I love you, but I don’t like you

Tepat kemarin, banyak orang di dunia ini merayakan hari kasih sayang, atau yang disebut juga sebagai hari Valentine. Mungkin banyak pasangan yang merayakannya, keluarga, sahabat, atau bahkan rekan kerja yang berusaha menunjukkan perasaan kasih pada orang di sekitarnya. Bukan berarti hari ini hanya menjadi hari spesial bagi pasangan, tetapi bisa jadi menjadi hari pengingat bagi sebagian orang untuk menunjukkan rasa kasih sayang pada orang lain.

Demikian juga dengan saya dan partner kerja saya di sekolah. Kami berdua adalah wali kelas dari anak-anak murid kelas 10 di sekolah kami. Di minggu lalu, kami sepakat untuk membeli kartu yang dicetak oleh OSIS di sekolah kami dalam rangka hari Valentine, dan menuliskan pesan singkat untuk menyemangati setiap anak-anak murid kami.

Mengapa kami melakukannya? Mungkin, kalau dipikirkan atau direfleksikan kembali, kami terlanjur sayang pada mereka. Sekitar 7 bulan sudah sejak awal tahun ajaran dimulai, setiap hari kami bertemu dengan mereka, walau tidak lama. Namun, rasanya relasi guru dan murid yang terbentuk di antara kami membuat kami sebagai wali kelasnya belajar mengasihi mereka.

Pertanyaannya. Jika kami mengasihi (love) mereka, apakah berarti juga kami menyukai (like) mereka?

Image result for love vs like

Ada perbedaan antara suka (like) dan sayang (love). Masa ah? Coba kita tilik cerita singkat berikut:

Vivi sedang menceritakan tentang pengalamannya dengan orang tuanya. Ia mengatakan bahwa setiap anggota keluarga mereka saling menyayangi. Secara khusus, ia juga mengatakan bahwa ayahnya sangat menyayangi dia. Di sisi lain, Vivi juga mengatakan bahwa ayahnya tidak selalu menyukai apa yang dilakukan Vivi. Ada kalanya ayahnya menyatakan kekecewaannya terhadap perilaku Vivi yang cenderung egois. Ada kalanya juga ayahnya marah terhadap kecerobohan Vivi.

Apakah ayah Vivi menyatakan hal yang kontradiktif? Katanya sayang, tapi kok kecewa dan marah?

Di sinilah letak perbedaannya. Sayang atau kasih (love) adalah sesuatu yang bersifat emosional (bukan berarti marah lho ya), sedangkan suka (like) adalah perasaan yang lebih bersifat rasional. Simon Sinek, dalam salah satu seminarnya, mengatakan demikian, “You love your kids every day. But you may not like your kids every day.” Mungkin benar memang kita mengasihi anak kita setiap hari, tetapi ada kalanya memang kita tidak menyukai mereka, karena alasan tertentu.

Image result for love vs like

Ada kalanya kita tidak menyukai pasangan kita, mungkin karena perilakunya yang menyebalkan. Ada sifat-sifat tertentu yang tidak kita sukai. Tapi toh kita tetap menyayanginya. Kita tetap bersamanya. Bahkan, kita Bahagia bersamanya.

Kalau saat ini kita sedang menyukai sesuatu atau seseorang, jangan terburu-buru “menggantinya” dengan perasaan sayang. Bisa jadi kita hanya menyukainya. Kita menyukai tantangan pekerjaan, tipe pekerjaan, jam kerjan, bayaran dari pekerjaan, pertemanan, sifat pasangan kita, perilaku orang tua kita. Namun, ketika kita menikmati dan menyayanginya, kita cenderung tidak rela untuk hal tersebut (atau orang tersebut) tergantikan. Bahkan, kalau kita menikmati (enjoy/love) pekerjaan kita atau menyayangi seseorang, kita rela untuk melakukan lebih dari yang diminta/diharuskan (go the extra mile) dan bahkan mungkin tidak dibayar untuk hal-hal tertentu.

Image result for love vs like

Sebagai penutup, mari pikirkan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Apakah kita menyukai atau mengasihi pasangan kita?
  • Apakah kita menyukai atau menikmati pekerjaan kita?
  • Apakah kita menyukai atau mengasihi orang tua kita?
  • Apakah kita menyukai atau mengasihi teman/sahabat kita?
  • Apakah kita rela melakukan lebih dari yang diminta/diharapkan (go the extra mile)?

Mari terus berefleksi dan belajar. Selamat menikmati hidup, mencintai kehidupan, mengasihi sesama.

When life gives you lemon (ketika hidup terasa asam)

When life gives you lemons…

Perkataan tersebut dapat kita selesaikan dengan berbagai jawaban, seperti yang dapat kita temukan di berbagai sumber:

  • “make lemonade”
  • “ask for salt and tequila”
  • “make lemon cakes”

Perkataan-perkataan ini, jika kita lihat, merujuk pada ke-asam-an dalam hidup, bahkan dalam kasus tertentu juga termasuk ke-pahit-an hidup. Bahwa hidup tidak selalu manis. Bahkan kalau menggunakan analogi jeruk yang dipercayai kaum Tionghoa, kita pun tahu bahwa tidak semua jeruk terasa manis. Bahkan sebagian terasa sangat asam. Namun, tidak selesai sampai di situ saja. Perkataan ini menyiratkan juga bahwa walau hidup terasa asam (bahkan pahit) di mana banyak kesulitan dan tantangan dalam hidup, gunakan kesulitan dan tantangan tersebut untuk menjadi hal positif dalam hidup kita. Ini merupakan perkataan semangat dan bernada positif bagi kita.

Hidup memang tidak seindah yang kita impikan dan bayangkan. Coba pikirkan beberapa hal ini:

  • Apakah pernikahan kita seindah bayangan kita dahulu?
  • Apakah pasangan kita sebaik yang kita harapkan?
  • Apakah pekerjaan kita semenyenangkan itu?
  • Apakah karier kita semulus dan seindah yang kita harapkan?
  • Apakah orang tua kita mengasihi kita sesuai dengan cara yang kita inginkan?
  • Apakah sahabat kita mengasihi kita seperti kita mengasihi mereka?
  • Apakah dosen/guru kita menyenangkan dan menolong kita bertumbuh dengan baik?

Hidup tidak selalu seindah harapan dan impian kita. Bahkan, mungkin lebih sering hidup ini menyediakan ke-asam-an dan ke-pahit-an bagi kita. Hidup tidak sesuai rencana. Ingin S2 tapi gagal. Mencoba pekerjaan impian tapi tidak diterima. Ditinggal kekasih. Ditinggal orang tua. Diselingkuhi. Dikecewakan sahabat. Kita terjatuh, bersedih, begitu kecewa hingga mungkin kita ingin bunuh diri.

Namun.. itulah hidup. Hidup memang tidak selamanya diisi panas matahari. Ada kalanya juga hujan. Namun, itulah hidup. Itulah yang membuat hidup.. ya hidup. Di setiap kenikmatan dan kesulitan, kita sebetulnya bisa belajar melihat bagaimana kita bisa dibentuk dan bertumbuh. Kalau berkaca dari sisi agama/kepercayaan, di situlah cara yang Mahakuasa membentuk kita.

Justru, keberhasilan terbaik lahir dari kebangkitan menghadapi kesulitan hidup yang begitu rupa.

Image result for live through adversities

Bagi saya pun demikian. Hidup sebagai pendidik tidak selamanya menyenangkan. Selama 7 tahun ini, saya merasakan banyak kesulitan. Saya ingin berhenti mengajar. Kecewa terhadap orang yang hanya meminta performa baik tetapi tidak menolong. Sedih berulang kali menyaksikan anak murid yang malas (terlebih pelajaran matematika yang saya ajar seringkali menjadi musuh sejuta umat). Namun, jika saya menilik ke belakang, saya bersyukur. Saya menikmati perjalanan hidup saya sebagai seorang pendidik.

Ada masa di mana saya agak membenci pelajaran matematika dan profesi sebagai guru. Begitu sulit mengajar matematika, hingga juga saat ini. Sebagian murid bahkan menyatakan, “Ini bukan masalah gurunya. Kami senang dengan gurunya, tapi tidak dengan pelajarannya.” Anak-anak sudah mempunyai cara pandangnya yang negatif terhadap matematika. Bahwa matematika itu sulit, dan mereka enggan atau merasa malas berusaha lebih jauh mengatasi kesulitan itu. Padahal, sesungguhnya matematika begitu menarik untuk menolong mereka belajar berpikir secara mendalam.

Dibalik kesulitan menghadapi matematika, selalu ada buahnya. Bukankah kita juga menikmatinya ketika kita bersusah payah mengerjakannya, namun kemudian menemukan jawaban yang tepat? Seharusnya belajar matematika bisa dimaknai dengan lebih baik sehingga kita semua, termasuk saya, dapat mengambil makna dan nilai positif darinya.

Salah satu hal yang paling saya syukuri, dibalik setiap kesulitan yang saya alami selama ini sebagai pendidik, yaitu bahwa saya mendapat kesempatan berjumpa dengan anak-anak yang berpotensi luar biasa. Namun, seperti layaknya orang dewasa, mereka pun mengalami berbagai kesulitan hidup. Di sana saya merasa terpanggil untuk menginspirasi dan menolong mereka. Di sana lah saya merasakan hidup saya berarti. Bukan masalah berprofesi sebagai guru, tetapi berjumpa dan berusaha menginspirasi generasi masa depan dunia untuk mencapai potensi terbaik mereka adalah kepuasan saya.

Image result for enjoy the adversity

Saat ini, saya sedikit demi sedikit memetik buah positif dari kesulitan hidup yang saya alami. Saya bersyukur bahwa dulu saya mengalami setiap kesulitan itu, dan saya akan menikmati setiap kesulitan di depan nanti. Dari kesal terhadap mengajar matematika dulu, saat ini saya menikmatinya. Dari kepusingan menghadapi anak-anak yang “sulit”, sekarang saya menikmati momen-momen tersebut untuk menolong mereka menemukan panggilan hidup mereka.

So.. When life gives you lemon… what will you do?

Kekuatan bertanya (the power of question)

Masih ingat tulisan saya di minggu lalu tentang bagaimana seorang murid (secara khusus, atau kita juga sebagai orang dewasa pada umumnya) dapat belajar lebih baik lagi? Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan mengasah cara berpikir. Namun, bagaimana cara mengasahnya? Dengan memberikan pertanyaan.

Dalam berbagai kesempatan, beberapa waktu terakhir ini, saya belajar untuk lebih banyak bertanya daripada memberikan informasi atau jawaban kepada anak murid saya di kelas. Ketika ada soal matematika yang perlu dibahas bersama atau ketika anak murid mengalami kesulitan, saya berusaha “mundur” dari arena pemberian jawaban dan berusaha “maju” untuk memberikan pertanyaan dalam rangka mengarahkan cara berpikir mereka. Saya berusaha memberi ruang bagi mereka untuk menjelaskan cara dan alur berpikir mereka sehingga mereka mendapatkan jawaban yang mereka dapat, bahkan ketika jawaban itu sebenarnya tidak tepat.

Image result for the power of questions

Tujuan dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah bahwa saya ingin mengetahui alur berpikir mereka dan sekaligus menolong mereka untuk mengevaluasi dan merefleksikan cara pikir mereka, apakah itu benar-benar masuk di akal (make sense) dan tepat, atau hanya sekadar ngasal demi mendapatkan jawaban saja. Dalam beberapa kesempatan, ada anak yang hanya menjawab saja tanpa berpikir. Ada juga anak yang menjawab dengan feeling tanpa benar-benar memahami alasannya. Sebagian lain mengetahui alasannya walau hasil akhirnya salah. Sebagian lain, tanpa banyak ditolong, sudah dapat mengetahui alur berpikir yang baik dan benar dan mendapatkan jawaban yang diharapkan.

Semakin saya mendapatkan pengalaman ini di kelas, semakin saya belajar memahami bahwa bertanya itu penting dan memiliki kekuatannya sendiri. Tanpa pertanyaan, kita bisa kehilangan arah. Karena ternyata, pertanyaan lah yang mengarahkan kita pada jawaban atau apa yang ingin kita capai/tuju.

Bertanya menjadi hal penting, bukan hanya oleh guru pada muridnya, tetapi juga oleh murid bagi dirinya sendiri untuk belajar cara belajar, dan bagi setiap orang. Namun, jika kita salah bertanya (atau pertanyaan kita kurang efektif), jawabannya pun tidak akan sesuai arah yang ingin dituju. Izinkan saya memberikan contoh soal matematika dan bagaimana saya berusaha mengarahkan murid saya dengan pertanyaan (yang semoga efektif) untuk mengarahkan mereka.

Image result for questions quote

Bayangkan kita adalah seorang pustakawan dan baru saja membeli 3 (tiga) buku novel, 2 (lima) buku fiksi, dan 4 (dua) buku pengembangan diri. Kita ingin mengatur kesembilan buku tersebut di rak buku perpustakaan pada satu rak yang sama. Perlu diingat juga bahwa setiap buku berbeda. Berapa banyak cara yang bisa dipakai untuk menempatkan/mengatur buku-buku tersebut jika buku-buku yang sejenis harus ditempatkan berdampingan?

Apa jawabannya menurut Anda? Coba ambil waktu dan pikirkan.

Saya paham tidak semua dari kita jago matematika dan dapat menyelesaikan soal ini dengan konsep matematika. Karena itu saya berikan tugas lain: Bayangkan bahwa kita adalah guru matematika yang memberikan contoh ini kepada anak murid kita. Pertanyaan-pertanyaan apa saja yang bisa kita berikan kepada mereka untuk mengarahkan sekaligus mengenali alur berpikir mereka?

 

Selama ini, ketika saya memberikan pertanyaan kepada murid-murid saya, saya pun juga harus mempertanyakan hal itu. Dalam arti lain, saya ingin bahwa saya benar-benar memahami cara berpikir saya sendiri dalam menyelesaikan soal itu dengan tepat. Kalau tidak, saya merasa kesulitan untuk mengarahkan murid-murid saya.

Beberapa pertanyaan yang saya bisa/akan sampaikan terkait soal di atas:

  • Apa maksudnya soalnya? Coba ceritakan ulang dengan bahasamu sendiri.
  • Apa pertanyaannya?
  • Apa saja informasi yang diberikan?
  • Apa informasi kuncinya?
  • Menurutmu, bagaimana cara menyelesaikannya? Mengapa demikian?
  • Apa signifikansinya bahwa kesembilan buku tersebut berbeda? Konsep matematika apa yang berkaitan dengan informasi ini?
  • Apa batasan yang diberikan di soal ini? Apa signifikansinya?
  • Apakah boleh novel terlebih dahulu baru kemudian fiksi lalu pengembangan diri? Bolehkah ditukar urutannya?

Tentunya pertanyaan lain bisa diberikan, tergantung arah diskusinya dan jawaban sang murid. Namun, saya merasa pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kunci penting untuk dapat mengarahkan mereka menemukan jawabannya sendiri. Sambil itu dilakukan, kita juga mengingatkan kepada murid untuk dapat melakukan hal yang sama ketika belajar secara mandiri.

Image result for judge a man by his questions rather than by his answers

Ketika kita salah bertanya, jawaban yang didapat pun salah. Sebaliknya, ketika pertanyaan kita tepat, jawaban yang akan kita peroleh pun akan tepat. Pertanyaan memberikan arah bagi kita mencapai tujuan yang ingin kita capai.

Kalau selama ini kita meremehkan hal sederhana ini, mari kita belajar memfokuskan dan mencoba melakukannya. Bertanya juga berguna bagi pemimpin maupun orang tua dalam mendidik anaknya. Jawaban permasalahan seringkali sudah ditemukan, tetapi kita ragu. Sebagai pemimpin dan orang tua, kita bertanggungjawab untuk mendidik mereka yang kita pimpin agar menjadi semakin cerdas, mandiri, dan percaya diri dalam membuat keputusan walaupun mungkin salah.

Maukah kita belajar bertanya? Maukah kita belajar berhenti memberi jawaban?

Belajar untuk belajar (ways of learning)

Beberapa waktu belakangan ini, saya merasa jengkel dibuat oleh para murid saya di kelas 11 khususnya. Bukan karena mereka mengganggu di kelas atau perilaku buruk lainnya, tetapi karena sikap mereka dalam belajar. Sebagai guru, saya berusaha untuk membagikan apa yang ada di kepala dan hati saya kepada setiap anak murid saya. Secara khusus, dalam hal belajar matematika, saya pasti akan menekankan dan mengingatkan ketika saya merasa konsep tertentu begitu penting atau saya takut anak murid saya akan melupakannya begitu saja.

Namun, bukan murid mungkin ya kalau kurang peka. Di hari berikutnya, mereka melakukan kesalahan dalam trik kecil yang saya sampaikan. Ketika mereka menjalani tes, demikian mereka mengulang kesalahan yang sama. Saya bingung dibuat mereka. Pikir saya, “Bagaimana sih anak-anak ini? Kan saya sudah mengingatkan secara khusus tentang bagian ini.”

Di kesempatan lain, saya berdiskusi dengan rekan kerja saya, seorang guru matematika SD. Beliau bercerita bahwa suatu kali, mantan muridnya yang sudah berada di kelas 7 datang kepadanya dan curhat soal betapa guru matematikanya di kelas 7 tersebut tidak seperti beliau ini. Di kelas 7 ini, murid ini mendapatkan nilai di sekitar 70-80, sedangkan dulu di masa SD ia mendapat nilai di kisaran 90-100. Namun, bukannya “berbaik hati” dan mengasihani murid ini, sebaliknya, rekan saya ini malah menegurnya. Katanya, “Saya sudah mengajarkan kamu keterampilan yang perlu kamu miliki, dan kamu sudah mempunyai fondasi yang kuat untuk dapat belajar matematika dengan baik. Kalau gurumu tidak menunjukkan pola berpikirnya, kamu yang cari polanya seperti yang saya sudah ajarkan.” Menurutnya, setelah itu, anak tersebut tak pernah lagi datang kepadanya karena ia sudah mendapatkan kembali nilai yang ia impikan tersebut.

Melalui 2 pengalaman ini, saya menemukan hal yang sama. Murid-murid ini tidak tahu (atau lupa) caranya belajar. Mungkin kita sudah sebaik mungkin mengajarkan mereka keterampilan yang mereka perlukan, tetapi mereka merasa perlu terus difasilitasi guru mereka. Mata mereka seperti tertutup selaput yang menghalangi mereka untuk melihat dengan jelas apa yang bisa mereka lakukan.

Image result for students way of learningDalam kesempatan lain ketika saya mengikuti seminar, sang narasumber mengatakan bahwa tugas kita sebagai guru terutama adalah mengajarkan bagaimana caranya belajar kepada para murid kita. Ketika kita berhasil melakukannya, performa murid meningkat drastis. Hal ini dikarenakan murid seringkali tidak mengetahui apa yang harusnya mereka lakukan ketika belajar. Sebagian hanya menghafal mati dan tidak memahami. Sebagian lain menyerah. Sebagian lagi, mungkin karena merasa mempunyai bakat, bisa mendapat nilai baik walau cara belajarnya salah. Sebagian kecil mungkin benar-benar tahu bagaimana caranya belajar.

Related imageKeadaan ini diperburuk karena banyak guru tidak mengajarkan para murid dengan cara yang seharusnya. Tidak sepenuhnya salah mereka, karena mereka pun dididik demikian pada masanya, namun ini kenyataannya. Begitu juga kita sebagai orang tua masih dengan cara pikir dan cara didik kolot. Banyak dari kita masih merasakannya, seperti misalnya diminta menghafal semata (karena bentuk soal di berbagai tes berbasis hafalan), belajar prosedur daripada perlu memahami konsepnya, dan berbagai hal lainnya.

Berkaca dari kondisi ini, Khususnya jika kita seorang pendidik, mari kita mengubah cara pikir kita dan tentunya cara mendidik kita. Murid dan anak kita tidak lagi membutuhkan untuk diajarkan kontennya (mereka dapat mencarinya sendiri melalui bantuan internet), tetapi cara belajarnya, cara berpikirnya. Keterampilan belajar bagaimana belajar efektif menjadi hal esensial di masa kini, yang tentunya perlu kita ajarkan kepada mereka.

Beberapa di antaranya yang kita bisa ajarkan kepada anak dan murid kita:

  • keterampilan membuat catatan dan ringkasan,
  • strategi membaca efektif,
  • cara mendengarkan dengan efektif,
  • cara membuat mind-map,
  • memberi pertanyaan pada diri sendiri dan orang lain untuk menstimulasi pikiran,
  • cara berpikir,
  • cara mengajarkan materi.
  • cara melatih keterampilan berpikir,
  • cara mengenal emosi diri dan ekspresi emosi.

Image result for how to make a mind mapSusah? Tentu. Karena kita pertama-tama, harus mengubah cara berpikir. Kedua, kita pun harus belajar cara belajar tersebut dan kemudian mengajarkannya kepada anak didik kita (kecuali kita memilih menyerahkan tanggung jawab tersebut pada institusi atau orang lain). Ketika, anak murid kita belum tentu memahaminya dalam waktu singkat, karena mereka juga perlu berubah cara pandang.

Berharga untuk dicoba? Tentu! Dunia tidak berubah kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Dengan belajar berbagai keterampilan ini, anak didik kita akan semakin siap menghadapi dunia.

Maukah kita berubah?

Teach Less, Learn More

Beberapa tahun lalu, dunia (khususnya di bidang pendidikan) dikejutkan oleh sebuah negara di Eropa yang berhasil memiliki pencapaian tinggi di tes internasional (PISA) yang mengukur dan menganalisa kemampuan anak-anak berusia 15 tahun pada bidang literasi, numerasi, dan sains. Ketika negara top penghuni peringkat atas tes tersebut lebih banyak berasal dari negara-negara dengan sistem pendidikan yang “berat”, seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Singapura, negara ini “berhasil” masuk di peringkat 5 besar dengan sistem pendidikannya yang tidak menekankan “kerja keras” seperti negara-negara tersebut.

Related image

Mata para pejabat pemerintahan di berbagai negara tertuju pada negeri ini, karena “keberhasilan” negeri ini mencapai hasil yang sangat baik dengan cara yang “lunak” itu. Di tengah ketenarannya, ada satu frase yang menjadi prinsip pendidikan di Finlandia. “Teach less, learn more.” Ini menjadi salah satu prinsip pendidikan yang dihidupi dan dijalankan di Finlandia, yang saya baru tahu belakangan juga ternyata diterapkan di Singapura.

Dari banyak keunikan dan kekuatan pendidikan di Finlandia, bagi saya, satu prinsip ini yang paling menarik. Mengapa? Karena saya tidak memahaminya. Bagaimana maksudnya “teach less, learn more”? Bagaimana mungkin itu diterapkan? Bagaimana ceritanya guru sedikit mengajar, murid banyak belajar. Bukankah itu aneh? Bukankah anak murid belajar dari gurunya?

Desember lalu, seperti yang sebelumnya saya pernah bagikan juga, saya mengikuti workshop pembelajaran matematika yang dibawakan Dr. Yeap Ban Har, pakar dan konsultan pendidikan matematika dari Singapura. Dalam workshop tersebut, beliau mengatakan bahwa prinsip “teach less, learn more” adalah prinsip yang diterapkan di Singapura. Beliau tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai hal ini, namun beliau mempraktikkannya dan menunjukkan apa maksudnya.

Sekarang, saya baru lebih memahami apa maksudnya, secara khusus, dalam pembelajaran matematika. Ini yang saya pahami dan saya ingin bagikan di tulisan ini.

  • Sebagai guru, tugas kita bukan untuk mengajar, dalam arti untuk menjadi satu-satunya sumber pengetahuan bagi sang peserta didik.
  • Dalam belajar matematika, tugas guru adalah memfasilitasi pembelajaran dan lingkungan belajar agar anak dapat memahami konsepnya, bukan “mengajarkan” konsepnya.
  • Tugas guru adalah untuk menciptakan suasana dan kondisi belajar agar anak murid yang mengeksplorasi sendiri dan berdiskusi dengan temannya.
  • Guru berperan memberikan pertanyaan (questioning and coaching) agar murid berpikir sendiri dan mencoba menyelesaikan masalah atau soal yang diberikan.
  • Guru tidak menjelaskan dalam rangka untuk mengajarkan konsep, tetapi menciptakan ruang bagi anak untuk dapat memahami konsep matematika secara mandiri.

Beberapa waktu belakangan ini, saya terus mencoba mempraktikkan hal ini di kelas. Hasilnya? Saya senang! Mengapa? Karena saya (mungkin) berhasil untuk mempraktikkan prinsip tersebut. Saya memberikan soal kepada murid saya untuk mereka coba gali dan diskusikan dengan teman mereka, dan saya “hanya” mengarahkan dan memberikan pertanyaan lebih lanjut. Saya tidak memberikan jawabannya atau memberikan klu agar mereka mengetahui jawabannya, tetapi saya memberikan ruang bagi anak-anak murid saya untuk berpikir, menggali, dan membuat semuanya masuk akal bagi mereka.

Image result for teacher facilitates

Pada titik tertentu, saya baru memahami bahwa ini maksudnya “teach less, learn more” itu. Saya lebih sedikit menjelaskan atau memberi tahu informasi, tapi justru anak lebih banyak berpikir dan belajar memahami konsep secara mandiri.

Dalam hidup (bukan hanya belajar atau kehidupan di sekolah), ada kalanya pun kita perlu melakukan hal ini. Sedikit lebih memberi nasihat, agar anak kita punya ruang mencoba sendiri dan melakukan kesalahan (yang ternyata lebih bermanfaat daripada selalu benar). Ada baiknya kita mengarahkan dan memberikan pertanyaan daripada memberikan jawaban atas pertanyaan mereka. Kita berusaha mengajarkan keterampilan yang lebih penting dan esensial untuk mereka miliki dalam mencari jawaban atas masalah mereka, daripada sekadar langsung mengetahui jawabannya.

Mari kita merefleksikan praktik mendidik kita, baik sebagai guru, pemimpin, orang tua, atau apapun kita. Tidak selalu mengajarkan langsung itu baik. Tidak selalu menyuapi itu baik. Tidak selalu memberitahu jawaban itu baik. Saat ini, jauh lebih baik ketika kita memperlengkapi mereka dengan keterampilan untuk mencari jawabannya, menolong mereka menjadi mandiri dan memahami apa yang perlu dilakukan.

Selamat mencoba!

Fun Learning

Di masa kini, kita dapat melihat menjamurnya program-program sekolah, khususnya PAUD, TK, dan SD, yang menawarkan pembelajaran yang menyenangkan, atau “fun learning”. Istilah ini menjadi istilah yang sering kita dengar di dunia pendidikan, khususnya apabila kita adalah orang tua atau bekerja di institusi pendidikan.

Apa sih sebenarnya maksud dari fun learning itu? Pada proses pendidikan, institusi yang menawarkan fun learning berarti menawarkan metode belajar yang menyenangkan. Cara yang paling umum adalah menggabungkan permainan dengan belajar. Belajar materi atau keterampilan tertentu melalui kegiatan bermain yang tentunya menyenangkan, dan melaluinya pesan atau materi atau keterampilan diharapkan dapat sampai pada peserta didik dengan lebih baik.

Beberapa kali saya merenungkan istilah ini, dan ada kalanya saya tergelitik dengan istilah ini. Fun learning. Setuju, bahwa pembelajaran harus “dibuat” menyenangkan, karena selama ini proses pembelajaran di sekolah tidak dikondisikan sedemikian rupa untuk menjadi menyenangkan bagi para peserta didik. Di sisi lain, saya berpikir, “bukankah belajar itu sendiri merupakan sesuatu yang menyenangkan?”

Istilah dan program-program “fun learning”, menurut saya, dapat memberi kesan yang salah (misleading) bahwa belajar adalah sesuatu yang pada dasarnya tidak menyenangkan, tetapi dapat dibuat menyenangkan. Ada benarnya, tetapi juga berbahaya menurut saya. Seolah, belajar itu harus melalui metode yang menyenangkan, baru kita dapat belajar dengan baik.

Saya pikir tidaklah demikian. Bagi saya pribadi, belajar itu sendiri seharusnya adalah kegiatan yang menyenangkan. Mengapa? Karena kita dapat memelajari hal baru dan menjadi lebih pintar dan terampil dari sebelumnya. Metode yang menyenangkan ditujukan untuk memacu otak kita untuk mampu menerima dan mengingat informasi yang masuk dengan lebih baik. Seperti apa yang dikatakan Jim Kwik, “information combined with emotion becomes a long-term memory.”

Selama ini, belajar menjadi masalah karena praktik pendidikan di sekolah memodelkan belajar sebagai sesuatu hal yang menyulitkan, menyebalkan, tidak menyenangkan. Belajar harus dites. Belajar harus menghafal. Belajar tidak dengan pemahaman. Akibatnya, pandangan kita tentang belajar menjadi buruk. Padahal, seharusnya tidak demikian.

Image result for learning is fun quotes

Saat ini, dunia sedang berubah di mana pendidikan secara khusus didesain agar lebih fokus mengubah cara pandang kita mengenai belajar. Bahwa belajar memang menyenangkan, bahkan tanpa bermain atau melalui metode menyenangkan khusus sekalipun, asal didesain, dibawakan, dan dijalani dengan pendekatan yang tepat dan dengan tujuan yang tepat.

Belajar merupakan kegiatan menyenangkan ketika otak kita dipacu dan ditantang untuk berpikir dan mendapatkan pengetahuan baru. Belajar menjadi sesuatu yang membosankan dan menyebalkan ketika kita dipaksa untuk menghafal informasi semata. Apakah itu berarti metodenya harus bermain? Tidak juga. Harus metode menyenangkan? Tidak juga, atau lebih tepatnya relatif. Paling tidak, kita perlu menyadari bahwa metode yang satu mungkin menyenangkan bagi seseorang tapi tidak bagi yang lain. Ketika kita menyadari bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan, itu sendiri dapat mengubah banyak hal.

Percaya pangkal sukses

Kalau kita mencari kunci-kunci kesuksesan, pasti salah satunya berkaitan dengan kepercayaan diri (self-confidence atau self-belief). Tiliklah beberapa pernyataan berikut:

  • “Percaya pada kemampuan diri sendiri adalah salah satu kunci menggapai kesuksesan.”
  • “Believe in yourself and the world will be at your feet.” – Swami Vivekananda
  • “It is lack of faith that makes people afraid of meeting challenges, and I believed in myself.” – Muhammad Ali
  • “To live a great life, you must believe in yourself Let these quotes help you to create a mindset for believing in yourself… Those who believe they can do something and those who believe they can’t are both right.” – Henry Ford
  • “In order to succeed, we must first believe that we can.” – Nikos Kazantzakis

Percaya pada diri dan kemampuan diri sendiri menjadi kunci penting bagi setiap orang untuk dapat sukses. Dengan percaya pada diri sendiri, kita lebih mudah dan leluasa untuk melakukan dan mencoba ini itu tanpa banyak mempertanyakan (baca: meragukan) diri kita. Kita akan lebih memfokuskan diri pada apa yang bisa kita kembangkan dan kita lakukan daripada membuang waktu memastikan bahwa kita ini bisa.

Image result for self confident quotes

Terlebih lagi, kalau kita tidak memercayai diri kita sendiri, siapa yang akan memercayai diri kita? Orang lain belum tentu memercayai kita dan mengenal kita sepenuhnya. Syukurlah dan beruntunglah kita jika ada seseorang seperti mentor, orang tua, saudara, atau guru, yang memercayai kita dan mendukung kita sepenuhnya. Namun, walaupun begitu, kunci terakhir selalu ada di diri kita, apakah kita berani melangkahkan kaki kita.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti workshop matematika bagi guru dan orang tua. Lah, apa hubungannya? Sang pembicara, Dr. Yeap Ban Har, merupakan seorang guru dan konsultan pendidikan dari Singapura. Beliau menyampaikan bahwa riset menunjukkan bahwa setiap orang bisa belajar matematika. Beliau tidak mengelaborasi lebih jauh mengenai hal ini. Namun, saya tergelitik untuk mencari tahu lebih jauh.

Iseng mencoba mencari informasi via Google, saya menemukan situs https://www.youcubed.org/. Kita dapat menemukan berbagai informasi dan artikel menarik terkait pembelajaran dan matematika di sini. Hasil penelitian yang dicatat di sini menjadi menarik karena merupakan hasil penelitian di bidang neurosains terkait dengan bagaimana kerja otak manusia dalam belajar (khususnya matematika). Jadi, ini bukan sembarang coba-coba atau asal percaya. Ada pesan ilmiah dibaliknya.

Image result for make mistakes boaler

  1. Setiap orang dapat belajar matematika hingga tingkat kesulitan yang tinggi (Everyone can learn mathematics to high levels)
  2. Percayalah pada dirimu sendiri (Believe in yourself)
  3. Kesulitan dan kesalahan sangatlah penting dalam proses belajar (Struggles and mistakes are really important).
  4. Kecepatan tidaklah yang terpenting (Speed is not important).

Image result for it is lack of faith muhammad aliLihatlah poin ke-2, percayalah pada diri kita sendiri. Tentunya memang tidak mudah, karena kalau kita berulang kali melakukan kesalahan dan gagal, lambat laun kita menjadi tidak percaya diri. Oleh karena itu, poin ini tidak bisa berdiri sendiri. Poin ke-3 dan ke-4 juga tidak boleh ditinggalkan, selain tentunya proses refleksi dan belajar yang membuat kita juga semakin baik hari demi hari dan membentuk keterampilan dan keberadaan diri kita.

Kepercayaan diri memang tidak mudah dibentuk, seperti yang diomongkan. Dibutuhkan waktu dan proses yang tidak mudah untuk kita dapat sepenuhnya dan seutuhnya menerima dan memercayai diri kita sendiri. Terlebih lagi, jika kita mempunyai pengalaman buruk di masa lalu (atau yang sedang kita alami) yang membuat kita minder. Namun, kita juga perlu mengingat bahwa ketika kita sungguh dapat melakukannya (memercayai diri sendiri), pintu kesempatan dan kesuksesan di depan mata terbuka dengan lebih lebar.

Mari kita terus belajar mengasah diri. Memperbaiki yang perlu diperbaiki, terutama sikap dan karakter kita. Mengasah keterampilan yang menjadi kekuatan utama kita. Berbagilah juga pada teman atau orang di sekitar kita ketika ada kesempatannya. Jangan pernah menyerah dan terus tanamkan dalam diri bahwa kita bisa selalu menjadi lebih baik (growth mindset). Ingat juga untuk bergaul dengan orang yang positif dan dapat menolong kita lebih baik. Relasi positif penting!

Niscaya, kita akan sampai di garis tersebut, untuk kemudian memasuki pintu berikutnya.