Your Strength, Your Weakness

Pernahkah kita mendengar perkataan “Your strength is your weakness”? Apa maksudnya ya?

Kita sering diminta untuk mendaftarkan dan mengembangkan kekuatan kita. Contohnya:

  • Sabar
  • Kreatif, banyak ide
  • Pemberani
  • Inisiatif
  • Introvert

Tentunya ada banyak hal lain lagi yang bisa kita daftarkan. Menariknya, kekuatan dan kelemahan nampak bertolakbelakang, tetapi mereka seperti sisi koin yang tak terpisahkan.

Contohnya begini:

  • Jika kita adalah seseorang yang sangat sabar, kita bisa menjadi orang yang terlalu toleran dan kurang peka terhadap sesuatu yang perlu diubah, dan kita bisa jadi terlalu lambat.
  • Jika kita sangat kreatif dan banyak memberikan ide, kita bisa saja adalah seseorang yang berantakan dan tidak terstruktur dan sistematis.
  • Jika kita seorang pemberani, kita juga bisa kurang memerhatikan keadaan sekitar
  • Jika kita seorang yang inisiatif, kita juga kurang mendukung orang lain untuk proaktif.
  • Jika kita seorang introvert, kita bisa lebih enggan bersosialisasi dengan mereka yang sulit memahami ke-introvert-an kita.

Menurut saya, terpenting adalah ketika kita peka dan menyadari hal ini, kekuatan dan kelemahan kita. Mengapa? Karena penting bagi kita juga untuk mencapai sesuatu bersama-sama. Kita tidak bisa hebat sendirian, namun bersama kita bisa melengkapi dan mencapai sesuatu lebih baik.

Misalnya, seseorang yang cenderung analitis dan rasional melengkapi seseorang yang cenderung intuitif. Seseorang yang cenderung kreatif akan melengkapi seseorang yang terstuktur. Seseorang yang cenderung mudah berbelas kasih akan melengkapi seseorang yang cenderung cuek. Seorang pemimpin akan melengkapi seorang manajer. Seseorang yang fokus bekerja melihat ke depan akan melengkapi seseorang yang fokus bekerja untuk saat ini.

Mari kita menyadari hal ini, dan merenungkannya: apa daftar kekuatan yang juga menjadi kelemahan kita? Bagaimana kita memanfaatkan dan mengembangkannya?

Membuat keputusan

Dalam membuat keputusan, mana yang lebih kita andalkan: rasio/logika atau perasaan/intuisi?

Keduanya jelas adalah faktor penting dan menentukan ketika kita mengambil keputusan. Manusia tidak sepenuhnya membuat keputusan dengan hanya mengandalkan rasio dan logika, atau sebaliknya hanya dengan perasaan dan intuisi. Jika demikian, tidak komplit jadinya. Khususnya, dalam sebuah tim, kerja sama keduanya akan sangat berharga.

Saya tumbuh sebagai seorang penyuka pelajaran matematika dan statistik. Saya berkuliah matematika dan menikmati analisis dan penggunaan logika, rasio, dan data untuk membuat keputusan. Selama bertahun-tahun, saya belajar lebih menggunakan rasio untuk mengambil keputusan. Namun, di sisi lain, saya baru menyadari belakangan ini bahwa saya “juga” termasuk tipe yang intuitif (dalam tes psikologi seperti tes MBTI). Saya menggunakan kata “juga” karena ternyata berdasarkan tes di tahun lalu, nilai aspek “Intuition vs Thinking” adalah 53% berbanding 47%.

Hal ini bagi saya menarik, karena saya baru menyadarinya. Ketika saya merefleksikan perjalanan hidup saya, saya pun baru menyadari bahwa saya lebih cenderung menggunakan intuisi daripada rasio ketika mengambil keputusan, khususnya keputusan besar. Ketika saya berusaha menggunakan rasio, saya berkutat terlalu lama untuk mencari dan menganalisa berbagai data, yang pada akhirnya memusingkan saya dan membuat pengambilan keputusan berjalan lebih lama.

Data dan rasio berperan penting dan memudahkan saya pribadi dalam pengambilan keputusan, pada beberapa situatsi. Namun, ketika saya perlu membuat keputusan untuk jangka panjang tanpa data yang lengkap, saya cenderung melakukannya dengan menggunakan intuisi saya.

Secara khusus, saya menemukan hal menarik lain. Setelah saya berdiskusi dengan dosen saya, Dr. Ashley Ng, dan membaca buku Simon Sinek, Start with WHY, saya menemukan bahwa banyak orang cenderung membuat keputusan penting dengan intuisi, atau apa yang orang bilang gut feeling atau gut decision. Kesulitannya, gut feeling atau gut decision ini seringkali sulit dijelaskan, apalagi dengan data. Hanya saja, kita bisa merasa itu adalah keputusan yang tepat, dan memang ternyata tepat setelah berjalannya waktu kita dapat melihat hasilnya.

Menurut neurosains, otak manusia yang berkaitan dengan pengambilan keputusan adalah otak limbik, bagian otak manusia yang berkaitan dengan perasaan atau emosi dan perilaku manusia, khususnya dalam kaitannya dengan kebertahanan hidup atau survival (https://qbi.uq.edu.au/brain/brain-anatomy/limbic-system). Bagian otak ini tidak berkaitan dengan berpikir dan bahasa, yang merupakan tanggung jawab dari otak neokorteks. Jadi, bisa dibilang bahwa ketika kita berpikir dan menganalisa, itu tanggung jawab neokorteks, sedangkan ketika kita menggunakan intuisi dan perasaan, itu tanggung jawab otak limbik.

Jika kita memelajari hal ini lebih jauh, menjadi masuk akal mengapa banyak kasus di mana saya (dan mungkin juga kita semua) cenderung mengambil keputusan dengan intuisi, bukan dengan data dan berpikir logis. Lucunya, seringkali ini menjadi langkah yang tepat dan memang kita pun merasa tepat (“feels” right), dan sulit bagi kita untuk jelaskan. Wajar karena otak yang bertanggungjawab untuk pengambilan keputusan (limbik) tidak bertanggungjawab atas bahasa (neokorteks).

Saya menemukan betapa menariknya hal ini, dan sebagai pemimpin ataupun pribadi, ini menjadi hal penting. Ada kalanya kita diperhadapkan situasi di mana kita perlu mengambil keputusan penting: beli rumah, mempunyai anak, sekolah, studi lanjut, dan lainnya. Penting bagi kita untuk melihat data, tetapi juga memercayai intuisi kita yang mungkin seringkali mengarahkan kita pada langkah yang tepat.

Ini pengalaman saya. Bagaimana pengalaman Anda?

Belajar dan Karier

Penting bagi kita, pendidik (guru, dosen, orang tua, masyarakat) untuk memfasilitasi pembelajaran agar setiap peserta didik memahami arti penting pembelajaran mereka. Kalau semua hanya serba abstrak, tentunya mereka akan bingung untuk apa belajar materi atau pelajaran tertentu.

Sebagai guru matematika, saya sangat sering mengalaminya. Khususnya di masa saya masih banyak belajar sebagai guru matematika. Karena matematika adalah pelajaran yang paling tidak disukai murid, mereka seringkali bertanya, “Pak, untuk apa belajar materi ini?” Di balik pertanyaan itu, murid, selain mungkin jengkel dengan sulitnya matematika, mereka menyimpan hasrat keingintahuan terhadap kegunaan belajar matematika.

Hal ini yang disebut dengan istilah “visible learning”, menurut John Hattie (2008). Visible learning adalah faktor utama keberhasilan belajar peserta didik. Teknologi, kehebatan mengajar materi oleh guru, sumber belajar, dan lainnya menjadi tidak terlalu berarti ketika anak tidak mengetahui dengan jelas dan tepat untuk apa mereka belajar ini. Bukankah ini juga sama seperti kita ketika bekerja. Jika kita mengetahui dengan jelas visi dan tujuannya, akan jauh lebih mudah dan menyenangkan bagi kita untuk mengerjakan pekerjaan kita.

Bagaimana cara menghubungkan pembelajaran kita dengan karier masa depan mereka dalam kapasitas kita sebagai individu guru?

  1. Hubungkan materi dan mata pelajaran yang dipelajari dengan skill tertentu yang mereka butuhkan di saat bekerja (missal: dibutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk setiap pekerjaan, keterampilan membuktikan pada pelajaran matematika untuk belajar berpikir kritis)
  2. Hubungkan perjalanan studi dan karier tertentu dengan mata pelajaran tertentu (missal: menjadi aktuaris membutuhkan keterampilan matematika: analisis, modelling, dan statistika, menjadi dokter membutuhkan keterampilan apda bidang biologi dan kimia)
  3. Menggunakan network kita, mencari pembicara yang merupakan ahli di bidang pekerjaannya untuk memberikan deskripsi kegunaan materi pelajaran tertentu. Atau, bisa juga meminta para ahli ini untuk memberikan proyek (berdasarkan konteks masalah nyata) untuk dikerjakan peserta didik.

Image result for visible learning quotes

Saya yakin ada banyak hal yang bisa kita lakukan, dengan tujuan untuk membuat pembelajaran menjadi berkualitas, bermakna, dan bermanfaat bagi para peserta didik. Kita bisa mengeksplorasi lebih jauh apa saja yang bisa kita lakukan.

Mari belajar terus.

Membuat perbedaan, membawa perubahan

Untuk membuat perbedaan, siapapun bisa melakukannya. Dan penting untuk memiliki keberanian dalam pemahaman bahwa kita yang harus melakukan sesuatu untuk mewujudkan perubahan yang kita inginkan.

Dua kunci utama adalah:

    1. Bergerak bersama.
      Sendiri kita tidak dapat berbuat banyak, namun, sendiri kita bisa membuat perbedaan. Kita bisa nampak berbeda. Namun, untuk membawa perubahan, kita membutuhkan orang lain.
      Image result for make a difference, being change

 

  1. Membuat sebanyak mungkin orang menerima ide yang kita tawarkan.
    Cara mengomunikasikan ide pada awalnya menjadi poin penting untuk membuka pintu masuk lebih jauh.

Poin pertama cukup jelas, saya rasa. Bagaimana dengan poin kedua?

Salah satu cara efektif untuk membuat orang menerima ide kita adalah dengan menawarkan visi dan dampak dari ide kita. Seperti apa yang disampaikan Simon Sinek, dalam bukunya, Start with WHY. Mulailah dengan mengapa penting melakukan sesuatu, bukan dari apa yang mau kita lakukan. Mulailah dengan dampak akhirnya, atau visinya. Gunakan cerita dengan narasi yang dapat menarik, tetapi bukan membohongi. Dampaknya, peluang bahwa orang akan menerima ide kita akan meningkat. Jika ada orang yang menolak, bisa jadi mereka tidak memiliki visi yang sejalan dengan kita, atau mungkin mereka belum dapat memahami apa yang kita pahami.

Bagaimana jika mereka sudah menerima ide dan visi kita? Kita masuk ke kunci ketiga:

  1. Berikan data dan informasi yang mendukung dan sejalan dengan ide dan visi kita, jika memungkinkan.
    Ketika ide kita sudah didengar dan orang ingin masuk lebih jauh, hal penting berikutnya adalah dengan menggunakan data dan informasi. Data dan informasi yang kita gunakan harus obyektif, dan tidak hanya mendukung apa yang kita mau dan butuhkan.

Contoh kasus:

Anda adalah seorang staf bawahan, dan mempunyai ide yang baik. Misalnya, Anda melihat bahwa sangat penting untuk memiliki acara diskusi dan sharing mingguan bagi para karyawan dengan pimpinan. Tujuannya? Untuk mempererat relasi di antara karyawan, membangun kepercayaan, meminta masukan, dan mengomunikasikan ide-ide baik dari atasan maupun dari bawahan. Kemudian, Anda ingin menyampaikan ide ini kepada manajer atau bos Anda. Jika Anda kurang mampu mengomunikasikan dengan baik, walau ide ini adalah ide yang sangat cemerlang, atasan Anda mungkin hanya akan merasa bahwa ini pemborosan budget kantor.

Berkaca dari tiga poin tadi, bagaimana caranya mengomunikasikan dengan baik walau Anda sangat memahami dengan baik setiap esensi, tujuan, dan dampaknya? Gunakan visi, kemudian data dan informasi pendukung.

Image result for courage and vision to make a change

Secara lebih teknis, pelajari kebutuhan dan prioritas pimpinan serta keadaan kantor. Beberapa kasus yang bisa saya coba bahas berikut:

  1. Kalau kantor kita berada dalam kesulitan keuangan, tetapi pimpinan kita sebenarnya menyetujui ide kita.
    Berjalanlah lebih jauh, dan tawarkan bantuan keuangan, atau sepakati bersama bahwa momen itu tidak membutuhkan budget besar, atau jika membutuhkan budget, untuk beberapa kali kegiatan awal bisa patungan uang untuk mewujudkan ide ini.
  2. Kalau pimpinan tidak setuju sama sekali tanpa mendengar alasan kita.
    Kita bisa memberikan hasil riset mengenai dampak dari relasi kebersamaan yang terbangun dengan baik di antara karyawan dan pimpinan perusahaan lain.
  3. Jika pimpinan kita tidak menyetujui karena tidak percaya bahwa ide ini akan berhasil dan memengaruhi kinerja perusahaan secara positif.
    Tawarkan untuk mencobanya selama beberapa waktu, dan evaluasi. Tawarkan untuk melakukan riset berkelanjutkan selama kegiatan dilaksanakan.

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk membawa perubahan, sebagai staf. Dan kasus yang saya berikan hanyalah dalam konteks yang sempit. Anda bisa mengadaptasinya dan bahkan mengeksplorasi lebih jauh untuk menyesuaikan dengan konteks dan kebutuhan tempat kerja kita.

Membuat perubahan memang tidak mudah. Dibutuhkan kemauan, keberanian, dan visi. Maukah kita mengusahakannya?

Passion dan Tujuan

Baru-baru ini, saya mengikuti free online course yang ditawarkan oleh The British Council, berjudul Ideas for A Better World: Leading Change Through Policymaking. Salah satu topik bahasannya adalah mengenai Passion and Purpose. Dikatakan bahwa passion dan tujuan (purpose) adalah dua hal yang terkait. Passion tanpa tujuan akan membuat frustrasi karena tidak mempunyai arah. Karena itu, penting bagi setiap dari kita untuk mengetahui bukan hanya passion kita, apa yang kita sukai untuk lakukan, tetapi juga untuk apa kita melakukannya.

Image result for future learn ideas for a better world policy making

Pada course tersebut, dijelaskan empat langkah sederhana untuk mengidentifikasi passion dan tujuan kita:

  1. Apa yang bisa kita pertahankan (What we can sustain)
    Hal ini berkaitan dengan sumber daya yang mendasari tujuan kita. Hal yang perlu diketahui dan diingat adalah bahwa walau kita memiliki tujuan yang tepat dan baik, tanpa adanya sumber daya tujuan tersebut tidak akan dapat tercapai.
  2. Apa yang dapat kita lakukan (What we can do)
    Aspek atau langkah ini berkaitan dengan kemampuan atau keterampilan apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan kita. Bagian ini menjadi penting karena kalau kita tidak mempunyai keterampilan atau kemampuan tertentu, akan sangat sulit untuk mencapai tujuan tersebut. Ini tidak juga berarti bahwa kita dapat melakukannya saat ini juga, tetapi paling tidak kita tahu bahwa kita perlu memelajarinya, pada batas tertentu, untuk mencapai tujuan kita.
  3. Apa yang dunia perlukan (What the world needs)
    Merupakan hal yang sangat penting bahwa tujuan kita didasarkan pada kebutuhan yang ada di dunia ini, bukan semata-mata kebutuhan kita sendiri, seperti kekayaan, ketenaran, dan lainnya. Tujuan ini pun juga perlu untuk berkaitan, Image result for what the world needsberdasarkan pada kenyataan yang ada dan kebutuhan di sekitar kita. Misalnya, karena lingkungan kita penuh dengan sampah plastik, karena itu kita memiliki tujuan untuk menciptakan lingkungan bebas material plastik.
  1. Apa yang mau kita lakukan (What we want to do)
    Untuk mencapai tujuan kita, penting bagi kita untuk mencintai apa yang kita lakukan, bukan hanya karena kita harus melakukannya.

 

Ketika langkah 2 dan 4 bersinggungan dan kita miliki, kita menemukan passion kita. Passion bukan hanya berarti sesuatu yang kita ingin lakukan, tetapi sesuatu yang kita juga memiliki kemampuan untuk mewujudkannya. Ketika semua langkah tersebut tercapai, kita mempunyai tujuan: kita mau (want) melakukan sesuatu, kita mampu (able) melakukannya, dunia membutuhkan (needs) kita untuk melakukannya, dan kita dapat bertahan (sustain) untuk menyelesaikannya.

Jika ada salah satu aspek atau langkah yang tidak terpenuhi dengan baik, akan tercipta gap:

Tanpa langkah 1: ada perasaan ragu yang berkelanjutan mengenai bagaimana caranya memastikan hasil yang bertahan lama

Tanpa langkah 2: aksi dan motivasi ada, tetapi rencana aksi kita tidak mempunyai kemungkinan yang cukup untuk berhasil

Tanpa langkah 3: aksi kita mungkin saja memiliki sumber daya yang cukup, tetapi pada dasarnya tidak berguna

Tanpa langkah 4: kita akan memiliki kesulitan untuk menentukan arah, walaupun kita mempunyai strategi obyektif yang berhasil

Seperti layaknya pada course tersebut, ini pertanyaan yang juga ingin saya bagikan:

  1. Langkah mana (1, 2, 3, atau 4) yang kita merasa percaya diri bahwa kita sudah menemukan atau mencapainya? Mengapa?
  2. Langkah mana yang sangat perlu untuk kita kembangkan untuk dapat kita penuhi? Mengapa?

Yuk kita renungkan kedua pertanyaan ini, dan jika berkenan bisa dibagikan di kolom komentar.

KPI

Apa itu KPI? Di sini saya tidak sedang membahas Komisi Penyiaran Indonesia ya, tapi Key Performance Indicator, ukuran/indikator keberhasilan atau kinerja seseorang.

Di dunia bisnis dan pekerjaan, kita selalu diperhadapkan dengan ukuran dan indikator keberhasilan. Seringkali, atau bahkan selalu, indikator keberhasilan adalah berupa nilai angka tertentu. Misalnya, Keuntungan dan omzet perusahaan, efisiensi pengeluaran, jumlah terjualnya kopi/teh/produk lainnya, nilai ujian siswa, jumlah siswa atau mahasiswa baru, rendahnya turnover karyawan, dan lainnya.

Saya rasa ini sudah sangat lumrah dan sering kita dengar. Hal yang saya ingin tanyakan adalah ini: seberapa indikator itu, atau KPI yang ditetapkan sejalan atau menjadi penurunan/terjemahan dari visi kita?

Berhubung saya adalah seorang pendidik, maka saya akan menganalogikan dengan contoh kasus di sekolah. Semua sekolah pasti memvisikan pendidikan yang berkualitas, walau detilnya tentu bermacam-macam. Pendidikan berkualitas dengan karakter unggul, atau lainnya. Namun, KPI yang digunakan misalnya seperti beberapa contoh berikut:

  • Berapa banyak peserta didik dengan nilai Ujian Nasional (UN) 100?
  • Berapa banyak peserta didik baru yang mendaftar di tahun ajaran 2019-2020?
  • Persentase realisasi anggaran
  • Berapa banyak kompetisi yang diikuti peserta didik dimenangkan (juara 1, juara 2, atau juara 3)?

Apakah ada kaitannya?

Baru-baru ini, saya menyadari satu hal penting dalam perjalanan karier saya sebagai seorang pendidik. Apa indikator keberhasilan saya sebagai pendidik di masa kini? Masa di mana nilai bagus yang diperoleh peserta didik bukan jaminan, di mana realisasi tinggi anggaran bukan jaminan kualitas pelaksanaan kegiatan, di mana jumlah kompetisi yang dimenangkan menjadi ukuran jaminan keberhasilan dan kualitas pendidikan.

Saya merenungkan perjalanan saya, dan muncul dengan ide berikut ini:

“Kalau memang harus berupa angka atau nilai, mengapa KPI kita tidak demikian: Berapa banyak orang yang telah saya inspirasi dan sentuh hidupnya selama 1 tahun ini?”

Bagi saya, ini sejalan dengan misi hidup saya: untuk menginspirasi orang sebanyak mungkin untuk melakukan apa yang menginspirasi mereka, menikmati belajar, dan merasakan kepenuhan dalam hidupnya.

Bagi saya, tak ada artinya nilai tinggi ketika hidupnya tak bermanfaat, berdampak, dan tidak inspiratif bagi sekitar. Bagi saya, tidak ada artinya nilai UN baik jika curang. Kualitas perjalanan dan langkah yang dijalani murid-murid saya menjadi lebih penting bagi saya daripada hasil akhirnya. Hasil akhir menjadi representasi perjuangan dan perjalanannya.

Bagaimana dengan Anda? Dapatkah Anda membentuk KPI sendiri yang sejalan dengan visi hidup atau perusahaan Anda?

Cangkir Keramik

We only deserve a styrofoam cup” – Simon Sinek, on Leaders Eat Last

 

Apakah kita memegang jabatan struktural tertentu di perusahaan/kantor tempat kita bekerja? Manajer? Koordinator? Kepala Sekolah? Direktur? Pemegang saham?

Jabatan apapun yang kita emban, pasti ada keuntungan yang kita terima. Mulai dari keuntungan sederhana dan kecil hingga keuntungan dan kenyamanan yang cukup besar. Misalnya, jika kita seorang manajer (atau pimpinan langsung di atas staf), mungkin kita mempunyai keuntungan untuk dibelikan makanan atau minuman oleh staf atau Office Boy/Office Girl. Bahkan dalam banyak cerita, staf pun bisa mempunyai keuntungan itu. JIka posisi kita lebih tinggi lagi, mungkin kita mempunyai ruangan tersendiri yang setiap harinya sudah tertata rapi dan bersih setiap kali kita datang ke ruang kerja kita. Mungkin ada sopir dan mobil kantor khusus diberikan kepada kita ketika memegang jabatan itu, kita disediakan kopi atau the di gelas keramik setiap harinya. Ada juga keuntungan tambahan bonus atau asuransi yang cukup besar.

Pertanyaannya, untuk siapakah setiap keuntungan tersebut? Untuk kita pribadi (sebut nama Anda masing-masing)? atau.. karena kita memegang jabatan tersebut?

Saya suka sekali dengan kisah yang diceritakan Simon Sinek terkait hal ini. Anda bisa menonton videonya (https://www.youtube.com/watch?v=dGHWy60VdXw) atau membacanya di https://larrysaliga.wordpress.com/2017/09/24/you-deserve-a-styrofoam-cup-a-lesson-in-humility-by-simon-sinek/. Ia menceritakan kisah seorang mantan pejabat pemerintahan yang menyadari hal tersebut. Ketika ia masih menjabat, dan ia menjadi pembicara di sebuah konferensi, ia mendapatkan tiket penerbangan kelas bisnis, ada orang yang menjemputnya di bandara dan membawanya ke hotel. Hotel sudah diaturkan dan sudah check in. Ketika esoknya ia akan pergi ke konferensi, sudah ada orang yang ditugaskan untuk menjemputnya di lobi dan mengantarnya. Tanpa diminta, ia diantar ke pintu belakang gedung konferensi, ke ruang tunggu, dan diberikan secangkir kopi.

Ketika ia sudah tidak lagi memegang jabatan, ia tidak lagi mendapatkan semuanya itu. Ia berangkat sendiri, naik pesawat kelas ekonomi, pergi ke hotel sendiri, check in sendiri. Tidak ada orang yang menjemput dan mengantarnya. Ketika ia sampai di tempat konferensi, ia pergi sendiri ke ruang tunggu dan ketika ia bertanya di mana ia bisa mendapatkan kopi, orang menunjuk kepada mesin kopi dan gelas styrofoam.

Cangkir keramik itu diperuntukkan jabatannya, bukan dirinya.

Sekarang refleksi bagi kita, keuntungan apa yang kita terima karena jabatan atau status kita? Apakah kita akan terus mendapatkannya walau kita tidak menjabatnya lagi? Atau kita mendapatkan keuntungan itu karena diri kita apa adanya?

Bersyukurlah untuk apa yang kita miliki, sekaligus lakukanlah tanggung jawab yang harus kita lakukan. Tetaplah rendah hati, karena cangkir keramik itu untuk jabatan kita, bukan untuk kita.