Ditolong dan menolong

Saya teringat pada pengalaman saya berbagi di kampus saya semasa kuliah S2. Pada waktu itu, saya sudah hampir menyelesaikan program studi saya (menunggu kelulusan), dan salah satu dosen meminta saya untuk berbagi kepada mahasiswa S2 lainnya yang lebih junior mengenai tantangan, pengalaman, dan apa yang bisa kita lakukan agar melalui masa perkuliahan dengan baik.

Pada saat itu, entah bagaimana, saya mengatakan dua hal penting yang saya ingat sampai saat ini, yaitu mengenai ditolong dan menolong. Keduanya membutuhkan keterbukaan hati dan tangan. Ketika kita terlalu sombong dan merasa kita pintar dan hebat, kita tidak akan mau menolong orang lain karena kita dirugikan. Atau, jika kita menolongnya, itu karena kita mau menunjukkan kehebatan kita, dan pada akhirnya kita tidak menolong sepenuhnya.

Di sisi lain, kita juga perlu membuka diri kita untuk ditolong orang. Kepercayaan dalam relasi dengan orang lain akan dapat tumbuh dan terbentuk ketika kita pun rela membuka diri kita untuk ditolong orang lain. Ini berarti kita dengan rela hati menunjukkan kelemahan kita. Ini juga berarti kita cukup rendah hati untuk mengakui kelemahan kita dan membutuhkan bantuan orang lain.

Dalam relasi dengan orang lain, menolong dan ditolong, bagi saya adalah hal penting. Tidak bisa selalu kita yang menolong, tidak bisa juga selalu kita yang ditolong. Jika demikian adanya, tidak seimbang. Tidak ada orang yang hebat dalam segala hal, dan tidak ada orang yang lemah dalam segala hal.

Selain itu, ketika kita menolong, sadar atau tidak, kita juga sedang ditolong. Demikian juga ketika kita ditolong, kita sedang menolong orang. Bagaimana mungkin begini? Aneh bukan. Ini maksud saya. Ketika kita menolong orang lain, kita sedang ditolong (atau menolong diri kita sendiri) untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan sekaligus belajar menolong orang lain. Kita belajar untuk memahami orang lain lebih lagi. Ketika kita ditolong orang lain, kita belajar untuk terus rendah hati dan menolong orang lain untuk menolong kita.

Kalau kita tidak membuka diri untuk ditolong, orang akan merasa kita selalu baik-baik saja, dan pada akhirnya mereka tidak mengetahui siapa diri kita sesungguhnya.

Maukah kita ditolong dan menolong orang lain? Selamat menolong.

Speak up!

Dalam tulisan minggu lalu, saya menyinggung soal bagaimana seorang introver juga bisa berkembang dan melakukan banyak hal seperti layaknya orang-orang ekstrover, demikian juga ekstrover juga bisa mengembangkan diri dan memiliki kualitas dan keterampilan yang biasanya lebih alami dimiliki orang-orang introver. Tulisan minggu lalu juga menyinggung bagaimana orang-orang introver baik-baik saja dalam hidupnya, walau mungkin bisa jadi tidak semenyenangkan anggapan orang lain (khususnya mereka yang ekstrover).

Saya tidak menulis dalam rangka mengadu domba keduanya, tetapi ini dalam rangka saya berbagi apa yang saya alami dan rasakan sebagai seorang introver dan mencoba memperdamaikan dan mencari common ground keduanya. Secara khusus, saya berbagi dalam perspektif saya seorang introver, sehingga lebih mudah bagi saya menceritakan pengalaman dalam kaca mata ini. Kalau saya sudah menjadi ekstrover atau ada teman yang akan menceritakannya, barulah saya akan menuliskannya dari sisi seorang ekstrover.

Speak up! Itu mungkin salah satu nasihat yang banyak diberikan kepada banyak orang introver. Mengapa demikian? Karena orang-orang introver cenderung berdiam diri dan tidak berpendapat, dan memilih berpendapat setelah lama berpikir dan menentukan apa yang akan dibicarakan. Seringkali pula orang-orang introver juga merupakan pemalu, sehingga mereka enggan berbicara di depan orang banyak.

Dalam kondisi ekstrim, bisa jadi mereka mensimulasikan di otaknya terlebih dahulu kata-kata dan nada yang akan diucapkan. Agar berbeda dengan kebanyakan orang ekstrover yang bisa dengan lebih mudah berbicara dan menguasai panggung tanpa “banyak persiapan” dibandingkan orang-orang introver.

Saya sendiri bukanlah seorang public speaker yang baik. Saya tergolong pemalu dan “pemalas” di masa sekolah dan kuliah dalam hal berbicara di depan umum. Saya cenderung enggan berbicara di depan umum dan memilih berpendapat dan bekerja dibalik layer. Ketika saya aktif di gereja sebagai ketua komisi pemuda, barulah saya lebih mendapatkan ruang untuk melatih keterampilan tersebut.

Pekerjaan sebagai guru mengharuskan saya belajar berbicara di depan orang banyak dengan sebaik mungkin. Guru yang baik juga merupakan public speaker yang baik. Dalam perjalanan pengalaman saya sebagai seorang guru yang introver, saya akan coba berbagi beberapa hal yang saya lakukan dan ketahui yang membantu saya menjadi public speaker yang baik.

  1. Berbicara untuk berbagi
    Ketika kita berbicara di depan orang, kita harus mempunyai tujuan yang jelas, dan tujuan tersebut haruslah untuk berbagi, bukan untuk menyombongkan diri atau show off.

  2. Jadilah diri sendiri
    Ada banyak public speaker terkenal dan hebat di dunia, tetapi yang terbaik selalu menjadi diri sendiri. Kita bisa mengambil pelajaran dari orang lain, tapi saya percaya yang terbaik adalah menggunakan dan mengembagkan kekuatan dan kelemahan kita sendiri. Contohnya, banyak orang dulu mengatakan bahwa mengatakan “hm..” atau “eengg” di saat berbicara di depan umum adalah sesuatu yang buruk. Saya rasa tidak juga. Kita bisa menggantinya dengan berdiam sejenak, membuat seolah apa yang kita bicarakan sesuatu yang penting, dan memberi ruang bagi audiens untuk berpikir sejenak juga.


  3. Jadilah ahli
    Jadilah ahlinya dalam hal yang akan kita bicarakan. Kalau kita akan mempresentasikan sesuatu tetapi kita pun tidak sepenuhnya yakin atau mengenal betul tentangnya, jelas kita akan mengalami kesulitan, seperti perasaan grogi (yang membuat penyampaian kita kurang lengkap dan jelas), cemas, lupa apa yang mau disampaikan, dan bingung mau menjawab apa ketika ada pertanyaan.

    Perasaan percaya diri, saya yakin, tidak hadir dari sekadar belief atau berusaha meyakinkan diri. Saya percaya bahwa ketika saya menjadi ahli (atau semakin ahli) dalam bidang atau materi yang akan saya sampaikan, saya bisa merasa percaya diri di “panggung”.

  4. Practice makes perfect
    Latihanlah sesering mungkin pada kondisi sesungguhnya, ambil kesempatan berbicara di depan umum sesering mungkin. Namun, hati-hatilah! Practice does make perfect, including practicing mistakes! Kalau kita melakukan kesalahan dan kita tidak mengetahuinya, dan terus “melatihnya”, kita akan terus melakukannya dan pada akhirnya bisa merasa atau menganggap hal itu sebagai hal biasa dan baik.
  5. Refleksi dan evaluasi
    Kita tidak lah sempurna, betapapun seringnya kita berlatih. Karena itu, selalu berefleksi dan mengevaluasi diri. Minta pendapat orang lain jika dimungkinkan.
  6. Mentor
    Sedapat mungkin, bangunlah relasi dengan mentor, sehingga kita dapat belajar dan mendapat bimbingan darinya.

Tentunya ada banyak saran-saran teknis lainnya. Namun, keenam hal ini yang saya rasakan sangat membantu saya selama ini. Bukan hanya dalam hal menjadi public speaker, tetapi juga dalam hal pekerjaan dan hidup kita. Menjadi public speaker bagi introver memang tidak mudah, tetapi di sisi lain seorang introver juga mempunyai kekuatan tersendiri, karena mereka akan mempersiapkan dengan sangat sebelum berbicara, bahkan setiap kata yang dipilih dan diucapkan pun bisa jadi sangat penting.

Selamat belajar!

I am an introvert and I am fine

“Kamu terlalu diam di kelas. Kamu harus lebih banyak berbicara dan aktif, terlibat dalam diskusi dan mencoba berbagai aktivitas. Lihat teman-temanmu.”

Sadar atau tidak, banyak guru, pendidik, orang tua, dan bahkan anggota masyarakat lebih mengagungkan kualitas atau keterampilan yang secara alami lebih dimiliki oleh orang-orang ekstrover. Saya katakan alami karena sebetulnya hal-hal tersebut juga bisa dimiliki dan dilakukan dengan terampil oleh orang-orang introver, tetapi lebih membutuhkan banyak latihan.

Itu pun berlaku bagi saya sendiri, baik saya ketika berada di bangku sekolah maupun ketika tahun-tahun pertama saya menjadi guru. Sadar atau tidak, saya lebih berharap mempunyai anak murid yang aktif dalam diskusi dan memberikan pendapat di kelas. Mereka yang “lebih hebat” dalam public speaking dan presentasi akan lebih menyenangkan. Bahkan, mereka yang mampu berdebat menjadi murid yang lebih menarik bagi saya.

Setelah membaca buku Quiet: The power of introverts in a world that can’t stop talking dan banyak artikel lainnya, dan merenungkan perjalanan hidup saya sendiri, saya baru lebih menyadari bahwa sedikit banyak saya tidak adil dalam memperlakukan anak murid saya. Kalau saya ada di sisi mereka yang introver, saya pun belum tentu mau berbicara di depan, aktif dalam diskusi, dan hal lainnya. Saya akan lebih menikmati waktu saya berdiam, mengobservasi, menganalisa, dan memberikan pendapat secara tertulis.

Image result for introverts strength quotes

Mungkin, banyak di antara kita yang secara tidak sadar kuatir akan perkembangan anak-anak introver. Khususnya bagi orang tua dan guru. Karena mereka nampak lebih enggan bersosialisasi, lebih banyak diam dan tidak “aktif”. Ditambah lagi, rasanya hidup mereka nampak tidak menyenangkan. Nyatanya, orang introver baik-baik saja. I am also an introvert and I am doing fine.

Kualitas keterampilan seperti memimpin, mengemukakan pendapat secara verbal, memulai pembicaraan dengan orang asing, public speaking, kolaborasi aktif dalam berdiskusi, presentasi, berakting, lebih fleksibel dan tidak terlalu analitis, melakukan tanpa terlalu banyak perhitungan, dan melangkah keluar dari zona nyaman, memang lebih alami dan mudah diasah oleh orang-orang ekstrover. Namun, bukan berarti orang-orang introver tidak dapat melakukannya. Demikian juga keterampilan seperti observasi, perbincangan mendalam (deep conversation), analisa, mendengarkan, berpikir sebelum bertindak, menulis, reflektif, yang memang lebih alami dan mudah diasah oleh orang-orang introver, juga bisa diasah dan dilakukan oleh orang-orang ekstrover.

Nyatanya, orang-orang sukses membutuhkan keterampilan dan kualitas dari kedua sisi tersebut. Namun, karena tulisan ini dimaksudkan untuk lebih fokus pada “kelemahan” orang-orang introver, maka saya ingin lebih mengajak kita semua untuk merangkul “kelemahan” dan “kelebihan” orang-orang introver. Mereka yang nampak diam, bisa saja berbicara dengan nyaman dan lihai di depan auditorium, namun membutuhkan banyak latihan dan persiapan. Mereka yang nampak tidak aktif dalam berdiskusi sebenarnya sedang menganalisa dan mendengarkan argumen yang lain. Mereka yang tidak terlalu suka berbicara sebenarnya sedang berpikir dan mempersiapkan diri untuk menulis. Mereka yang kurang suka mempunyai banyak teman sebenarnya mempunyai 1-2 orang sahabat yang teramat dekat dan berkualitas.

Introver tidak lebih baik dari ekstrover. Ini hanya menunjukkan betapa uniknya manusia. Orang-orang introver juga baik-baik saja dan dapat melakukan banyak hal besar, seperti layaknya orang-orang ekstrover. Jika kita tergolong seorang introver, tenanglah, dan terus mengasah diri dan belajar keluar dari zona nyaman kita dan banyak belajar dari seorang ekstrover. Terus kembangkan diri kita sebaik mungkin. Jika kita seorang ekstrover, terus juga mengasah diri kita, dan rangkulah sang introver dan saling belajar darinya.

Pengalaman saya pribadi, saya tidak menyukai dan kurang mampu berakting, memulai pembicaraan dengan orang asing (terlebih jika ia tidak merespon dengan positif), dulu saya sangat pemalu dan malas berbicara di depan orang banyak, malas berargumen verbal dengan orang lain, berdiskusi, presentasi, mencoba tanpa terlalu banyak berpikir. Sekarang saya adalah seorang pendidik, guru yang harus berusaha melakukan itu semua, memimpin para murid, dan public speaking menjadi salah satu keterampilan yang saya paling andalkan.

Sebuah artikel yang ditulis Lisa Evans (https://www.fastcompany.com/90295027/six-things-introverts-and-extroverts-can-learn-from-each-other) bisa menjadi satu contoh referensi bagaimana kita bisa saling belajar dan belajar untuk terus menjadi pribadi yang lebih dewasa.

I am an introvert and I am fine.

Final destination

Hana      : “Liburan besok aku mau ke Solo nih.”

Asti        : “Ih ngapain ke Solo gak ada apa-apa gitu. Mending ikut aku aja, kita jalan-jalan
ke Bandung. Bisa kuliner dan banyak tempat wisatanya juga. Dingin pula.”

Fira         : “Iya bener, daripada ke Solo, mending ke Bandung aja. Atau kalau nggak, kita
ke Australia saja! Pas mau musim dingin. Aku nemu tiket murah juga. Terus, di
sana kita bisa menginap di tempat saudaraku. Jadi, pengeluaran lumayan bisa
ditekan.”

Asti        : “Wah iya boleh juga tuh! Ayuk ayuk! Asyik pasti ke Australia. Aku belum
pernah juga.”

Hana      : “Aku tetap mau ke Solo ah. Aku belum pernah ke sana. Aku mau berkunjung ke
sekolahku dulu sana.”

Kalau kita ada di posisi Hana, mana yang akan kita pilih? Mengikuti pilihan kedua sahabat kita, atau tetap pada tujuan akhir kita?

Bagaimana jika diubah konteksnya? Bagaimana jika ini soal memilih pasangan hidup? Gaya hidup? Pilihan pekerjaan atau karier? Ide bisnis? Pilihan jurusan kuliah? Keputusan dalam pekerjaan, atau keputusan-keputusan lainnya?

Image result for life filter to make decision

Jika ada teman yang mengajak kita memakan makanan sehat, apakah kita akan mengikutinya? Jika ada teman yang mengajak kita berbisnis dengan korup, apakah kita akan mengiyakannya? Jika ada kesempatan berkuliah di jurusan komunikasi, apakah kita akan mengambilnya? Jika kita mendapat kesempatan bekerja di perusahaan besar tetapi berlawanan dengan keinginan hati dan mimpi, apakah kita akan mengambilnya?

Untuk tidak salah fokus, sangat penting bagi kita untuk memfokuskan diri dan konsisten memandang pada final destination kita, tujuan akhirnya, purpose, mimpi, apapun itu namanya. Ketika kita yakin dengan tujuan yang ingin kita capai, rute yang kita akan ambil bisa fleksibel dan disesuaikan, asal arahnya menuju pada tujuan yang sama. Namun, jika kita tidak memiliki tujuan akhir yang jelas, itu akan memengaruhi nilai yang kita pegang, dan pada akhirnya juga memengaruhi keputusan-keputusan kita di sepanjang jalan.

Jika kita tidak tahu mau liburan ke mana, atau yang penting liburan, mungkin kita akan mengikuti usulan Fira, pada contoh percakapan tadi. Namun, seperti Hana yang tahu jelas dia mau pergi ke Solo karena ada tujuan yang ingin dicapai, ia lebih mudah untuk tidak tergoyahkan.

Mengapa saya katakan lebih mudah? Karena, pada realitanya, ada kalanya kita bisa hilang fokus dan lebih mementingkan tujuan jangka pendek, daripada tujuan akhirnya. Sama seperti pebisnis ang lebih mementingkan omzet atau keuntungan bisnisnya, daripada visi atau alasan mengapa ia memulai bisnisnya. Sama seperti pasangan suami istri yang memilih bercerai karena merasa hilang fokus pada tujuan bersama.

Mari, berusaha memperjuangkan perjalanan menemukan final destination kita, tujuan hidup kita. Mungkin dalam 1-2 tahun ke depan belum nampak jelas. Tidak apa-apa. Teruslah berjalan, teruslah berusaha. Suatu hari nanti ketika kita tekun mengusahakannya, kita akan menemukannya. Ketika kita sudah menemukan atau dapat memformulasikan dengan jelas dan yakin akan tujuan hidup kita, akan lebih mudah menjalani hidup karena kita mempunyai filter yang lebih jelas.

Image result for obsessed with the vision simon sinek flexible with the route

Kalau filternya saja tidak baik, kue pun juga bisa tidak enak bukan?

Kalau filter dalam hidup kita tidak cukup baik, bagaimana dengan hidup kita?

Small things matter

Nina       : “Aku minta putus.”

Ardi        : “Lho, kenapa Nin? Kayaknya selama ini kita baik-baik saja?”

Nina       : “Selama ini kamu gak pernah dengerin aku. Semua selalu tentang kamu.
Kamu nggak pernah ngertiin perasaan aku.”

Ardi        : “Nggak ngertiin perasaan kamu bagaimana? Aku kan selalu terbuka sama
kamu, dan kamu juga bisa cerita apa aja sama aku. Aku juga beliin kamu ini
itu biar kamu senang.”

Nina       : “Iya memang. Tapi, kamu nggak pernah tanya perasaan aku, kondisi aku.
Kamu selalu cerita tentang kamu, tapi gak pernah mau tahu tentang hari aku.
Kamu beliin aku banyak barang, tapi bukan itu yang aku mau.”

Ardi        : “Apa yang kamu mau kalau begitu?”

Nina       : “Aku butuh quality time kita buat ngobrol. Pacaran kan butuh komunikasi dua
arah yang positif.”

Image result for small things matter

Seberapa sering kita mendengar kisah terhentinya relasi asmara antara dua individu, baik itu persahabatan, pacaran, maupun pernikahan, yang diawali dari hal-hal yang nampaknya sederhana? Seberapa sering kita mengabaikan hal-hal “kecil” dan menganggap hal-hal “besar” lebih berarti? Perayaan ulang tahun, hadiah ulang tahun, perayaan anniversary, bonus, kenaikan gaji, evaluasi tahunan, pembinaan tahunan, rapat tahunan, dan berbagai hal “besar” lainnya.

Manusiawi. Memang sangat manusiawi bagi kita untuk lebih mengagungkan hal-hal yang nampak besar, baik itu dalam hal relasi maupun pekerjaan. Ketika kita melakukannya, ada perasaan kepuasan tersendiri seolah kita sudah menyelesaikan milestone tertentu. Lagipula, kita kan juga mempersiapkan dengan matang untuk hal yang besar tersebut, dan dana, waktu, dan tenaga yang dikeluarkan tidak sedikit.

Sayangnya, baik itu pekerjaan maupun relasi, keduanya sama saja. Manusia tetaplah manusia. Walau kita lebih memilih hal besar terjadi, kita pada dasarnya lebih menyukai dan membutuhkan hal-hal kecil dan sederhana yang secara rutin dilakukan. Sikat gigi 2 kali setiap hari, pujian dari pasangan atas masakan kita, apresiasi dari pimpinan atas pekerjaan kita, pertolongan dan motivasi dari keluarga kita, perayaan kecil atas pencapaian kita, ucapan “I love you” di setiap harinya beserta pelukan hangat, menanyakan “bagaimana harimu?”, dan berbagai hal lainnya.

Lihatlah kembali relasi kita dengan pasangan atau rekan kerja atau keluarga kita. Hal kecil apa yang hilang darinya? Sudahkah, atau lebih tepatnya, pernahkah kita mengapresiasi rekan kerja, anak, bawahan, murid, atau bahkan pimpinan kita? Pernahkah kita berusaha memberikan motivasi? Pernahkah kita mendengarkan keluh kesah dan mengenal mereka dan kebutuhannya?

Lakukanlah hal-hal sederhana tersebut. Membosankan? Malas? Yes! Betul sekali, karena semua hal tersebut membutuhkan upaya konsistensi. Sulit melakukannya, tetapi pula kita akan sulit melupakan hasilnya kelak. Mereka yang konsisten mengerjakan hal-hal kecil dan bermakna, dan mengerjakannya dengan kesungguhan hati, kelak akan menuai buah yang tak terbayangkan.

Selamat bertekun.. Selamat menjadi lebih peka.. Selamat menjadi saksi..

Pilihan ganda

Beberapa waktu yang lalu, istri saya meminta saya untuk membeli telur di supermarket. Suatu hal yang menakutkan bagi saya, akhirnya menjadi kenyataan juga! Mengapa menakutkan? Ketika saya sampai di rak bagian telur, ada begituuu banyak jenis dan merk telur yang ditawarkan. Masalahnya, saya tidak tahu mana yang harus saya beli!

Ketika kita diperhadapkan pada begitu banyak pilihan dalam hidup, ada kalanya kita merasa bingung memilih dan mengambil keputusan. Ketika kita ada di food court (pujasera), ada begitu banyak pilihan restoran yang ada di sana dan seringkali justru membuat orang semakin bingung. Berbagai pilihan merk pasta gigi, mobil, dan berbagai hal lainnya, seringkali bukannya mempermudah kita, malah membuat kita semakin bingung. Bagi saya, saya lebih menyukai sedikit pilihan (2-4 pilihan), karena lebih mudah bagi saya untuk memilihnya.

Related image

Masalahnya, mengapa kita menjadi bingung? Karena kita tidak mempunyai pilihan pada awalnya. Mengapa demikian? Karena kita sejak awal tidak mempunyai pendirian yang kuat, sehingga ketika pilihan itu diperhadapkan pada kita, kita “goyah” dan kebingungan dalam memilih.

Apa yang saya maksud dengan pendirian itu adalah cara pandang kita dan nilai yang kita anut, seperti juga prinsip dan visi hidup. Ketika kita mempunyai dan menganut nilai tertentu, akan lebih muda bagi kita untuk mengambil keputusan. Ketika kita mempunyai pengetahuan yang cukup terhadap apa yang kita pilih, akan juga lebih mudah bagi kita untuk memilih. Ketika sang pemberi pilhan juga memberikan pilihan berdasarkan visi dan nilai yang mengidentifikasi mereka, akan lebih mudah bagi kita yang memilih untuk membedakannya.

Sayangnya, para pemberi pilihan (pemilik bisnis, penjual makanan, dll) seringkali tidak mempunyai kejelasan visi dan nilai, dan tidak terwujudkan dalam produk dan jasa yang mereka tawarkan. Begitu pun dengan kita yang acapkali tidak mempunyai pendirian tersebut.

Namun, apalah daya kita berharap para pemberi tawaran dan pemilik bisnis tersebut untuk berubah, karena kontrol apa yang kita punya? Kita hanya bisa mengontrol dan mengubah diri kita sendiri, sambil berusaha menginspirasi mereka.

Karena itu, mari kita mengidentifikasi visi hidup dan nilai yang kita anut. Kalau kita menganut prinsip hidup sehat, lebih mudah bagi kita dalam membeli makanan, misalnya, karena pasti kita akan membeli dan mengonsumsi makanan sehat yang ditawarkan. Kalau kita diajak untuk beraktivitas yang tidak sehat, kita akan menolaknya. Kalau kita berprinsip bahwa pendidikan karakter anak menjadi hal yang sangat penting, kita akan memfokuskan pendidikan lebih kepada pendidikan karakter daripada akademik, dan mencari sekolah yang sejalan dengan itu.

Intinya, sebelum kita membuat keputusan dan memilih, kita harus memastikan bahwa kita mempunyai pendirian yang kuat yang terepresentasikan dalam tujuan, prinsip dan nilai hidup kita. Apa yang kita lakukan menjadi corong bagi kita untuk menyatakan nilai dan visi hidup tersebut. Hal ini merupakan apa yang dinyatakan Simon Sinek, dalam bukunya, Start with WHY, memiliki kejelasan tentang WHY (mengapa kita melakukan yang kita lakukan, alasan dan tujuan hidup), didukung dengan disiplin dari HOW (cara kita menjalani hidup, yang membedakan diri kita dari orang lain), dan konsistensi dalam menjalankan WHAT (apa yang kita lakukan), menjadi bagian yang sangat penting dan tak terpisahkan jika kita ingin memiliki hidup yang berdampak dan bermakna.

Start with WHY. Apa yang menjadi prinsip dan nilai hidup kita? Mengapa kita menjalani yang kita jalani? Temukanlah, dan dengan demikian, hidup akan bisa dijalani lebih mudah.

Investasi terpenting

Beberapa waktu yang lalu, saya mengobrol dengan beberapa murid saya tentang bagaimana menjalani kehidupan. Mulai dari membicarakan tentang sekolah kami, upah guru, karier, hingga akhirnya tentang investasi dalam hidup.

Di sana, saya teringat hasil obrolan saya dengan istri saya juga, yang masih menjadi idealisme saya, yaitu bahwa istri/perempuan, lebih baik berada di rumah ketika sudah mempunyai anak, untuk mengurus anak. Bisa jadi bekerja mobile dari rumah, atau bisa juga tidak bekerja (mendapatkan upah), tapi yang terpenting mengurus anak.

Di pandangan banyak orang masa kini, kemungkinan hal tersebut jadi aneh. Tentu ini pasti ada biasnya, karena sejak dulu ada kodrat semacam itu yang digunakan orang zaman dulu (orang tua kita). Laki-laki bekerja, perempuan jaga rumah. Masa kini, perempuan pun biasanya bekerja mencari nafkah, bahkan mengejar karier.

Image result for the best investment in your child

Bagi saya pribadi, tidak ada masalah dengan perempuan yang bekerja dan mengejar karier, kalau memang itu yang menjadi passion dan panggilan hidupnya. Apa yang saya maksudkan dengan perempuan mengurus rumah dan anak, sangat perlu dilihat tergantung konteks keluarganya. Jika memang keluarga tersebut bisa dicukupi dengan pekerjaan sang suami, bagi saya lebih baik demikian. Jika tidak dan sangat tidak mungkin, ya tidak apa-apa juga untuk sang istri bekerja.

Namun, saya pribadi akan berusaha lebih memilih istri di rumah dan mengurus anak. Mengapa? Ketika saya pernah juga mengobrol dengan dosen saya di Malaysia, ia mengatakan demikian, “Jangan dikira bahwa persoalan kalian generasi yang lebih muda saat ini lebih berat daripada persoalan kami di masa lalu. Kami juga sulit membeli rumah pada waktu itu, seperti kalian juga sulit membeli rumah di masa kini.” Kira-kira itu sepotong ucapannya, yang membuat saya juga berpikir kembali.

Generasi muda saat ini, termasuk saya, seringkali berpikir bahwa masalah kita sangat berat, berbeda dari masalah orang tua kita atau generasi yang lebih tua. Kita lebih sulit membeli rumah karena semua lebih mahal. Stabilitas finansial menjadi suatu hal yang sangat berharga, bahkan seringkali lebih daripada keluarga.

Image result for the best investment in your child

Kalau dipikir lagi, ada banyak keluarga masa dulu (mungkin itu keluarga kita jug), yang mana sang Ayah bekerja membanting tulang, sedangkan sang Ibu berada di rumah mengurus rumah dan anak-anaknya. Bukankah hidup mereka bahkan mungkin lebih sulit di masa lalu. Sekarang, banyak dari kita yang memilih stabilitas finansial sehingga baik sang Ayah maupun Ibu bekerja. Ada yang sama-sama bekerja di perusahaan, pagi sampai malam, atau ada yang mempunyai bisnis sendiri.

Mengapa saya memilih sang Ibu untuk di rumah, bukan sang Ayah? Mungkin saya bias, namun, bagi saya sang Ibu sudah memiliki ikatan tersendiri yang kuat dengan sang anak, mulai dari rahim. Sehebat apapun sang Ayah, sulit untuk “mengalahkan” hal ini. Dan, pada kenyataannya, sang Ayah biasanya lebih sulit mengurus anak daripada sang Ibu.

Poin saya adalah ini. Investasi terbesar kita, ketika kita sudah memiliki anak, adalah anak kita. Melalui merekalah dunia akan dibangun nantinya. Melalui merekalah, warisan kehidupan kita dinyatakan. Merekalah yang akan mengubah dunia nantinya. Kalau kita tidak menjadi keluarga yang baik dan benar, untuk apa?

Dalam diskusi saya dengan murid saya, saya menanyakan ini, “Kalau kamu lihat ada anak yang bandel, nilainya jelek, tidak bisa diatur, dll. Apa yang kamu pikirkan pertama kali?” Mereka menjawab, “Ini bagaimana sih orang tuanya?” Aneh bukan? Kan ini anaknya, kenapa jadi orang tuanya yang salah? Itulah panggilan hidup orang tua, itulah tanggung jawab menjadi pemimpin. Kita yang menanggung dan harus mempunyai akuntabilitasnya, walau bukan kita yang sepenuhnya salah.

Tulisan ini semata untuk membuat kita berpikir dan berefleksi terhadap bagaimana kita mau menjadi orang tua atau membentuk keluarga, di tengah dunia saat ini. Tentunya, masih banyak keluarga yang memilih untuk benar-benar mengurus sang anak, entah itu menjadi tanggung jawab utama sang Ayah atau sang Ibu. Namun, keduanya perlu bekerjasama. Anak tidak bisa tumbuh sempurna tanpa kehadiran keduanya.

Selamat berinvestasi, selamat mengubah dunia melalui anak.