Ada apa di belakang?

Sebuah film berjudul “Marriage Story” mengisahkan tentang sepasang suami istri dengan satu orang anak laki-laki. Cerita utamanya adalah mengenai relasi antara sang suami, Charlie, dan istrinya, Nicole, yang diambang perceraian, yang juga membuat nasib anak mereka, Henry, berada di posisi yang kurang jelas. Dalam film tersebut, digambarkan perbedaan antara keduanya, dan ketidakterbukaan dan perasaan tidak seimbang dalam berkorban yang pada akhirnya menjadi akar utama penyebab perceraian. Nicole merasa Charlie tidak memahami dan mengakomodasi keinginannya. Begitu juga sebaliknya yang dirasakan Charlie terhadap Nicole.

Image result for marriage story

Bagian yang mengambil waktu terbanyak adalah proses perceraian dan mediasi keduanya. Dimulai dari Nicole yang akhirnya memilih untuk membayar pengacara untuk mengurus perceraiannya, yang akhirnya menuntun pada Charlie yang juga harus membayar pengacara. Diceritakan pula, di tengah proses ini, Henry menjadi tumbalnya. Ada kalanya Henry tinggal bersama Nicole, ada kalanya ia bersama dengan Charlie. Pada akhirnya, Nicole dan Charlie bercerai.

Satu hal yang saya refleksikan dan pelajari dari film ini adalah bagaimana pasangan ini tidak mempunyai komunikasi yang baik. Mereka tidak cukup terbuka, dan ada ketidakseimbangan dalam perasaan berkorban. Nicole merasa sudah berkorban banyak dan merasa tidak menjadi dirinya lagi, sedangkan Charlie merasa sudah berkorban pula dan memberikan banyak bagi Nicole. Nicole mempunyai keinginan yang ia pendam. Semua nampak indah dan bahagia hingga beberapa tahun pertama. Namun, kemudian ketidakpuasan muncul ke permukaan seperti layaknya gunung es.

Hal menarik, ada di awal dan ujung film. Di awal film, mereka datang ke terapis pernikahan dan diminta untuk membagikan apa yang mereka tulis tentang satu sama lain. Tujuannya, mereka diminta untuk melihat sisi positif dari pasangan. Sayangnya, Nicole menolak membacakannya. Namun, di akhir film, Henry menemukan kertas tersebut dan membacanya berdua dengan Charlie.

Seringkali kita mengabaikan hal positif yang ada dalam diri orang lain, entah itu orang terdekat kita atau lawan kita. Seringkali kita mengabaikan hal positif yang terjadi dalam hidup ini. Kita begitu terpaku pada hal-hal negatif dan menyakitkan yang kita terima. Kita tidak cukup bersyukur atas kebaikan dan nikmat yang ada. Bahkan, walaupun negatif, hal-hal tersebut juga bisa menjadi sarana bagi kita untuk belajar menjadi lebih dewasa.

Tiga hari lagi, kita akan berada tepat di penghujung tahun 2019 ini. Mari kita merenung dan mengingat kembali pengalaman hidup kita di tahun ini. Apa saja hal menyenangkan dan positif yang kita alami? Apa saja hal menyebalkan dan negatif yang kira alami? Bagaimana pengalaman tersebut telah membentuk diri kita saat ini?

Mungkin, kita menggumuli dan mendoakan sesuatu, dan tidak mendapatkannya hingga saat ini. Bsia jadi ini karena Sang Mahakuasa ingin kita belajar sabar, dan mungkin itu bukan yang terbaik bagi kita.

Mungkin, kita ditinggalkan pacar setelah bertahun-tahun bersama. Bisa jadi, ia yang kita tangisi memang bukanlah jodoh kita untuk menikah nantinya.

Mungkin, suami atau istri kita tidak pernah memberikan kejutan “besar”, tetapi selalu mengurus rumah dan anak. Bisa jadi, kita harus lebih menghargai perbuatan “kecil” dan konsisten, karena seringkali justru lebih sulit daripada melakukan hal “besar”.

Mungkin, kita mendapatkan pekerjaan baru yang menyenangkan. Bisa jadi, kita diminta bersyukur dan menikmati berkat tersebut dan berusaha bertumbuh seoptimal mungkin di sana.

Ada banyak hal yang kita alami di tahun ini, dan semuanya itu pasti bertujuan untuk membuat kita semakin menjadi pribadi lebih baik. Masalahnya, apakah kita cukup peka untuk belajar atau tidak? Apakah kita cukup bersyukur atas hal baik maupun hal buruk yang kita alami? Apakah kita cukup menghargai keberadaan orang-orang di sekitar kita?

Image result for small things matterMari kita menutup tahun ini dengan kesadaran untuk mau belajar lebih dan lebih lagi. Mari kita menutup tahun ini dengan lebih menghargai hal-hal yang nampak remeh di hidup kita.

Selamat memasuki tahun yang baru, selamat terus belajar, menjadi pribadi dan pemimpin yang lebih baik lagi.

Pekerjaan termahal

Kalau kita diberkan pertanyaan berikut: Apa pekerjaan yang paling mahal di dunia ini? Pekerjaan yang paling berharga dan beresiko tinggi dan mendapatkan bayaran tertinggi di dunia?

Raja atau Ratu? CEO Apple atau Microsoft? Penemu/pemilik Amazon? Google? Atau apa?

Pekerjaan dengan bayaran termahal di dunia, seharusnya adalah “bekerja” sebagai orang tua. Mengapa? Orang tua tidak digaji oleh siapapun, bukan karena mereka tidak pantas digaji, tetapi justru karena tidak ada satupun yang mampu membayar mereka. Tidak sang anak, tidak sang orang tua, atau bagian keluarga lainnya, tidak siapapun.

Orang tua, seperti yang kita ketahui, harus terus mengeluarkan uang, mengekspresikan cinta kasih, memimpin dan membimbing sang anak, untuk dapat bertumbuh menjadi pribadi mandiri dan mencapai potensi terbaik yang dapat dicapainya. Bahkan, sang anak bisa menjadi lebih baik daripada orang tuanya. Sekitar 25 tahun orang tua harus terus melakukan itu, sampai sang anak menikah dan meninggalkan orang tuanya, atau sampai sang orang tua meninggal. Bahkan ketika sudah menikah pun, sebagian orang tua masih “harus” membantu anaknya.

Orang tua sejati melakukan “pekerjaannya” semata-mata demi sang anak, bukan demi keuntungannya sendiri. Kalaupun ada keuntungan bagi sang orang tua, itu adalah rasa bangga. Tidak ada Return of Investment (RoI) dalam bentuk uang, kalau kata para investor dan pelaku bisnis. Tidak ada persenannya, atau komisinya. Namun, jika orang tua melakukan tanggung jawabnya dengan baik, bukan tidak mungkin RoI-nya lebih dari yang dibayangkan.

Hal ini membuat saya sendiri perlu mengingat dan mensyukuri berkat melalui orang tua saya sendiri, dan juga sembari mempersiapkan saya jika saya menjadi orang tua nantinya. Bukan karena tidak ada yang mampu “menggaji”, makanya orang tua bisa seenaknya. Justru, itulah yang membuat “pekerjaan” sebagai orang tua tak tergantikan dan tak tersaingi. Karena, terlepas dari segala kerugian dan pengorbanannya, sebagai orang tua, kita harus menjalani peran, tanggung jawab, dan panggilan kita.

Kita mungkin mengidamkan pekerjaan terbaik yang dapat membuat kita bahagia dan menghasilkan banyak uang dan keuntungan lainnya. Tentunya tidak salah, tetapi kita perlu mengingat bahwa tanggung jawab orang tua pertama-tama adalah anaknya, keluarganya. Itu pekerjaan termahal. Pekerjaan di kantor yang dilakukan adalah semata-mata menjadi media untuk menopang dan mendukung kita melakukan “pekerjaan” kita di rumah.

Image result for it takes courage to do the right thing

Jelas lebih mudah untuk mengabaikan hal ini. Semua orang bisa melakukannya. Hanya mereka yang berani dan mau mengubah dunia lah yang mau memprioritaskan anak dan keluarganya.

Kita harus berubah

Sebentar lagi kita akan menutup tahun 2019, tepatnya 19 hari dari hari ini, kita akan memasuki tahun yang baru. Menyenangkan? Tentu! Mendebarkan? Ya!

Dunia tempat kita tinggal dan hidup berkembang begitu pesat. Kemajuan teknologi semakin mengagumkan, banyak jenis pekerjaan dan karier baru dan banyak juga yang hilang, manusia semakin membutuhkan koneksi internet dan pengetahuan tentang teknologi, cara orang berkomunikasi lebih digital saat ini, perubahan relasi antarmanusia, dan seterusnya. Dunia berubah, manusia berubah, dan dampaknya generasi masa depan ‘harus’ menyesuaikan dengan tuntutan ini. Artinya, pendidikan juga (perlu) berubah.

Semakin ke sini, saya semakin merasa bahwa ada banyak suara menuntut pendidikan untuk berubah. Belum lama ini, santer terdengar rencana Mendikbud baru kita, Nadiem Makarim, untuk mengganti format Ujian Nasional (UN) menjadi lebih seperti tes internasional Programme for International Student Assessment (PISA), untuk anak murid di kelas 4, 8, dan 11. Rencana kebijakan itu mendukung pernyataan Nadiem Makarim, yang ramai di media sosial, “Kita memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi. Kita memasuki era di mana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya. Kita memasuki era di mana akreditasi tidak menjamin mutu. Ini hal-hal yang harus segera disadari.” Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia pun juga ingin berubah, atau paling tidak ada kesadaran untuk mengubah sistem pendidikan di negeri ini, untuk lebih menyesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan dunia modern.Image result for education now and then

“Kita harus berubah!” Demikian banyak orang menyuarakan kondisi di pendidikan, baik nasional maupun internasional. Pendidikan yang status quo dipandang tidak lagi sesuai untuk menjawab kebutuhan zaman. Murid harus belajar lebih untuk berpikir dan memiliki keterampilan yang lebih mendukung dunia kerja, seperti kepemimpinan, berbicara di depan umum (public speaking), literasi, dan komunikasi. Di dunia pendidikan, dikenal istilah keterampilan abad 21 (21st century skills), yang terdiri dari keterampilan kehidupan dan karier (life and career skills), keterampilan belajar dan inovasi (learning and innovation skills), dan keterampilan informasi, media, dan teknologi (information, media, and technology skills).

Hal ini, walaupun, menjadi terkenal di dunia pendidikan, saya pikir belum tentu menjadi kesadaran bersama bagi semura orang awam (non-pendidikan). Mengerjakan perubahan ini menjadi pekerjaan rumah bagi setiap orang. Pendidikan tidak pernah hanya merupakan tanggung jawab institusi pendidikan, tetapi tanggung jawab bersama.

It takes a village to raise a child. It takes a society to raise a generation.”

Jika kita tidak familiar dengan dunia pendidikan secara khusus, tetap baik jika kita belajar tentangnya dan memerlengkapi diri untuk itu. Mungkin kita adalah orang tua (atau akan menjadi orang tua), atau kita bagian dari masyarakat, kita perlu mempromosikan dan mengajarkan keterampilan-keterampilan penting yang dunia butuhkan, bukan hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi kita maupun keluarga dan rekan kerja kita.

Kita harus berubah, dan mari mempersiapkan diri untuk itu dan mengerjakannya. Dunia tidak akan menunggu kita, malahan kita yang harus mengejar dan bahkan ikut serta membangun dunia ini.  Mari kita terus belajar tanpa henti, karena dunia pun tak berhenti belajar dan hidup tak berhenti mengajar.

 

(note: di artikel lain, saya akan membahas sisi “negatif” dari perkembangan pendidikan dan dunia ini).

Pendidikan tanpa bisnis

Apa yang terbersit di pikiran kita ketika kita mendengar bisnis pendidikan? Saya tidak tahu dengan Anda, tetapi jujur hal pertama yang terpikirkan adalah saya tidak menyukainya. Saya seringkali sinis dengan orang-orang yang mau berbisnis dalam industri pendidikan. Mengapa? Karena keduanya, bagi saya, memiliki sifat alami yang berbeda, paling tidak menurut yang selama ini saya pahami.

Di dunia bisnis, orang lebih berpatokan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya, bahkan ketika pelayanan tidak diberikan secara maksimal. Sedangkan, dunia pendidikan lebih menuntut pelayanan maksimal terhadap setiap anak murid, yang bahkan justru dapat mengorbankan diri demi kepentingan klien (murid dan orang tua).

Melihat kedua dunia ini bagi saya seperti layaknya air dan minyak yang tidak dapat disatukan. Keduanya bertentangan bahkan. Bagaimana mungkin sekolah, universitas, dan berbagai Lembaga pendidikan lainnya dapat berjalan baik dengan mengedepankan bisnis? Bukankah rasanya jadi money-oriented dan merugikan?

Selama karier saya, saya selalu bekerja di sekolah swasta. Berbeda dari sekolah negeri yang disubsidi pemerintah, sekolah swasta harus berjuang secara mandiri untuk mendapatkan sumber daya berupa uang kepentingan sekolah itu sendiri juga. Untuk menggaji para guru dan karyawan, membiayai fasilitas, dan berbagai kegaitan lainnya. Dalam arti lain, sekolah swasta harus menggunakan prinsip bisnis dalam mengoperasikan sekolahnya.

Lalu, bagaimana donk? Saya pun hingga saat ini belum menemukan jawabannya. Namun, saya masih menyimpan keyakinan bahwa keduanya dapat dikawinkan. Bahwa bisnis yang ideal tidak seharusnya mengedepankan keuangan, tetapi nilai (value). Ilmu pemasaran (marketing), penjualan (sales), dan lainnya yang sangat terkait dengan bisnis dapat digunakan untuk memajukan dunia pendidikan (atau lembaga pendidikan), tanpa menggerus atau menghancurkan nilai dan sifat alami pendidikan.

Salah satu hal yang mengganggu saya pribadi misalnya adalah soal nilai murid. Kita semua tahu bahwa nilai prestasi adalah hal penting di dunia pendidikan. Bahkan terlalu penting sehingga begitu banyak orang yang menomorsatukan nilai prestasi ini. Banyak orang masih percaya bahwa mereka yang mempunyai nilai bagus akan sukses di kemudian hari. Sayangnya, kita tahu tidak semua orang yang bernilai bagus memiliki kesuksesan secerah nilai yang diperolehnya.

Di dunia bisnis saat ini, sangat lumrah jika prioritas nomor satu sekolah adalah menghasilkan lulusan dengan nilai prestasi terbaik. Namun, jika melihat konteks pendidikan yang ideal, benarkah demikian? Bukankah kualitas belajar seharusnya yang lebih penting? Proses belajar dan apa yang dipelajari para murid menjadi lebih berharga? Bukankah keterampilan berpikir seperti berpikir kritis dan logis hampir tidak mungkin diukur dengan nilai angka?

Hal-hal semacam ini yang membuat seringkali terjadi “pertarungan” antara idealisme pendidikan dan bisnis. Kita dituntut untuk membuat segala sesuatu terukur dengan angka, padahal banyak hal di hidup ini yang lebih penting yang tidak dapat diukur dengan angka (misalnya, cinta kasih).

Satu hal penting yang saya pelajari dari Simon Sinek, seseorang yang menyuarakan idealisme pelayanan dalam dunia bisnis, adalah seharusnya kita tidak terobsesi pada tujuan angka yang sebenarnya adalah tujuan acak yang kita buat sendiri. Seharusnya kita terobsesi pada hal yang jauh lebih jangka panjang (infinite game) yang lebih berharga. Bukan nilai angka tapi kualitas proses belajar. Bukan prestasi angka, tetapi keterampilan yang dipelajari. Bukan berapa banyak yang lulus dengan nilai 100 atau A*, tetapi berapa banyak yang terinspirasi untuk belajar seumur hidup.

Untuk dapat mengubah cara berpikir ini, kita harus memulai dengan value yang kita ingin tawarkan dalam lembaga pendidikan. Jelas uang tetap dibutuhkan. Tak ada uang, sekolah pun hancur. Namun, ketika kita harus mempertaruhkan uang atau pengembangan manusia dan tujuan jangka panjang, mana yang kita pilih? Semangat yang mana yang mau kita prioritaskan? Ketika kita salah menetapkan prioritas, seluruh warga sekolah bahkan murid akan merasakannya. Apakah mereka yang dikorbankan atau mereka yang menjadi prioritasnya?

Mari bersama berpikir, berbagi, dan berkontribusi. Cara bisnis semacam apa yang bisa diterapkan di dunia pendidikan dan tetap memajukan pendidikan dengan tidak menghilangkan idealisme pendidikan?

You are my favorite!

Beberapa minggu yang lalu, saya berbincang dengan salah satu mantan murid saya. Saat ini dia masih di kelas 9. Saya mengajarnya ketika ia berada di kelas 7. Dalam perbincangan kami, ia menanyakan apakah ia adalah murid favorit saya (anak-anak sekarang memang beda dari di masa dulu. Perbincangan santai dan jujur semacam ini bisa jadi makanan sehari-hari guru di masa kini). Saya menjawabnya, “Tidak. Saya tidak mempunyai murid favorit.” Dan dia agak mengeluh, mengatakan bahwa murid biasanya mempunyai guru favorit, tetapi saya tidak mempunyai murid favorit. Seolah mengatakan harusnya ada “relasi yang sepadan.”

Pada momen yang lain, hal serupa pun ditanyakan oleh murid saya yang lain ketika kami sedang melakukan kelas tambahan. Jawaban saya pun sama, “Tidak.”

Sebagian orang mungkin bertanya mengapa saya tidak mempunyai murid favorit. Izinkan saya juga mengajukan pertanyaan yang sama bagi kita semua. Siapa murid favorit kita? Siapa anak favorit kita? Rekan favorit kita? Bos favorit kita?

Jika kita mempunyainya, mengapa orang tersebut menjadi orang favorit kita? Sebaliknya, jika tidak, mengapa tidak mempunyai?

Mempunyai seseorang yang kita lebih sukai, atau menjadi orang favorit kita, menurut saya, sangatlah manusiawi. Sangat manusiawi bagi seorang guru memfavoritkan anak muridnya. Misalnya, mereka yang sangat cerdas, atau berparas dan berpenampilan menawan, atau hebat dalam hal tertentu sesuai harapan kita, atau selalu menyenangkan hati kita. Sebaliknya, sangat mudah bagi guru untuk tidak menyukai anak murid yang tidak sesuai harapan kita, misalnya murid yang malas, kurang atau tidak berprestasi, sering melanggar aturan, menyebalkan di kelas, atau yang lainnya.

Namun, etis atau pantas kah bagi seorang guru mempunyai murid favorit? Orang tua mempunyai anak favorit? Pemimpin mempunyai bawahan favorit? Di dalam lubuk hati kita mungkin itu tidak terhindarkan, tetapi bagaimana kita bersikap dan berperilaku, menurut saya, seharusnya diusahakan sedapat mungkin untuk tidak mempunyai bias karena ada favoritisme tersebut. Jika iya, khususnya bagi orang tua dan guru, hal tersebut akan membawa hal yang tidak baik pada relasi secara umum dengan anak atau murid yang lain.

Saya kerap mendengar bahwa guru tertentu memfavoritkan anak murid tertentu, dengan alasannya masing-masing. Sialnya, hal ini saya dengar dari mulut murid yang lain. “Ah sir, kalau guru A sih paling suka sama si itu tuh.” Betapa tidak nyaman didengar bukan?

Image result for children are all equal

Hal inilah yang membuat saya sedapat mungkin tidak mempunyai murid favorit. Kalaupun ada, saya tidak akan pernah memberitahu pada siapapun, dan sedapat mungkin tidak memunculkan perilaku favoritisme itu saat di sekolah. Berusaha untuk selalu netral dan adil dalam memperlakukan setiap murid. Sebaliknya, jika ada anak murid yang menyebalkan, saya pun juga selalu berusaha untuk bersikap netral dan memperlakukannya sama seperti anak murid yang lain.

Betapa tidak mudahnya menjadi guru, menjadi orang tua, menjadi pendidik, menjadi pemimpin. Di satu sisi, kita manusia biasa yang dapat mempunyai bias favoritisme tersebut. Namun, kita perlu terus belajar dan berusaha mengontrol diri kita agar hal tersebut tidak mengubah bagaimana kita mendidik anak yang satu dan yang lain. Dampaknya, setiap anak bisa merasakan dihargai apa adanya dan diperlakukan dengan hormat, sehingga dapat tercipta relasi positif dan saling menghormati antara pendidik dan yang dididik, antara guru dan murid, orang tua dan anak, pemimpin dan pengikut.

Sulit? Tentu. Mungkinkah kita mengatasinya? Jelas!

Maukah kita mengusahakannya? Selamat berjuang.

Terima kasih!

Masa sekolah saya tidak pernah benar-benar menginspirasi. Segala hal yang saya jalani dan alami di sekolah terasa biasa saja. Tidak ada guru yang begitu “hebat” dan menginspirasi, tidak ada pengalaman spesifik yang berarti dalam hal pengalaman bersama atau karena guru tertentu. Namun, setelah saya berprofesi sebagai seorang guru, justru saya melihat ada satu guru saya yang mana saya bekerja bersamanya, yang menginspirasi.

Siapakah guru tersebut? Beliau adalah guru matematika di SMPK Tirtamarta – BPK Penabur, guru saya pada tahun 2002-2003, yang kemudian menjadi rekan kerja dan menjadi kepala sekolah saya. Mengapa beliau menjadi pribadi guru yang menginspirasi bagi saya? Karena setiap usahanya menunjukkan betapa semangat dan setianya beliau menjadi seorang guru. Beliau selalu memberikan usaha terbaiknya untuk mendidik para muridnya. Bukan hanya persoalan akademik, melainkan hal-hal “remeh” bagi kebanyakan guru lain seperti kesehatan dan makanan muridnya pun ia perhatikan. Bahkan hingga saat ini, saya belum pernah lagi bertemu seorang guru yang memerhatikan murid sampai ke apa yang mereka makan.

Ketika beliau menjadi kepala sekolah, walau sebenarnya beliau tidak menyukainya, beliau tetap berusaha yang terbaik dan bekerja lebih dari apa yang diminta. Beliau menetapkan standar yang tinggi untuk melayani dan mendidik murid-muridnya. Beliau selalu berusaha bukan hanya mengajar materi, tetapi mendidik para murid agar berkarakter Kristiani (sesuai dengan apa yang ia harapkan, berhubung sekolahnya juga merupakan sekolah Kristen).

Mengapa hal tersebut menginspirasi bagi saya? Saya sendiri seorang guru, dan melalui sosok beliau ini saya belajar betapa seorang guru seharusnya rela bekerja extra mile dan menginspirasi para muridnya dengan memperlakukan mereka sebagai manusia seutuhnya. Apa yang beliau lakukan menjadi salah satu pegangan saya dalam mendidik anak-anak murid saya sampai saat ini.

Jika kita, sebagai orang Indonesia, diajukan pertanyaan, “Siapakah guru yang paling Anda ingat dan mengapa?”, apakah jawab kita?Image result for what teachers make

Sebagian dari kita mungkin akan dapat dengan cepat mengingat dan menjawabnya. “Pak Ari,” “Ibu Susi,” atau sejumlah nama lainnya dapat dengan mudah disebutkan, dengan berbagai alasan personalnya, misalnya:

  • “Dulu saya sangat bandel, dan Bu Susi adalah guru yang paling sabar dalam menghadapi saya dan tidak pernah menghakimi saya.”
  • “Pak Ari adalah guru yang hebat. Beliau bukan guru paling pintar di sekolah dulu, tetapi beliau sangat terbuka untuk mau belajar, bahkan dari setiap muridnya. Ia selalu merangkul kami dan mau belajar bersama dengan kami. Jadi kami tidak merasa digurui.”

Di hari ini, kita memeringati Hari Guru Indonesia. Di hari ini, mari paling tidak kita coba merenungkan pertanyaan saya tadi. Siapa guru yang paling kita ingat dan mengapa? Apakah guru tersebut diingat karena hal baik atau buruk yang dilakukannya? Seberapa jauh mereka menginspirasi kita untuk bertumbuh menjadi siapa diri kita saat ini?

Lebih penting lagi, bukan hanya kita mengingat apa yang mereka lakukan bagi kita. Pernahkah kita datang kembali kepada mereka dan berterimakasih atas jasa mereka? Pernahkah kita mengucapsyukur dan memasukkan mereka dalam doa pribadi kita? Pernahkah kita melakukan sesuatu bagi mereka atas rasa terima kasih kita?

Biarlah pertanyaan ini kiranya mengganggu hati dan pikiran kita di hari ini.

Selamat hari guru Indonesia, majulah terus pendidikan Indonesia!

Related image

I need you!

Dua minggu yang lalu, saya dan teman-teman di gereja saya baru menyelesaikan rangkaian pertandingan pada turnamen yang diadakan gereja tempat saya beribadah dan berkomunitas. Pada babak semifinal, kami bertanding dengan tim kandidat juara. Saya tidak terlalu berharap kami menang. Bahkan, saya pikir kami akan dibantai. Nampak pesimis sekali bukan? Tentu saja, para pemain dari tim lawan banyak terdiri dari pemain klub basket profesional, dan kami hanyalah tim yang baru dibentuk 2 minggu sebelum turnamen untuk ikut meramaikan turnamen.

Pada saat itu, ada satu pemain kunci di tim lawan yang tidak hadir. Tidak disangka, kami kalah dengan skor 46-50. Pada 2 kuarter pertama, kami mengungguli tim lawan. Kuncinya di kuarter 3 ketika skor tim kami mulai disalip dan kami kesulitan untuk membalik keadaan. Beberapa kali timeout kami ambil, tapi tidak banyak mengubah keadaan.

Image result for we need each other

Selesai pertandingan, teman saya menanyakan hasil pertandingan (kebetulan ia tidak menonton pertandingan tersebut, dan ia adalah salah satu pemain dari gereja lain yang mungkin akan bertemu dengan tim yang kami lawan di semifinal tersebut). Singkatnya, dari perbincangan kami, ada satu hal yang kami setujui. Kami tidak mempunyai pelatih.

Ya, kami tidak mempunyai pelatih yang berdiri di pinggir lapangan untuk mengatur strategi dan mendorong kami saat bermain. Saya merangkap sebagai pemain, kapten, dan pelatih, dengan keterbatasan kemampuan saya. Salah satu pemain di tim kami yang kami anggap pemain terbaik kami tidak terlalu banyak berbicara. Mungkin karena ia adalah anggota baru di gereja kami. Ketika kami berada dalam kesulitan, ia yang lebih banyak bertindak dan berusaha memasukkan bola dengan segala usahanya.

Di sini, saya lebih menyadari hal ini. Betapapun hebatnya kita, kita selalu membutuhkan seseorang di samping kita. Mengapa? Bukan berarti kita tidak mampu. Namun, menarik bahwa ketika kita sedang “bermain di lapangan”, kita tidak sepenuhnya bisa melihat dan membuat keputusan terbaik akan apa yang seharusnya kita lakukan. Bahkan, seringkali kita bisa membuat kesalahan-kesalahan kecil yang kita pikir tidak akan pernah kita lakukan sebelumnya. Sadar atau tidak, kita membutuhkan seseorang di samping kita untuk menolong kita melihat lebih baik, untuk mendorong dan memotivasi kita memberikan terbaik, untuk mengarahkan kita untuk melakukan apa yang harus kita lakukan pada saat tertentu, untuk membuat keputusan terbaik.

Image result for we need each other

Pemain profesional pun membutuhkan pelatih. Atlet fenomenal seperti Michael Jordan, Tom Brady, Usain Bolt, Muhammad Ali, Michael Phelps, ketika mereka berada pada masa keemasannya, tetap pula membutuhkan pelatih. Demikian juga orang-orang seperti Bill Gates, Steve Jobs, Warren Buffet, Jeff Bezos, Barack Obama, Joko Widodo, dan Nadiem Makarim. Demikian juga kita sebagai orang dewasa, remaja-remaja kita, pemuda pemudi bahgsa, anak-anak kita.

Setiap orang membutuhkan orang lain untuk terus berkembang. Tidak ada satu orang yang hebat dan mampu melakukan apapun dan mencapai apapun, kecuali Tuhan. Mari kita menyadari hal ini dengan sebaik-baiknya.

Jika kita mempunyai kemampuan dan pengalaman lebih, bagikanlah kepada mereka yang lebih muda, jadilah mentor dan coach bagi mereka. Namun, di saat bersamaan, belajarlah juga dari orang lain. Dengan demikian, kita menciptakan dunia yang lebih baik bagi sesama, bukan hanya bagi diri kita sendiri.

“Sendiri kita dapat membuat perbedaan, bersama kita membuat perubahan.”