju dengannya. Bagaimana jika kita dibuat menunggu terkatung-katung mencari tahu arah dan tujuannya?

 

Ini sama seperti kalau pacaran tapi “digantungin”. Sudah pacaran 4-5 tahun, tapi belum juga diajak menikah. Sudah bekerja kontrak 3 tahun tapi belum juga dijadikan guru tetap. Sudah melewati masa percobaan (probation) 6 bulan tapi juga belum ditawarkan kontrak.

Di berbagai organisasi, komunitas, atau gerakan, termasuk sekolah, visi dan tujuan sangatlah penting karena menyangkut arah dan langkah ke depan. Ketika tujuannya jelas, lebih mudah untuk membuat strategi untuk mencapai tujuan-tujuan kecil yang bisa mewujudkan visi kita. Ini adalah tanggung jawab para pemimpin, seperti kepala sekolah (principal) dan head of school

Pemimpin bertanggungjawab membentuk dan menentukan arah dan tujuan organisasi dan memastikan bahwa setiap anggota timnya mengetahui, memahami, dan bekerja sejalan dengan visi tersebut. Ketika anggota tim sungguh-sungguh memahami visi dan nilai yang berlaku, selebihnya akan menjadi pekerjaan yang lebih mudah.

Sudahkah kita menjadi pemimpin yang memiliki visi yang jelas?

Trust and Loyalty

Berdasarkan pengalaman saya, saya seringkali merasakan bahwa manajemen sekolah atau para atasan kurang menghargai rasa percaya dan loyalitas para staf dan guru.  Bahkan, dalam beberapa kasus, kedua hal tersebut seperti dipaksakan. Bahwa kita sebagai staf dan guru harus loyal terhadap sekolah, harus percaya pada pemimpinnya. Pertanyaannya, apakah mereka yang menjadi pemimpin telah melaukan yang harus mereka lakukan, yaitu menjadi pemimpin efektif, dan membuat kita saling percaya dan loyal terhadap satu sama lain dan terhadap para pemimpin di sekolah?

Hal yang seringkali terlupakan adalah bahwa kedua hal ini adalah perasaan. Rasa percaya dan setia. Tidak bisa dipaksakan, mohon maaf. Sama seperti kita tidak memaksakan kekasih kita untuk percaya dan setia kepada kita, tetapi ketika kita sungguh-sungguh memperjuangkan relasi yang positif dan kita telah menjadi pasangan yang baik secara konsisten, hanya tinggal menunggu waktu saja ketika kedua perasaan itu tumbuh.

Bukankah begitu juga dalam hal kepemimpinan di sekolah?

Pemimpin tanpa pengikut, lalu apa?

Jika Anda ditanya, “Apa syarat menjadi seorang pemimpin?” Menurut Anda, apa jawabannya?

Empati? Keberanian? Inteligensi? Keterampilan sosial emosional?

Semua itu penting, tapikita perlu ingat bahwa seseorang bisa disebut sebagai pemimpin ketika ada orang yang dipimpin. Bukankah demikian? Dalam arti lain, tanpa pengikut, kita tidak dapat menyebut diri kita sebagai pemimpin. Pemimpin pasti berkaitan dengan orang, dan khususnya orang yang dipimpin. Walau mungkin kita pernah mendengarnya, tetapi istilah pemimpin perusahaan adalah jabatan. Ia bertanggungjawab memimpin setiap orang yang secara struktur ada di bawahnya.

Pemimpin bukanlah mereka yang mengemban jabatan struktural tertentu, bukan mereka yang ada di puncak organisasi, tetapi mereka yang dengan berani dan rela mengorbankan dirinya untuk menginspirasi dan mengembangkan orang lain untuk menjadi lebih baik dan mencapai yang terbaik yang bisa ia capai. Dengan pemahaman ini, paling tidak ada 3 hal penting yang bisa disimpulkan:

  • Bahwa pemimpin selalu berkaitan dengan orang.
  • Siapapun bisa menjadi pemimpin, tanpa terkecuali.
  • Pemimpin itu memberi diri untuk pertumbuhan orang yang dipimpin.

Selamat memimpin manusia, bukan organisasi.