A letter to teachers

In the last couple of weeks, in fact, a couple of months, people around the world have been living under as well as witnessing a “tragedy” that many of us did not expect before. It was started in Wuhan, China, then spread to other countries, including Indonesia now. Coronavirus, Covid-19, that absorbs our energy and focus and hinders us to live our normal lives. Work from Home (WFH), Learn from Home (LFH), and other terms have emerged during this period of “tragedy” that represent our life conditions and the way we live our very lives.

In the world of education, teachers, as well as parents, are forced, even if they do not want to, to adapt to the current situation by “moving” the education from schools to homes. No physical face-to-face classes are conducted anymore, particularly in the regions in which the situation is worsening over time. Instead, schools use platforms such as Google Classroom, Edmodo, Google Hangout, Skype, Zoom, Google Meet, and Flipgrid to help communicate with parents and students at home as well as to conduct teaching and learning activities. Technology increasingly serves as a commodity to schools and other educational institutions.

Some schools, which were not really into technology, are forced to adapt and use these technological tools to keep them “alive”. Teachers and parents, no matter how traditional and tech-blind they are, need to learn to use all these software and applications. The ways teaching and learning activities are carried out are changed as well. No more whiteboards and markers, fewer worksheet papers, and other hands-on activities are limited. Teachers can’t fully rely on their expertise in delivering and facilitating the instructions and materials anymore, because they just can’t. Students, on the other hand, can’t fully rely on the direct help of their teachers. In other words, both teachers and students need to learn to be more independent, put their best effort to survive, and trust the counterparts that they will put their best effort.

I, myself, am a teacher. A mathematics teacher for the senior-level (year 10 up to year 12). Prior to this condition, I never imagined that I would use an online class to teach mathematics, to ask students to do assignments that are mainly handwritten and ask them to submit their paper online. I never imagined that marking papers would be troublesome. I never imagined that teaching mathematics becomes more challenging due to the limitation of a physical meeting.

Better than a thousand days of diligent

But, guess what. Our parents are even more troubled. Have you heard how many parents get panic, or at least confused, because all of a sudden, they have to be the teachers to their own children? Full time! Lucky are those parents whose job is teaching. They could use their knowledge, skills and experience during this period of time. But, many parents struggle to fill up the time they have at home with their children, especially the young ones, trying to keep them learning and occupied. Activities running out, office work occupying, their children got bored, but they can’t (or probably frighten) go anywhere outside the house.

Suddenly, the value of a teacher highly increases (if not exponentially increases). We have witnessed, in the last couple of years, teachers have not been that important in the eyes of many people, particularly parents and students. Teachers were disrespected and not honored, particularly in Indonesia. Some cases even could be found where teachers were harassed by the parents and/or students. Now, our beloved parents struggle if the school, their teachers do nothing or stay silent to help them teach their children. At the same time, they (start to) realize that the job of a teacher is extremely difficult. They barely can replace the role of a teacher.

Dear teachers around the world, especially in Indonesia, in this difficult time, be proud. Do what we have to do. Though things change and we need to step out of our comfort zone, we are valuable. Our students might be able to learn from YouTube, websites, podcasts, textbooks, and other learning resources, however, who will encourage and teach them to really think? Who will encourage and push the kids to go the extra mile? Who will be so patient to deal with them? Who will model the character of a mature person that takes care of a bunch of kids in the class? Who will question and teach the kids the values of life? Who will teach and force the kids to socialize and be frustrated to deal with challenges? It’s us. Our job as teachers.

Art Print: Teachers 2 by Kimberly Allen : 19x13in | Teacher ...

Never give up on the situation, no matter how difficult it is now. Let us work together, share our knowledge, expertise and experience, and encourage each other. Use our creativity to do our job. Never stop educating our beloved children as well as parents, while we are taking care of our wellbeing. Use any means possible to inspire them, to help them fulfill their fullest potential. Work with parents, work with the students. Tough we are “only” connected online, teachers are still teachers. Our job is to inspire the world to advance for a better future, and we will do anything possible to live our mission in this world. Regardless of the current situation, our mission is still the same.

Never stop learning, never stop teaching, never stop inspiring the world.

God bless us all.

The joy of learning (nikmatnya belajar)

Banyak orang, khususnya anak murid di sekolah mengeluh ketika diminta belajar. Sadar maupun tidak, hal ini terbawa oleh banyak orang hingga dewasa. Sekarang, kalau ditanya, “apakah kita termasuk orang yang suka belajar?”, apa jawab kita? Atau, kalau kita malu merefleksikan pertanyaan tersebut, saya berikan pertanyaan berikutnya, “Berapa banyak dari teman atau orang yang kita kenal yang senang belajar?”

Image result for the joy of learning quote

Belajar tidak berarti harus kuliah lagi. Belajar tidak berarti harus mengambil kursus atau pendidikan khusus tertentu. Belajar bisa dilakukan secara mandiri, dengan membaca buku atau artikel, menonton video, mendengarkan podcast, berdiskusi dan berbagi dengan orang lain, memikirkan topik atau hal tertentu secara mendalam, dan berbagai cara lainnya.

Berapa banyak di antara kita, yang setelah memasuki jenjang karier atau bekerja, masih belajar? Belajar bukan karena terpaksa sehingga akhirnya mengambil kuliah atau kursus tertentu, tetapi karena inisiatif dan kemauan diri sendiri, karena memang menikmatinya?

Belakangan, saya merenungkan hal ini. Beberapa hari belakangan, saya sedang berbagi melalui Instagram Story akun pribadi saya hal-hal yang saya dapatkan dari kursus online yang saya ikuti tentang matematika. Pada salah satu hari, salah satu murid saya mengomentarinya, dan terjadilah diskusi. Pada diskusi kami, murid saya jadi mengetahui bahwa saya mengikuti kursus online ini. Ia mengatakan bahwa baru kali itu ia mengetahui seorang guru ikut kursus dalam rangka “untuk belajar”.

Mengapa saya berikan tanda kutip? Murid saya tidak menulisnya dengan tanda kutip, tetapi itu hal yang mau saya tekankan. Banyak dari kita mungkin bersekolah, berkuliah, belajar tertentu karena terpaksa. Bukan karena kita mau. Bukan karena kita rindu belajar. Bukan karena kita benar-benar merasakan manfaat dari belajar.

Bagi saya pribadi, yang juga saya sampaikan pada murid saya itu, belajar harusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan. Kalau kita tidak menikmati belajar di masa sekolah atau kuliah, oke lah. Karena suka tidak suka, guru dan dosen (dan juga orang tua) berperan signifikan dalam menentukan bagaimana pandangan kita terhadap belajar. Kalau mereka tidak mendidik dan mengajar dengan baik, sangat mungkin kita kecewa dan tidak menikmati belajar. Demikian juga sebaliknya, jika mereka mendidik dan mengajar dengan baik, sangat mungkin kita menikmati belajar.

Image result for the joy of learning quote

Namun, tetap bagi saya itu bukan alasan. Menikmati belajar harusnya menjadi hak dan tanggung jawab setiap orang, setiap anak murid, setiap orang dewasa, setiap kita. Belajar membawa kita pada dimensi yang baru, membawa kita melihat lebih banyak hal, yang di sisi lain juga membawa kita melihat diri kita sebenarnya begitu rendah dan kecil. Dunia ini begitu luas dan besar untuk kita pahami. Betapapun ahlinya saya di bidang matematika, pasti akan ada hal yang tidak saya ketahui atau pahami. Hal ini membuat saya pribadi menjadi rendah hati, sehingga benarlah kata peribahasa, “Seperti padi, kian berisi kian merunduk.”

Dalam hal lain, belajar pun juga seharusnya menyenangkan karena semakin banyak kita mengetahui dan memahami hal tertentu, semakin besar kemungkinan kita untuk menolong orang lain. Apalah artinya jika kita begitu cerdas dan hebat tetapi tidak berguna? Saya selalu teringat perkataan mereka yang beragama Islam, karena seringkali diajarkan orang tuanya, “Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang memberi manfaat bagi orang lain.” Saya setuju sekali dengan perkataan tersebut.

Belajar bisa dimulai dari kita sendiri. Mungkin saat ini kita malas, tetapi harus dimulai. Langkah pertama selalu menyulitkan. Diet hari pertama, olahraga hari pertama, pendekatan pertama pada gebetan, hari pertama bekerja. Namun, lihatlah ketika kita sudah terbiasa melakukannya, lambat laun kita akan merasakan hal positif dan semakin menikmatinya.

Image result for the joy of learning

Seperti yang menjadi tren di masa kini, lakukan #21dayschallenge. Apa tuh? Lakukan sesuatu hal selama 21 hari berturut-turut. Konon, menurut penelitian, atau kepercayaan, setelahnya akan menjadi kebiasaan.

Mari belajar menikmati belajar, demi diri kita, demi sesama, demi dunia yang lebih baik.

Selamat menikmati belajar!

Covid-19 vs Pendidikan

Sekitar 1-2 minggu belakangan ini, kita diperhadapkan pada situasi yang sangat tidak menyenangkan, yaitu merebaknya penyebaran virus Corona. Akibatnya, di beberapa daerah, seperti DKI Jakarta, Banten, dan Bekasi, sekolah (atau tepatnya kegiatan belajar mengajar di sekolah) dihentikan salama kurang lebih 14 hari.

Sekolah saya pun terkena dampaknya, anak-anak diminta belajar di rumah pada tanggal 16-30 Maret. Saya teringat, dulu di masa SD, ketika libur selalu diistilahkan dengan “belajar di rumah”, sekarang ini benarlah memang anak diminta belajar di rumah. Bukan liburan.

Image result for distance learning coronaSektor pendidikan menjadi salah satu sektor yang terdampak cukup signifikan, menurut saya, akibat dari penyebaran virus Corona di Indonesia. Sekolah dan perguruan tinggi diminta menjalankan online learning (distance learning, e-learning, home-based learning, atau apapun itu namanya) untuk memastikan pembelajaran tetap dapat berlangsung walaupun murid dan guru tidak bertemu secara fisik di suatu tempat.

Saya tidak mau membahas tantangan atau kendala yang dihadapi berbagai orang ketika diberlangsungkannya kebijakan ini. Hal itu menjadi tantangan yang memang tidak bisa terhindarkan, dan sekaligus menjadi refleksi dan evaluasi bagi berbagai pihak terkait, termasuk pemerintah, untuk meningkatkan sarana dan prasarana yang ada agar memang hal ini dimungkinkan terjadi dengan baik.

Bagi saya pribadi, hal ini menjadi pembelajaran tersendiri. Saya tidak pernah benar-benar membayangkan harus mengajar matematika secara online. Apakah Anda bisa membayangkannya? Huff. Rasanya kok sulit ya, karena sebagai guru matematika, saya lebih menikmati menulis di papan dan berdiskusi secara langsung (tatap muka) dan melihat hasil pekerjaan anak yang juga berupa tulisan (terlebih lagi saya mengajar SMA, yang mana pilihan ganda bukanlah menjadi soal yang baik untuk diberikan, dan itu sangat sulit dilakukan melalui platform online apapun). Terasa tidak mudah untuk membawa semuanya itu secara digital.

Memang ini baru di minggu pertama kegiatan ini dilangsungkan. Namun, dalam keterbatasan yang ada, saya belajar menikmatinya. Terbatas? Tentu. Tidak mudah untuk melihat pekerjaan anak murid saya secara langsung. Paling penting, perlunya ada inisiatif dan motivasi kuat dari sang murid.

Di sini saya merasa bersyukur juga. Belajar memang tidak mudah, terlebih di masa sekolah di mana, jujur saja, banyak dari kita yang “dipaksa” padahal bukan ini yang kita pilih. Menemukan motivasi untuk menikmati belajar dan menekuninya di saat “belajar di rumah” tidaklah mudah. Namun, saya bersyukur karena murid-murid saya tetap rela menjalaninya (mungkin saja ini karena mereka akan mau ujian sih, tapi ya oke lah). Semoga murid-murid lain pun demikian.Image result for independent and hard work quote

Ditambah lagi, sebenarnya momen ini menjadi momen yang baik bagi anak untuk belajar mandiri. Mengapa? Mungkin, selama ini mereka terlalu sering “disuapi” oleh gurunya. Dikit-dikit nanya. Tanya pada teman, tanya pada guru. Sekarang, saya meminta mereka untuk belajar juga bertanya pada Google. Ada banyak sumber informasi berupa video dan artikel yang mereka juga bisa telusuri untuk menemukan hal yang mereka cari, dan di sana mereka belajar untuk berpikir secara mandiri. Hal yang menjemukkan bukan? Bertanya sendiri, mencari sendiri, berpikir sendiri.

Tentu, itu bukan hal mudah untuk dilakukan, ketika semua tiba-tiba harus dilakukan. Namun, justru di situ lah saya bersyukur, karena saya “terpaksa” belajar untuk lebih menahan diri, dan murid “terpaksa” belajar lebih mandiri.

Apapun itu, kondisi ini memang bukanlah kondisi ideal. Tidak ada yang berharap ini akan terus berlangsung, walau ada banyak hal positif dibaliknya. Kita semua berharap hidup kita kembali normal, dan dapat berkarya seperti biasanya. Ditambah dengan pengalaman saat ini yang dimiliki, itu semua memperkaya kehidupan dan karya kita.

Image result for after darkness comes light quotes

Selamat belajar di kala sulit ini, mari terus berefleksi dan mengambil hikmah di balik setiap hal yang kita alami.

Dibalik kegelapan, selalu ada terang. Habis gelap, terbitlah terang.

Covid-19 vs manusia

Beberapa waktu ke belakang, kita semua dibuat terkejut, sedih, gelisah, was-was, atau perasaan lainnya, dengan keberadaan virus Corona yang menjangkiti banyak orang di banyak negara. Di Indonesia sendiri, (per 13 Maret 2020 pukul 17.30), ada 69 orang yang positif menderita virus ini. Beberapa sembuh, beberapa meninggal.

Kita semua bersedih, dan walau berbeda-beda, kita mempunyai cara untuk merespon kondisi ini. Secara umum, ada banyak hal yang dilakukan tempat-tempat umum seperti rumah sakit, tempat ibadah, mal, dan sekolah. Misalnya di sekolah saya, kami menerapkan cek temperatur tubuh murid maupun staf, dan bagi mereka yang sedang kurang sehat dihimbau untuk menggunakan masker, atau jika cukup parah, dihimbau untuk beristirahat di rumah. Bagi mereka yang bepergian ke luar negeri (terutama negara-negara yang terinfeksi cukup banyak), diminta untuk tidak masuk sekolah selama 14 hari.

Image result for fight coronavirus

Tindakan serupa, saya tahu, juga dilakukan di berbagai tempat. Namun, bukan ini tujuan tulisan ini. Saya melihat dan merenungkan dampak dari keadaan ini. Sesuai juga surat edaran dari Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, institusi pendidikan dihimbau dan disarankan banyak hal. Secara khusus, mengenai sentuhan fisik (salaman misalnya), penggunaan alat makan atau alat lainnya secara bersama-sama, dihimbau untuk tidak dilakukan.

Di gereja saya, sementara ini “meniadakan” salaman, dan menghimbau untuk menggantinya dengan cara salam yang lain, seperti menaruh tangan kanan di dada sebelah kiri, mengatupkan kedua tangan, atau membungkukkan badan. Di berbagai tempat juga pembersihan lebih digalakkan, dengan menggunakan antiseptik atau juga sabun.

Image result for school tech for coronavirus

Image result for school tech for coronavirusBanyak sekolah, termasuk sekolah saya, mencoba menerapkan e-learning, misalnya menggunakan platform seperti Google classroom, Edmodo, atau menggunakan aplikasi video conference tertentu seperti Zoom atau Google Meet, agar pembelajaran tetap dapat dilakukan, walau tidak bertatap muka secara langsung. Diharapkan, dengan dilakukannya ini, pembelajaran tetap dapat berlangsung dalam keterbatasan yang ada.

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri atau orang lain, mengenai kondisi ini, “Apa rasanya?”

Ketika merenungkan kondisi yang ada hingga detik ini, saya merasa ada yang aneh dengan tidak adanya hal-hal yang biasa dilakukan bersama. Salaman, mungkin cipika-cipiki, pelukan, berbagi makanan, aktifitas ruang, dan berbagai hal lainnya tidak dilakukan seperti biasanya. Bukannya tidak setuju itu ditiadakan demi mencegah penyebaran virus ini, tetapi seperti terada ada yang hilang. Rasanya, seperti tidak berinteraksi dengan manusia secara normal.

Di sini, saya merasa bahwa interaksi antarmanusia dengan tatap muka sangatlah penting. Bersentuhan pun penting (kecuali yang bukan muhrim). Semuanya, menurut saya, membuat kita menjadi manusia yang lebih utuh. Tidak terbayang jadinya bagi saya kalau kita semua berinteraksi secara digital saja, bertemu tapi tidak bersentuhan, mencuci tangan setiap setelah bersentuhan, dan sebagainya. Rasanya, manusia tidak lagi menjadi manusia.

Image result for human interaction physical touch quote

Ini perenungan saya. Sembari, saya berharap bahwa tentunya kondisi ini akan semakin membaik secepatnya, dan semua bisa berjalan normal. Kita bisa bermain dengan anak dan teman dengan tenang, berinteraksi sewajarnya, mensyukuri dan memanfaatkan pertemuan tatap muka dengan sebaik-baiknya. Sekaligus, saya pun merenungi manfaat teknologi yang seringkali “terlalu” diagungkan sehingga mengurangi atau bahkan menghilangkan interaksi dan relasi yang utuh dan penuh antarmanusia.

Selamat berjuang melawan virus, selamat merayakan kehidupan.

 

Showtime!

Selama saya menjadi guru, beberapa kali saya mendengar teman saya berkata begini ketika ia masuk ke ruang guru, “Hahh.. capeekk.. Gak enak jadi koordinator. Banyak kerjaannya. Kalau anak kasus, ketemunya sama kita.” Atau, dalam konteks lain, “Cape jadi ketua. Orang kalo komplain gue mulu yang kena.”

Pernahkah kita berada di situasi serupa, di mana kita mengeluh karena posisi atau beban pekerjaan kita? Namanya mengeluh, tentu sebenarnya sah-sah saja. Tidak mungkin sepenuhnya kita terus senang atau bahagia dan menikmati hidup dan pekerjaan kita. Pasti ada saatnya di mana kita merasa lelah.

Walau begitu, mari kita coba menilik kembali arti dibalik keluhan tersebut. Mungkin dengan demikian, keluhan kita akan berkurang.

Wajar sekali jika kita lelah dalam bekerja dan mempunyai keluhan tertentu. Toh, memang hidup tidak sempurna, kita pun manusia (yang jelas tidak sempurna), dan bagaimanapun kita bisa saja menyakiti orang lain. Bisa membuat orang lain mengeluh, atau juga membuat diri kita sendiri mengeluh.

Image result for leadership is hard

Namun, mengeluh terus juga tidak akan menjadi solusi. Bahkan, keluhan seringkali membuat beban hidup kita terasa lebih berat, ketika kita tidak mampu mengelolanya dengan benar. Kita perlu mempunyai cara pikir yang tepat agar hal-hal tidak menyenangkan yang kita rasakan dapat kita lewati dengan baik.

Bagi saya pribadi, hal-hal berikut ini yang saya bisa bagikan menjadi tips untuk melaluinya. Bagi saya, hal ini kembali kepada cara pikir (mindset), terlepas dari konsep soal spiritualitas (yang tentunya sangat menolong untuk lebih memilih bersyukur daripada mengeluh).

  • Hidup memanglah tidak mudah, tetapi selalu ada harapan.
    Kesadaran bahwa hidup memang tidak mudah menjadi langkah awal bagi kita untuk menjalani, walau ada kalanya (atau bahkan seringkali) kita tidak mengerti mengapa. Apapun itu, kita perlu mempunyai keyakinan, bahwa semuanya akan menjadi lebih baik. Lah, tahu dari mana? Sejarah. Sejarah menunjukkan berulangkali bahwa penderitaan yang kita rasakan tidak untuk selama-lamanya. Selalu ada secercah harapan untuk masa depan yang lebih baik, dalam skala apapun itu.
  • Kesulitan menjadi momen bagi kita menjadi pemimpin sesungguhnya.
    Memiliki cara pikir dan cara hidup ini menjadi sangat penting menurut saya. Seringkali mereka yang mempunyai keluhan adalah mereka yang mempunyai beban pekerjaan tidak mudah, para pimpinan. Namun, bukankah memang demikian pekerjaan pemimpin? Kesulitan menjadi momen, wadah bagi kita untuk menunjukkan karakter dan kemampuan kita sesungguhnya. Kalau semuanya baik-baik dan menyenangkan, buat apa ada kita? Justru momen sulit itu menjadi “panggung” bagi kita.

Poin kedua yang ingin saya tekankan. Menjadi pemimpin memang tidak mudah. Bahkan, seringkali kita diperhadapkan pada situasi yang sama sekali tidak menyenangkan. Kita harus membuat keputusan penuh resiko, bisa jadi kita yang kena getahnya. Kita harus menghadapi keluhan orang lain. Kita yang menjadi sansak kemarahan orang lain. Kita diberikan beban kerja lebih. Dan seterusnya… Namun, bukankah memang itu tanggung jawab pemimpin? Bukankah pemimpin memang selalu berada di posisi yang lebih sulit?

“Kepemimpinan bukanlah hak istimewa untuk melakukan lebih sedikit dari yang lain. Kepemimpinan adalah tanggung jawab untuk melakukan lebih.”

Gampangnya, ya memang itu nasib jadi pemimpin. Kalau kita merasa, “Lah, saya kan tidak memegang jabatan apapun di kantor. Saya bukan pemimpin kalau begitu.” Ups, hati-hati. Ingat, kita tetaplah pemimpin. Pemimpin tidaklah bergantung pada posisi atau jabatan tertentu. Kepemimpinan adalah soal peran kita, apa yang kita lakukan. Pemimpin adalah mereka yang mau membuka jalan bagi orang di sekitarnya untuk menjadi lebih baik, mereka yang menyatakan kepedulian dan pemberdayaan bagi orang lain.

Image result for adversities have the opportunities

Hidup memang tidaklah mudah. Menjadi pemimpin memang tidak mudah. Dari kemudahan, tidak ada inovasi dan kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya, dari kesulitan, ada kesempatan untuk maju. Saya teringat quote yang ditulis atasan saya di sekolah di profil e-mailnya, Adversities have the prospensity for opportunities.” Kesulitan dan tantangan hidup memiliki kecenderungan untuk menjadi kesempatan. Kesempatan untuk sukses dan menjadi lebih baik.

Kita kah pemimpin itu? Selamat merenung.

Intention matters

Seorang teman, pada suatu waktu meminta bantuan pada saya untuk mengerjakan tugas kuliah S2-nya. Ia meminta tolong saya untuk melakukan proofread dan memberikan komentar terhadap tulisannya. Tugas di masa kuliah S2 saya memang adalah untuk membuat tulisan seperti untuk jurnal akademik dalam rentang waktu 3 bulan. Teman saya ini merasa kesulitan memahami dosen saya, sehingga ia meminta bantuan saya.

Saya mencoba untuk memberikan bantuan sebaik mungkin yang bisa saya berikan. Belajar dari dosen saya dalam bagaimana beliau memberikan feedback, demikian saya juga berusaha memberikan feedback padanya. Detil, coretan merah, usulan kalimat, struktur, bahasa/pemilihan kata, dan lainnya. Setelah saya selesai dengan feedback tersebut, kami bertemu untuk membahasnya dan saya berusaha menjelaskan padanya. Pada pertemuan itu, ia mengungkapkan terima kasihnya dan akan memperbaiki tulisannya.

Singkat cerita, nyatanya ia tidak begitu ingin memperbaikinya (atau ia tidak memahaminya, entahlah.) Ia hanya memperbaiki bagian yang ia rasa perlu diperbaiki. Belakangan, setelah juga berbicara dengan dosen saya, saya belajar mengetahui bahwa teman saya ini “merasa” dirinya cukup pintar karena sebelumnya juga sudah pernah mengambil kuliah S2, dan seperti “tidak rela” dikritisi. Meminta pendapat, menurut kesimpulan saya, baginya lebih kepada seperti mencari pembenaran atas pendapatnya, bukan untuk membuka diri terhadap kemungkinan hal baru yang dapat memperbaiki diri maupun pekerjaannya.

Apakah kita pernah mengalami hal semacam ini? Atau.. jangan-jangan karakter teman saya itu adalah kita sendiri?

“Our choices reveal our intentions” – Simon Sinek

Pilihan yang kita ambil dalam hidup merefleksikan motivasi dan tujuan kita di dalam hati, yang seorang pun tidak tahu. Tindakan kita menjadi bukti dari pilihan yang kita ambil. Dalam cerita saya di atas, teman saya telah membuat pilihannya, begitu juga pula dengan saya. Walau orang lain mungkin tidak tahu, tetapi kita mengetahui mengapa kita melakukan yang kita lakukan, bahkan dengan cara yang kita gunakan. Terlebih lagi, semakin dewasa kita, hendaknya kita semakin peka terhadap hal ini.

Image result for our choices reveal reveal our intentions simon sinek

Lalu apa pentingnya sih? Orang lain dapat menilai. Suka tidak suka, manusia mempunyai kemampuan untuk saling menilai, dan nampaknya itu begitu natural terjadi. Sangat manusiawi. Kita cenderung untuk menilai karakter, perilaku orang lain. Tidak selalu berarti buruk, walau sayangnya lebih sering menjadi hal negatif. Penilaian dari orang lain ini menjadi penting dalam bagaimana mereka merespon terhadap tindakan kita. Bisa jadi mereka memilih mundur karena mereka “merasakan” dari penilaian mereka bahwa kita tidak tulus, atau menyebalkan karena mencari keuntungan sendiri.

Kita pasti juga pernah merasakannya. Saya sering merasakannya bahwa saya menilai tindakan orang lain tidak sepenuhnya tulus. Wah, tahu dari mana?

  • Konsistensi – di saat ini dia A, saat lain dia B.
  • Pemilihan kata – semakin dewasa, kita harus semakin peka terhadap pemilihan kata kita, karena itu mencerminkan pengetahuan dan kebijaksanaan kita.
  • Bahasa tubuh – ada kalanya orang tidak meyakinkan karena bahasa tubuhnya. Misalnya, orang yang percaya pada apa yang ia katakan, menurut penelitian, sering menggunakan tangan ketika mendeskripsikan atau menjelaskan perkataannya.
  • Nada bicara – orang yang meyakinkan “memilih” nada bicara yang meyakinkan pula
  • Perilaku/sikap – sikap saat berbicara, atau berperilaku secara umum, apakah konsisten dengan pendapatnya.

Ada banyak cara untuk dapat “menilai” dan pada akhirnya kita bisa “merasakan”. Atau, bisa jadi ya hanya “merasakan” saja bahwa orang ini tidak tulus atau mempunyai maksud tersembunyi, atau tidak jujur.

Image result for trust matters quote

Hal ini harusnya menjadi refleksi juga bagi kita, bahwa kita perlu menjaga diri, perkataan, tindakan, pikiran, hati kita, agar seluruhnya integrated. Di sini lah kata “integritas” itu muncul. Ketika kita tidak konsisten, apa bahayanya? Orang tidak memercayai kita. Padahal, landasan kepercayaan menjadi sangat penting dalam setiap relasi. Tanpa kepercayaan, tak ada relasi positif, tak ada kepemimpinan, tak ada masa depan. Dengan kepercayaan, hidup lebih baik, kita bisa berinovasi, dunia pun semakin maju.

Intention matters. Mari meniliki hati dan pikiran kita.

Be right or be kind?

“When you have the choice between being right and being kind, choose kind.” – Wayne Dyer

Sebagian dari kita mungkin cukup mengenal atau paling tidak pernah mendengar perkataan bijak di atas. Ketika kita mempunyai pilihan untuk menjadi/berbuat benar dan menjadi/berbuat baik, pilihlah untuk menjadi baik.

Image result for when you have the choice to be right or kind

Saya sudah pernah mendengar perkataan bijak tersebut sejak kecil. Namun, pertama kali saya memikirkan kembali perkataan tersebut adalah ketika saya menonton film Wonder. Pada film tersebut, diceritakan kisah seorang anak yang memiliki wajah yang buruk (setelah hasil operasi berulang kali) dan menjadi korban perundungan (bully) teman-teman di sekolahnya. Pada salah satu adegan, guru kelas anak tersebut membagikan tentang perkataan bijak ini.

Di sini lah saya memikirkan kembali perkataan ini. Apakah benar demikian? Apakah itu merupakan pilihan yang selalu tepat? Apakah menjadi orang baik sebenarnya berbeda dari menjadi orang benar?

Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi refleksi dan pikiran pribadi saya terkait perkataan bijak ini. Namun, bukan berarti saya sebetulnya memahami perkataan tersebut. Tulisan ini lebih berisi tentang “pergulatan” pikiran saya tentang perkataan bijak ini.

Saya tidak mengetahui konteks perkataan bijak ini dilontarkan oleh Dr. Wayne W. Dyer, seorang penulis buku asal Amerika. Mungkin perkataan bijak tersebut dilontarkan untuk mengkritik mereka yang memilih terus “menjadi orang benar” daripada berbuat baik, sehingga dalam beberapa kondisi malah menjadi “egois” karena mau dirinya merasa benar. Menjadi orang yang benar tidak selalu berarti memperjuangkan apa yang benar. Bisa jadi, kita memperjuangkan kebanggaan diri kita yang kita anggap selalu benar. Dalam arti lain, kita tidak rela salah, atau menjadi/terlihat lemah di mata orang lain.

Secara pribadi, saya tidak terlalu setuju untuk memisahkan “benar” dan “baik”, walau mungkin ada betulnya juga bahwa orang benar belum tentu baik dan orang baik belum tentu benar. Bisa jadi, itu adalah kompleksitas dan realita di kehidupan ini. Bagi saya secara pribadi, menjadi dan melakukan yang benar “seharusnya” juga berarti menjadi orang baik. Namun, karena standar “kebenaran” dan “kebaikan” bisa jadi begitu subyektif, bisa jadi memang ada yang salah menurut pandangan pihak tertentu.

Bagaimana kalau dalam kasus seperti ini:

Murid saya bertanya kepada saya mengenai jawaban dari soal matematika yang ia sedang kerjakan di kelas sebagai tugas kelas. Ia diizinkan untuk berdiskusi dan membuka buku atau sumber lainnya. Lalu, saya tidak mau menjawabnya, betapapun ia memohon.

Apakah yang saya lakukan itu benar atau baik? Atau malah tidak keduanya?

Sebagian orang bisa merasa bahwa itu adalah hal yang benar untuk saya lakukan, karena mungkin bagi mereka itu adalah waktu bagi sang murid untuk belajar secara mandiri. Ada waktunya nanti ketika saya bertanggungjawab menjelaskannya.

Sebagian yang lain bisa merasa bahwa saya adalah guru yang jahat (lawan dari baik), karena saya seharusnya menunjukkan kasihan kebaikan dengan memberitahukan jawabannya. Kalau saya tidak rela memberitahukan jawabannya, bagaimana mungkin sang murid bisa belajar dengan baik.

Image result for do the right thing is kind

Atau, ada sebagian pihak lain yang mempunyai pandangan berbeda.

Sayangnya, konteksnya kasus di atas tidak lengkap. Bisa jadi memang saya memberikan ruang bagi sang murid untuk mengerjakan secara mandiri sehingga saya tidak akan menjawabnya. Namun, di waktu tertentu kemudian saya akan membahasnya.

Kebenaran dan kebaikan tidaklah mudah untuk dinilai/dihakimi. Namun, saya pribadi percaya bahwa kebenaran tidak seharusnya sepenuhnya terpisahkan dari kebaikan. Berbuat benar bisa juga berarti berbuat baik, dan begitu juga sebaliknya. Misalnya, ketika anak berbuat salah, apakah seharusnya ditegur? Saya rasa banyak orang akan mengatakan iya. Namun, sebagian akan berkata itu bukan hal “baik” untuk dilakukan, khususnya ketika ia sudah merasa bersalah. Saya pribadi lebih memilih menegurnya, namun dengan tidak berlebihan. Kemudian, saya bisa mengajak bicara anak saya dan mengevaluasi apa yang ia rasakan dan pikirkan.

Baik atau benar? Entahlah.. bisa jadi refleksi saya ini pun ngawur. Namun, ini yang saya pikirkan. Bagaimana dengan Anda?