Mengapa begini, mengapa begitu?

“Mengapa bumi itu bulat?”

“Mengapa kita perlu belajar”

“Mengapa aku tidak boleh makan coklat?”

Anak kecil, mungkin sangat erat dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Jika kita mempunyai, mengajar, atau mengenal seorang anak kecil, sangat lumrah bahwa mereka menanyakan banyak hal seperti pertanyaan-pertanyaan di atas. Hal ini merupakan hal alamiah karena mereka ingin tahu akan banyak hal dan berusaha melakukan penalaran terhadap hal-hal yang ada di dalam hidupnya.

Pertanyaannya, apakah ini hanya terjadi pada anak kecil? Mengapa banyak orang tidak lagi (kurang) bertanya ketika beranjak dewasa?

There are thousands of years in the past, and there is an

Mudah saja jawabnya: karena tidak dilatih. Karena lingkungannya (orang tua, pendidik, dll) tidak mendukungnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan tidak mendukung anak untuk terus bertanya seperti itu. Padahal, kita juga mengetahui bahwa anak adalah ilmuwan yang alamiah sejak lahir. Mereka mempertanyakan banyak hal, yang sebenarnya menjadi pintu menuju terjadi pembelajaran.

Lalu, apa hubungannya dengan belajar matematika?

Anak seringkali dikatakan ilmuwan kecil, tetapi tidak matematikawan kecil. Padahal, keduanya sangat berkaitan erat.

Belajar matematika berarti belajar berpikir logis, melatih nalar kita. Bahkan, bukan hanya itu saja. Reasoning, atau penalaran itu tadi adalah inti utama dari belajar matematika. Dalam setiap langkah, kita berusaha membuat segala hal menjadi masuk akal atau dapat dijelaskan melalui matematika. Bahkan, memang sebetulnya orang menggunakan matematika untuk berusaha menjelaskan tentang hidup dan dunia ini.

Inilah aspek yang seringkali tidak ada di kelas-kelas matematika kita selama ini. Anak “hanya” dituntut untuk mengerjakan soal dengan benar dan tepat, mendapatkan jawaban yang tepat dengan cara yang tepat. Lho, di mana kurangnya ya kalau begitu? Bukankah itu yang diharapkan? Kurangnya adalah pada alasan (reason) mereka mengerjakan semuanya itu.

Dalam pengalaman saya, belum tentu anak yang menjawab suatu soal dengan benar pasti bisa dengan baik dan lengkap menjelaskan setiap alasannya. Padahal, itulah inti dari belajar matematika. Ada banyak anak yang terlalu fokus pada rumus dan keakuratan menjawab soal, sehingga mereka terpaku pada prosedur dan aturan semata. Kesalahan umum para peserta didik. Namun, ketika ditanya mengapa demikian, mereka kebingungan.

Re-considering the Question of “Why” in Qualitative Research ...

Karena hanya menghafal rumus, prosedur, dan aturan, seringkali kita terjebak sehingga tidak mampu menyelesaikan berbagai soal yang berbeda. Misalnya, ketika angka di soal diganti, mereka bingung. Ketika konteks soal diubah, mereka bingung. Mengapa bisa terjadi seperti ini? Karena anak terfokus pada hafalan, bukan pada logika dan cara pikir sesungguhnya dalam menyelesaikan soal tersebut. Karena tidak melatih penalaran atau reasoning mereka. “Mengapa bisa begitu ya?”, “Apa ada cara lain?”, “Bagaimana kalau bukan begini?”, dan seterusnya.

Ditambah lagi, ada juga peserta didik yang seringkali menanyakan, “Pak, nanti yang ini akan keluar di ulangan tidak?” Pertanyaan yang paling saya benci. Mengapa? Karena artinya mereka mempersiapkan diri atau belajar hanya demi menghadapi ulangan dan mendapatkan nilai bagus, tanpa benar-benar mengambil manfaat dari setiap pembelajaran mereka.

Penalaran menolong kita belajar matematika, tetapi juga memelajari banyak hal dengan lebih efektif. Kita lebih bisa memahami keterkaitan antara A, B, C, dan seterusnya. Penalaran menolong kita memahami sesuatu hal dengan lebih mendalam, sehingga kita bisa menjadi ahli pada satu bagian itu.

Math Quotes - Becky Metzger

Mulai sekarang, ketika kita memfasilitasi anak belajar (khususnya belajar matematika), atau kita berkesempatan membagikan pesan seperti ini, mari kita menekankan pentingnya mengasah penalaran. Mari kita lebih banyak bertanya kepada anak murid, “Apa yang membuatmu yakin dengan jawaban atau cara itu?”, Bagaimana kalau tidak demikian?”, “Mengapa kamu berpikir begitu?”, ‘Apakah itu satu-satunya cara yang bisa digunakan?

Dengan demikian, kita sebenarnya sedang melatih dan memfasilitasi anak-anak didik kita untuk masa depan mereka, untuk kehidupan mereka. Bukan hanya soal belajar matematika, atau belajar di sekolah lainnya.

Selamat berubah, semangat belajar. 😊

Contoh-contoh yang bisa dilakukan dan menjadi hasilnya:

Belajar matematika, belajar salah

“Bukan begitu caranya, itu kamu salah!”

“Kok gitu sih, harusnya yang benar itu begini.”

Ketika kita belajar atau mengerjakan sesuatu, pernahkah ada orang di samping kita yang mengatakan hal semacam itu? Atau ketika anak atau murid kita melakukan kesalahan, kita memberikan reaksi serupa?

Continue reading “Belajar matematika, belajar salah”

Bagaimana belajar matematika? – membicarakan bilangan

“Bilangan bisa dibicarakan? Anda pasti bercanda.” Mungkin itu ada di benak sebagian dari kita. Namun, ya betul. Kita perlu membicarakan bilangan. Atau mungkin, istilah yang lebih cocok, menyuarakan bilangan atau membahas bilangan.

Continue reading “Bagaimana belajar matematika? – membicarakan bilangan”

Bagaimana Belajar Matematika? – Pola Pikir

Untuk memulai tulisan ini, izinkan saya bertanya pada kita semua,

“Apa yang paling memengaruhi pencapaian/prestasi pendidikan seseorang?”

Kurikulumnya? Pengajar atau pendidiknya? Lingkungannya? Sumber belajarnya? Atau yang lain?

Tentunya pilihan-pilihan tersebut memengaruhi prestasi seseorang. Namun, pertanyaannya, apa yang paling memengaruhi prestasi pendidikan seseorang? Banyak dari kita mungkin bisa menjawab “lingkungan belajar” atau “pendidiknya”. Namun, kita mungkin seringkali melupakan keberadaan diri orang yang belajar, sang peserta didik itu sendiri.

Continue reading “Bagaimana Belajar Matematika? – Pola Pikir”

Menyebarkan Pesannya (spread the message)

Beberapa tulisan belakangan ini, jika pembaca menyadarinya, saya banyak menulis terkait bagaimana belajar dan/atau mengajar matematika seharusnya. Semua ini terkait dengan apa yang saya pelajari secara pribadi melalui kursus daring, buku yang saya baca, seminar, dan refleksi pengalaman pribadi saya dalam mengajar.

Beberapa waktu ini pula, saya mendapatkan kesempatan untuk berbagi melalui beberapa media, seperti Live Instagram, sharing di YouTube Live Streaming Komunitas Guru Belajar (KGB) Jakarta Selatan, dan sharing dengan guru-guru matematika di sekolah saya sendiri. Berkaitan dengan ini, saya merasakan kepuasan semakin bertambah. Mengapa? Semuanya tidak dibayar, dan saya senang karena saya bisa berbagi dengan lebih banyak orang tentang pesan yang sama, bagaimana menolong anak untuk belajar matematika dengan baik agar sebanyak mungkin anak/orang menikmati matematika. Itu mimpi saya.Flyer Pendampingan Belajar Matematika Bermakna

Dalam rangka ini, saya pun semakin rindu untuk menyebarkan pesan yang sama. Oleh karena itu, jika pembaca menyadarinya, di Blog ini pun, saya baru-baru ini menambahkan 1 menu utama: “Services” (https://transducation.com/services/), layanan yang saya berikan bagi pembaca maupun orang lain yang ingin belajar lebih jauh tentang matematika dan bagaimana menolong orang lain belajar dengan efektif.

Jikalau Anda mempunyai semangat dan mimpi yang sama, mari bergabung dengan saya. Kita cari bersama apa yang bisa kita lakukan untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik, secara khusus melalui pendidikan.

 

Mengungkap Misteri Matematika – YouTube Live KGB

Matematika selalu jadi pelajaran yang menarik untuk didiskusikan karena ‘status’-nya yang dirasakan banyak orang sebagai pelajaran yang menyulitkan dan membosankan. Bahkan, mungkin sebagian kita membencinya dan sangat menghindari matematika.

Pertanyaannya, kenapa menyulitkan? Membosankan? Tidak menarik? Tidak penting? Tidak relevan? Lalu harus bagaimana? Apa yang bisa dilakukan? Apakah matematika tidak bisa dicintai?

IMG-20200619-WA0018

Hari ini, Sabtu, 20 Juni 2020 pukul 16.00 – 17.00 saya akan berbagi via Live Streaming di YouTube KGB Jakarta Selatan tentang topik ini. Topik yang sebetulnya saya juga bahas via Blog ini maupun YouTube channel saya, tapi secara khusus kita bisa tanya jawab dan berbagi lebih banyak.

Jika berminat, yuk kita berbagi dan diskusi bersama di sana. 😃

#matematika #pendidikan #guru #belajar #sekolah #inspirasi #pembelajar