Konsistensi

Beberapa hari terakhir ini, saya mengalami kesulitan dalam menulis artikel di blog saya ini. Karena itu, saya mohon maaf karena tidak bisa mem-post tulisan di setiap harinya, seperti komitmen saya pada bulan April lalu. Nyatanya, tidak mudah untuk menulis setiap hari karena terkadang ide atau inspirasi tidak datang di setiap waktu. Atau, kalaupun ada idenya, terkadang sulit meluang waktu untuk menulisnya karena ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Hal ini menunjukkan bahwa konsistensi tidaklah mudah. Berkarya dengan konsisten lebih menyulitkan daripada membuat suatu karya dengan intensitas yang tinggi tetapi tidak rutin. Dibutuhkan komitmen dan kerja keras setiap waktunya secara rutin untuk dapat mempertahankan konsistensi kinerja kita.

Sialnya, konsistensi bisa berbuah buruk bagi kita, yaitu di mana orang lain tidak menganggapnya sebagai hal penting lagi, karena sudah terlalu rutin. Misalnya, jika rutin berbuat baik, seolah itu memang sesuatu hal yang wajar saja terjadi. Jika anak murid selalu gagal dalam tes matematika, sebagian guru akan mudah melabelnya sebagai anak bodoh atau gagal (dan sulit mengubah persepsinya kecuali ada perubahan pada diri guru atau pada sang murid).

Namun, konsistensi tidak pernah bohong. Proses tidak pernah mengkhianati hasil, kata orang bijak. Ketika kita berusaha selalu konsisten berkarya dengan berkualitas, suatu hari hasil baik itu akan datang. Sulit? Tentu. Mungkin? Tentu. Asalkan, kita tidak menyerah.

Tidak perlu

“Ada waktunya berbicara, ada waktunya berdiam dan mendengarkan. Ada waktunya menolong, ada waktunya tidak menolong. Ada waktunya bekerja, ada waktunya beristirahat.”

Setujukah kita?

Sebagai seorang introvert, mudah bagi saya untuk berdiam dan tidak berkata-kata, dibanding harus merespon segala sesuatu. Mudah bagi saya untuk tidak memedulikan hal yang ada di depan saya yang sedang menjadi bahasan, jika itu tidak menarik sama sekali bagi saya.

Sebagai seorang introvert, saya selalu merasa bahwa tidak harus saya merespon setiap kondisi dan situasi, tidak harus saya proaktif menghadapi berbagai kondisi. Namun, dunia seringkali mengatakan lain. Katanya, orang proaktif lebih baik, yang inisiatif lebih baik, yang aktif menolong dan berbicara lebih baik, dan seterusnya.

Image result for practice being the last to speak

Dalam perjalanan kehidupan saya, saya justru semakin menyadari pentingnya bijaksana dalam berkata dan bertindak. Ada saatnya silence is golden, tetapi ada saatnya juga tidak dan saya harus bertindak dan berkata-kata. Ada saatnya saya perlu mengkoreksi tindakan anak murid, ada kalanya juga lebih baik untuk membiarkannya belajar dari pengalaman kegagalan atau kejatuhan.

Tidak selalu berbicara itu baik, walaupun dengan kata-kata positif. Ada kalanya kita perlu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara. Hal ini membutuhkan latihan, dan tidak mudah, khususnya bagi mereka yang menikmati menjadi proaktif dan aktif berbicara/berpendapat.

Practice being the last to speak, or even keep it to yourself. Mari berlatih, mari menjadi lebih bijaksana.

Aku miskin

Kaya atau miskin? Yang manakah status Anda saat ini?

Saya tidak menyebutkan definisi atau indikator dari kaya atau miskin. Menurut Anda, yang manakah Anda?

Saya yakin saya orang kaya. Bukan secara materi, dalam arti saya tidak berkelimpahan uang dan harta. Namun, saya merasakan kepuasan atas hidup saya. Saya kaya karena saya menikmati dan mensyukuri apa yang ada dalam hidup saya.

Saya mempunyai orang tua dan keluarga yang lengkap, keluarga dari istri yang lengkap, seorang istri yang hebat dalam kekurangannya, pekerjaan yang menantang dan menyenangkan, pekerjaan dengan gaji yang cukup, teman dan sahabat yang baik, pelayanan dan gereja yang menyenangkan, dan berbagai hal lainnya. Tentunya, hidup saya memiliki kekurangannya tersendiri, tetapi bukan berarti tidak ada hal yang dapat disyukuri.

Image result for i am rich

Saya meyakini bahwa kaya bukan berarti berkelimpahan materi. Ada banyak orang yang kaya atau berkelimpahan secara materi tetapi tidak benar-benar merasa “kaya” dalam hidupnya. Sebaliknya, ada banyak orang yang tidak punya cukup uang sehari-harinya, tetapi merasa “kaya” dalam hidupnya. Ini berarti kaya dan miskin bukanlah soal hal fisik semata, tetapi lebih pada perasaan dan cara pandang kehidupan.

Jika kita berfokus pada kekayaan secara materi dan fisik, kita tidak akan pernah puas. Selalu ada yang lebih kaya daripada orang terkaya. Selalu ada yang bisa didapatkan lebih dan lebih lagi walaupun kita sudah mempunyai banyak. Kita pun juga jadi sulit memberi dan berbagi karena selalu kurang dalam hidup kita. Orang-orang yang demikian justru adalah mereka yang miskin.

Jadi.. pertanyaannya.. apakah Anda miskin.. atau kaya?

Belajar lebih giat

Salah satu feedback atau komentar dari guru yang saya paling sering dengar atau baca adalah seperti berikut ini:

“Sebetulnya dia anak yang pintar dan mempunyai banyak potensi. Ia hanya perlu belajar lebih giat.”

Kata “lebih giat” bisa diganti atau ditambahkan dengan “lebih fokus”, “lebih tekun, atau semacamnya. Pertanyaannya, tepatkah feedback semacam ini?

Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan feedback tersebut. Sama sekali tidak masalah. Bahkan, dalam banyak kasus sebetulnya tepat. Seringkali, anak, atau kita, memang kurang rajin atau kurang memberikan usaha yang cukup baik. Kita tidak belajar cukup rajin dan keras, kita tidak bekerja cukup keras, sehingga hasilnya pun juga tidak cukup baik.

Namun, sebagian guru dan orang tua memiliki kecenderungan untuk memberikan nasihat generik semacam itu, karena tidak sepenuhnya tahu apa yang harus dikatakan. Padahal, yang dibutuhkan adalah feedback yang spesifik. Apa yang menjadi kekuatannya, apa yang menjadi kelemahannya. Mana yang bisa dikembangkan lebih lanjut, mana yang masih menjadi pergumulan.

Sebagian dari kita mungkin terjebak pada praktik ini. Hanya sekadar mengatakan, “kamu anak yang hebat kok, terus berusaha lagi pasti bisa kok!” Lama-lama, kita pun bisa jengah, seraya berkata, “Aku juga sudah usaha banget kali ini. Tapi ya memang mau bagaimana lagi?!”

Mulai saat ini, ketika kita memberikan feedback kepada orang lain, atau anak didik kita, ingatlah untuk memberikan feedback yang spesifik. Beberapa contoh berikut bisa dipakai:

  • Stop mengatakan bahwa “ia orang yang baik”. Buatlah lebih spesifik, misalnya: “Ia orang yang sabar, teguh pada pendirian, dan tidak mudah mengeluh.”
  • Kalau ada anak yang mendapatkan hasil kurang baik di tes matematika, “Berdasarkan hasil tes, kamu menunjukkan bahwa kamu kurang memahami konsep dan cara memfaktorkan polinomial kuadratik, dan ada beberapa kesalahan karena kurang teliti. Namun, kamu sudah menunjukkan bahwa kamu bisa menggunakan rumus kuadratik. Pelajari dan latihan lebih banyak di bagian yang masih kurang ya.”

Memberi feedback pun perlu latihan, bukan hanya mereka yang sedang dalam proses belajar. Ini mungkin karena kita pun tidak mendapatkan pengalaman serupa. Namun, seperti layaknya memberi apresiasi positif, memberi feedback spesifik pun pasti bisa dikembangkan lebih lagi agar memberi dampak lebih signifikan dan positif bagi mereka di sekitar kita. Semakin kita bisa membuatnya menjadi spesifik, itu juga menunjukkan kita semakin kritis dalam berpikir.

Selamat belajar, selamat memberi feedback spesifik yang membangun, selamat menjadi kritis.

Bebas memilih

Baru-baru ini, saya menemukan anak murid kelas saya (saat ini saya seorang wali kelas) mewarnai rambutnya menjadi coklat. Mereka tidak mewarnainya baru-baru ini, tetapi seperti di banyak sekolah, termasuk di sekolah saya saat ini, mewarnai rambut menjadi warna yang tidak sesuai rambut asli mereka merupakan hal yang berlawanan dari peraturan sekolah.

Apa hubungannya dengan tulisan saya ini donk ya?

Setiap orang mempunyai pilihan, dan berhak memilih sesuai dengan keinginan atau kebutuhannya. Sama seperti murid-murid saya tersebut, mereka berhak memilih untuk mengecat atau mewarna rambut mereka atau tidak. Sama seperti kita juga, memiliki kebebasan untuk memilih apakah kita mau menikah atau tidak, mau bekerja di bidang apa, mau kuliah apa, mau belajar atau tidakm mau makan apa, dan seterusnya.

Namun, seringkali kita berhenti pada langkah ini dan melupakan langkah berikutnya, menerima konsekuensi dari pilihan yang kita ambil.

Menentukan pilihan dan mengambil keputusan memang sesuatu yang penting. Namun, juga perlu diingat bahwa selalu ada konsekuensi dibaliknya, baik itu konsekuensi positif atau negatif. Sayangnya, kita tidak bisa memilih konsekuensinya, walau kita mau. Kita bisa memilih untuk melanggar aturan, tetapi juga harus menerima konsekuensi hukumannya. Sedangkan, kita lebih suka memilih melanggar aturan tetapi tidak mendapatkan hukuman karenanya.

Dalam beberapa hal, mungkin kita bisa menghindari konsekuensinya, seperti ketika ditilang, kita bisa menghindari hukuman denda tilang yang besar dengan beragam cara, bahkan termasuk memberikan uang suap. Nampaknya tidak ada konsekuensinya bukan? Tentu tetap ada. Pertama, kita tetap kehilangan sejumlah uang. Kedua, kita menerima konsekuensi bahwa diri kita tidak jujur atau menjaga integritas kita. Ketiga, kita membuat orang lain juga berdosa atas perbuatan kita (walau mereka juga mau).

Hal ini berlaku di mana saja tentunya, bukan hanya terkait lalu lintas maupun di pendidikan formal. Setiap tindakan pasti memiliki konsekuensinya. Sayangnya, kita hanya berani menerima konsekuensi positif dan menyenangkan, tidak yang sebaliknya. Padahal, ya terima saja lah karena memang apapun itu pasti ada konsekuensinya. Bagian kita adalah untuk menjalani dan menikmatinya, bahkan ketika kita melakukan kesalahan (tapi jangan lupa evaluasi diri).

Kita bisa memilih untuk mengeluh dalam pekerjaan, tetapi juga terima konsekuensi bahwa kita akan semakin mengeluh dan tidak banyak hal berubah.

Kita bisa memilih untuk bangkit dan mengerjakan apa yang bisa kita lakukan dan berusaha mengubah situasi menjadi lebih baik, dan konsekuensinya bisa jadi kita ditolak atau berhasil.

Apapun itu, hal terpenting adalah menyadari bahwa selalu ada konsekuensi di balik tindakan kita, dan memeluknya (embrace) dengan hati terbuka.

Kolot

“Papa ini kolot deh, nggak ngikutin perkembangan zaman. Sekarang ini kan sudah zamannya digital. Tinggal search aja kalau mau cari apa-apa. Kalau nggak tahu tempat, tinggal pake Waze atau Google Maps juga beres.”

Pernahkah kita punya pengalaman serupa? Entah kita yang berbicara hal seperti itu kepada orang tua kita (atau orang yang lebih tua dari kita, seperti guru, dosen, atau siapapun), atau kita yang menjadi “korban”-nya. Apa yang kita pikirkan? Apa yang kita rasakan?

Memang mungkin tidak banyak anak muda yang demikian. Namun, mungkin dalam satu titik dalam hidup kita, kita pernah merasakan bahwa ada orang tua (atau orang yang lebih tua dari kita) yang tidak sejalan dengan kita, atau tidak secepat kita. Mereka kita anggap tidak bisa memahami keadaan kita. Bahkan, dalam beberapa kasus, kita merasa bahwa kita lebih baik atau pintar dari mereka.

Kenyataannya, saya pikir ada betulnya. Sangat wajar jika orang muda lebih pintar dari orang yang lebih tua dari mereka, terlebih lagi berbeda lebih dari 10 tahun. Contohnya, orang muda saat ini lebih banyak mendapatkan kesempatan belajar berbagai hal, seperti komputer dan teknologi. Hidup saja sudah melihat gawai. Sejak SD atau bahkan TK sudah mempunyai telepon genggam. Apa-apa serba cepat dan bisa dilakukan via online. Ilmu pun juga semakin berkembang. Saat ini mungkin banyak di antara kita sudah belajar Bahasa pemograman dan coding, sedangkan orang tua kita tidak.

Ini hanya sebagian kecil saja. Namun, ada banyak hal lain yang saya yakin bisa kita jadikan contoh. Mudahnya, orang muda saat ini nampak lebih mempunyai potensi untuk menang jika dibandingkan dengan kemampuan generasi yang lebih tua. Namun, sayangnya, ada yang sering orang muda lupakan. Satu hal yang mereka sangat sulit (kalau tidak mungkin) untuk kalahkan adalah pengalaman. Pengalaman mereka yang lebih tua tidak bisa dibeli, terlebih lagi jika generasi yang lebih tua ini benar-benar memaknai dan menikmati perjalanan hidupnya.

Image result for learn from the old

Oleh karena itu, kita, orang muda, perlu belajar banyak dari generasi yang lebih tua. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari mereka, termasuk sejarah hidup. Dengan demikian, kita bisa memelajari sesuatu hal lebih cepat dari seharusnya, dan memanfaatkannya untuk perjalanan karier dan kehidupan kita sendiri. Terlebih lagi jika kita bisa menjadikan mereka yang bijak dan berpengalaman sebagai mentor kita. Kita akan mendapatkan keuntungan tersendiri.

Hal ini saya rasakan dalam perjalanan saya. Saya mempunyai beberapa “teman” yang lebih tua dari saya. 3 tahun lebih tua, 10 tahun lebih tua, 20 tahun lebih tua, bahkan 30 tahun lebih tua. Apa dampaknya? Saya belajar banyak dari mereka, dan saya merasakan bahwa saya juga semakin bijak dalam melihat kehidupan. Ada hal-hal yang tidak bisa saya lihat sebagai orang muda masa kini, yang sudah mereka lihat dan rasakan. Contohnya, kesabaran dan keteguhan.

Maukah kita cukup rendah hati untuk belajar dari mereka yang mungkin kita anggap lebih lemah dan tidak lebih pintar? Mereka yang bijaksana adalah mereka yang mau membuka hati untuk belajar dari siapapun dan apapun.

Selamat belajar menjadi bijak.

Terima aja lah

Tulisan semalam, saya membicarakan soal bagaimana pentingnya mempunyai dan melatih keterampilan berpikir kritis. Namun, sadar juga kah kita bahwa ada sisi buruk dari sikap berpikir kritis, tentunya jika terlalu berlebihan?

Keterampilan berpikir kritis dapat membawa naik ke level yang lebih tinggi, karena ini berarti kita mempunyai kemampuan analisa dan refleksi yang baik. Dampaknya, kita bisa mengerjakan berbagai pekerjaan dengan lebih baik, yang akhirnya berdampak pada hasil akademis/nilai yang baik, pekerjaan yang baik, dan berbagai pencapaian lainnya.

Lalu, di mana sisi buruknya? Begini. Bayangkan jika kita sangat mengkritisi segala hal, berarti kita tidak bisa menerima sesuatu apa adanya. Kita kebablasan mengkritisi berbagai hal dan menjadi tidak puas akan berbagai hal. Merasa bahwa selalu ada yang bisa diperbaiki dan ditingkatkan memang baik, tetapi di sisi lain, kita membutuhkan keterampilan bersyukur dan membiarkan beberapa hal pada tempatnya. Misalnya, kita tidak bisa mengubah orang lain betapapun kita berusaha. Kita hanya bisa menginspirasi mereka dan mendorong mereka untuk berubah. Kalau kita terlalu mengkritisinya, kita akan jatuh pada kondisi memandang orang lain sebagai orang yang buruk.

Karena itu, sekali lagi, keseimbangan menjadi hal penting. Memiliki keterampilan berpikir kritis memang penting, namun pada taraf tertentu kita perlu berhenti dan menerima keadaan seperti apa adanya. Selalu menerima keadaan apa adanya juga tidak baik, dengan demikian tidak ada yang berubah menjadi lebih positif. Mengkritisi dan melihat dengan perspektif berbeda untuk apa yang bisa diubah juga menjadi hal baik.

Selamat belajar bersikap dan berpikir kritis, namun di sisi lain, selamat belajar untuk menerima keadaan diri dan sekitar. Kritisi diri kita juga yang terlalu mengkritisi, karena selalu ada sisi positif dan negatif dari suatu kondisi, seperti koin yang tidak terlepas kedua sisinya.